Kebenaran, Makna Dan Ukurannya

Kebenaran, Makna Dan Ukurannya
jembatan
Oleh : Abu Shalihah Muslim Al-Atsari

Fitrah manusia apabila telah rusak, jika melihat al-haq (kebenaran) maka dia akan mengikuti dan mencintainya. Sehingga setiap kelompok manusia yang meyakini sesuatu dan memperjuangkannya, semua merasa di atas al-haq (kebenaran). Akan tetapi bagaimana mungkin mereka semua di atas al-haq, kemudian berlawanan satu dengan lainnya. Padahal al-haq itu satu adanya, dan tidak ada yang menentangnya kecuali kebatilan dan kesesatan. Dengan berpijak di atas al-Kitab dan as-Sunnah dengan bimbingan para ulama umat, kami persembahkan -bi idznillah- sedikit keterangan mengenai al-haq ini, mudah2an bermanfaat bagi kita semua. Continue reading

Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)

Ghazwul Fikritelevisi

Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan “Perang Pemikiran”. Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini.

Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Continue reading

AHLUS SUNNAH DAN TERORISME

AHLUS SUNNAH DAN TERORISMEDesert%20Landscape2

Oleh : Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr

Orang yang menuduh kita sebagai teroris, ia termasuk ahlul ghuluw (berlebih-lebihan dalam tuduhannya). Ia tidak mengerti dakwah salafiyah. Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah salafiyah adalah dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya[1]. Namun demikian, tidak boleh seorang Salafi (siapapun orangnya) menganggap dirinya berakhlak seperti akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau akhlak para shahabatnya. Continue reading

%d bloggers like this: