Kita Tidak Mungkin “Bersatu dengan Allah”!

Kita Tidak Mungkin “Bersatu dengan Allah”!

Membedah Kekeliruan Kaum Sufi dalam Memahami Hadits Wali

disusun oleh : Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

desert-sand

A. Pengantar

Sesungguhnya membela kemurnian agama dan membantah para ahli bid’ah dengan argumen dan hujjah merupakan kewajiban yang amat mulia dan landasan utama dalam agama. Oleh karenanya, para ulama salafush shalih lebih mengutamakannya daripada ibadah sunnah, bahkan mereka menilai bahwa hal tersebut merupakan jihad dan ketaatan yang sangat utama. Imam Ahmad pernah ditanya:

“Manakah yang lebih engkau sukai, antara seorang yang berpuasa (sunnah), shalat (sunnah), dan i’tikaf dengan seorang yang membantah ahli bid’ah?” Beliau menjawab: “Kalau dia shalat dan i’tikaf maka maslahatnya untuk dirinya pribadi, tetapi kalau dia membantah ahli bid’ah maka maslahatnya untuk kaum muslimin, ini lebih utama.” <!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Di antara para ahli bid’ah yang tidak kalah bahayanya adalah kelompok Sufiyah yang memborong sekian banyak kesesatan dan penyimpangan yang beraneka ragam, di antara sekian kesesatan mereka yang paling berbahaya adalah aqidah wahdatul(<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>) wujud (Manunggaling Kawula Gusti/bersatunya Tuhan dengan hamba), sebuah aqidah yang bertentangan seratus persen dengan pokok-pokok ajaran Islam, bahkan menghancurkan persendiannya baik dalam aqidah, ibadah, akhlaq, dan sebagainya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Bangkit membantah mereka (ahli wahdatul wujud) merupakan kewajiban yang sangat utama, sebab mereka adalah perusak akal dan agama manusia, mereka membuat kerusakan di muka bumi, dan menghalangi dari jalan Alloh. Bahaya mereka terhadap agama melebihi bahaya para penjajah dunia seperti perampok dan pasukan Tatar yang hanya merampas harta tanpa merusak agama.” <!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

  • Mungkin sebagian kita ada yang bergumam:

“Mengapa aqidah wahdatul wujud ini harus dipermasalahkan? Bukankah aqidah itu hanya ada pada beberapa tokoh zaman dulu saja semisal Ibnu Arabi, Ibnu Faridh, Ibnu Sab’in, dan sebagainya?! Bukankah aqidah itu sudah hilang dari permukaan bumi di masa kini?! Lantas mengapa perlu dibahas seperti ini?! Bukankah ini hanya sia-sia belaka?!”

  • Kami jawab:

“Tenanglah saudaraku! Jangan anda gegabah menilai seperti itu, bukalah mata anda lebar-lebar niscaya anda akan mengetahui (walau terkadang terselubung) betapa banyaknya pengibar bendera aqidah rusak ini di negeri kita dari para kyai, habib, penulis, aktivis, bahkan diajarkan di kuliah-kuliah agama seperti IAIN, contohnya.

Barangkali untuk lebih menenangkan hati, tidak mengapa kita nukil sebuah contoh –sekalipun hati ini sebenarnya terasa berat untuk menukilnya(<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>)–. Masih terngiang-ngiang di telinga saya ucapan keji Abdul Muqsith Ghazali MA, kawan Ulil Abshar dalam debat buku “Ada Pemurtadan di IAIN”,katanya:

Anjing akbar, tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Apa yang salah?! Sama sekali tidak ada yang salah, Akbar Tanjung, Anjing Akbar, Sekolah Akbar. Tidak ada yang salah. Itu kalau diniati bahwa anjing itu adalah Alloh.”

Lebih lanjut, dia mengatakan:

“Kalau dia menemukan sifat jamal dan kamal (keindahan dan kesempurnaan) dalam anjing itu maka enggak salah, justru dia akan naik maqamnya (kedudukannya), seperti Ibnu Arabi(<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>) dalam kitabnya Fushus Hikam(<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>), dia menemukan takallufnya ketika berhubungan suami istri. Ini adalah pluralisasi penafsiran yang akan dipuji sejarah!!!”

Aduhai, alangkah persisnya hari ini dengan kemarin!! Bukankah ucapan di atas adalah warisan nenek moyang para tokoh Sufi yang sesat dan menyesatkan dahulu?!! Coba anda perhatikan ucapan seorang tokoh Sufi berikut:

وَمَا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيْرُ إِلاَّ إِلَهُنَا

وَمَا اللَّهُ إِلاَّ رَاهِبٌ فِيْ كَنِيْسَةِ

Tiada anjing dan babi itu, melainkan Tuhan kita juga

Dan tiadalah Alloh itu kecuali rahib di gereja

  • Salah seorang sufi, Abul Husain an-Nuri tatkala mendengar anjing yang menggonggong, dia mengatakan:

Labbaika wa Sa’daika” (Aku penuhi panggilanmu).” <!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>

Maha Suci Alloh dari ucapan mereka!

 

Kemudian, jangan anda menyangka kalau mereka tidak memiliki argumen/dalil yang mendukung keyakinan sesat tersebut. Sungguh aneh bin ajaib memang, hampir tidak ada ahli bid’ah pun kecuali memiliki dalil untuk memperkuat kesesatan mereka. Demikian pula para penganut paham wahdatul wujud, mereka memiliki dalil –sekalipun lebih tepatnya disebut syubhat– dari al-Qur’an dan hadits untuk mendukung keyakinan tersebut, salah satunya adalah hadits wali yang akan menjadi tema bahasan kita kali ini. Namun, hal ini tak aneh kalau kita ingat ucapan Imam asy-Syathibi:

“Betapa sering engkau dapati ahli bid’ah dan penyesat umat mengemukakan dalil dan hadits dengan memaksakannya agar sesuai dengan pemikiran mereka dan menipu orang-orang awam dengan dalil-dalil tersebut. Lucunya mereka menganggap bahwa diri mereka di atas kebenaran!!” <!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>

B. Teks Hadits

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِليَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. وَمَا زَالَ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يُبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan melakukan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan pada mereka, kemudian hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Apabila Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, penglihatannya yang dia melihat dengannya, tangannya yang dia memegang dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Apabila dia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya. Dan tidaklah Aku bimbang akan sesuatu seperti kebimbangan-Ku dari mencabut nyawa seorang mukmin, dia benci kematian padahal Saya tidak ingin untuk menyakitinya (tetapi itu adalah kepastian).’”

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang para wali.”. <!–[if !supportFootnotes]–>[9]

  • Beliau juga mengatakan:

“Hadits ini sangat mulia dan merupakan hadits yang paling mulia tentang sifat wali.” <!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>

Demikianlah komentar indah terhadap hadits yang menjadi topik bahasan kita kali ini. Namun hal itu bukan berarti bahwa hadits ini selamat dari serangan dan hujatan, sebab kenyataan di lapangan membuktikan bahwa hadits ini mendapat kritikan dari dua segi; sanad dan matannya secara bersamaan.

Sebagian kalangan ada yang mempermasalahkannya dari segi sanadnya, dan sebagian lagi ada yang salah paham terhadap matannya. Dari situlah, kami merasa terdorong untuk membahas hadits ini dari segi sanad dan matannya serta meluruskan kesalahpahaman tersebut. Semoga Alloh menjadikan kita semua termasuk wali-wali-Nya.

 

C. Sanad Hadits

Sebagian kalangan ada yang mengkritik hadits ini dari sanadnya, di mana memang pada sanadnya terdapat rawi yang dibicarakan oleh para ulama ahli hadits, yaitu Khalid bin Makhlad. <!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

Jawaban:(<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>)

  • Hadits ini diriwayatkan Bukhari dalam Shahihnya (6502), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (1/4), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (1248), Abul Qasim al-Mahrawani dalam al-Fawa’id al-Muntakhabah ash-Shihah (1/3/2), Ibnul Hamami ash-Shufi dalam Muntakhab min Masmu’atihi (1/171), dan ketiganya menyatakan shahih, Rizqullah al-Hanbali dalam Ahadits min Masmu’atihi (1/2), Yusuf bin Hasan an-Nabilsi dalam Ahadits as-Sittah al-Iraqiyyah (1/26), al-Baihaqi dalam al-Asma’ wa Shifat (491) dan az-Zuhud (2/83) dari jalan Khalid bin Makhlad: Menceritakan kami Sulaiman bin Bilal: Menceritakanku Syarik bin Abdullah bin Abu Nimr dari Atha’ dari Abu Hurairah
  • Sanad hadits ini lemah, dia termasuk beberapa hadits sedikit yang dikritik oleh para ulama terhadap Bukhari. Adz-Dzahabi mengatakan pada biografi Khalid bin Makhlad al-Qathawani setelah menyebutkan komentar para ulama ahli hadits tentangnya: “Hadits ini aneh sekali. Seandainya bukan karena kewibawaan Jami’us Shahih (Shahih Bukhari), niscaya saya akan memasukkannya termasuk munkarat Khalid bin Makhlad, sebab lafazhnya aneh dan ditambah lagi Syarik sendirian dalam riwayatnya padahal dia bukan seorang yang pakar…”
  • Ucapan ini dinukil secara ringkas oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/292-293) lalu katanya: “Namun hadits ini memiliki beberapa jalur lain yang dengan terkumpulnya menunjukkan bahwa hadits ini ada asalnya.” Kemudian beliau menyebutkan delapan jalur penguat.
  • Syaikh al-Muhaddits al-Albani berkomentar dalam ash-Shahihah (4/185-186): “Demikianlah ucapan al-Hafizh. Beliau telah memaparkannya secara panjang lebar. Hal itu sangat wajar, sebab hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya bukanlah suatu hal yang mudah untuk mencela keabsahannya hanya karena kelemahan pada sanadnya, karena mungkin saja hadits tersebut memiliki beberapa penguat yang menguatkan dan mengangkatnya. Nah, apakah hadits ini termasuk di antaranya? Al-Hafizh telah memaparkan delapan penguat dan menetapkan bahwa dengan terkumpulnya jalan-jalan tadi menunjukkan bahwa hadits ini ada asalnya.
  • Menimbang, karena termasuk syarat diterimanya penguat adalah tidak terlalu lemah sebagaimana ditegaskan oleh para ulama dalam ilmu musthalah hadits, sehingga kalau terlalu lemah maka tidak bisa terangkat; dan juga harus sempurna, sehingga kalau tidak sempurna pun tidak diterima, maka kita harus meneliti dalam beberapa penguat ini, apakah memenuhi dua persyaratan tersebut ataukah tidak.”
  • Setelah membahas secara panjang lebar, beliau menyimpulkan di akhir bahasan (4/190): “Kesimpulannya, kebanyakan penguat ini tidak bisa menguatkan hadits ini, ada yang karena sangat lemahnya dan ada pula karena ringkasnya (tidak sempurna), kecuali mungkin hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di mana kalau keduanya digabungkan dengan sanad hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini maka bisa terangkat kepada derajat shahih, insya Alloh. Dan telah dishahihkan oleh para ulama yang telah saya sebutkan di muka.”

Barangsiapa yang ingin memperluas takhrij hadits ini, kami sarankan membaca Silsilah Ahadits ash-Shahihah (4/183-193) oleh al-Albani, karena beliau telah memaparkan jalur-jalurnya dengan pembahasan yang jarang didapati di kitab lainnya.(<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–>)

D. Matan Hadits(<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–>)

Sebagian kalangan dari kaum Sufi berdalil dengan hadits ini untuk memperkuat aqidah rusak mereka yaitu “wahdatul wujud”, bahwa Tuhan bersatu dengan hamba, sebab Alloh mengkhabarkan bahwa dirinya adalah pendengaran hamba, penglihatannya, tangannya, dan kakinya. <!–[if !supportFootnotes]–>[15]<!–[endif]–>

Jawaban:

Hadits ini tidak mendukung aqidah mereka secuil pun, bahkan sebaliknya malah membantah aqidah mereka(<!–[if !supportFootnotes]–>[16]<!–[endif]–>) ditinjau dari beberapa segi:

1|   Alloh mengatakan: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya.” Dalam hadits ini Alloh menetapkan tiga wujud: diri-Nya, wali-Nya, musuh-Nya. Maka bagaimana kalian jadikan mereka satu dzat saja?!

2|   Alloh mengatakan: “Tidaklah hamba-Ku melakukan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan pada mereka, kemudian hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara sunnah sehingga Aku mencintainya.”

  • Jadi Alloh menetapkan adanya hamba yang mendekatkan diri kepada Alloh dengan kewajiban dan sunnah dan bahwasanya dia senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya sehingga Alloh mencintainya. Hal itu menunjukkan adanya hamba dan Rabb, Yang mencintai dan yang dicintai, yang beribadah dan Yang diibadahi. Lantas bagaimana kalian jadikan keduanya satu dzat saja?!

3|   Alloh mengatakan: “Apabila Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya…”

  • Kecintaan ini diraih oleh hamba setelah dia mendekatkan diri kepada Alloh dan setelah Alloh mencintainya. Adapun menurut keyakinan wahdatul wujud bahwa Alloh adalah hamba itu sendiri, baik setelah mendekatkan diri maupun sebelumnya.

4|   Dalam hadits ini Alloh mengkhususkan keutamaan tersebut bagi wali-Nya tetapi dalam pandangan wahdatul wujud hal itu umum mencakup seluruh makhluk baik wali maupun musuh Alloh. Kalau demikian masalahnya, lantas apa keistimewaan wali?!

5|   Dalam hadits ini Alloh hanya menyebut pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki, tetapi mereka memperluasnya meliputi perut, paha, hidung dan sebagainya.

6|   Di akhir hadits, Alloh berfirman: “Kalau dia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya.” Hal ini sangat jelas bahwa di sana ada yang meminta dan ada Yang dimintai, ada yang meminta perlindungan dan ada Yang dimintai perlindungan. Semua ini berseberangan dengan aqidah wahdatul wujud.

  • Adapun makna hadits ini yang benar:

Sesungguhnya seorang hamba, apabila dia menunaikan perkara yang diwajibkan Alloh padanya kemudian berusaha menambahinya dengan perkara-perkara sunnah dengan segala kemampuannya, niscaya Alloh akan mencintainya dan menolongnya dalam segala urusannya, kalau dia mendengar maka dia pendengarannya mendapatkan bimbingan Alloh sehingga tidak mendengar kecuali kebaikan, tidak menerima kecuali kebenaran dan menolak kebatilan. Dan apabila dia memandang dengan penglihatannya, dia memandang dengan cahaya dan hidayah dari Alloh, sehingga dia memandang kebenaran dan mengikutinya, dan memandang kebatilan dan menjauhinya. Demikian pula apabila dia berjalan, maka dia berjalan dengan bimbingan Alloh sehingga dia berjalan dalam ketaatan kepada Alloh seperti mencari ilmu, jihad, dakwah, silaturrahmi dan sebagainya.

Walhasil, seluruh amalannya, kekuatannya, dan anggota badannya dalam hidayah Alloh, penjagaan-Nya dan taufiq-Nya. <!–[if !supportFootnotes]–>[17]<!–[endif]–>

  • Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila kecintaan dan pengagungan kepada Alloh memenuhi hati seorang hamba maka setiap apa pun selain-Nya akan terhapus dari hatinya, sehingga tidak tersisa pada diri hamba sesuatu pun dari hawa dan keinginannya kecuali sesuai dengan apa yang dicintai Alloh. Ketika itulah dia tidak berucap kecuali dengan mengingat-Nya, tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya, bila dia berbicara, berjalan, mendengar, melihat semuanya dengan bimbingan dari Alloh. Inilah maksud dari sabda beliau: ‘Aku adalah pendengarannya, pandangannya, tangannya, dan kakinya.’ Siapa pun yang menafsirkan selain ini, maka sesungguhnya dia mengisyaratkan kepada aqidah hulul dan wahdatul wujud yang Alloh dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.”<!–[if !supportFootnotes]–>[18]<!–[endif]–>
  • Abu Sulaiman al-Khaththabi berkata: “Semua perumpamaan yang digambarkan oleh Nabi ini maksudnya adalah –Wallohu A’lam– bahwa Alloh memberikan taufiq kepadanya untuk melakukan amalan dengan anggota badannya tersebut, yakni Alloh memudahkannya dengan anggota badan tersebut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dicintai oleh Alloh dan menjaganya dari terjerumus kepada perbuatan yang dibenci Alloh berupa mendengarkan ucapan batil dan sia-sia dengan pendengarannya, memandang hal yang haram dengan matanya, berjalan menuju keharaman dengan kakinya. Atau bisa jadi maksud hadits ini adalah lekasnya terkabulkannya do’a wali sebab usaha manusia itu adalah dengan empat anggota tubuh tersebut.” <!–[if !supportFootnotes]–>[19]<!–[endif]–>
  • Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga berkata: “Seorang yang sedikit saja memiliki bekal ilmu bahasa Arab tidak akan memahami bahwa maksud hadits ini bahwa Alloh adalah pendengaran manusia, penglihatannya, tangan, dan kakinya. Maha Suci Alloh dari ucapan mereka. Tetapi maksudnya adalah bahwa Alloh memberikan taufiq kepada para wali-Nya dalam setiap gerakan mereka disebabkan ketaatan mereka kepada-Nya.” <!–[if !supportFootnotes]–>[20]<!–[endif]–>Demikianlah makna hadits ini secara benar sebagaimana dipahami oleh para ulama ahli hadits semenjak dahulu hingga sekarang. Peganglah ucapan mereka dan cukuplah hal itu sebagai pedoman bagi kita.

إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا

فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ

Apabila Hadhami<!–[if !supportFootnotes]–>[21]<!–[endif]–> berucap maka benarkanlah

Karena kebenaran pada dirinya.

 

E. Fawa’id Hadits(<!–[if !supportFootnotes]–>[22]<!–[endif]–>) [Pelajaran yang Bisa Dipetik]

Hadits ini memiliki banyak faedah. Al-Hafizh asy-Syaukani menulis kitab khusus tentang penjelasan hadits ini berjudul Qathrul Walyi bi Syarhi Hadits Wali. Di antara faedah yang dapat dipetik dari hadits ini sebagai berikut:

1|   Keutamaan para wali (kekasih) Alloh

Tetapi siapakah yang disebut wali Alloh?! Mereka adalah setiap hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Alloh, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih. (Yaitu) orang-orang beriman dan mereka selalu bertaqwa.

(QS. Yunus [10]: 62-63)

2|   Sifat utama wali Alloh

Sifat mereka adalah melaksanakan kewajiban dan menambahinya dengan perkara sunnah. Oleh karenanya, jangan tertipu dengan penampilan para wali gadungan dari para tukang sihir dan penyimpang yang doyan kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan, sekalipun mereka menampakkan kedigdayaan dan keluarbiasaan, sebab semua itu adalah tipu daya setan.

إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا يَطِيْرُ

وَفَوْقَ مَاءِ الْبَحْرِ قَدْ يَسِيْرُ

وَلَمْ يَقِفْ عَلَى حُدُوْدِ الشَّرْعِ

فَإِنَّهُ مُسْتَدْرَجٌ بِدْعِيْ

Bila engkau lihat seorang dapat terbang

Dan berjalan di atas lautan

Padahal dia tidak menaati tatanan syari’at

Maka ketahuilah bahwa dia ahli bid’ah yang dimanja.

3|   Bahaya menyakiti para wali

Menyakiti para wali Alloh merupakan dosa besar, sebab Alloh menyatakan perang terhadapnya. Maka celakalah orang-orang yang mencela para nabi(<!–[if !supportFootnotes]–>[23]<!–[endif]–>), para sahabat nabi, dan para ulama salafush shalih.(<!–[if !supportFootnotes]–>[24]<!–[endif]–>)

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

(QS. al-Ahzab [33]: 58)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya (4/481):

“Barisan yang pertama kali masuk dalam ancaman ayat ini adalah orang-orang yang kafir kepada Alloh dan Rasul-Nya, kemudian kaum Rafidhah (Syi’ah) yang biasa mencela para sahabat dan menuduh mereka yang bukan-bukan serta menyifati mereka berlainan tajam dengan sifat yang diberikan Alloh kepada mereka, di mana Alloh memuji mereka dan mengkhabarkan bahwa Dia telah ridha kepada kaum Muhajirin dan Anshar, tetapi orang-orang jahil dan tolol itu mencela dan menghina mereka, dan menuduh mereka yang bukan-bukan. Sungguh mereka adalah manusia yang terbalik hatinya, mencela manusia terpuji dan memuji manusia tercela.”

4|   Menetapkan “perang” bagi Alloh

Alloh telah menyebutkan juga tentang riba, yang artinya:

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Alloh dan rasul-Nya akan memerangimu.

(QS. al-Baqarah [2]: 279)

5|   Menetapkan sifat “cinta” bagi Alloh.

6|   Perintah Alloh terbagi menjadi dua, ada yang wajib dan ada yang sunnah.

7|   Anjuran memperbanyak amalan sunnah.

8|   Banyak mengamalkan perkara sunnah merupakan sebab kecintaan Alloh.

9|   Sesungguhnya Alloh apabila mencintai seorang hamba, maka Alloh akan mengabulkan do’anya dan memenuhi permintaannya.

10| Seorang hamba akan merasakan dekat kepada Alloh ketika dia beramal shalih.

Demikianlah pembahasan kita kali ini, kami mengajak diri kami dan saudara kami untuk mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh, semoga Alloh menjadikan kita semua termasuk wali-wali-Nya. Amiin.

artikel: [www.abiubaidah.wordpress.com ]

.

<!–[if !supportFootnotes]–>Catatan kaki:


<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 28/131.

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Demikianlah yang lebih tepat dalam bahasa Arab, dengan memfathah huruf wawu, sekalipun yang lebih populer adalah wihdatul wujud, dengan mengkasrah wawu.

<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Majmu Fatawa 2/132.

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Dalam bahasa Arab ada sebuah kata hikmah Mukrahun Akhuka La Bathal (Saudaramu terpaksa, padahal sebenarnya dia tidak berani), sebagaimana dalam Majma’ Amtsal (hal. 274) oleh al-Maidani. Imam as-Suyuthi juga pernah mengatakan:

“Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh merahmatimu– bahwa di antara ilmu ada yang seperti obat, dan di antara pendapat ada yang seperti tempat buang hajat yang tidak diingat kecuali ketika dibutuhkan saja.” (Miftahul Jannah hal. 5)

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Dia adalah seorang dedengkot Sufi, pengibar bendera wahdatul wujud (wafat 638 H). Dia mempunyai berbagai pemikiran kufur. Oleh karenanya, para ulama menganggapnya sesat bahkan tak sedikit yang mengkafirkannya. Syaikh Burhanuddin al-Biqa’i (885 H) menulis sebuah kitab berjudul Tanbih al-Ghabiyyi ’ala Takfir Ibni Arabi sebanyak 241 halaman. Dalam kitab tersebut, beliau menukil ±50 ulama yang mengkafirkan atau minimal menganggapnya sesat; di antaranya:

  • al-Izz bin Abdussalam,
  • Ibnu Daqiq al-’Ied,
  • Ibnu Shalah,
  • al-Hafizh Ibnu Hajar,
  • al-Bulqini,
  • al-Iraqi,
  • Abu Zur’ah al-Iraqi,
  • al-’Aini, adz-Dzahabi,
  • Badruddin bin Jama’ah,
  • al-Jazari,
  • Ibnu Hisyam,
  • as-Subki,
  • Abu Hayyan,
  • dan lainnya. (Lihat pula Mashra’ Tashawwuf hal. 138-168 oleh Burhanuddin al-Biqa’i dan ar-Radd ’ala ar-Rifa’i wa al-Buthi hal. 111-113 oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad)

<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lamin Nubala’ (23/48):

“Di antara karya tulisnya (Ibnu Arabi) yang paling jelek adalah kitab Fushus, sebab kalau di dalamnya itu bukan kekufuran, maka tidak ada kekufuran di dunia ini. Kita memohon kepada Alloh ampunan dan keselamatan.”

Ismail Abul Fida’ dalam kitabnya Akhbar Basyar (4/79) menyebutkan: “Pada tahun 744 H, kami merobek kitab Fushus Hikam karya Muhyiddin Ibnu Arabi di madrasah ’Ushfuriyah di kota Halab usai pelajaran sebagai peringatan akan haramnya menelaah dan memiliki kitab tersebut. Saya berkata tentangnya:

Ini adalah Fushus (batu mata cincin) yang tiada berharga

Saya telah membaca ukirannya tetapi pahalanya ada pada sebaliknya.

(Lihat pula Kutub Hadzara Minha al-Ulama 1/37 oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman).

Anehnya, kitab ini telah disyarah oleh kurang lebih seratus lebih ulama Sufi, tiga di antara mereka adalah murid-murid Ibnu Arabi sendiri!! (Lihat Muallafat Ibnu Arabi hal. 479 oleh Utsman Yahya, Aqidah Shufiyyah hal. 158 oleh DR. Ahmad bin Abdul Aziz)

<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> al-Luma’ fi Tashawwuf hal. 461 oleh Abdullah ath-Thusi, tahqiq Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dalam ar-Rudud Ilmiyyah fi Dahdzi Abathil Shufiyyah hal. 266 oleh DR. Muhammad bin Ahmad al-Juwair.

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> al-Muwafaqat 3/52.

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–> al-Furqan baina Auliya’ Rahman wa Auliya’ Syaithan hal. 50.

<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Majmu’ Fatawa 18/129.

<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–> Lihat Mizan I’tidal 1/64 adz-Dzahabi: biografi Khalid bin Makhlad, Jami’ul Ulum wal Hikam 2/330-331 Ibnu Rajab, Tafsir al-Manar Rasyid Ridha: surat Yunus [10]: 62-63, as-Sunnah Nabawiyyah Muhammad Ghazali: hal. 77 cet. Keenam.

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–> Diringkas dari Silsilah Ahadits ash-Shahihah (4/184-190/no.1640) oleh al-Muhaddits al-Albani.

<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–> Dan hal ini merupakan salah satu bukti di antara banyak bukti pembelaan dan penghormatan Syaikh al-Albani terhadap Shahih Bukhari-Muslim, berbeda dengan anggapan sebagian kalangan. Lihat uraian penulis tentang masalah ini secara agak luas dalam bukunya “Syaikh al-Albani Dihujat” hal. 75-80. Semoga Allah memudahkan kami untuk mencetak ulang buku ini kembali.

<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–> Dinukil dengan beberapa tambahan dari kitab Aqidah Shufiyyah Wihdatul Wujud Khafiyyah (hal. 564-566) oleh DR. Ahmad bin Abdul Aziz al-Qushayyir, cet. Maktabah ar-Rusyd.

<!–[if !supportFootnotes]–>[15]<!–[endif]–> Lihat Fushus Hikam hal. 189 Ibnu Arabi, Thabaqat Kubra 2/24 asy-Sya’rani, Syarh Fushus Hikam 1/19 al-Qaishari, Iqadhul Himam hal. 52 Ibnu Ajibah, Syarh Jawahir Nushus hal. 47 an-Nabilisi.

<!–[if !supportFootnotes]–>[16]<!–[endif]–> Alangkah bagusnya ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

Setiap ayat yang digunakan oleh ahli bid’ah maka pada ayat itu sendiri terdapat dalil yang membantah ucapannya, dan setiap dalil akal yang digunakan oleh ahli bid’ah maka pada dalil itu sendiri terdapat dalil yang menunjukkan kerusakan ucapannya.” (Lihat al-Aqud ad-Durriyyah hal. 39 oleh muridnya, Ibnu Abdil Hadi)

<!–[if !supportFootnotes]–>[17]<!–[endif]–> Lihat Majmu’ Fatawa 2/341 Ibnu Taimiyah, ad-Da’ wa Dawa’ hal. 315-319 Ibnul Qayyim, Fathul Bari 11/344 Ibnu Hajar, Qathrul Walyi bi Syarhi Hadits Wali hal. 428-429 asy-Syaukani, Fatawa Lajnah Da’imah 3/158, Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 1/257-258.

<!–[if !supportFootnotes]–>[18]<!–[endif]–> Jami’ul Ulum wal Hikam 2/347.

<!–[if !supportFootnotes]–>[19]<!–[endif]–> Syarh Sunnah, al-Baghawi, 5/20.

<!–[if !supportFootnotes]–>[20]<!–[endif]–> Majmu’ Fatawa wa Maqalat 3/66-67.

<!–[if !supportFootnotes]–>[21]<!–[endif]–> Hadzami adalah nama wanita, istri seorang penyair. Makna bait ini:

  • “Wanita ini dalam setiap ucapannya selalu benar, sehingga apabila dia mengatakan suatu ucapan maka ketahuilah bahwa itu adalah ucapan yang paten, tidak boleh diselisihi, kalian harus membenarkannya dan meyakini ucapannya.” (Sabilul Huda bi Tahqiq Syarh Qathr Nada, Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, hal. 35).
  • Dialah yang digelari dengan Zarqa’ Yamamah, yang konon ceritanya dapat melihat sesuatu yang jaraknya sejauh perjalanan tiga hari dengan mata kepalanya. Dan ketika dia terbunuh, dilihat ternyata pangkal matanya penuh dengan celak mata Itsmid. (Lihat Khizanatul Adab oleh al-Baghdadi 10/255 dan Syarh Mumti’ 1/157 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).

<!–[if !supportFootnotes]–>[22]<!–[endif]–> Dinukil –dengan beberapa tambahan– dari Syarh Arba’in Nawawiyyah (hal. 409-412) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

<!–[if !supportFootnotes]–>[23]<!–[endif]–> Beberapa bulan lalu, kita dibuat heboh oleh kelakuan jahat beberapa warga Denmark yang menampilkan gambar karikatur Nabi Muhammad yang penuh dengan bom dan rudal di kepalanya. Tapi yakinlah bahwa hal itu adalah pertanda kehancuran mereka sendiri, sebab Alloh telah berjanji untuk menghancurkan orang-orang yang merendahkan beliau (QS. al-Kautsar [108]: 3).

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya ash-Sharimul Maslul (hal. 165): “Setiap orang yang melecehkan Nabi, membencinya, dan memusuhinya, maka Alloh pasti membinasakannya dan melenyapkannya.” Salah satu yang telah terbukti, baru beberapa hari kemudian dari ulah perbuatan mereka, negara Denmark langsung mengalami kerugian besar dalam perekonomiannya disebabkan pemboikotan negara-negara Islam terhadap produk-produknya!! Maha Benar Alloh.

<!–[if !supportFootnotes]–>[24]<!–[endif]–> Alangkah indah ucapan Imam Syafi’i:

“Kalau para ulama bukan wali Alloh, maka saya tidak tahu siapakah mereka?” Oleh karenanya, barangsiapa yang merendahkan dan mencela para ulama Sunnah, maka dia berada di ambang kehancuran.

  • Imam Ibnu Asakir berkata dalam Tabyin Kadzib al-Muftari (hal. 29): “Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa daging para ulama –semoga Alloh merahmati mereka– beracun. Alloh pasti menyingkap tirai para pencela mereka, karena menuduh dan menodai kehormatan mereka merupakan perbuatan dosa besar.”

Sumber : http://abiubaidah.com/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html/

2 Responses

  1. Sesungguhnya Sufi Yg engkau sebutkan itu slah. Sufi yg Sbenarnya Adlah Orng2 yg Berjlan Dijalan Allah Dengan Tawakal dan Kesabarannya untuk mndapatkan berkah yg sesungguhnya. Itulah Sufi Yg sbenarnya bkan yg engkau sebutkan diatas. Smoga Allah memberikan Petunjuk dan Pertolangan Untuk Mu Agr Engkau Bsa Mngerti Dan Tdak Asal2lan Menjelek2xkan suatu kaum yg blum kamu tahu sesungguhnya dan maka yang kamu itu slah adanya.

    • Syukron atas komentarnya wahai saudaraku.., Tidaklah kata-kata atau tulisan diatas semata hanya tuduhan atau asal-asalan saudaraku, tetapi hal tersebut disertai burhan, bukti dan petunjuk atas kesalahan manhaj sufi yang dijelaskan para ulama rabaniyyin dari kitab -kitab tokoh sufi yang banyak kesesatan, bila antum menyanggah bahwa tulisan tersebut bertentangan dengan hakikat Sufi sebenarnya maka antum harus mendatangkan burhanu wal bayyanu alaa haqiqoti suffiyah ma’a adilatu ( bukti dan penjelasan yang nyata atas hakikat sufi dengan dalil ), ketauilah wahai saudaraku agama kita yang mulia ini adalah Nasehat.., Semoga kita senantiasa diberikan Taufiq wal Hidayah agar kita tidak terjatuh kepada Taqlid dan ta’ashub yang berlebihan, Barokallahu fiykum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: