NIKMAT PENDERITAAN

Ditulis oleh  ustadz  Abu Zubair Hawaary Lc

Ada hikmah yang besar dalam ujian dan nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Yang demikian itu disebabkan manusia diciptakan dengan membawa tabiat berkeluh kesah dan sangat ingkar; tidak mengetahui sesuatu, kecuali jika telah mengetahui lawannya; tidak tahu membalas budi kecuali jika telah kehilangan budi itu; dan tidak lagi dapat menikmati kelezatan jika terus menerus tenggelam dalam kelezatan, sehingga dia merasa bosan – karena ukuran sesuatu akan habis, jika telah berlangsung lama dan berulang-ulang – bahkan barangkali dia merasa gelisah dengan budi, jika terus menerus menerimanya dan tidak pernah berubah.

Oleh sebab itu, Allah merasakan kepadanya pahitnya kesusahan dan perubahan hidup ini, agar dia merasakan manisnya kesenangan dang menghargai kenikmatan, karena manis setelah pahit akan terasa lebih manis, cahaya setelah gelap akan tampak lebih terang, dan makan sesudah berpuasa akan terasa lebih nikmat. Dalam pertukaran hal-hal yang kontradiktif dan perpindahan seseorang antara yang membuatnya senang dengan yang membuatnya susah, dan antara yang memberinya nikmat dengan yang memberinya penderitaan, terdapat penghargaan terhadap perkara kehidupan. Maka tidak ada orang yang dapat menandingi perasaan orang yang mencintai keindahan dibanding orang yang membenci keburukan, tidak ada orang yang menghargai nikmatnya kesehatan seperti orang yang pernah merasakan penderitaan sakit, dan tidak ada orang yang dapat merasakan kebahagiaan ketentraman seperti orang yang pernah merasakan azab keluh-kesah. Tidak sedikit kesengsaraan membawa kenikmatan. Tidak jarang ujian menyebabkan hati menjadi bangkit, bertaubat kepada Allah, menghargai nikmat-nikmat-Nya, dan bersyukur serta ta’at kepada-Nya. Sesungguhnya perasaan iman dan panasnya yang paling besar, dan rasa syukur yang paling hangat kepada Allah serta keikhlasan beribadah kepada-Nya terdapat setelah selamat dari marabahaya dan bencana, setelah lepas dari penderitaan dan kepayahan, setelah hilangnya mendung kesesusahan dan cobaan, kembali kepada kebahagiaan setelah kesengsaraan, dan merasa lapang setelah sempit.

 

Ujian dan cobaan yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia mengandung pengajaran dan peringatan bagi mereka, bahwa kehidupan dunia ini adalah negeri kesengsaraan dan kemusnahan, bukan negeri kebahagiaan dan kekekalan. Maka barangsiapa memperhatikan di dunia ini; bagaimana setiapa kebahagian dan harapan hancur, bagaimana setiap kepemudaan, ketampanan dan kecantikan layu, bagaimana setiap kekuatan menjadi lemah, dan bagaimana setiap kekayaan menjadi hancur bercerai-berai, niscaya tidak akan tenggelam didalam kesenangan dunia ini, melainkan akan menumpukan seluruh cita-citanya untuk mengerjakan segala amal sholeh yang kekal, dan bertakwa kepada Allah semaksimal mungkin agar memperoleh keselamatan. Cobaan-cobaan ini tidak hanya menjadi peringatan bagi orang yang mengalaminya saja tetapi juga menjadi peringatan bagi orang yang melihat, menyaksikan dan mendengarnya. Orang yang melihat penyakit memangsa orang yang kemarin masih sehat kuat seperti dia, serta melihat kematian menyambar anak-anak orang besar dan kaya, akan ingat bahwa dia tidak dapat menjamin hidupnya, tidak pula hidup orang yang dicintainya. Dia yakin, bahwa dia dan orang-orang yang dicintainya sewaktu-waktu bisa ditimpa penderitaan dan penyakit, dan bahwa mereka mesti mati sehingga dia kembali kejalannya yang lurus dan berupaya memperoleh keridhoan Robb-nya.

Didalam cobaan-cobaan juga terdapat hikmah yang luhur, yang hanya diketahui oleh orang yang mendalam pemahamannya; yakni, bahwa ia membangkitkan kecintaan dan kasih-sayang yang terpendam didalam hati, sehingga seseorang merasakan kembali nikmat kecintaan dan keikhlasan yang pernah hilang darinya, dan merasakan nikmat kasih-sayang dan kelembutan. Tidak jarang cobaan dapat menyatukan kembali hati yang bercerai-berai, mengembalikan hati saudara kepada saudaranya, dan mengingatkan orang yang lengah akan kadar kecintaannya dan kedudukannya di dalam hati ibu bapaknya. Tidak sedikit cobaan berhasil menimbang dan menyaring apa yang terpendam didalam lubuh hati, lalu menetapkan kecintaan yang tulus, dan membukakan kepura-puraan pendusta yang munafik.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda,

وعن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya balasan beserta besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Dia pasti menguji mereka”.(diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits Hasan Ghorib”. Dan dihasankan oleh Al-Albany di Shohih At-Targhib wat Tarhiib no.3407)

Tanda kecintaan Allah bagi orang mukmin yang benar-benar beriman ialah memberikan perhatian kepadanya; maka Dia mencucinya setiap kali hatinya kotor, membersihkannya di dunia dari dosa-dosa, dan mendidiknya dengan berbagai penderitaan serta musibah. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda,

 

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

 

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Dia akan segera menimpakan hukuman kepadanya di dunia dan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya. Maka Dia akan menahan (hukuman) karena dosanya hingga Dia menimpakannya kepadanya pada hari kiamat”.(diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Anas rodhiyallahu ‘anhu dan ia berkata, “Hadits Hasan Ghorib”. Hadits ini dinyatakan Hasan oleh Syeikh Al-Albany di Al-Misykaah no. 1565).

Beliau juga bersabda,

 

إذا رأيت الله تعالى يعطي العبد من الدنيا ما يحب و هو مقيم على معاصيه فإنما ذلك منه استدراج

“Apabila engkau melihat Allah memberi hamba apa yang dicintainya, sedangkan ia tetap durhaka kepada-Nya, maka yang demikian itu hanya merupakan perdaya belaka”. Kemudian beliau membaca ayat :

“… Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka …”. (Ali Imron : 178) (diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thobroni, dan dishohihkan oleh Al-Albany di Shohih wa Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no. 562)

 

Bencana ..  bagi orang mukmin yang sabar terhadapnya, adalah suatu nikmat, karena ia menghapuskan dosa-dosanya, mensucikannya, menggugahnya dari kelalaian, dan mengingatkannya, sehingga pahalanya bertambah dan dia semakin dekat kepada Allah. Adapun nikmat, bagi orang kafir yang durhaka, adalah suatu siksaan, karena ia menambah dosanya dan menggiringnya kepada azab yang menghinakan :

“Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan”. (Ali Imron :178)

 

Nikmat kelezatan yang mendatangkan kesenangan adalah lebih rendah dibanding nikmat penderitaan yang membimbing ke jalan lurus dan pahala. Nikmat pertama hanyalah kesenangan, sedangkan nikmat kedua adalah pendidikan; nikmat pertama kadangkala menyia-nyiakan kebaikan, sedangkan nikmat kedua menghapus kesalahan-kesalahan. Nikmat pertama sering membuat seseorang lengah akan kewajibannya, dan menutup matanya terhadap kefasikan serta akibatnya yang buruk. Tidak sedikit kelezatan membuat seseorang terlena, lalu tenggelam di dalam kesesatannya dan tidak jarang ia membuatnya mabuk hingga kehilangan kesadarannya.

 

Adapun nikmat yang mendidik seseorang, mencegahnya dari perbuatan dosa dan menggugah hatinya, sehingga dia ingat akan kekurangan dan aibnya, maka ia adalah nikmat terbesar yang dilimpahkan kepada orang mukmin yang memahami apa yang dikehendaki Allah dengan nikmat itu, seperti pendidikan, pengajaran, dan peringatan. Karena itu, dia akan mencari-cari dengan dirinya apa yang pernah tidak dia ketahui, merasakannya dengan lisannya, melihatnya dengan dua mata kepalanya, dan meyakini apa yang dia baca; lisannya tidak melampui batas yang telah diukir oleh penderitaan di dalam lubuk hatinya, sehingga dia kembali dengan tunduk dan bertaubat kepada Robb-Nya.

 

Penderitaan dapat mendidik hati, menggugahnya, membuatnya bertambah tunduk dan merendah kepada Allah, serta membantu akal untuk mengetahui kadar kebahagian dan nilai-nilai kelezatan di dalam hidup. Mustahil seseorang dapat menentukan kadar penderitaan lalu mempengaruihi dan mensucikan dirinya sedangkan dia beluml merasakannya didalam tubuh atapun hatinya.

 

Oleh karena itu Allah mengobati kita dengan penderitaan, dan mendorong kita untuk menelan pil pahit yang mensucikan ini, guna membunuh virus-virus penyakit yang terdapat di dalam hati kita, sehingga kita bergairah kembali, sadar panas demam kelalaian, dan sembuh dari keterpedayaan. Penderitaan benar-benar obat mujarab yang menyelamatkan dari azab terbesar dan terberat dengan jalan merasakan sebagian azab. Sebaik-baik penderitaan adalah penderitaan yang menyelamatkan orang sabar dari siksaan yang pedih. Sebaik-baik penderitaan adalah penderitaan yang menunjuki jalan untuk memperoleh kelezatan surga. Dan sebesar-besar pahala adalah harga yang mahal untuk membeli kenikmatan surga dan tempat kembali yang baik :

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kalian, dan belum nyata orang-orang yang sabar”. (Ali Imron : 142)

Betapa agung dan menakjubkannya penderitaan, menakutkan dan ditakuti. Akan tetapi padanya terdapat setiap kebaikan yang diharapkan, padanya terdapat pula setiap keburukan yang ditakuti. Penderitaan susah untuk ditanggung, tetapi ia adalah jalan untuk menuju tercapainya cita-cita.

Sungguh aneh orang yang meratap karena mendapat bagian dari penderitaan, dan merasa tentram karean tidak mendapat bagian darinya.

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan mengadakan padanya rasa menderita dan senang, agar ia bersabar, bersyukur, berjihad dan mengadakan perlawanan. Allah menjadikan keduanya di dunia sebagai ujian, dan diakhirat sebagai pembalasan. Orang penyabar lagi sangat bersyukur tidak lain adalah orang yang sabar di dunia atas penderitaanya; dan orang yang durhaka lagi sangat ingkar tidak lain adalah orang yang dibutakan oleh kesenangan, lalu tenggelam di dalam perkara yang diharamkan oleh Allah, kafir kepada nikmat-nikmat-Nya, dan marah kepada-Nya apabila Dia mengujinya dengan penderitaan. Janannam adalah penderitaan yang paling besar, sebagaimaan halnya surga adalah kesenangan yang paling agung. Pada dua perkara yang berlawanan inilah terpusat segala kesengsaraan seseorang dan kebahagiannya didunia dan diakhirat.

 

Kaum muslimin, waspadalah wahai orang-orang yang berakal terhadap dosamu. Setiap kali Allah mengujimu dengan keburukan, selidikilah apa yang membuat-Nya murka dan menimpakan siksa-Nya, supaya kamu dapat memetik buah ujian itu, baik berupa taubat, pendidikan, maupun pahala. Berupayalah agar kamu memiliki sifat-sifat mulia, dan jauhkanlah dirimu dari kehinaan. Jika kamu mendapat cobaan dari Allah, sesungguhnya kamu tidak hanya mendapat siksaan semata, akan tetapi dengan itu kamu memperoleh pahala yang besar :

 

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya sedangkan ia menyaksikannya”. (Qof : 37).

 

Sekiranya seorang hamba berlaku adil terhadap Robb-nya, niscaya dia akan mengetahui bahwa karunia-Nya didalam apa yang tidak Dia berikan berupa dunia, kelezatan dan kesenangannya, adalah lebih besar dibanding karunia-Nya yang telah Dia berikan kepadanya dari semuat itu. Dia tidak memberinya sesungguhnya untuk maksud memberinya, mengujinya untuk menunjukinya, membuatnya menderita untuk mensucikannya, mematikannya untuk menghidupkannya, dan mengeluarkannya ke dunia ini agar dia bersiap-siap kembali kepada-Nya serta berjuang agar berhasil dalam ujiannya. Sungguh berbeda antara kembali dalam keadaan merugi dengan kembali dalam keadaan beruntung! Sungguh berbeda antara wajah yang muram dengan wajah yang berseri! Dan sungguh berbeda antara keberhasilan di dunia dengan keberhasilan diakhirat.

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan”. (Al-Jatsiyah : 22).

 

Akhii ..

Semoga kita semua berhasil menggapai keberhasilan diakhirat ..amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: