IBADAH DAN SYIRIK

IBADAH DAN SYIRIK

Apa yang dimaksud dengan ibadah? Kita sering mendengar atau mengucapkan kata-kata “ibadah” dan “syirik”, tetapi kita sendiri kadang-kadang tidak tahu maknanya.

Secara etimologi, ibadah ertinya tunduk dan menghinakan diri. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/25; Ath-Thabari, 1/196; Al-Qurthubi, 1/195 dan Aisarut Tafasir, 1/31) Sedangkan secara istilah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan-Nya melalui lisan para Rasul.” Beliau mengatakan juga: “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diredhai Allah dalam bentuk ucapan dan perbuatan, baik yang lahir maupun batin.” (Fathul Majid, tahqiq Asyraf, hal. 26 dan Risalah Al- `Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 38, Majmu’ Fatawa juz 10 hal. 149, dan Fathul Majid tahqiq DR. Al-Walid Faryan jilid 1/84)

Oleh karena itu sangat keliru orang-orang yang berpendapat bahwa ibadah itu hanya berupa shalat atau amal dhahir yang lain, sedangkan doa, tawakkal, dan istighatsah bukanlah termasuk ibadah.

Makna Syirik

Syirik adalah menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rububiyyah dan uluhiyah-Nya. Pada umumnya kesyirikan itu terjadi dalam hal uluhiyyah dengan cara berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepada-Nya atau mengarahkan kepada pihak (selain Allah) tadi sedikit saja dari jenis ibadah seperti menyembelih, nadzar, khauf (takut), raja’ (harapan) dan mahabbah (kecintaan).” (Kitab At-Tauhid, Shalih Fauzan, hal. 9)

Ayat-ayat yang menjelaskan masalah ini diantaranya:

“Hanya kepada-Mulah kami beribadah.” (Al-Fatihah: 5)

Ayat ini adalah ayat yang selalu kita ulang-ulang setiap hari dalam shalat. Ia merupakan janji kita kepada Allah bahwa hanya kepada-Nya saja kita beribadah, tidak kepada yang lain. Akan tetapi kita lihat banyak juga kaum muslimin selalu membaca ayat ini dalam shalat mereka, namun juga beribadah kepada selain Allah. Mereka masih berdoa kepada kuburan-kuburan para wali dan mengharap berkah dari mereka. Mereka tidak mau berdoa dan menyerahkan peribadahannya hanya kepada Allah.

“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 21)

Kalau kita buka Al-Qur’an dan kita baca dari awal, maka akan kita dapati ayat ini adalah ayat yang pertama kali memuatkan perintah agar kita beribadah kepada Allah semata.

Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma mengatakan: “Firman Allah: ‘Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian’ adalah ditujukan kepada dua kelompok orang-orang kafir dan munafiq yang maknanya adalah: ‘Tauhidkan Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian.’” (Tafsir Al-Qur’anul Karim, Imam Ibnu Katsir, hal. 57)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan: “Yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas dengan firman tadi -Insya Allah- adalah ‘tauhidkanlah Dia atau Esakan ketaatan dan ibadah kepada Rabb kalian, jangan kepada para makhluq-Nya.’” (Tafsir Ath-Thabari, 1/196)

Imam Qurthubi mengatakan: “Perintah untuk beribadah kepada-Nya itu adalah pengibaratan tentang tauhid dan konsisten terhadap syari’at-syari’at-Nya.” (Tafsir Imam Qurthubi, hal. 195)

Berikut ini disebutkan ayat-ayat yang berisi perintah untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan juga larangan untuk tidak mempersekutukan-Nya:

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu Al-Yaqin (kematian).” (Al-Hijr: 99)

Al-Yaqin dalam ayat di atas ertinya kematian bukan keyakinan semata. Ayat ini dijadikan dalil oleh orang-orang yang malas beribadah dari aliran sufi dengan mengatakan: “Kami sudah sampai ke tingkat yakin, jadi tidak menanggung beban ibadah seperti shalat dan lain-lain.” Tentang makna Al-Yaqin adalah kematian bacalah Tafsir Ibnu Katsir, 2/560; Ath-Thabari, 7/554; Qurthubi, 4/3680; Ad-Durul Mantsur, Imam Syuyuthi, 5/105; Taisirul Karim Ar-Rahman, Abdur Rahman As-Sa’di, 4/181; Aisarut Tafsir, Abu Bakr Al-Jaza’iri 3/97; Ahkamul Qur’an, Imam Abu Bakar Ibnl Arabi, 3/1128; Adlwa’ul Bayan, Muhammad Amin Asy-Syinqithi, 3/205, Zubdatu At-Tafsir, hal. 345 dan juga Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 11/418 dan Haqiqatu At-Tasawwuf, Dr. Shalih Fauzan, hal. 48.

Penafsiran ayat seperti ini adalah madzhab Ahlus Sunnah, di antaranya Salim bin Abdullah bin Umar, Mujahid, Hasan, Qatadah, Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lain.

“…Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku dan Rabb kalian….” (Al-Ma’idah: 117)

Nabi Hud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya:

“…Sembahlah Allah, karena tidak ada yang berhak disembah bagi kalian selain dari-Nya….” (Al-A’raaf: 65 dan Hud: 50)

 Nabi Shalih ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya:

“…Sembahlah Allah, karena tidak ada yang berhak disembah bagi kalian selain dari-Nya….” (Al-A’raaf: 73 dan Hud: 60)

 Nabi Syu’aib ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya:

“…Sembahlah Allah, karena tidak ada yang berhak disembah bagi kalian selain dari-Nya….” (Al-A’raaf: 85 dan Hud: 84)

 Demikian pula Nabi Nuh ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya:

“…Sembahlah Allah, karena tidak ada yang berhak diibadahi oleh kalian kecuali Dia….” (Al-Mukminun: 23)

 Setiap Rasul diutus kepada kaumnya untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah dan mengingkari para thaghut.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut.” (An-Nahl: 36)

Imam Ath-Thabari berkata: “Allah berfirman: ‘Kami telah mengutus untuk setiap kaum yang lalu sebelum kalian seorang Rasul sebagaimana telah Kami utus kepada kalian (Rasul) untuk (menyeru): beribadahlah kalian kepada Allah saja dan Esa-kan ketaatan hanya untuk-Nya dan ikhlaskanlah peribadatan bagi-Nya.’” (Tafsir Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, 7/582)

Imam Qurthubi mengatakan: “Yaitu beribadahlah kepada Allah dan tauhidkanlah Dia.” (Tafsir Al-Qurthubi, 5/3719)

Imam Ibnu Katsir berkata: “Dan mereka (para Rasul) semuanya mengajak untuk beribadah kepada Allah dan melarang manusia agar jangan beribadah kepada yang lainnya.” (Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhim, 2/567)

“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An-Nisa’: 36)

 Syirik merupakan dosa besar, karena beberapa perkara:

 1. Kesyirikan itu adalah penyerupaan makhluq dengan khaliq dalam hal-hal ke-uluhiyyah-an-Nya. Maka barangsiapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu bererti dia telah menyamakannya dengan Allah. Dan syirik adalah kedhaliman yang sangat besar, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Kezaliman adalah meletakkan sesuatu pada tidak pada tempatnya. Maka barangsiapa beribadah kepada selain Allah, bererti dia telah berlaku dhalim dan mengalihkan peribadatan kepada yang tidak berhak. Hal ini adalah kezaliman yang besar.

 2. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengampuni mereka yang tidak bertaubat dari perbuatan syirik, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa’: 48)

3. Allah telah mengabarkan bahwa Dia mengharamkan surga bagi orang yang melakukan kesyirikan dan kekal di dalam neraka Jahannam, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al- Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72)

4. Syirik meruntuhkan semua amal, sebagaimana firman-Nya:

“…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi- nabi) sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

5. Orang musyrik itu halal darah dan hartanya. Allah berfirman:

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian….” (At-Taubah: 5)

6. Syirik adalah dosa besar yang paling besar. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Mahukah aku beritakan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab: “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-’Allamah Ibnul Qayyim berkata: “Allah mengabarkan bahwa tujuan penciptaan dan perintah untuk mengenal sifat-sifat Allah adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya saja dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu.”

7. Syirik bererti menganggap rendah Allah dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mensucikan diri-Nya dari yang demikian. Maka barangsiapa mempersekutukan Allah bererti ia telah menetapkan bagi Allah apa yang telah Dia nafikan dari diri-Nya hal tersebut. Ini adalah permusuhan tertinggi terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan perlawanan dan penentangan terbesar kepada Allah.

Dari hadith tentang dakwah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Kaisar Heraklius kepada Abu Sufyan ketika ia masih kafir:

Heraklius bertanya: “Apa yang diperintahkannya kepadamu”. Abu Sufyan menjawab: “Dia (Muhammad) mengatakan: ‘Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.’”

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash radliallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: ‘Sembahlah Ar-Rahman (Allah), sebarkanlah salam, berilah makan, maka kalian akan masuk surga dengan selamat.’”

“Dari Salim bin Amir, ia berkata: “Aku mendengar Abu Umamah berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia ketika haji wada’ dan beliau dalam keadaan di atas Al-jud’a’ dan meletakkan kakinya di tempat sanggurdi sambil berkata: ‘Apakah kamu telah mendengar?’ Maka seorang lelaki di akhir kaum berkata: ‘Apakah yang engkau katakan, wahai Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam?’ Beliau menjawab: ‘Beribadahlah kalian kepada Rabb kalian, shalatlah shalat yang lima, puasalah pada bulan kalian, tunaikanlah zakat harta kalian dan taatilah amir kalian, maka kalian akan masuk ke surga Rabb kalian.’”

Perintah untuk beribadah kepada Allah bererti adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Adapun tauhid dibagi menjadi 3 bahagian:

  1. Tauhid Rububiyah
  2. Tauhid Ulluhiyah
  3. Tauhid Asma’ wa Sifat.

 Adapun mereka yang menolak 3 pembahagian ini, silakan membaca Al- Qaulu As-Sadid Fi Raddi `Ala Man Ankara Taqsimat Tauhid oleh Abdul Razzaq Al-Badr.

Tauhid Rububiyyah adalah keyakinan yang kukuh, bahwasanya hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan mengatur seluruh urusan makhluk-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal tersebut.

Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah semata-mata dengan tunduk, merendahkan diri, cinta, khusyu’ dan seluruh jenis-jenis ibadah. Tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tauhid Asma’ wa sifat yaitu beriman dengan keimanan yang kokoh kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dengan menetapkannya tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil. (Tentang makna tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil sudah saya bawakan dalam bahagian pertama tulisan ini, silahkan dilihat kembali).

Kita cukupkan sampai disini dulu pembahasan tentang ini dan kita beralih ke lafadh hadith selanjutnya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

 Hadith ini sejalan dengan ayat 103 surat Al-Imran. Abu Ja’far Ath-Thabari berkata: “Yang dimaksud oleh Allah dengan ayat tersebut adalah: Berpeganglah kalian dengan agama Allah yang telah Dia perintahkan kepada kalian. Dan janji-Nya yang telah diambil dari kalian di dalam kitab-Nya. Yaitu berkumpul di atas kalimat yang haq dan menyerah kapada perintah Allah.

Adapun tentang makna “Tali Allah” maka ada beberapa penafsiran:

  1. Al-Jama’ah
  2. Janji Allah
  3. Islam

4. Al-Qur’an (Kitabullah)

Al-Qurthubi mengatakan: “Dan janganlah kalian berpecah belah” sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani berpecah dalam agamanya.

Dari Ibnu Mas’ud dan lain-lain.

“Kitabullah adalah tali Allah yang terjulur dari langit ke bumi.”

Dan dalam hadith Zaid bin Arqam.

“Ketahuilah sesungguhnya aku meninggalkan dua perkara yang berat pada kalian, salah satunya kitabullah azza wajalla, dan dia adalah “tali Allah”. Barangsiapa mengikutinya dia berada di atas hidayah dan barangsiapa meninggalkannya ia di atas kesesatan.”

Dari Abu Syuraih Al-Khuza’i, ia berkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam keluar kepada kami, kemudian beliau bersabda: “Bergembiralah kalian, bukankan kalian bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah?” Para shahabat berkata: “Ya.” Beliau berkata: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah “tali Allah” yang ujungnya di tangan Allah dan ujung (yang lain) di tangan kalian. Maka peganglah ia dengan kuat karena dengannya kalian tidak akan sesat dan tidak akan binasa selama-lamanya.”

Kemudian Syaikh Al-Albani melihatnya di dalam Al-Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 12/165 dengan sanad ini. Darinya juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (1792-mawarid) dan begini juga yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 22/188/491. dan Ibnu Nashr dalam Qiamullail, 74. Dan Thabrani juga dari jalan yang lain dari Abu Khalid Al-Ahmar. Aku (Syaikh Al-Albani) berkata: “Dan ini adalah sanad yang shahih menurut syarat Muslim.” Al-Mundziri berkata dalam At-Targhib, 1/40: “Thabrani meriwayatkan dalam Al-Kabir dengan sanad yang jayyid. Dan hadith ini memiliki sanad yang mursal yang diriwayatkan oleh Abul Husain Al-Kilabi di dalam hadithnya, 240/1 dan Al-Laits bin Sa’d dari Sa’id (Al-Maqbari) dari Nafi’ bin Jubair dengan hadith ini secara mursal.

Syaikh Al-Albani berkata: “Ini adalah mursal yang shahih sanadnya dan lebih shahih dari pada dikatakan sebagai maushul. Thabrani me-maushul-kannnya dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 1/77/1 dari jalan Abu Ubadah Az-Zarqi Al-Anshari.”

Makna berpegang teguh dengan tali Allah adalah berpegang teguh dengan janji-Nya yaitu mengikuti kitab-Nya yang mulia dan batasan-Nya serta beradab dengan adabnya.

Adapun ucapan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: “Dan janganlah kalian berpecah belah,” maka itu adalah perintah untuk konsisten dengan jamaah kaum muslimin dan saling kasih- mengasihi sebahagian terhadap yang lainnya dan ini adalah salah satu tonggak Islam.” (Syarh Muslim, Imam Nawawi 12/11)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata: “Maksud firman-Nya: ‘Dan janganlah kalian berpecah belah adalah janganlah kalian memecah belah agama Allah ini dan janji-Nya yang telah Dia ambil dari kalian dalam kitab-Nya, agar kalian saling kasih-mengasihi dan bersatu di atas ketaatan kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya dan menahan dari larangan-Nya.”

Adapun tentang perpecahan di kalangan kaum muslimin, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah menyatakannya dengan sabdanya:

“Orang-orang Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, satu di Surga; Orang-orang Nashrani terpecah menjadi 72 golongan, 1 di surga, 71 di neraka; Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 1 di surga dan 72 di neraka. Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, siapa mereka?” Beliau shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: “Mereka adalah Al-Jama’ah.” (Ash-Shahihah, 1492)

Penyebab perpecahan umat ini di antaranya adalah:

  • Ittiba’ul Hawa (Mengikuti hawa nafsu)-
  • Ta’ashub (Fanatik terhadap kelompoknya)
  • Jahil (Kebodohan)

 Ucapan beliau: “Dan agar kalian saling menasehati kepada yang mengurus urusan kalian.” Maksud menasehati para imam kaum muslimin adalah: “Mencintai kebaikan-kebaikan, keadilan dan kecerdasan mereka. Dan juga mencintai bersatunya (berkumpulnya) umat ini di bawah kepemimpinan mereka dan membenci perpecahan umat ini, mentaati mereka dalam rangka mentaati Alah dan membenci terhadap orang yang ingin memberontak kepada mereka.” (Iqazhul Himam, Salil Al-Hilali, hal. 127)

“Menolong (membantu) mereka di atas kebenaran, mentaati mereka, memperingatkan dan menegur mereka dengan lembut dan halus. Dan memberitahukan perkara-perkara yang mereka lalaikan. Dan menyampaikan kepada mereka tentang hak-hak kaum muslimin dan meninggalkan sikap memberontak terhadap mereka. Dan menyatukan hati-hati manusia untuk taat kepada mereka, shalat di belakang mereka, jihad bersama mereka dan mendoakan kebaikan bagi mereka.” (Syarah Arbain An-Nawawi, Ibnu Daqiqil ‘Ied, hal. 35)

Ucapan beliau: “Dan dia membenci atas kalian qiila wa qaala (mengucapkan apa saja yang diucapkan orang), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.”

Imam An-Nawawi berkata: “Adapun qiila wa qaala maksudnya adalah menyibukkan diri dengan kabar-kabar dari orang dan cerita- cerita yang tidak manfaat.”

Adapun “banyak bertanya” maksudnya banyak bertanya tentang hal-hal yang belum terjadi dan tidak perlu. Banyak hadith-hadith yang shahih yang melarang hal tersebut. Para salaf juga membencinya dan berpendapat bahwa hal tersebut termasuk perkara-perkara yang dilarang. Dalam Shahih ini disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam membenci masa’il (meminta-minta) dan mencelanya, maksudnya adalah meminta harta dan apa yang ada pada mereka.

Banyak hadith-hadith yang shahih yang menerangkan tentang hal tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa maksudnya adalah banyak bertanya tentang kabar-kabar manusia dan peristiwa- peristiwa masa dan apa-apa yang tidak berguna terhadap manusia. Ini adalah pendapat yang lemah, karena telah diketahui maksud seperti ini dari larangan beliau tentang mengatakan apa yang dikatakan manusia. Ada juga yang menyatakan mungkin maksudnya adalah banyak bertanya kepada orang tentang keadaan dirinya dan urusan-urusannya secara rinci, maka masuk ke dalam pertanyaan tadi perkara-perkara yang tidak berguna baginya. Hal tersebut juga mengandung keberatan pada hak yang ditanya, karena ia kadang-kadang tidak bisa menunjukkan keadaan-keadaannya, jika ia mengabarkan keadaannya, itu akan memberatkannya dan jika ia berdusta dalam hal pengabaran tersebut atau berberat-berat dalam penyampaian, tentu ia akan kesusahan dan jika ia meremehkan dalam menjawabnya bererti ia telah melakukan adab yang jelek.

Adapun “menyia-nyiakan” harta, maksudnya adalah mengarahkannya pada selain tempat yang syar’i dan hal ini dapat membawa pada kehancuran dan sebab dilarangnya adalah karena ia menyebabkan kerusakan. Allah tidak menyukai orang-orang yang merusak. (Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi, 12/11-12)

Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: