Mewujudkan anak yang sukses!

Mewujudkan anak yang sukses!

Tiap orang tua tentu akan berusaha memberikan pendidikan yang terbaik buat putra-putrinya , bahkan sejak usia prasekolah beragam motivasi orang dalam memberikan atau memilihkan pendidikan bagi anaknya. Yang jelas tujuan utamanya adalah anak memperoleh kesuksesan. 

Usaha menyiapkan anak sukses pun sudah dipersiapkan sejak dini. Selain sekolah formal jadwal selanjutnya dipenuhi dengan les tambahan. Bahkan berondongan berbagai materi tambahan itu harus dirasakan sejak masih dini usia. Sebenarnya seperti apakah sosok seorang anak yang sukses? Bagaimana membentuknya?

 DI MANA ALLAH?

Abdullah bin Dinar berkisah tentang perjalanan nya bersama Abdullah bin Umar bin al-Khatthab. Beliau mengatakan, “Saya bersama Ibnu Umar bin al-Khatthab a pergi ke Makkah dan beristirahat di suatu tempat. Tiba-tiba terlihatlah anak gembala disertai hewan gembalaannya yang banyak tengah turun dari gunung, dan berjumpa dengan kami.

Ibnu Umar bin al-Khatthab berkata, “Hai penggembala, jualah seekor kambingmu itu kepadaku!”

 Penggembala kecil itu menjawab, “Aku bukan pemilik kambing, aku hanya seorang budaknya.” Ibnu Umar menguji anak itu, “Kan, kamu bisa katakan kepada tuanmu

bahwa salah seekor kambingnya dimakan serigala.” Anak itu termenung lalu menatb

tap wajah Ibnu Umar, seraya berkata, “Lantas di manakah Allah?!”

Mendengar kata-kata yang terlontar dari anak kecil ini, menangislah Ibnu Umar. Kemudian beliau mengajak budak itu kepada tuannya untuk dibeli dan dimerdekakan. Beliau berkata pada anak itu, “Kalimat yang engkau ucapkan tadi telah membebaskanmu di dunia ini, aku harap kalimat-kalimat tersebut juga akan membebaskanmu kelak

di akhirat.”(1)

Kisah ini sangat masyhur dalam kajian keislaman. Sebuah kisah yang menunjukkan salah satu pengaruh dari pengenalan terhadap Allah. Kejadian serupa sangat jarang ditemukan di zaman sekarang. Kini, dalam masyarakat kejujuran dan kebenaran seolah sudah tak

ada harganya. Coba bandingkan dengan sikap Ibnu Umar yang menghargai anak tersebut dengan membebaskannya dari perbudakan. Bagi Ibnu Umar penggembala kecil tersebut merupakan anak yang luar biasa.

 

Bagaimanakah bisa terjadi seorang anak kecil di masa itu begitu yakin dengan pengawasan (muraqabah) Allah yang berlaku pada setiap manusia? Keyakinan

lahir dari suatu proses pendidikan dan latihan (pembiasaan) yang benar. Sebuah contoh nyata suksesnya pendidikan. Sekaligus contoh nyata sosok anak yang sukses.

PENDIDIKAN IDEAL

Berbeda penilaian, mungkin, dengan orang tua zaman kini. Kisah yang menggetarkan

hati Ibnu Umar tersebut bisa jadi dianggap biasa. Bahkan anak kecil itu dipandang sebelah mata, masalahnya hanya seorang penggembala. Di benak orang tua di zaman yang peradaban filsafat materialistik tengah menguasai ini ukuran anak sukses adalah

bila jadi idola, jagoan lomba, jadi insinyur, pejabat, PNS, sementara kualitas agama dan akhlak terlupakan. Orang tua sekarang cenderung mengarahkan anaknya kepada masalah duniawi semata. Pendidikan seni, matematika, sains, dan bahasa mendapat porsi

yang begitu besar. Les ini kursus itu. Seharian penuh di sekolah, petang ikut les malam kembali belajar untuk sekolah besok. Kesalahan didik yang terjadi di banyak sekolah pun tak dhiraukan lagi. Pelajaran yang menanamkan bahwa semua agama sama, sama-sama benar sama-sama mennyembah satu Tuhan tidak membuat sedikit pun risau. Saat anak

terbata-bata membaca al-Quran atau tidak menjalankan kewajiban agama seakan bukan hal yang salah. Giliran nilai matematika dan bahasa Inggris jeblok, bukan sekadar buru-buru mencari tempat bimbingan belajar yang lebih bonafit, anak pun tak lepas dari

marah dan bentakan.

Bagaimana semestinya orang tua memandang sebuah pendidikan anak? Pendidikan anak mendapat perhatian yang sangat serius di dalam Islam. Terbukti dari banyaknya nash al-Quran maupun hadits Nabi Muhammad Shalallallahu alaihi wa sallam yang membicarakan masalah keluarga atau rumah tangga yang menekankan pada permasalahan pembentukan generasi yang berkualitas, shalih, berguna bagi dirinya, agama dan masyarakatnya serta bahagia di dunia dan selamat di akhirat.

Hal ini merupakan realisasi dari penghambaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

dalam seluruh aspek kehidupan, baik individual maupun sosial. Sebuah tugas besar buat manusia, seperti firman Allah Tabaroka wa ta’ala ,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku sekali-kali tidak mencciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menghambakan diri (beribadah) kepada-Ku.” (Al-Dzariat:56).

Nyatalah bahwa pendidikan individu dalam Islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Tabaroka wa ta’ala. Tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada shalat, shaum dan haji; tetapi settiap karya yang dilakukan seorang

muslim dengan niat untuk Allah Subhanahu wa ta’ala semata merupakan ibadah. (2)

Pendidikan ideal adalah yang mengedepankan nilai-nilai Islam. Seorang anak boleh, bahkan dalam kondisi tertentu wajib kifayah, diarahkan untuk menguasai ilmu-ilmu keduniaan, namun tidak boleh mengabaikan ilmu agama Islam. Bahkan sebisa mungkin

nilai-nilai keislaman itu harus menjiwai ilmu duniawinya. Artinya keinginan sebagian besar orang tua untuk melihat anaknya menguasai masalah duniawi tidak boleh

dibarengi dengan sikap mengabaikan tugas pokok mendidik,langsung maupun tidak, anaknya dengan ilmu-ilmu agama. Sunggguh sebuah proses pendidikan tidak sebatas pengajaran belaka.

Kalau anak dibiarkan sekadar mengikuti pembelajaran ala sekolah umum, jelas sebenarnya orang tua telah menghancurkan masa depan anak. Masa depan di dunia

lebih-lebih akhirat. Sejak dini anak mesti dididik dengan nilai Islam. Pendidikan

usia dini merupakan tahap yang sangat penting dan strategis, yang akan menjadi pondasi bagi proses didik selanjutnya. Karena itu akidah Islam pun harus sudah mulai dikenalkan sejak usia dini. Sejarah mencatat sosok anak hasil didikan Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam, sebutlah Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu anhu, Abdullah ibnu Abbas rodhiyallahu anhu atau Anas bin Malik rodhiyallahu anhu. Mereka menjadi orang-orang besar yang tidak hanya bermanfaat bagi diriinya, bahkan bagi orang-orang jauh dari zaman kehidupannya termasuk kita yang hidup di ujung zaman ini.

Pendidikan ideal akan menghasilkan sosok yang memahami agama Islam dengan baik, meyakini dengan kokoh dan perilakunya merupakan pancaran dari nilai-nilai Islam. Mereka mungkin sukses sebagai pebisnis, pejabat besar, tukang insinyur yang piawai

atau penggembala seperti kisah tersebut di muka. Namun mereka juga menguasai, paling tidak,dasar-dasar agama Islam yang wajib dipahami dengan benar.

Dengan pemahaman akidah yang kokoh dibarengi pengetahuan tentang syariat Allah berhiaskan akhlak Islam, mereka punya rasa muraqabah yang begitu kuat. Allah Subhanahu wa ta’ala  itu dekat, dekat keilmuan dan pengawasan-Nya. Anak sukses

jauh dari sosok yang gagap tentang agamanya meski menjadi penemu planet kesepuluh. Bukan sosok seperti yang digambarkan Rasulullah Shalallallahu alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia sementara bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Shahhih Jami’ Al-Shaghir)

Anak yang tidak dididik dengan ajaran Islam yang mencukupi hanya akan menjadi pemburu dunia. Kehidupan akhirat yang jauh lebih utama malah diabaikan dan dilalaikan. Anak demikian, tanpa hidayah Alah Tabaroka wa ta’ala, akan tumbuh menjadi orang yang merasa aneh terhadap ajaran agamanya sendiri, meski masih mengenal

nama agamanya Islam. Baginya kehidupan sekadar di dunia, meski kadang meyakini adanya kehidupan akhirat namun tetap saja aktivitasnya seakan hanya ingin hidup didunia. Allah l berfirman, sebagai peringatan keras terhadap orang yang melupakan

akhiratnya karena tenggelam dalam kehidupan dunia.

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehiduppan) akhirat adalah lalai.” (Al-Rum:7)

Di antara komentar ulama ahli tafsir tentang ayat tersebut adalah:

Imam Ibnu Katsir rohimahullah  berkata, “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi.Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati

mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu agama Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.”3

Syaikh Abdur rahman bin Nashir al-Sa’di rohimahullah berkata, “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia, sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka. Inilah tanda kehancuran mereka, bahkan dengan otaknya mereka bingung dan gila. Usaha mereka memang menakjubkan seperti menemukan

atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada manusia yang mampu menandinginya, bahkan orang lain dianggap hina dalam pandangan mereka. Akan tetapi ingatlah! Mereka itu orang yang paling

bodoh dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepandaiannya akan merusak dirinya. Yang tahu kehancuran mereka adalah insane yang beriman dan berilmu. Mereka

bingung karena menyesatkan dirinya sendiri. Itulah hukuman Allah bagi orang yang melalaikan urusan akhiratnya, akan dilalaikan oleh Allah dan tergolong orang fasik. Andaikan mereka mau berpikir bahwa semua itu adalah pemberian Allah Azza wa jalla  dan kenikmatan itu disertai dengan iman, tentu hidupnya akan bahagia. Akan tetapi lantaran dasarnya yang salah, mengingkari karunia Allah Subhanahu wa ta’ala , tidaklah kemajuan urusan dunia mereka melainkan malah merusak dirinya sendiri.”4

Apakah demikian sosok anak sukses yang kita harapkan? Bisa jadi, disadari atau tidak, kita telah menyiapkan anak-anak kita menjadi sosok-sosok yang tercela dan celaka. Akhirnya penyesalan baru kita rasakan 10 atau 20 tahun mendatang, di saat anak-anak

telah dewasa menjadi sosok yang tidak hanya melupakan orang tua bahkan menyengsarakan.

Masih beruntung kalau kita bisa menyesalinya, masih ada harapan untuk memperbaikinya, betapa celakanya jika penyesalan terjadi di akhirat nanti. Saat tidak ada

waktu lagi untuk evaluasi dan mengoreksi.

ORANG TUA MENJADI TELADAN

 

Tidak sedikit orang tua yang menginginkan anaknya baik, namun sulit mewujudkan diri sebagai teladan dalam kebaikan itu sendiri. Satu misal, banyak orang tua yang menyadari betul bahaya televisi bagi anak-anak. Televisi mengganggu pertumbuhan fisik anak secara tidak langsung karena anak cenderung betah duduk dan malas bergerak, biasanya diiringi kebiasaan ngemil. Acara televisi banyak meracuni perilaku dan pola pikir anak, juga menodai akhlak anak yang bersih. Jangankan acara “dewasa”, acara yang ditujukan untuk anak-anak pun merusak. Ambil contoh film kartun Tom & Jerry, tak lebih sekadar

mempertontonkan budaya barbar dan kekerasan. Karena itu banyak orang tua yang melarang anaknya menonton televisi. Ironisnya orang tuanya justru menjadi penikmat

acara televisi yang setia. Sungguh tidak boleh dilupakan bahwa teladan bagi anak lebih

bermakna dari sekadar berondongan kata-kata. Karena itu orang tua perlu melakukan beberapa pendekatan yang cerdas, di anttaranya:

1. Mendidik anak dengan pendekatan qudwah hasanah (suri teladan yang baik). Orang

tua haruslah menjadi contoh hidup nyata tentang ajaran Islam yang akan ditanamkan dalam diri anak-anaknya. Secara fitrah anak-anak, bahkan manusia pada umumnya, telah mempunyai kecenderungan untuk mencontoh dan meniru perilaku orang lain yang dinilai lebih unggul daripadanya, terutama orang tuanya.

Dalam pandangan anak, semua perkataan dan perbuatan orang tuanya dianggap benar. Dengan adanya keteladanan, anak didik akan merasa tentram dan yakin terhadap apa yang dipelajari. Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala  sebagai rasul agar juga agar menjadi suri teladan dalam segala persoalan kehidupan, baik besar maupun kecil, termasuk aspek pendidikan. Semua ajaran Islam dapat dilihat secara nyata oleh umatnya pada pribadi beliau. Maka Nabi Muhammad shalallallahu alaihi wa sallam benar-benar merupakan sosok teladan dalam setiap perbuatan, perkataan, ibadah, akhlak dan lain-lainnya.

Dalam bergaul (muamalah) Rasulullah  shalallallahu alaihi wa sallam mampu menjadi

qudwah bagi semua manusia, sampai kepada anak-anak. Terhadap anak-anak beliau selalu bercanda mengungkapkan rasa belas kasihnya yang mendalam, bahkan beliau menghargai mereka dan memberi salam kepada mereka. Perilaku beliau seperti ini mempunyai pengaruh besar dalam jiwa mereka, sebagaimana diturturkan oleh Anas bin Malik rodhiyallahu anhu

“Demi Allah, Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam belum pernah meyalahkan aku,

kenapa kamu lakukan ini dan kenapa begitu dan begini.”

Keperwiraan Nabi shalallallahu alaihi wa sallam  dalam berperang melawan musuh-musuh Allah juga sangat membekas dalam jiwa para shahabatnya, termasuk yang masih anak-anak.

Hingga, dalam peperangan Uhud ada tiga anak berusia dini minta izin kepada beliau untuk ikut berperang.

2. Memberikan pengajaran dan bimbingan (ta`lîm dan ta’dîb) kepada anak-anak. Hal ini mendapat perhatian dari Rasulullah shalallallahu alaihi wa sallam dimana beliau bersabda:

“Sungguh jika seorang ayah menggajar dan membimbing anak anaknya itu lebih baik dari pada ia bersedekah satu sha`.” “Tiada suatu pemberian yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya yang lebih baik (utama) dari pada budi pekerti yang luhur.”

(Sunan al-Tirmidzi kitab al-Birr wa al-Shilah, bab: tentang etika anak).

Anak, di masa kecilnya tidak dapat membedakan antara mana yang baik dan mana yang buruk, hanya mempunyai keinginan di dalam jiwa yang dapat mendorongnya untuk mematuhi orang yang mengarahkan dan membimbingnya. Anak akan merasa aman bila hidup di bawah lindungan dan bimbingan orang yang mengarahkannya.

Dengan perbaikan orientasi pendidikan anak kita akan dapat mewujudkan impian punya putraputri yang sukses, insyaallah. !

[ Redaksi ]

Catatan Kaki:

1 Kisah ini terdapat dalam kitab Siyar Al’lami al-Nubala’ juz 3 hal. 216, Tarikh

al-Islam juz 5 hal. 460 dan Tarikh Maddinah wa Dimasyq juz 3 hal. 134.

2 Aisyah Abdurrahman al-Jalal, Al-Mu’atstsirat al-Salbiyah fi Tarbiyati al-Thiflil Muslim wa Thuruq ‘Ilajiha, hal. 76 via www.alsofwa.or.id

3 Abu al-Fida, Ismail bin Umar bin Katsir al-Dimasyqi. Tafsir al-Quran al-Azhim.

Juz 3 hal. 428 (Beirut: Daru al-Fikr. 1401H.)

4 Al-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir dan Ibnu Utsaimin (Ed.). Taisiru al-Karimi

ar-Rahman fi Tafsiri Kalami al-Manan. Juz 4 hal. 75 (Beirut: Muassasah al-Rissalah.

1421H/2000M.)

Sumber : Majalah Al Fatawa Vol.III/No.06 | Mei 2007 / Rabiul Akhir 1428

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: