Teteskan air mata Surga

Teteskan air mata Surga 

air mata

Menangis sering dipersepsikan sebagai kecengengan.Padahal tidak selalu demikian. Kalau seseorang kehilangan barang, gagal mencapai sesuatu, dihina orang lain dan semacamnya kemudian menangis, bisa jadi memang cengeng. Tetapi menangis karena

menyadari dosa-dosa kehidupannya, menyadari kekurangan amalnya, takut akan adzab Allåh Tabaroka wa ta’ala , dan semacamnya bukanlah cengeng bila kemudian meneteskan air mata. 

Isak tangis para sahabat yang tengah duduk mengelilingi Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam mengherankan seorang pemuda yang ikut duduk di majelis tersebut. Mereka semua menangis terisak, bahkan Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam sendiri

menyampaikan nasehatnya dengan suara parau. Sedang si pemuda, tak setetes pun air mata keluar dari kelopak matanya.

Ia menanyakan kejanggalan dirinya kepada Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam. 

Beliau kemudian menyebutkan penyebabnya yaitu kerasnya hati. Diuraikan juga berbagai penyebab yang saling bertaut hingga mengeraskan hatinya. Semuanya bercabang dari cinta dunia dan takut mati. 

MAKNA TETESAN AIR MATA

Sesungguhnya, Allåh Subhanahu wa ta’ala tidak pernah keliru menciptakan sesuatu. Dari tetesan air mata saja terkandung berjuta makna yang menyiratkan kasih sayang dan kemahaluasan ilmu Allåh. Setidaknya ada dua fungsi penting air mata bagi manusia. 

Pertama, melindungi dan menjaga kesehatan mata. Apa jadinya kalau mata tidak mengeluarkan air? Pasti tersiksa. Gerak mata akan macet sehingga tak mampu mengedip.

Akibatnya, benda-benda dari luar akan berlomba memasuki mata, dari udara, radiasi cahaya, debu, bakteri, virus, dan sebagainya. Mata akan terasa perih, panas, dan sakit. 

Kedua, sebagai alat komunikasi serta pengekspresian emosi. Ketika seorang manusia lahir, hingga beberapa masa tertentu, air mata yang mengiringi tangisan menjadi

alat komunikasi utama. Air mata sangat ampuh untuk menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. 

Dengan air matalah seorang anak bisa “memaksa” sang ibu untuk memberikan air susu serta aneka perhatian. Sebagai sarana mengekspresikan emosi, tetesan air mata mengkomunikasikan sejumput pesan dengan makna-makna tertentu. Ia mengekspresikan suasana hati yang terdalam, entah sedih, gembira, takut, atau sakit. Sehingga nilai air mata begitu istimewa, khusus, serta berkesan. 

Bukankah hati hanya bisa disentuh oleh hati? Karena itu tidak heran jika air mata bisa meluluhkan hati yang keras, menaklukkan sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan dengan pedang. Sesungguhnya, air mata pun bisa menjadi alat komunikasi yang sangat canggih antara seorang hamba dengan penciptanya sekaligus sesembahannya. Betapa

tidak, tetesan air mata karena Allåh menjadikan pemilik mata terjauh dari neraka. Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam  bersabda : 

“Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allåh hingga air susu (yang sudah keluar) kembali ke tempat asalnya.” (Sunan al-Tirmidzi no. 1633, berkata Abu Isa, “Hadits ini hasan sahih.”) 

“Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allåh pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah ….dan seorang yang berdzikir kepada Allåh di tempat yang sunyi kemuddian kedua matanya bercucuran air mata.”( Shåĥiĥ al-Bukhåri no. 660 dan Shåhih Muslim no. 1031.) 

Berdasar berita dalam hadits kedua tersebut air mata bisa mendatangkan pertolongan Allåh diakhirat kelak. Salah satunya adalah orang yang menangis saat tengah berkhalwat dengan Allåh. Ia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allåh. Air mata pun bisa mempercepat ijabahnya doa-doa. Efek tetesannya mampu menembus batas-batas dimensi. 

AIR MATA KEIMANAN 

Itulah sebabnya, Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam dan para sahabat menjadikan airmata sebagai “bahasa sehari-hari” saat berinteraksi dengan Allåh. Perjalanan hidupnya tidak sepi dari isak tangis. Menangis bukan karena tak punya harta, kehilangan harta, atau

sesuatu yang terkait dengan urusan dunia. Mereka menangis karena cinta yang begitu besar kepada Rabbnya. Cinta yang bersumber dari kuatnya råja’ (harapan akan, ampunan, kasih sayang, dan ridhå dari Allåh) yang terpadu dengan khåuf (rasa takut akan murka-Nya).

”Apabila dibacakan ayat-ayat Allåh Yang Maha Pemurah kepada mereka,maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58) 

Ibnu Sa’di berkata berkenaan dengan ayat di atas, ”Maksudnya adalah mereka berlaku khudhu’ dan khusyu’ terhadap ayat-ayat tersebut, sehingga menggoreskan iman,

cinta/harap dan takut di dalam hati mereka. Hal itulah yang melahirkan tangisan pada mereka, munculnya sikap berserah diri, dan sujud kepada Rabb mereka. Mereka bukanlah

orang yang bila mendengar ayat-ayat Allåh menyungkur dalam keadaan sebagaimana orang yang tuli dan buta [mata hatinya].”( Taisiru al-Karimi al-Rahman fi Tafsiri

Kalami al-Mannan. Karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, editor Syaikh Ibnu Utsaimin. Penerbit Muasassah al-Risalah-Beirut-1421/2000.) 

Dilihat dari perspektif ini, tak heran air mata dijadikan salah satu barometer untuk mengukur kadar keimanan seseorang. Ada banyak ayat al-Quran dan hadis Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam yang mengungkapkan keutamaan menangis. 

”Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allåh). Sesunggguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, * dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. * Dan mereka mennyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Al-Isrå:107-109) 

MEREKA YANG MENANGIS 

Tangisan keimanan menunjukkan kualitas iman seseorang. Karena itulah para pendahulu kaum muslimin adalah sosok yang akrab dengan tangisan. Mereka merasa yakin bahwa tangisan karena Allåh merupakan suatu perilaku yang utama di samping terasa begitu nikmat. 

Tangisan inilah tangisan yang dicintai Allåh Subhanahu wa Ta’ala . Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai

Allåh selain dari dua tetes dan dua bekas: tetes air mata karena takut pada Allåh dan tetes darah di jalan Allåh, adapun dua bekas adalah bekas di jalan Allåh dan bekas kewajjiban

dari kewajiban Allåh.” (Sunan al-Tirmidzi no. 1669, berkata Abu Isa, “Hadits ini hasan gharib.”) 

Berikut adalah kisah tangis keiimanan orang-orang terdahulu: 

Umar rodhiyallahu anhu  pernah terjatuh dalam keadaan pingsan karena takut ketika dia mendengar sebuah ayat Al-Qur’an, Dia juga pernah mengambil jerami pada suatu hari, lalu berkata: “Alangkah baiknya kalau aku dahulu adalah jerami dan bukan sesuatu yang disebut-sebut, alangkah baiknya ibuku tidak melahirkan aku.” 

Menangislah dia sepuas-puasnya sehingga air mata mengalir dan matanya, lalu membentuk dua buah garis hitam pada wajahnya bekas air mata. 

Al-Irbadh bin Sariyah rodhiyallahu anhu berkata, “Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam menasehati kita dengan nasehat yang membuat mata menangis dan hati bergetar.” (Sunan al-Tirmidzi no. 2600 dan Musnad Ahmad no. 16519.) 

Al-Dhahhak bin Muzahim bila tiba sore hari menangis. Ketika ditanya oleh seseorang apa yang menyebabkan pecah tangisnya, dijawab, “Saya tidak tahu amalan apa yang naik ke langit hari ini.” 

Ka’ab al-Ahbar berkata, “Menangis karena takut pada Allåh kemudian air mataku mengalir di badanku, itu lebih aku cintai daripada bersedekah dengan emas seberat badanku.” 

Al-Dzahabi berkata, “Ibn al-Munkadir bila menangis mengusapkan air mata yang ada ke wajahnya dan janggutnya, dia berkata, ‘Aku pernah mendengar bahwa api neraka tidak akan melalap tempat yang terkena air mata karena takut pada Allåh.” 

Yahya bin Bakir berkata, “Saya bertanya pada Shaleh agar menjjelaskan cara memandikan mayat,dia tidak mampu menerangkan karena banyaknya menangis.” 

Muhammad bin al-Mubarak berkata, “Bila ketinggalan shalat berjamaah Said bin Abdulaziz pun menangis.” 

TETESKAN AIR MATA SURGA 

Kenapa air mata surga? Ya karena inilah air mata istimewa. Sebagaimana ditunjukkan oleh dua hadits di muka pemilik air mata ini adalah orang yang akan dijauhkan sejauhjauhnya dari neraka di samping akan mendapatkan naungan di saat tidak ada naungan selain naungan-Nya, semata. Inilah tetesan air mata penghuni surga, tetesan air mata yang akan memasukkan pemiliknya ke dalam surga. Råsulullåh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, 

“Ada dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allåh. Dan mata yang begadang berjaga dalam jihad fi sabilillah.” (Sunan al-Tirmidzi no. 1563, berkata Abu Isa, ”Hadits ini hasan gharib.”) 

Alangkah baiknya seseorang yang tangisannya dialamatkan untuk kecintaan kepada Allåh. Dengannya Allåh akan menyediakan satu pelindung baginya dari adzab akhirat. Menangisnya ditujukan kepada rahman dan rahim Allåh. Ia menangis karena takwa dan takut melakukan sesuatu yang dimurkai-Nya. Sebuah tangisan yang akan membawanya ke dalam taman surga. Untuk mengarahkan tangisan kepada yang diridhai Allåh dapat ditempuh beberapa cara, diantaranya: 

Pertama, memperbanyak baca al-Quran dengan memahami maknanya, terutama ayat-ayat yang kita baca di dalam shalat, kemudian berusaha untuk merenungi dan

meresapi maknanya ke dalam hati. Pilih waktu, suasana, dan tempat yang tepat, seperti tengah malam, ketika shalat tahajjud dan sebagainnya. Jika hal ini mulai dibiasakan,

akan ada pengaruh yang berarti dalam kehidupan kita, insyaallåh. Kita pun akan mudah tersentuh dan menangis ketika membaca al-Quran, sedang shalat, atau tengah berdoa. 

Abdullåh bin Syukhåir (bapak dari Muthårrif) berkata, “Aku melihat Råsulullåh  yang sedang shalat, sementara dari rongga dadanya ada suara gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang ada di atas tungku berapi, (disebbabkan) karena tangisan beliau.“ (Sunan Abi Dawud no. 769, Sunan al-Nasai no. 1199, Musnad Ahmad no. 15722.) 

Kedua, mengenali nama-nama Allåh yang Mahatinggi dan sifat sifat-Nya yang agung sebagaimana disebutkan dalam al-Quran dan al-Sunnah. Berusaha merenungi kebesaran, keagungan, ketinggian, dan kesempurnaan Allåh melalui keindahan dan keunikan ciptaan-Nya, disertai dengan introspeksi atas kelemahan diri kita sebagai hambaNya. 

Ketiga, menghadiri majelismajelis ilmu, mendengarkan nasehat-nasehat para ulama yang bisa menyentuh batin, sehingga membuat kita menangis. Shålat berjamaah dibelakang imam yang mudah menangis ketika melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, simaklah kaset-kaset ceramah yang berisi nasehat-nasehat terutama mengenai tazkiyatun nafs, bacaan-bacaan murattal yang isinya penuh dengan kekhusyukan dan tangisan. Suasana seperti itu bisa menyentuh dan mempengaruhi jiwa. 

Keempat, mengingat kematian. Bagaimana kita akan meregang nyawa mengadapi sakaratul maut. Ingatlah ajal adalah semakin dekat keambang pintu kematian. Perhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang sedang sakaratul maut, baik yang tampak padanya tanda-tanda husnul khatimah ataupun su-ul khatimah. Renungkan kejadian itu secara mendalam. Kemudian kita bayangkan jika kejadian yang mengerikan itu menimpa diri kita sendiri, dengan tubuh yang semakin lemah, semakin dingin dan semakin tidak berdaya menghadapi kematian, dengan nafas yang tersengal-sengal meregang nyawa yang mau keluar.Tubuh kita menggigil menahan sakitnya sakaratul maut, lalu malaikat maut menarik nyawa dari tubuh kita yang sudah kaku tak bergerak. Hanya diri kita sendiri yang merasakan sakitnya sakaratul maut.

Kelima, mengingat dan membayangkan kedahsyatan hari kiamat.Pada hari itu terdengar tiupan pertama terompet malaikat Israfil yang sangat dahsyat, sehingga menggelegk

garkan alam jagat raya ini dan seluruh isinya. Semua makhluk dicekam ketakutan. Semua manusia dalam kebingungan, panik, dan sangat takut. Mereka semua seperti orang

yang sedang mabuk. Semua lari tapi entah ke mana tujuannya. Pada hari itu seorang ibu yang sedang menyusui anaknya tidak peduli lagi dengan anak yang sedang dia susui. Seorang bapak tidak bisa berbuat apa pun untuk menolong anak dan istrinya. Semua hanya mengurusi diri sendiri, tanpa ada yang bisa diperbuat. Semuanya dicekam ketakutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Keenam, mengingat murka Allåh kepada umat-umat terdahulu, seperti umat nabi Luth. Mereka dibinasakan dengan hujan batu, lalu bumi mereka dibalikkan oleh Allåh Subhanahu wa ta’ala karena mereka bergelimang dengan dosa homoseksual. Banyak umat terdahulu yang dihancurkan Allåh ta´ala karena kedurhakaan mereka kepada-Nya. 

Ketujuh, memperbanyak doa agar Allåh ta´ala menganugerahkan karunia-Nya kepada kita agar bisa menangis karena-Nya. Hendaklah kita selalu bermunajat pada-Nya dan sungguh-sungguh dalam berdoa agar kita dijauhkan dari hati yang tidak khusyu´ dan mata yang tidak bisa menangis, dari perbuatan tercela, termasuk korupsi, memfitnah, memakan harta yang bukan miliknya, riba, tipu daya, dan makan harta anak yatim dan seterusnya. 

Kedelapan, jangan meremehkan dosa. Sekecil apa pun doa akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allåh. Ibnu Mas´ud rodhiyallahu anhu  berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan dia berada di bawah sebuah gunung dan khawatir kalau gunung itu ditimpakan kepadanya. Sedangkan seorang fasik melihat dosa-dosanya bagaikan melihat seekor lalat yang bertengger di hidungnya. 

Semoga Allåh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa menangis karena takut pada-Nya, mampu meneteskan air mata surga. Teteskan air mata surga dari sekarang juga!

Wallåhulmusta’an. 

 

Sumber : Majalah Fatawa Vol.III/No.12 | Desember 2007 / Dzulhijjah 1428

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: