<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abufahmiabdullah's Weblog</title>
	<atom:link href="http://abufahmiabdullah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 12:00:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abufahmiabdullah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abufahmiabdullah's Weblog</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abufahmiabdullah.wordpress.com/osd.xml" title="Abufahmiabdullah&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Awas Korupsi Mengintai!!!</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/23/awas-korupsi-mengintai/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/23/awas-korupsi-mengintai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 09:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5624</guid>
		<description><![CDATA[Awas Korupsi Mengintai!!! Dari Abu Humaid as-Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hadiah untuk para pegawai adalah ghulul (harta yang di dapat dari khianat terhadap amanah, korupsi).” (Hr. Ahmad, no. 23601) عَنْ عَدِىِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5624&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Awas Korupsi Mengintai!!!</h1>
<p><img src="http://ekonomisyariat.com/gambar/awas-korupsi.jpg" alt="" width="322" height="238" /></p>
<p><em>Dari Abu Humaid as-Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hadiah untuk para pegawai adalah ghulul (harta yang di dapat dari khianat terhadap amanah, korupsi).”</em> (Hr. Ahmad, no. 23601)</p>
<p>عَنْ عَدِىِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولاً يَأْتِى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p><em>Dari ‘Adi bin ‘Amirah al-Kindi, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang kami beri amanah dengan suatu pekerjaan, lalu dia tidak menyerahkan sebuah jarum atau yang lebih bernilai daripada itu kepada kami, maka harta tersebut akan dia bawa pada hari kiamat sebagai harta ghulul (korupsi).”</em> (Hr. Muslim, no. 4848)</p>
<p>عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ</p>
<p><em>Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang kami pekerjakan, lalu dia telah kami beri gaji, maka semua harta yang dia dapatkan di luar gaji (dari pekerjaan tersebut -pent) adalah harta yang berstatus ghulul (korupsi).”</em> (Hr. Abu Daud, no. 2943; Dalam <em>Kaifa</em>, hlm. 11, Syekh Abdul Muhsin al-Abbad mengatakan, “Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih dan dinilai shahih oleh al-Albani.”)<span id="more-5624"></span></p>
<p>Dari Musa bin ‘Uqbah,</p>
<p>“Ketika Iyadh bin Ghanam diangkat sebagai Gubernur Himsh di masa Khalifah Umar bin Khaththab, sejumlah keluarganya datang menemuinya dengan maksud mengharap bantuan Iyadh. Iyadh menyambut mereka dengan wajah ceria, memberi tempat untuk menginap, dan memuliakan mereka. Mereka tinggal selama beberapa hari. Setelah itu, mereka berterus-terang meminta bantuan. Mereka juga bercerita bagaimana susahnya perjalanan, dengan harapan agar mendapat bantuan. Iyadh lantas memberikan uang sebanyak sepuluh dinar, kepada masing-masing mereka. Mereka semua berjumlah lima orang. Ternyata mereka kembalikan uang sepuluh dinar tersebut. Mereka merasa marah dan mencela Iyadh.</p>
<p>Iyadh lantas berkata, ‘Wahai anak-anak pamanku, demi Allah, aku tidaklah mengingkari hubungan kekerabatan yang ada di antara kita. Aku juga menyadari bahwa kalian punya hak untuk mendapat bantuanku, serta jauhnya perjalanan kalian sehingga bisa sampai sini. Namun, aku tidak punya melainkan apa yang sudah kuberikan. Untuk lebih daripada itu, aku harus menjual budakku dan barang-barang kebutuhanku, maka tolong pahamilah keadaanku.’</p>
<p>Mereka mengatakan, ‘Demi Allah, kami tidak bisa menerima alasanmu karena engkau adalah penguasa separuh Negeri Syam (sekarang meliputi Suriah, Yordania, Palestina, dan Libanon -pent). Bagaimana mungkin engkau tidak mampu memberi kami ongkos perjalanan pulang yang mencukupi?’</p>
<p>Beliau dengan tegas mengatakan, ‘Apakah kalian menyuruhku untuk mencuri harta Allah?!</p>
<p>فًوً اللهٍ! لَأَنْ أُشقَّ بِالْمِنْشَارِ أُحِبُّ إليَّ مِنْ أَنْ أَخُوْنَ فُلُساً أَوْ أَتَعَدَّى!</p>
<p>Demi Allah, seandainya badanku dibelah dengan gergaji, itu lebih aku sukai daripada aku berkhianat mengambil harta negara, meski hanya satu fulus (seratus rupiah) atau aku bertindak melampaui batas.’</p>
<p>Mereka berkata, ‘Kami sudah bisa memahami kemampuan finansialmu. Sebagai gantinya, berilah kami jabatan yang menjadi kewenanganmu. Kami akan melaksanakan tugas sebagaimana para pegawai yang lain dan kami mendapatkan gaji sebagaimana yang juga mereka dapatkan. Engkau telah mengenal kami dengan baik. Kami tidak akan menyalahgunakan wewenang yang kau berikan kepada kami.’</p>
<p>Beliau berkata, ‘Sungguh aku adalah orang yang sangat ingin berbuat baik dan memberi jasa kepada orang lain. Namun, apa jadinya jika sampai berita kepada Umar bahwa aku memberi jabatan kepada sejumlah keluargaku. Tak ayal lagi, beliau pasti akan menyalahkanku.’</p>
<p>Mereka berkata, ‘Bukankah Abu Ubaidah yang mengangkatmu sedangkan engkau masih kerabat dekat Abu Ubaidah, dan nyatanya Umar menyetujui pengangkatanmu? Seandainya engkau mengangkat kami niscaya Umar pun akan setuju.’</p>
<p>Beliau berkata, ‘Aku tidaklah sebagaimana Abu Ubaidah dalam pandangan Umar.’ Akhirnya mereka ngeloyor sambil mencela Iyadh.” (<em>Shifat al-Shafwah</em>, karya Ibnul Jauzi, 1/669–670, cet. Dar al-Ma’rifah, Beirut)</p>
<p>Beliaulah Iyadh bin Ghanam bin Zuhair. Beliau masuk Islam sebelum perjanjian Hudaibiyah. Beliau pun menyaksikan Hudaibiyah bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ketika Abu Ubaidah hendak meninggal dunia, Abu Ubaidah mengangkat Iyadh untuk menggantikan jabatannya dan Khalifah Umar menyetujui keputusan beliau tersebut.</p>
<p>Beliau adalah seorang yang dermawan. Ada yang mengadukan sifat beliau ini kepada Umar dengan tuduhan beliau suka menghambur-hamburkan harta, dengan maksud agar beliau dipecat oleh khalifah. Mendengar laporan tersebut, Umar malah berkata, “Beliau hanya dermawan dengan hartanya. Akan tetapi, jika beliau memegang harta Allah (uang negara), maka tidak akan beliau berikan sedikit pun kepada siapa pun. Aku tidak akan memecat orang yang diangkat oleh Abu Ubaidah.” Kisah di atas menunjukkan benarnya perkataan Umar bin Khaththab.</p>
<p>Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan harta sedikit pun. Beliau meninggal tahun 20 H, dalam usia 60 tahun.</p>
<p>Demikianlah, kehati-hatian shahabat terhadap korupsi, suatu hal yang langka kita jumpai di zaman ini.</p>
<p>Benarlah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ</p>
<p><em>Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan menjumpai suatu masa yang di masa tersebut orang tidak lagi memiliki kepedulian apakah dia mendapatkan harta dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram.”</em> (Hr. Bukhari, no 2083)</p>
<p>Menurut Syekh Abdul Muhsin al-Abbad, orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap halal dan haram memiliki prinsip bahwa semua harta yang bisa didapatkan itulah harta yang halal, sedangkan semua harta yang tidak bisa mereka dapatkan itulah harta yang haram. Adapun dalam ajaran Islam, sesuatu yang halal adalah semua hal yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, sesuatu yang haram adalah semua hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (<em>Kaifa Yu`addi al-Muwazhzhaf al-Amanah</em>, hlm. 10)</p>
<p>إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنَ الإِنْسَانِ بَطْنُهُ ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يَأْكُلَ إِلاَّ طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ</p>
<p><em>“Sesungguhnya bagian badan manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mampu untuk memakan makanan yang halal saja, maka hendaknya dia usahakan.”</em> (Hr. Bukhari, no. 6733, dari Jundab bin Abdillah)</p>
<p>Penulis: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar, S.S.</p>
<p><em><strong>Dipublikasi ulangn dari : http://ekonomisyariat.com</strong></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/akhlaq/'>Akhlaq</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5624/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5624&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/23/awas-korupsi-mengintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ekonomisyariat.com/gambar/awas-korupsi.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kesabaran Seorang Da’i</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/21/kesabaran-seorang-dai/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/21/kesabaran-seorang-dai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 15:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5617</guid>
		<description><![CDATA[Kesabaran Seorang Da’i Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Raja yang menguasai langit dan bumi, Penguasa yang berhak mengatur dan mengendalikan jagat raya sebagaimana yang Dia ingini. Salawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi penebar rahmah, Sang penutup nabi dan rasul, yang meninggalkan umatnya di atas ajaran yang terang-benderang. Amma ba’du. Saudaraku, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5617&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kesabaran Seorang Da’i</strong></p>
<p><img class="alignleft  wp-image-5618" title="Kesimpulan Laporan Penelitian Jim Reed, Fotografer Legendaris Cuaca Ekstrem dan Pemburu Badai 3 copy" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/kesimpulan-laporan-penelitian-jim-reed-fotografer-legendaris-cuaca-ekstrem-dan-pemburu-badai-3-copy.jpg?w=377&#038;h=236" alt="" width="377" height="236" /></p>
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Raja yang menguasai langit dan bumi, Penguasa yang berhak mengatur dan mengendalikan jagat raya sebagaimana yang Dia ingini. Salawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi penebar rahmah, Sang penutup nabi dan rasul, yang meninggalkan umatnya di atas ajaran yang terang-benderang. <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah membimbing langkah kita untuk berjalan di atas jalan-Nya, … berlalunya waktu dan pergantian generasi dari sejak masa kenabian berlalu senantiasa diwarnai dengan gelombang yang menerpa bahtera dakwah agama yang hanif ini. Gelombang yang menghempaskan hati dan tubuh para penyeru kebenaran di tepi-tepi kesabaran dan terkadang menggiring sebagian mereka mendekati garis keputus-asaan…</p>
<p><em>Subhanallah! </em>Betapa beruntung, orang-orang yang tetap teguh di atas kesabaran, mengharapkan ridha Allah atas dakwahnya, dan memiliki harapan yang panjang bagi masyarakat yang didakwahinya. Memang, kesabaran ini menjadi salah satu kunci keberuntungan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.”</em> (<strong>QS. al-’Ashr: 1-3</strong>)<span id="more-5617"></span></p>
<p>Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“.. Sesungguhnya tidaklah ada seorang da’i pun yang mengajak manusia kepada apa yang didakwahkan oleh para rasul kecuali dia pasti akan menghadapi orang-orang yang berupaya menghalang-halangi dakwahnya, sebagaimana halnya rintangan yang dihadapai oleh para rasul dan nabi-nabi dari kaum mereka. Oleh sebab itu semestinya dia bersabar. Artinya dia harus berpegang teguh dengan kesabaran yang hal itu termasuk salah satu karakter terbaik yang dimiliki oleh ahli iman dan merupakan sebaik-baik bekal bagi seorang da’i yang mengajak kepada Allah tabaraka wa ta’ala, sama saja apakah dakwahnya itu ditujukan kepada orang-orang yang dekat dengannya atau selain mereka, dia haruslah menjadi orang yang penyabar.”</em> (<em>Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul</em>, hal. 13)</p>
<p>Bahkan, Allah pun mengingatkan kekasih-Nya, yaitu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk bersabar, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para nabi dan rasul sebelum beliau. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah didustakan para rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan yang ditujukan kepada mereka, dan mereka pun tetap mendapatkan gangguan, sampai datanglah kepada mereka pertolongan Kami.”</em> (<strong>QS. al-An’am: 34</strong>). Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Bersabarlah, sebagaimana ulul azmi dari kalangan rasul pun bersabar…”</em> (<strong>QS. al-Ahqaf: 35</strong>)</p>
<p>Inilah akhlak seorang da’i kepada Rabbnya dan dalam berinteraksi dengan orang yang didakwahinya. Meniru keteladanan yang ada pada baginda nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan salafus shalih yang mendahului kita. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada bagi kalian, pada diri Rasulullah suatu teladan yang bagus, bagi orang-orang yang mengharap kepada Allah dan hari akhir.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 21</strong>)</p>
<p>Dari Urwah, suatu ketika ‘Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> -istri Nabi- menceritakan kepadanya, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Pernahkah anda menemui suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Aku telah mendapatkan tanggapan dari kaummu sebagaimana apa yang aku temui. Tanggapan paling berat yang pernah aku dapatkan adalah pada hari ‘Aqabah, ketika itu aku tawarkan diriku kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, akan tetapi dia tidak menerima tawaranku sebagaimana yang aku kehendaki. Aku pun kembali dengan perasaan sedih mewarnai wajahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku sudah berada di Qarn Tsa’alib. Aku angkat kepalaku ke atas, ternyata ada awan yang sedang menaungi diriku. Aku pun memperhatikan, ternyata di sana ada Jibril, lalu dia pun memanggilku. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadapmu dan penolakan yang mereka lakukan terhadapmu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, agar kamu perintahkan kepadanya apa yang ingin kau timpakan kepada mereka.’ Maka malaikat penjaga gunung itu pun menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu dia berkata, ‘Wahai Muhammad’. Dia berkata, ‘Apabila kamu menginginkan hal itu, niscaya akan aku timpakan kepada mereka dua bukit besar itu.’.”</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> justru menjawab, <em>“Tidak, sesungguhnya aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”</em> (<strong>HR. Bukhari [3231]</strong>)</p>
<p>al-Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terkandung keterangan mengenai besarnya rasa kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya dan betapa kuat kesabaran dan kelembutan sikapnya. Hal itu selaras dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Dengan rahmat Allah maka kamupun bersikap lembut kepada mereka’. Dan juga firman-Nya (yang artinya), ‘Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.’.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [6/353])</p>
<p>Saudaraku, barisan pembela dakwah al-Haq akan senantiasa dihadang oleh barisan serdadu Iblis… akankah kau mundur ke belakang dan terlempar ke jurang kehancuran, atau kau memilih maju ke depan untuk meraih kemenangan dan berjumpa dengan Allah dengan membawa amalan? Apabila hari ini engkau merintih dan mengeluh karena banyaknya rintangan dan hambatan yang engkau temui di atas jalan yang mulia ini -seolah-olah engkau telah kehilangan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa atas segalanya-, maka pilihlah jalan manapun yang kamu sukai -kalau engkau memang ingin memisahkan diri dari jalan dakwah ini- dan Allah pun tidak segan-segan untuk menimpakan hukuman-Nya kepada orang-orang yang durhaka!!</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Apabila bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, sanak kerabat kalian, harta-harta yang kalian kumpulkan dan perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian senangi, itu lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai datangnya keputusan Allah, dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 24</strong>) (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 332)</p>
<p>Saudaraku, … inilah jalanku dan jalanmu, jalan yang dibentangkan oleh Allah dan dipimpin oleh nabimu, jalan yang akan mengantarkan kepada kemuliaan dan ampunan. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah di atas bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, dan Maha suci Allah, aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 31</strong>).</p>
<p>Semoga Allah <em>ta’ala</em> memberikan taufik kepada kita, untuk istiqomah di atas jalan dakwah ini hingga ajal tiba. Sungguh, satu orang yang mendapatkan hidayah -dari Allah- dengan perantara dakwah kita itu jauh lebih berharga bagi masa depan kita daripada gerombolan onta merah ataupun simpanan harta-benda yang dibangga-banggakan oleh manusia. <em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin</em>.</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com/">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p><em><strong>Dipublikasi ulang dari : http://muslim.or.id</strong></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/akhlaq/'>Akhlaq</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/manhaj/'>Manhaj</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5617/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5617&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/21/kesabaran-seorang-dai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/kesimpulan-laporan-penelitian-jim-reed-fotografer-legendaris-cuaca-ekstrem-dan-pemburu-badai-3-copy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kesimpulan Laporan Penelitian Jim Reed, Fotografer Legendaris Cuaca Ekstrem dan Pemburu Badai 3 copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAHAYA AMBISI TERHADAP HARTA DAN KEHORMATAN</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/21/bahaya-ambisi-terhadap-harta-dan-kehormatan/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/21/bahaya-ambisi-terhadap-harta-dan-kehormatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 13:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5610</guid>
		<description><![CDATA[BAHAYA AMBISI TERHADAP HARTA DAN KEHORMATAN &#160; Oleh : Imam Ibnu Rajab Rahimahullah (736-795) [1] Segala puji bagi rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, keluarganya dan para shahabatnya sampai hari kiamat. Dari Ka’ab bin Malik Al-Anshari Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bahwasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5610&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BAHAYA AMBISI TERHADAP HARTA DAN KEHORMATAN</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-5615" title="wealth1_small" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/wealth1_small1.jpg?w=468" alt=""   /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh : Imam Ibnu Rajab Rahimahullah (736-795) [1]</p>
<p>Segala puji bagi rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, keluarganya dan para shahabatnya sampai hari kiamat.</p>
<p>Dari Ka’ab bin Malik Al-Anshari Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:</p>
<p>مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan&#8221;. [2]</strong></p></blockquote>
<p>Hadit ini berisi permisalan yang sangat agung, yaitu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mencontohkan kerusakan pada dien seorang muslim dengan sebab ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia. Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan (dunia) tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali sedikit orang yang selamat.</p>
<p>Permisalan yang agung ini mencakup peringatan keras dari bahaya ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia.<span id="more-5610"></span></p>
<p><strong>Adapun ambisi terhadap harta terbagi menjadi dua macam, yaitu:</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong> : <strong>Sangat cinta terhadap harta,</strong> <strong>dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam mencarinya meskipun dengan jalan yang halal.</strong><br />
Walaupun akibat yang timbul dari ambisi terhadap harta hanyalah tersia-sianya waktu dalam hidup ini, padahal memungkinkan bagi manusia untuk memanfaatkan waktu tersebut agar mencapai kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi disisi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, cukuplah hal tersebut sebagai celaan terhadap perbuatan ambisi terhadap harta.</p>
<p><strong>Kedua : Disamping yang pertama, dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan menahan hak-hak yang wajib ia berikan kepada orang lain.</strong> Allah Tabaroka wa ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p><strong>&#8220;Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung&#8221; [at-Taghaabun: 16]</strong></p>
<p>Dalam Sunan Abu Daud dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
:<br />
إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Hati-hatilah kalian terhadap As-syuhh (kikir), sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena disebabkan oleh As-syuhh (kikir). As-syuhh (kikir) itu mengajak mereka untuk bakhil, maka mereka berbuat bakhil; ia itu mengajak memutuskan tali silaturrahmi, maka mereka memutuskan tali silaturrahmi; dan ia itu mengajak mereka untuk berdosa, maka mereka berbuat dosa.&#8221; [3]</strong></p></blockquote>
<p>Dan di dalam Shahih Muslim (4/1996, no. 56/2578) dari Jabir Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:</p>
<p>اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Hindarilah As-syuhh (kikir) sesungguhnya as-syuhh itu menyebabkan kebinasaan kepada orang-orang sebelum kalian, as-syuh itu membawa mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah buat mereka&#8221;.</strong></p></blockquote>
<p>Hakekat as-syuhh itu adalah kecenderungan jiwa kepada apa-apa yang diharamkan oleh Allah, dan tidak puasnya seseorang dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allah, baik berupa harta, hubungan sexual dan selainnya, kemudian setelah itu dia melapaui batas dengan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.</p>
<p><strong>Al-Bukhlu (pelit)</strong> itu adalah menahan diri dari mengeluarkan harta yang dimilikinya. Adapun<strong> as-syuh</strong> itu <strong>adalah mengambil sesuatu yang bukan miliknya secara zhalim dan permusuhan, baik berupa harta ataupun selainnya</strong>. Tetapi terkadang kata as-syuh juga dipakai dengan makna al-bukhlu, dan sebaliknya, tetapi pada dasarnya ada perbedaan antara keduanya sebagaimana telah kami sebutkan.</p>
<p>Adapun ambisi seseorang terhadap kehormatan maka hal itu <strong>lebih membinasakan daripada ambisi terhadap harta</strong>. Sesungguhnya mencari kehormatan dunia, ketinggian dan mengejar pangkat dan jabatan karena senang menjadi pemimpin orang banyak dan melakukan kesombongan di dunia, maka hal itu lebih berbahaya bagi seseorang dibandingkan dengan bahaya yang ditimbulkan akibat ambisi seseorang untuk mengejar harta, bahkan seseorang tidak segan-segan untuk mengeluarkan hartanya demi mencapai kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia serta mendapatkan kehormatan di dunia.</p>
<p><strong>Ambisi Terhadap Kehormatan Terbagi Menjadi Dua Macam:</strong><br />
<strong>1. Mencari Kehormatan Melalui Jabatan, Kekuasaan Dan Harta.</strong><br />
Hal ini berbahaya sekali karena biasanya akan menghalangi nikmat akhirat dan kemuliannya. Allah berfirman:</p>
<p>تِلْكَ الدَّارُ اْلأَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لاَيُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَفَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ</p>
<blockquote><p>&#8220;Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa&#8221; [al-Qashash:83]</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari no. 7148 dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:</p>
<p>إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ &#8230;</p>
<p><strong>&#8220;Kalian akan berambisi atas kekuasaan dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat&#8230;&#8221;.</strong></p></blockquote>
<p>Ketahuilah, bahwa ambisi terhadap kehormatan sangat membahayakan pelakunya, (ia akan menghalalkan segala macam cara) dalam usahanya mencapai tujuan, dan juga sangat membahayakan pelakunya ketika telah mendapatkan kehormatan di dunia, dengan cara mempertahankan statusnya meskipun harus melakukan kezhaliman, kesombongan dan kerusakan-kerusakan yang lain sebagaimana dilakukan oleh penguasa yang zhalim.</p>
<p>Di antara bahaya<strong> ambisi terhadap kehormatan adalah,</strong> biasanya orang yang memiliki kehormatan karena harta atau kekuasaannya,<strong> ia akan suka dipuji dengan perbuatannya dan ia menginginkan pujian dari manusia, meskipun terkadang perbuatan itu lebih tepat disebut sebagai perbuatan tercela dari pada perbuatan terpuji.</strong></p>
<p>Orang yang tidak mengikuti keinginannya, dia tidak segan-segan untuk menyakiti dan meterornya. Bahkan terkadang dia melakukan perbuatan yang zhahirnya baik, tetapi ia menyembunyikan maksud yang buruk, ia senang dengan kamuflase tersebut, apalagi dengan adanya sambutan yang positif dari khalayak ramai. Perbuatan tersebut termasuk dalam firman Allah:</p>
<p>لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَواْ وَيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ</p>
<blockquote><p>&#8220;Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa&#8221;. [ali Imran 188]</p></blockquote>
<p>Dari sinilah para ulama’ yang mendapatkan petunjuk dari Allah melarang manusia untuk memuji mereka atas kebaikan yang mereka lakukan kepada sesama manusia, bahkan mereka menyuruh manusia untuk mengembalikan pujian hanya kepada pemiliknya, yaitu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala semata, tiada sekutu bagiNya, karena sesungguhnya segala kenikmatan itu datang dariNya.</p>
<p><strong>(Penguasa yang adil)</strong> menginginkan agar dien Islam itu semuanya milik Allah, begitu pula kemuliaan hanya milik Allah, bersama itu pula ia takut kalau-kalau ia lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya.</p>
<p>Orang-orang yang mencintai <strong>sesama muslim dengan dasar ikhlas karena Allah</strong>, maka yang paling mereka inginkan dari orang lain adalah <strong>agar manusia mencintai Allah, mentaati dan mengesakanNya dalam beribadah</strong>. Mereka tidak menginginkan imbalan jasa ataupun ucapan terimakasih dari manusia, mereka hanya mengharapkan imbalan dari Allah atas amalan baik yang mereka lakukan.</p>
<p>Dari sinilah pengikut setia para rasul, baik para ulama’ maupun para pejabat, tidak mengajak manusia untuk mengagungkan diri mereka sendiri, tetapi hanya mengagungkan Allah saja, dan beribadah kepadaNya. Ada di antara mereka yang menginginkan kekuasaan hanya sebagai sarana untuk amar ma’ruf nahi mungkar, dan berdakwah mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata.</p>
<p>2.<strong> Mencari Kehormatan Dan Kedudukan Yang Tinggi Di Mata Manusia Melalui Jalan Agama, Seperti Ilmu, Amal Shalih Dan Zuhud.</strong><br />
Bentuk seperti ini lebih keji dari yang pertama, lebih buruk, lebih berbahaya dan lebih besar kerusakannya. Karena sesungguhnya ilmu, amal shalih dan zuhud hanyalah dimaksudkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah, berupa kedudukan yang tinggi, kenikmatan yang langgeng dan kedekatan denganNya.</p>
<p><strong>Point yang kedua inipun terbagi menjadi dua:</strong><br />
a. Dimaksudkan untuk mencari harta. Ini termasuk ke dalam ambisi terhadap harta dan mencarinya dengan jalan yang diharamkan. Dari nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p>مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridla Allah, hanya saja dia mempelajarinya semata-mata untuk mendapatkan bagian di dunia maka dia tidak mendapatkan bau syurga di hari kiamat&#8221;. [4]</strong></p></blockquote>
<p>b. Dimaksudkan untuk mencari pengaruh pada manusia dan agar dihormati oleh mereka, agar mereka tunduk patuh kepadanya, agar ia menjadi pusat perhatian manusia, untuk menampakkan kepada manusia kelebihan ilmunya melampaui para ulama’, maka orang seperti ini bagiannya adalah neraka. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama’ atau untuk mencari perhatian manusia, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka&#8221;.[5]</strong></p></blockquote>
<p>Dari sini pula para salafus shalih tidak suka lancang dalam memberikan fatwa dan tidak berambisi untuknya, tidak terburu-buru dan tidak suka banyak berfatwa.</p>
<p><strong>Sebagian ulama’ berkata kepada orang yang suka memberikan fatwa: “jika kalian ditanya satu masalah, janganlah perhatian kalian tentang bagaimana terbebas dari si penanya, akan tetapi bagaimana kalian bisa selamat lebih dahulu”. Ada juga yang berkata: “Apabila anda ditanya tentang satu masalah, berpikirlah terlebih dahulu, jika anda mendapatkan jalan keselamatan untuk dirimu maka berbicaralah, jika tidak maka diamlah !”</strong></p>
<p>Dari sini pula para salafus Shalih tidak suka mendatangi dan mendekati para penguasa, adapun ulama’ dunia ia akan masuk dari pintu ke pintu untuk mendapatkan kemuliaan dunia dan kedudukan. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:</p>
<p>مَنْ سَكَنَ الْبَادِيَةَ جَفَا وَمَنِ اتَّبَعَ الصَّيْدَ غَفَلَ وَمَنْ أَتَى السُّلْطَانَ افْتُتِنَ</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Barangsiapa tinggal di daerah orang-orang Badui dia akan berperangai kasar, barangsiapa mengikuti hewan buruan ia akan lalai, dan barangsiapa mendatangi pintu para penguasa, ia akan terfitnah&#8221;.[6]</strong></p></blockquote>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam haditsnya:</p>
<p>وَمَا ازْدَادَ عَبْدٌ مِنَ السُّلْطَانِ دُنُوًّا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ الهِu بُعْدًا</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Tidaklah seseorang semakin dekat kepada penguasa kecuali akan semakin jauh dari Allah&#8221; [7]</strong></p></blockquote>
<p>Yang sangat ditakutkan atas orang yang mendatangi para penguasa yang zhalim adalah membenarkan kedustaan mereka, menolong kezhaliman mereka meskipun dengan diam membiarkan mereka berbuat zhalim. Karena orang yang mendatangi mereka dengan tujuan mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di dunia serta berambisi terhadap keduanya, dia tidak akan mengingkari mereka, bahkan sangat mungkin baginya untuk menganggap baik tindakan buruk mereka, sebagai upaya untuk untuk mendekatkan diri kepada mereka, dan untuk mendapatkan posisi yang baik di sisi mereka, agar mereka membantunya untuk mewujudkan ambisinya.</p>
<p>Dari Ka’ab bin Ujrah Radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:</p>
<p>سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Akan datang sesudahku para penguasa, maka siapa yang masuk menemui mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka atas kezhaliman yang mereka lakukan, maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan ia tidak akan minum air telaga. Barangsiapa yang tidak masuk menemui mereka, dan tidak menolong mereka atas kezhaliman mereka, dan tidak membenarkan kedustaan mereka, maka dia adalah termasuk golonganku dan aku darinya dan dia akan minum air telaga&#8221;.[8]</strong></p></blockquote>
<p>Banyak dari kalangan Salaf yang melarang masuk mendatangi para penguasa meskipun bertujuan amar ma’ruf nahi mungkar. Di antara mereka adalah Umar bin Abdul Aziz, Abdullah bin Mubarak, Sufyan Ats-Tsauri dan lain-lain.</p>
<p>Abdullah bin Mubarak berkata:<strong> “Menurut kami, tidak disebut penganjur kebaikan dan pemberantas kemungkaran, orang-orang yang masuk mendatangi para penguasa untuk amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi yang disebut penganjur kebaikan dan pemberantas kemungkaran adalah orang yang menjauhi mereka”.</strong></p>
<p>Penyebabnya adalah apa yang ditakutkan berupa fitnah (kesesatan) akibat masuk menemui mereka. Karena telah dikhayalkan kepada diri manusia, bahwasanya ketika ia masih jauh dari para penguasa, ia dapat menganjurkan kebaikan kepada mereka dan melarang serta mengingkari kemungkaran kepada mereka, lalu jika ia telah menemui mereka dari jarak dekat, condonglah jiwa kepada mereka, ia memendam cinta akan kemulian dunia, ia bahkan bisa jadi jatuh cinta kepada mereka, lebih-lebih jika mereka memberikan kemudahan dan fasilitas kepadanya, dan ia terima pemberian tersebut.</p>
<p>Sufyan Ats-Tsauri (161 H) telah menulis surat kepada Abbad bin Abbad, di antara isinya adalah: <strong>“Hati-hatilah anda dari penguasa, janganlah dekat dengan mereka atau berhubungan dalam urusan apapun, janganlah anda tertipu dengan tipuan Iblis yang membisikkanmu bahwa engkau menemui mereka dalam rangka membela orang-orang yang tertindas dan mengembalikan hak-hak mereka. Hanya ulama su’ (buruk) yang menjadikan dekat dengan penguasa sebagai tangga untuk mencapai ambisi dunianya. Adapaun fatwa yang sudah ada maka pergunakanlah, janganlah menjadi orang yang senang jika ucapanya didengar dan diikuti, serta diekspose secara meluas. Apabila ia meninggalkan itu semua, maka diketahuilah keikhlasannya.</strong></p>
<p>Hati-hatilah anda dari cinta kepemimpinan, karena orang yang berambisi terhadap kepemimpinan ia lebih mencintai kepemimpinan daripada cintanya terhadap emas dan perak. Celah ini sangat tersamar, tidak ada yang mengetahuinya kecuali ulama yang berpengalaman.</p>
<p><strong>Waspadalah dalam urusan hati, dan beramalah dengan niat yang ikhlash, dan ketahuilah sudah dekat waktunya bahwa perkara yang diinginkan oleh seseorang adalah apabila meninggal dunia, wassalam”.</strong></p>
<p>Dikarenakan bahaya ambisi terhadap kemuliaan dunia, maka para Salafush shalih tidak menyukai mempertontonkan keunggulan dirinya kepada manusia, baik dalam hal ilmu, zuhud, dan ibadah. Mereka tidak suka menampakkan amal shalih, ucapan, atau menyebutkan karamah yang Allah berikan kepadanya agar ia dikunjungi, diharapkan berkahnya, dimintai do’anya, dan supaya dicium tanganya, lalu senang serta bergembira terhadap hal demikian, bahkan berusaha untuk mendapatkan penghormatan dari manusia dengan apa yang telah disebutkan tadi.</p>
<p>Dari sinilah para Salafush Shalih sangat tidak menyukai ketenaran, di antara mereka: Ayyub As-Sikhtiani, An-Nakha’i, Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, dan ulama Rabbani lainnya. Mereka merendahkan amalan mereka, dan sangat menyembunyikan amal shalih mereka.</p>
<p>Ibrahim An-Nakha’i apabila sedang membaca Al-Qur’an, kemudian datang seseorang maka ia segera menutupi wajahnya dengan mushaf.</p>
<p>Banyak di antara ulama’ Salaf yang tidak suka apabila ia dimintai do’a, sambil berkata kepada yang minta do’a:<strong> “Siapakah saya ini ?” (dia merasa tidak pantas untuk dimintai do’a).</strong> Seseorang mengirim surat kepada Imam Ahmad meminta agar beliau berdo’a untuknya, maka Imam Ahmad menyatakan: <strong>“Jika kami berdo’a untuknya, maka siapakah yang berdo’a untuk kami?”</strong></p>
<p>Salah seorang shalih menceritakan kepada raja tentang seseorang yang gemar beribadah, maka raja ingin berkunjung kepadanya, diberitahukanlah jadwal kunjungan sang raja kepada ahli ibadah terebut. Pada saat kedatangan raja, ahli ibadah tersebut duduk di pinggir jalan sambil makan, sang raja datang menemui ahli ibadah yang sedang duduk di pinggir jalan sambil makan, raja mengucap salam dan dijawab oleh ahli ibadah dengan singkat sambil menyantap makanan dengan lahap tanpa menghiraukan kedatangan sang raja. Raja menjadi kecewa dan berkata:<strong> “Orang ini tidak mempunyai kebaikan sama sekali !” lalu pulanglah sang raja. Setelah sang raja pergi, si ahli ibadah berkata: “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah menjauhkan saya dari orang itu dan dia pulang dalam keadaan mencelaku”.</strong></p>
<p>Permasalahan ini sangat luas sekali, dan di sini terdapat point yang sangat halus sekali. Yaitu bahwa seorang manusia kadang mencela diri sendiri di hadapan orang lain, dengan tujuan agar orang lain menganggap dia sebagai orang yang tawaddlu’, sehingga ia menjadi mulia dan terpuji di mata manusia. Ini merupakan bagian dari pintu riya’ yang sangat halus, para ulama’ telah memperingatkan terhadap hal ini.</p>
<p>Jelaslah sudah sebagaimana telah kami sebutkan, bahwa cinta harta dan kedudukan serta ambisi terhadap keduanya dapat merusak dien seorang muslim sampai habis tak bersisa, kecuali Allah berkehendak lain. Akar dari cinta kepada harta dan kemuliaan adalah cinta kepada dunia dan akar cinta kepada dunia adalah mengikuti hawa nafsu.</p>
<p>Wahab bin Munabbih berkata: <strong>“Mengikuti hawa nafsu akan melahirkan cinta kepada dunia, cinta kepada dunia akan melahirkan cinta kepada harta dan kemuliaan, dan cinta kepada harta dan kemuliaan melahirkan sikap menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah”. </strong></p>
<p>Ucapan itu benar, hanya taqwa kepada Allah yang dapat membentengi seseorang dari mengikuti hawa nafsu dan memalingkan hati kita dari cinta kepada dunia. Allah berfirman:</p>
<p>فَأَمَّا مَن طَغَى . وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى . وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)&#8221;. [an-Nazi’aatL: 37 – 41]</strong></p></blockquote>
<p>Allah telah mensifatkan penduduk neraka sebagai orang yang memiliki harta dan kekuasaan di beberapa tempat dalam kitabNya. Dia berfirman:</p>
<p>وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ . وَلَمْ أَدْرِ مَاحِسَابِيَهْ . يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ . مَآأَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ . هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ</p>
<p><strong>&#8220;Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:&#8221;Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaan dariku&#8221;. [al-Haaqqaah: 25-29</strong>]</p>
<p>Ketahuilah bahwa jiwa manusia mencintai kedudukan yang tinggi melebihi orang lain. Dari sinilah timbul sifat sombong dan hasad, akan tetapi orang-orang yang berakal akan berlomba untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi yang kekal dan langgeng di sisi Allah, mendapatkan ridlaNya dan membenci kedudukan tinggi yang fana dan bersifat sementara, tetapi disertai dengan kemurkaan Allah dan kebencianNya, rendah dan jauh dariNya.</p>
<p>Ambisi untuk mendapatkan kedudukan tinggi di dunia adalah perbuatan tercela yang mengakibatkan kecongkakan dan kesombongan di muka bumi. Sedangkan ambisi untuk mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah adalah hal yang terpuji. Allah berfirman:</p>
<p>وَفيِ ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ</p>
<p><strong>&#8220;Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba&#8221; [al-Muthaffifiin: 26]</strong></p>
<p>Untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di akhirat diperintahkan untuk berlomba-lomba dan berambisi terhadapnya, dengan jalan berusaha berjalan di atas rel-relnya, tidak boleh merasa puas dengan rangking terakhir padahal ia mampu meraih rangking teratas. Adapun kedudukan tinggi di dunia, maka di akhirat akan berakibat penyesalan dan kerugian serta kehinaan dan kerendahan yang akan dirasakan oleh orang yang berambisi. Maka yang disyari’atkan dalam hal ini adalah menghindar dan zuhud terhadapnya.</p>
<p><strong>BEBERAPA PENYEBAB ZUHUD</strong></p>
<blockquote><p>Untuk memproleh sikap zuhud terdapat beberapa sebab, di antaranya:<br />
1. Dengan merenungi tentang akibat buruk di akhirat dengan sebab kehormatan dunia, berupa jabatan dan kekuasaan bagi orang yang tidak melaksanakan tugasnya dengan benar.</p>
<p>2. Dengan merenungi tentang hukuman yang diperoleh bagi orang-orang yang zhalim dan sombong.</p>
<p>3. Dengan merenungi tentang pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang ketika di dunia rendah hati, ikhlas karena Allah, yaitu dengan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat, karena sesungguhnya barangsiapa yang rendah hati karena Allah (tawaddlu’), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.</p>
<p>4. Zuhud didapat bukan karena kemampuan seorang hamba, akan tetapi merupakan karunia Allah dan rahmatNya. Orang yang zuhud akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia sesuai dengan janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Kehidupan yang baik ini berupa balasan yang segera akan Allah berikan bagi orang-orang yang zuhud terhadap harta dan kemuliaan dunia. Kehidupan yang baik ini secara zhahir berupa kemuliaan taqwa dan kewibawaan di mata manusia, dan secara bathin berupa manisnya iman dan ketaatan.</p>
<p>Barangsiapa mendapat karunia zuhud dari Allah, tentu ia sibuk mencari kemuliaan akhirat dan tidak akan tertipu dengan kemuliaan dunia yang semu dan sementara. Allah berfirman:</p>
<p>وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ</p>
<p><strong>&#8220;Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik&#8221;. [al-A’raaf: 26]</strong></p>
<p>مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فِلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا</p>
<p><strong>&#8220;Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah semua kemuliaan itu&#8221;. [al-Fathiir: 10]</strong></p>
<p>Muhammad bin Sulaiman, seorang gebernur Bashrah datang menemui Hammad bin Salamah. Gubernur itu duduk di hadapan Hammad lalu bertanya: <strong>“Wahai Abu Salamah, mengapa setiap kali saya memandangmu, saya gemetar segan kepadamu ?” Beliau menjawab: “Karena seorang alim apabila menghendaki ridla Allah dengan ilmunya, maka segala sesuatu akan takut kepadanya, apabila ia menginginkan untuk memperbanyak harta dengan ilmu, maka ia takut kepada segala sesuatu”.</strong></p>
<p>Barangsiapa sibuk membina dirinya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dengan jalan mengenal Allah, takut kepadaNya, cinta kepadaNya, selalu merasa dalam pengawasanNya, tawakkal, ridla dengan takdirNya, merasa tentram dan rindu kepadaNya, dia akan sampai kepadaNya dan dia tidak akan perduli dengan kedudukan yang tinggi di sisi manusia. Meskipun demikian, Allah akan memberikan kedudukan yang tinggi di mata manusia, dan mereka hormat kepadanya, padahal dia sendiri tidak menginginkan hal tersebut, bahkan lari menjauhinya dan khawatir kalau kehormatan dunia ini bisa memutuskan jalannya menuju ridla Allah. Allah berfirman:</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا</p>
<p><strong>&#8220;Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang. [Maryam : 96]</strong></p>
<p>Dan dalam sebuah hadits yang shahih:</p>
<p>إِذَا أَحَبَّ الهُa الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ الهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ الهَa يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي اْلأَرْضِ</p>
<p><strong>&#8220;Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: “Wahai jibril Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!” lalu Jibrilpun mencintainya. Lalu jibril berseru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langitpun mencintainya. Kemudian dia di karuniai dengan diterimanya di muka bumi&#8221;. [HR. Bukhari no. 3037, 5693,7047 dan Shahih Muslim no. 2637]</strong></p></blockquote>
<p>Kesimpulannya mencari kehormatan akhirat akan mendapatkan kehormatan akhirat plus kehormatan dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia tidak akan bertemu dan tidak akan mungkin berkumpul dengan kehormatan akhirat.</p>
<p>Orang yang bahagia adalah orang yang lebih mengutamakan akhirat yang kekal dibandingkan dengan dunia yang fana.</p>
<p><em><strong>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]</strong></em><br />
_______<br />
Footnote<br />
[1] Disarikan dari kitab: Syarhun wa bayanun lihaditsi “MAA DZI’BAANI JA’IAANI” Oleh Al-Imam Ibnu Rajab t (736-795), Takhrij : Muhammad Shubhi Hasan Hallaq, Penerbit : Muassasah Ar-rayyan-Beirut-Libanon, Cet: Pertama, tahun 1413 H – 1992 M. Penerjemah: Fariq bin Ghasim Anuz<br />
[2]. HR. Ahmad, Nasa’, Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Imam Tirmidzi berkata (tentang) hadits ini: “Hasan shahih”. Muhammad Shubhi Hasan Hallaq menyatakan: “Hadits ini telah dishahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Albani dan selain mereka<br />
[3]. Syeikh Muhammad Syubhi Hasan Hallaq menyatakan hadits ini Shahih. HR. Abu Daud 2/324 no. 1698.<br />
[4]. HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq<br />
[5]. HR. Tirmidzi no. 2654 dari Ka’ab bin Malik serta dishahihkan oleh syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq<br />
[6] HR. Ahmad. Abu Daud no. 2859, Tirmidzi dan Nasa’i no. 4309. Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq berkata: “Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam Al-Jami’ (I/163), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (4/72), Ibnu Katsir dalam tafsirnya (2/397), Thabrani dalam Al-Kabir no. 11030, dan Bukhari dalam Al-Kuna (8/70) dan itu adalah hadits shahih, dan dishahihkan pula oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud<br />
[7]. HR. Ahmad, Abu Daud no. 4860. Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq berkata: “Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (1/312) Al-Qudhai dalam Musnad as-Syihab (1/222 no. 339) dan Syeikh Al-Albani memuatnya dalam as-Shahihah no. 1272<br />
[8]. (HR. Ahmad 3/321 dan 399, Tirmidzi 4/525 no. 2259, Nasa’i 7/160, 161 no. 4207 dan 4208 dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (Dalam Al-Ihsan 1/248 no. 279; 1/249 no. 282; 1/250 no. 283; dan 1/251 no.285</p>
<p><strong>Sumber : http://almanhaj.or.id/</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/akhlaq/'>Akhlaq</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/tazkiyatun-nufus/'>Tazkiyatun Nufus</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5610/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5610&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/21/bahaya-ambisi-terhadap-harta-dan-kehormatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/wealth1_small1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wealth1_small</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dokumen Rahasia Agama Syi’ah Imamiyah</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/11/dokumen-rahasia-agama-syiah-imamiyah/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/11/dokumen-rahasia-agama-syiah-imamiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 15:21:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5602</guid>
		<description><![CDATA[Dokumen Rahasia Agama Syi’ah Imamiyah Inilah DOKUMEN RAHASIA sekte agama Syiah, tentang misi jangka panjang mereka (50 th), untuk menegakkan kembali dinasti Persia yang telah runtuh oleh Islam berabad-abad lamanya, sekaligus membumi-hanguskan negara-negara Ahlus Sunnah, musuh bebuyutan mereka. Dokumen ini disebarkan oleh Ikatan Ahlus Sunnah di Iran, begitu pula majalah-majalah di berbagai negara Ahlus Sunnah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5602&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong>Dokumen Rahasia Agama Syi’ah Imamiyah</strong></div>
<div><img class="alignleft size-full wp-image-5603" title="top" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/top.jpg?w=468" alt=""   /></div>
<p>Inilah DOKUMEN RAHASIA sekte agama Syiah, tentang misi jangka panjang mereka (50 th), untuk menegakkan kembali dinasti Persia yang telah runtuh oleh Islam berabad-abad lamanya, sekaligus membumi-hanguskan negara-negara Ahlus Sunnah, musuh bebuyutan mereka. Dokumen ini disebarkan oleh Ikatan Ahlus Sunnah di Iran, begitu pula majalah-majalah di berbagai negara Ahlus Sunnah (ISLAM), termasuk diantaranya Majalah al-Bayan, edisi 123, Maret 1998.<br />
Karena naskah yang tersebar adalah naskah dalam bahasa arab, maka kami terjemahkan ke dalam bahasa indonesia, agar orang yang tidak mampu berbahasa arab pun bisa memahami isi naskah tersebut.</p>
<p>Sekarang kami persilahkan Anda membaca terjemahannya:</p>
<p><em>((Bila kita tidak mampu untuk mengusung revolusi ini ke negara-negara tetangga yang muslim, tidak diragukan lagi yang terjadi adalah sebaliknya, peradaban mereka -yang telah tercemar budaya barat- akan menyerang dan menguasai kita.</em></p>
<p><em>Alhamdulillah, -berkat anugerah Allah dan pengorbanan para pengikut imam yang pemberani- berdirilah sekarang di Iran, Negara Syiah Itsna Asyariyyah (syiah pengikut 12 imam), setelah perjuangan berabad-abad lamanya. Oleh karena itu, -atas dasar petunjuk para pimpinan syi’ah yang mulia- kita mengemban amanat yang berat dan bahaya, yakni: menggulirkan revolusi.</em></p>
<p><em>Kita harus akui, bahwa pemerintahan kita adalah pemerintahan yang berasaskan madzhab syi’ah, disamping tugasnya melindungi kemerdekaan negara dan hak-hak rakyatnya. Maka wajib bagi kita untuk menjadikan pengguliran revolusi sebagai target yang paling utama.</em></p>
<p><em>Akan tetapi, karena melihat perkembangan dunia saat ini dengan aturan UU antar negaranya, tidak mungkin bagi kita, untuk menggulirkan revolusi ini, bahkan bisa jadi hal itu mendatangkan resiko besar yang bisa membahayakan kelangsungan kita.</em></p>
<p><em>Karena alasan ini, maka -setelah mengadakan tiga pertemuan, dan menghasilkan keputusan, yang disepakati oleh hampir seluruh anggota-, kami menyusun strategi jangka panjang 50 tahun, yang terdiri dari 5 tahapan, setiap tahapan berjangka 10 tahun, yang bertujuan untuk menggulirkan revolusi islam ini, ke seluruh negara-negara tetangga, dan menyatukan kembali dunia Islam (dengan men-syi’ah-kannya).</em></p>
<p><em>Karena bahaya yang kita hadapi dari para pemimpin Wahabiah dan mereka yang berpaham ahlus sunnah, jauh lebih besar dibandingkan bahaya yang datang dari manapun juga, baik dari timur maupun barat, karena orang-orang Wahabi dan Ahlus Sunnah selalu menentang pergerakan kita. Merekalah musuh utama Wilayatul Fakih dan para imam yang ma’shum, bahkan mereka beranggapan bahwa menjadikan faham syi’ah sebagai landasan negara, adalah hal yang bertentangan dengan agama dan adat, dengan begitu berarti mereka telah memecah dunia Islam menjadi dua kubu yang saling bermusuhan.<span id="more-5602"></span></em></p>
<p><em>Atas dasar ini:</em></p>
<p><em>Kita harus menambah kekuatan di daerah-daerah berpenduduk Ahlus Sunnah di Iran, khususnya kota-kota perbatasan. Kita harus menambah masjid-masjid dan husainiyyat kita di sana, disamping menambah volume dan keseriusan dalam pengadaan acara-acara peringatan ritual syi’ah.</em></p>
<p><em>Kita juga harus menciptakan iklim yang kondusif, di kota-kota yang dihuni oleh 90-100 persen penduduk Ahlus Sunnah, agar kita bisa mengirim dalam jumlah besar kader-kader syi’ah dari berbagai kota dan desa pedalaman, ke daerah-daerah tersebut, untuk selamanya tinggal, kerja, dan bisnis di sana.</em></p>
<p><em>Dan merupakan kewajiban negara dan instansinya, untuk memberikan perlindungan langsung kepada mereka yang diutus untuk menempati daerah itu, dengan tujuan agar dengan berlalunya waktu, mereka bisa merebut jabatan pegawai di berbagai kantor, pusat pendidikan dan layanan umum, yang masih di pegang oleh kaum Ahlus Sunnah.</em></p>
<p><em>Strategi yang kami buat untuk pengguliran revolusi ini, -tidak seperti anggapan banyak kalangan- akan membuahkan hasil, tanpa adanya kericuhan, pertumpahan darah, atau bahkan perlawanan dari kekuatan terbesar dunia. Sungguh dana besar yang kita habiskan untuk mendanai misi ini, tak akan hilang tanpa timbal-balik.</em></p>
<p><strong><em>Teori Memperkuat Pilar-pilar Negara:</em></strong></p>
<p><em>Kita tahu, bahwa kunci utama untuk menguatkan pilar-pilar setiap negara, dan perlindungan terhadap rakyatnya, berada pada tiga asas utama:</em></p>
<p><em>Pertama: Kekuatan yang dimiliki oleh pemerintahan yang sedang berkuasa.</em></p>
<p><em>Kedua: Ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh para ulama dan penelitinya.</em></p>
<p><em>Ketiga: Ekonomi yang terfokus pada kelompok pengusaha pemilik modal.</em></p>
<p><em>Apabila kita mampu menggoncang pemerintahan, dengan cara memunculkan perseteruan antara ulama dan penguasanya, atau memecah konsentrasi para pemilik modal di negara itu, dengan menarik modalnya ke negara kita atau negara lain, tak diragukan lagi, kita telah menciptakan keberhasilan yang gemilang dan menarik perhatian dunia, karena kita telah meruntuhkan tiga pilar tersebut.</em></p>
<p><em>Adapun rakyat jelata setiap negara, yang berjumlah rata-rata 70-80 persen, mereka hanyalah pengikut hukum dan kekuatan yang menguasainya. Mereka disibukkan oleh tuntutan hidupnya, untuk mencari rizki, makan dan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, mereka akan membela siapa pun yang sedang berkuasa. Dan untuk mencapai atap setiap rumah, kita harus menaiki tangga utamanya.</em></p>
<p><em>Tetangga-tetangga kita dari kaum Ahlus Sunnah dan Wahabi adalah: Turki, Irak, Afganistan, Pakistan, dan banyak negara kecil di pinggiran selatan, serta gerbangnya negara teluk persia, yang tampak seakan negara-negara yang bersatu, padahal sebenarnya berpecah-belah. Daerah-daerah ini, adalah kawasan yang sangat penting sekali, baik di masa lalu, maupun di masa-masa yang akan datang. Ia juga ibarat kerongkongan dunia di bidang minyak bumi. Tidak ada di muka bumi ini kawasan yang lebih sensitif melebihinya. Para penguasa di kawasan ini memiliki taraf hidup yang tinggi, karena penjualan minyak buminya.</em></p>
<p><strong><em>Kategori Penduduk di Kawasan Ini</em></strong></p>
<p><em>Penduduk di kawasan ini terbagi dalam tiga golongan:</em></p>
<p><em>Pertama: Penduduk baduwi dan padang pasir, yang telah ada sejak beratus-ratus tahun lalu.</em></p>
<p><em>Kedua: Pendatang yang hijrah dari berbagai pulau dan pelabuhan, yang telah hijrah sejak zaman pemerintahan Syah Isma’il as-Shofawi, dan terus berlangsung hingga zamannya Nadirsyah Afsyar, Karim Khan Zind, Raja al-Qojar, dan keluarga al-Bahlawi. Dan telah banyak perjalanan hijrah dari waktu ke waktu, sejak mulainya revolusi Islam.</em></p>
<p><em>Ketiga: Mereka yang berasal dari negara arab lainnya, dan kota-kota pedalaman Iran.</em></p>
<p><em>Adapun lahan bisnis, perusahaan ekspor impor dan kontraktor, biasanya dikuasai oleh selain penduduk asli. Sedangkan penduduk asli, kebanyakan mereka hidup dari menyewakan lahan dan jual-beli tanah. Mengenai para keluarga penguasa, biasanya mereka hidup dari gaji pokok penjualan minyak buminya.</em></p>
<p><em>Adapun kerusakan masyarakat, budaya, banyaknya praktik yang menyimpang dari islam, itu sangat jelas terlihat. Karena mayoritas penduduk negara-negara ini, telah larut dalam kenikmatan dunia, kefasikan dan perbuatan keji. Banyak dari mereka yang mulai membeli perumahan, saham perusahaan, dan menyimpan modal usahanya di Eropa dan Amerika, khususnya di Jepang, Inggris, Swedia, dan Swiss, karena kekhawatiran mereka akan runtuhnya negara mereka di masa-masa mendatang. Sesungguhnya dengan menguasai negara-negara ini, berarti kita telah menguasai setengah dunia.</em></p>
<p><strong><em>Beberapa Tahapan Dalam Menggulirkan Revolusi Ini</em></strong></p>
<p><em>Untuk menjalankan misi panjang 50 tahun ini, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah: memperbaiki hubungan kita dengan negara-negara tetangga, dan harus ada hubungan yang kuat dan sikap saling menghormati, antara kita dengan mereka. Bahkan kita juga harus memperbaiki hubungan kita dengan Irak, setelah perang berakhir dan Sadam Husein jatuh, karena menjatuhkan seribu kawan itu lebih ringan, dibanding menjatuhkan satu lawan.</em></p>
<p><em>Dengan adanya hubungan politik, ekonomi dan budaya antara kita dengan mereka, tentunya akan masuk sekelompok kader dari Iran ke negara-negara ini, sehingga memungkinkan kita untuk mengirim para duta secara resmi, yang pada hakekatnya adalah pelaksana program revolusi ini, selanjutnya kita akan tentukan misi khusus mereka saat menugaskan dan mengirimkannya.</em></p>
<p><em>Janganlah kita beranggapan bahwa 50 tahun adalah waktu yang panjang, karena kesuksesan langkah kita ini benar-benar membutuhkan perencanaan yang berkelanjutan hingga 20 tahun. Sungguh tersebarnya paham syi’ah, yang kita rasakan di banyak negara saat ini, bukanlah buah dari perencanaan 1 atau 2 hari.</em></p>
<p><em>Dulunya kita tidak memiliki seorang pun pegawai di negara manapun, apalagi kader dengan jabatan menteri, wakil negara dan presiden. Bahkan dulunya banyak kelompok, seperti Wahabiah, Syafi’iah, Hanafiah, Malikiah, dan Hanbaliah, memandang kita sebagai kelompok yang murtad dari Islam, sehingga pengikut mereka telah berkali-kali mengadakan pemusnahan kaum syi’ah secara massal. Memang benar kita tidak merasakan pahitnya hari-hari itu, tetapi nenek moyang kita pernah merasakannya. Kehidupan kita hari ini adalah buah dari gagasan, pemikiran dan langkah mereka. Mungkin juga kita tidak akan hidup di masa depan, akan tetapi revolusi dan madzhab kita akan tetap ada.</em></p>
<p><em>Untuk menunaikan misi ini, tidaklah cukup hanya dengan mengorbankan hidup, atau apapun yang paling berharga sekalipun, akan tetapi juga membutuhkan pemrograman yang telah matang dikaji.</em></p>
<p><em>Harus ada perencanaan untuk masa depan, walaupun untuk 500 tahun ke depan, apalagi hanya 50 tahun saja. Karena kita adalah pewaris berjuta-juta syuhada’, yang gugur di tangan setan-setan yang mengaku muslim, darah mereka terus mengalir dalam sejarah, sejak meninggalnya Rasul hingga hari ini. Dan cucuran darah itu tidak akan kering, sehingga setiap orang yang mengaku muslim, meyakini hak Ali dan keluarga Rasulullah, mengakui kesalahan nenek moyang mereka, dan mengakui syi’ah sebagai pewaris utama ajaran Islam.</em></p>
<p><strong><em>Beberapa Tahapan Penting Dalam Perjalanan Misi Ini</em></strong></p>
<p><strong><em>Tahap Pertama (sepuluh tahun pertama):</em></strong></p>
<p><em>Kita tidak ada masalah dalam menyebarkan madzhab syi’ah di Afganistan, Pakistan, Turki, Iran dan Bahrain. Karena itu, kita akan menjadikan tahapan sepuluh tahun kedua, sebagai tahapan pertama di 5 negara ini.</em></p>
<p><em>Sedangkan tugas para duta kita di belahan negara lain adalah tiga hal:</em></p>
<p><em>Pertama: Membeli lahan tanah, perumahan dan perhotelan.</em></p>
<p><em>Kedua: Menyediakan lapangan pekerjaan, kebutuhan hidup dan fasilitasnya kepada para pengikut paham syi’ah, agar mereka mau hidup di rumah yang dibeli, sehingga bertambah banyak jumlah penduduk yang sepaham dengan kita.</em></p>
<p><em>Ketiga: Membangun jaringan dan relasi yang kuat dengan para pemodal di pasar dagang, dengan para pegawai kantor, khususnya mereka yang menjabat sebagai kepala tinggi, dengan tokoh publik dan dengan siapapun yang memiliki hak keputusan penuh di berbagai instansi negara.</em></p>
<p><em>Di sebagian negara-negara ini, ada beberapa daerah, yang sedang dalam proyek pengembangan, bahkan di sana ada rencana proyek pengembangan untuk puluhan desa, kampung, dan kota kecil lainnya. Tugas wajib para duta yang kita kirim adalah membeli sebanyak mungkin rumah di desa itu, untuk kemudian dijual dengan harga yang pantas kepada orang yang mau menjual hak miliknya di pusat kota. Sehingga dengan langkah ini, kota yang padat penduduknya bisa kita rebut dari tangan mereka.</em></p>
<p><strong><em>Tahap Kedua (sepuluh tahun kedua):</em></strong></p>
<p><em>Kita harus mendorong masyarakat syi’ah untuk menghormati UU, taat kepada para pelaksana UU dan pegawai negara, serta berusaha mendapatkan surat ijin resmi untuk berbagai acara ritual syi’ah, pendirian masjid, dan husainiyyat. Karena surat ijin resmi tersebut, akan kita ajukan sebagai tanda bukti resmi di masa-masa mendatang untuk mengadakan berbagai acara dengan bebas.</em></p>
<p><em>Kita juga harus berkonsentrasi pada kawasan yang tinggi tingkat kepadatan penduduknya, untuk kita jadikan sebagai tempat diskusi tentang masalah-masalah (syiah) yang sangat sensitif.</em></p>
<p><em>Para duta syi’ah, -pada dua tahapan ini- diharuskan untuk mendapatkan kewarganegaraan dari negara yang ditempatinya, dengan memanfaatkan relasi atau hadiah yang sangat berharga sekalipun. Mereka juga harus mendorong para kadernya agar menjadi pegawai negeri, dan segera masuk -khususnya- dalam barisan militer negara.</em></p>
<p><em>Pada pertengahan tahap kedua: Harus dihembuskan -secara rahasia dan tidak langsung- isu bahwa ulama Ahlus Sunnah dan Wahabiah adalah penyebab kerusakan di masyarakat, dan berbagai praktek menyimpang syariat yang banyak terjadi di negara itu. Yaitu melalui selebaran-selebaran yang berisi kritikan, dengan mengatas-namakan sebagian badan keagamaan atau tokoh Ahlus Sunnah dari negara lain. Tak diragukan lagi, ini akan memprovokasi sejumlah besar rakyat negara itu, sehingga pada akhirnya mereka akan menangkap pimpinan agama atau figur Ahlus Sunnah yang dituduh itu, atau kemungkinan lain; rakyat negara itu akan menolak isi selebaran itu, dan para ulamanya akan membantahnya dengan sekuat tenaga. Dan setelah itu kita munculkan banyak huru hara, yang akan berakibat pada diberhentikannya penanggung jawab masalah itu, atau digantikannya dengan staf yang baru.</em></p>
<p><em>Langkah ini, akan menyebabkan buruknya kepercayaan pemerintah kepada seluruh ulama di negaranya, sehingga menjadikan mereka tidak bisa menyebarkan agama, membangun masjid dan pusat pendidikan agama. Selanjutnya pemerintah akan menganggap seluruh ajakan yang berbau agama sebagai bentuk pelanggaran terhadap peraturan negara.</em></p>
<p><em>Ditambah lagi, akan berkembang rasa benci dan saling menjauh antara penguasa dengan ulama di negara itu, sehingga Ahlus Sunnah dan Wahabiyah akan kehilangan pelindung mereka dari dalam, padahal tidak mungkin ada orang yang melindungi mereka dari luar.</em></p>
<p><strong><em>Tahap Ketiga (sepuluh tahun ketiga):</em></strong></p>
<p><em>Pada tahap ini, telah terbangun jaringan yang kuat, antara duta-duta kita dengan para pemilik modal dan pegawai atasan, diantara mereka juga banyak yang telah masuk dalam barisan militer dan jajaran pemerintahan, yang bekerja dengan penuh ketenangan dan hati-hati, tanpa ikut campur dalam urusan agama, sehingga kepercayaan penguasa lebih meningkat lagi dari sebelumnya.</em></p>
<p><em>Pada tahapan ini, di saat berkembangnya perseteruan, perpecahan, dan iklim yang memanas antara penguasa dengan ulama, maka diharuskan kepada sebagian ulama terkemuka syiah yang telah menjadi penduduk negara itu, untuk mensosialisasikan keberpihakan mereka kepada penguasa negara itu, khususnya pada musim-musim ritual keagamaan (syi’ah), sekaligus menampakkan bahwa syi’ah adalah aliran yang tak membahayakan pemerintahan mereka. Apabila situasi memungkinkan mereka untuk bersosialisasi melalui media informasi yang ada, maka janganlah ragu-ragu memanfaatkannya untuk menarik perhatian para penguasa, sehingga mereka senang dan menempatkan kader kita pada jabatan pemerintahan, dengan tanpa ada rasa takut atau cemas dari mereka.</em></p>
<p><em>Pada tahapan ini, dengan adanya perubahan yang terjadi di banyak pelabuhan, pulau, dan kota lainnya di negara kita, ditambah dengan devisa perbankan kita yang terus meningkat, kita akan merencanakan langkah-langkah untuk menjatuhkan perekonomian negara-negara tetangga. Tentu saja para pemilik modal dengan alasan keuntungan, keamanan dan stabilitas ekonomi, akan mengirimkan seluruh rekening mereka ke negara kita; dan ketika kita memberikan kebebasan kepada semua orang, dalam menjalankan seluruh kegiatan ekonominya, dan pengelolaan rekening banknya di negara kita, tentunya negara mereka akan menyambut rakyat kita, atau bahkan memberikan kemudahan dalam kerjasama ekonomi.</em></p>
<p><strong><em>Tahap Keempat (sepuluh tahun keempat):</em></strong></p>
<p><em>Pada tahap ini, telah terhampar di depan kita fenomena; dimana banyak negara yang para penguasa dan ulamanya saling bermusuhan, pebisnis yang hampir bangkrut dan lari, serta masyarakat yang tak aman, sehingga siap menjual hak miliknya dengan separo harga sekalipun, agar mereka bisa pindah ke daerah yang aman.</em></p>
<p><em>Di saat terjadinya kegentingan inilah, para duta kita akan menjadi pelindung bagi hukum dan para penguasanya. Apabila para duta itu bekerja dengan sungguh-sungguh, tentunya mereka akan mendapatkan jabatan terpenting dalam pemerintahan dan kemiliteran, sehingga dapat mempersempit jurang pemisah antara para pemilik perusahaan yang ada dengan para penguasa.</em></p>
<p><em>Keadaan seperti ini, memungkinkan kita untuk menuduh mereka yang bekerja dengan tulus untuk penguasa sebagai para penghianat negara, dan ini akan menyebabkan diberhentikannya mereka atau bahkan diusir dan diganti dengan kader kita.</em></p>
<p><em>Langkah ini akan membuahkan dua keuntungan, pertama: Pengikut kita akan mendapat kepercayaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kedua: Kebencian ahlus sunnah akan semakin meningkat, karena meningkatnya kekuatan syi’ah di berbagai instansi negara. Ini akan mendorong ahlus sunnah untuk meningkatkan langkah menentang penguasa. Di saat seperti itu, kader-kader kita harus bersanding membela penguasa, dan mengajak masyarakat untuk berdamai dan tetap tenang. Dan pada saat yang bersamaan, mereka akan membeli kembali rumah dan barang yang semula akan mereka tinggalkan.</em></p>
<p><strong><em>Tahap Kelima (sepuluh tahun terakhir):</em></strong></p>
<p><em>Pada sepuluh tahun kelima, tentunya iklim dunia telah siap menerima revolusi, karena kita telah mengambil tiga pilar utama dari mereka, yang meliputi: keamanan dan ketenangan dan kenyamanan. Sedangkan pemerintahan yang berkuasa, akan menjadi seperti kapal ditengah badai dan nyaris tenggelam, sehingga menerima semua masukan yang akan menyelamatkan jiwanya.</em></p>
<p><em>Di saat seperti ini, kita akan memberikan masukan melalui beberapa tokoh penting dan terkenal, untuk membentuk himpunan rakyat dalam rangka memperbaiki keadaan negara, dan kita akan membantu penguasa untuk mengawasi berbagai instansi dan mengamankan negara. Tak diragukan lagi, tentunya mereka akan menerima usulan itu, sehingga para kader pilihan kita akan mendapatkan hampir keseluruhan kursi di dalamnya. Kenyataan ini tentu akan menyebabkan larinya para pengusaha, ulama dan pegawai setia pemerintahan, sehingga kita akan dapat menggulirkan revolusi islam kita, ke berbagai negara, tanpa menimbulkan peperangan atau pertumpahan darah.</em></p>
<p><em>Seandainya, pada sepuluh tahun terakhir, rencana ini tidak membuahkan hasil, kita tetap bisa mengadakan revolusi rakyat dan merebut kekuasaan dari tangan penguasa.</em></p>
<p><em>Apabila penganut syi’ah adalah penduduk, penghuni dan rakyat negara itu, maka berarti kita telah menunaikan kewajiban, yang bisa kita pertanggung-jawabkan di depan Allah, agama, dan madzhab kita. Bukan tujuan kita untuk mengantarkan seseorang kepada tampuk pimpinan, tetapi tujuan kita hanyalah menggulirkan revolusi, sehingga kita mampu mengangkat bendera kemenangan agama tuhan ini, dan menampakkan nilai-nilai kita di seluruh negara. Selanjutnya kita mampu maju melawan dunia kafir dengan kekuatan yang lebih besar, dan menghias alam dengan cahaya Islam dan ajaran syi’ah, sampai datangnya imam Mahdi yang dinantikan))</em></p>
<p>–selesai sudah naskah misi revolusi itu–</p>
<p>Lihatlah wahai para pembaca… betapa busuknya rencana mereka… betapa besarnya kebencian mereka terhadap Ahlus Sunnah… Kita sekarang tahu bahwa Syi’ah bukanlah sekedar aliran paham biasa, akan tetapi ia sekarang berubah menjadi aliran pergerakan politik yang bisa merongrong eksistensi negara.. Lihatlah bagaimana mereka merencanakan pengguliran revolusi sedikit demi sedikit, bagaimana mereka menjadikan dutanya sebagai alat penyebar aliran, sekaligus alat politiknya.</p>
<p>Subhanallah… semoga Allah menyelamatkan kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah (ISLAM) dari tipu daya mereka.</p>
<p>Allah berfirman (yang artinya): <em>“Mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas dengan tipu daya. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya…”</em> (Qs Ali Imron: 54)</p>
<p>Semoga tulisan ini bisa menyadarkan mereka yang menyuarakan, perlunya pendekatan antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah.</p>
<p>Sungguh mengherankan, adakah yang masih mengharapkan kebaikan dari kaum yang selalu berbohong atas Allah dan Rasul-Nya… Adakah yang masih ingin membangun kerukunan dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an sudah tidak orisinil lagi… Adakah yang masih mengharapkan bersanding dengan kaum yang mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, bahkan seluruh Sahabat Rasul, kecuali tiga saja (Salman al-Farisy, Miqdad dan Abu Dzar)… Adakah yang masih berprasangka baik kepada kaum yang menuduh Rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sallam</em> selama hidupnya telah berzina dengan Aisyah… Adakah Ahlus Sunnah yang masih menganggap baik kaum yang telah membunuh ratusan bahkan ribuan ulama Ahlus Sunnah di Iran dan negara lainnya… Adakah Ahlus Sunnah yang masih toleran dengan kaum yang tidak mengizinkan satu pun  masjid Ahlus Sunnah di Teheran Ibu kota Iran…. Sungguh tidak pernah habis rasa heran ini melihat kenyataan yang ada di lapangan…</p>
<p>Mungkin banyak diantara kita yang tidak melihat bukti nyata dari omongan diatas… mungkin ada yang mengatakan bahwa fakta di atas adalah sebatas tuduhan yang tak beralasan… tapi ingatlah bahwa diantara inti ajaran kaum Syi’ah adalah TAKIYAH, yakni: membohongi publik untuk keselamatan diri… ingatlah bahwa bohong semacam itu dalam akidah mereka adalah amalan ibadah yang berpahala… Ingatlah hadits palsu yang selalu mereka gembar-gemborkan: <em>“Tidak punya agama, siapa pun yang tidak menerapkan takyiah.”</em></p>
<p>Ternyata selama ini, kita tidak melihat kejanggalan yang ada pada mereka, disebabkan takiyah (baca: kebohongan) mereka kepada kita… Ternyata selama ini tidak terlihat perbedaan yang mendasar antara kita dan mereka, karena tabir tebal yang mereka gunakan untuk menutupi kebusukan batin… Tapi itulah, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga… Selincah-lincah kuda berlari pasti akan terpeleset juga… Inilah diantara bukti semerbaknya bau busuk mereka… <em>Alhamdulillah.. awwalan wa aakhiron berkat Allah azza wa jall terbuka juga misi rahasia jangka panjang mereka…</em></p>
<p><em>Subhanakallahumma wa bihamdika… wa tabaarakasmuk wa ta’ala jadduk… wa laa ilaaha ghoiruk…</em></p>
<p>***</p>
<p>Sumber artikel: http://www.albayan-magazine.com/sereah.htm<br />
Penerjemah: <a href="http://addariny.wordpress.com/">Addariny</a></p>
<p><strong>Dipublikasi ulang oleh <a title="Dokumen Rahasia agama Syi'ah" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/dokumen-rahasia-agama-syiah-imamiyah.html">muslim.or.id</a> dengan beberapa editing<a title="Dokumen Rahasia agama Syi'ah" href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/dokumen-rahasia-agama-syiah-imamiyah.html"><br />
</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/firqoh/'>Firqoh</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/manhaj/'>Manhaj</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5602/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5602&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/11/dokumen-rahasia-agama-syiah-imamiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/top.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">top</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/11/ayah-ibu-biarkan-ananda-istiqomah/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/11/ayah-ibu-biarkan-ananda-istiqomah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 14:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Birrul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5597</guid>
		<description><![CDATA[Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah Penulis: Ummu Rumman Muroja’ah: Ustadz Abu Salman Duhai, betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5597&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah</h1>
<div id="fb_share_1"><img class="alignleft size-full wp-image-5599" title="ISTIQOMAH" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/istiqomah.jpg?w=468" alt=""   /></div>
<p><strong><em>Penulis: Ummu Rumman</em></strong><br />
<strong><em> Muroja’ah: Ustadz Abu Salman</em></strong></p>
<p>Duhai, betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.<br />
Allah berfirman, yang artinya, <em>“Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.”</em> (Qs. Al Israa’ 23)</p>
<p>Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mendapatkan dukungan dari orangtuanya.</p>
<p>Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka.</p>
<p>Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita?</p>
<p>Jika teringat kewajiban kita untuk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini untuk mengecewakan mereka. Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja.<span id="more-5597"></span></p>
<p><a title="Ayah, Ibu... biarkan ananda istiqomah" href="http://muslimah.or.id/akhlaq/ayah-ibu-biarkan-ananda-istiqomah.html"><strong>Kaidah Birrul Walidain</strong></a></p>
<p>Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tidak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.</p>
<p>Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan. Antara lain:</p>
<p><strong>1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam</strong></p>
<p>Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tidak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dengan lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram.</p>
<p>Allah berfirman yang artinya, <em>“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”</em> (Qs. Luqman: 15)</p>
<p>Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab dan perkataan yang baik. Dan terus mempergauli dan mendakwahi mereka dengan baik pula.</p>
<p><strong>2. Anak tidak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam</strong></p>
<p>Tidak disebut durhaka anak yang tidak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad). Dan di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dalam perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dengan alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dalam bermaksiat pada Allah.</p>
<p><strong>3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan dan nasihat anaknya</strong></p>
<p>Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati dan marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik dan perkataan yang lembut, maka hal ini tidak termasuk durhaka pada orang tua.</p>
<p>Saat gundah menyapamu, …<br />
Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah? Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)?<br />
Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan dan nasihat anak, tidaklah termasuk dalam hadits di atas. Hadits di atas tidak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.</p>
<p>Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, <em>“Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.”</em> (Qs. Maryam: 44). Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tidak dikatakan durhaka.</p>
<p>Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dengan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dengan membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah menjadikan orang yang memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba dan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.”</em> (HR. Ath Thabrani)</p>
<p>Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dalam bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka.<br />
Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dalam perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya.</p>
<p>Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dengan keshalihan dan keistiqomahanmu. Semoga dengan demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan dan amalan kita sehingga orang tua kita pun -<em>bi idznillah</em>- akhirnya ridha kepada kita.</p>
<p><strong>Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan</strong></p>
<p>Ustadz Abdullah Zaen, Lc dalam bukunya <em>14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah</em> berkata, “Kerenggangan antara orangtua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dengan kebenaran yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh untuk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!.”</p>
<p>Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tidak menjadi terang.</p>
<p>Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah dan senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.</p>
<p>Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dengan tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tidak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dengan baik.</p>
<p>Kita pun terlalu sibuk dengan dunia kita. Juga sibuk dengan teman-teman kita. Padahal <a title="Ayah, Ibu... biarkan ananda istiqomah" href="http://muslimah.or.id/akhlaq/ayah-ibu-biarkan-ananda-istiqomah.html">orang tua</a> hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja untuk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan untuk sekadar bercanda ria dengan teman kita.</p>
<p>Kemudian, beratkah bagi kita untuk menyenangkan mereka dengan hadiah? Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, dan apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita.</p>
<p><strong>Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu…</strong></p>
<p>Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka.<br />
Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud?</p>
<p>Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dengan pendidikan dan nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat dan melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut. Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, <em>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.”</em> (Qs. At Tahrim 6)</p>
<p>Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tidak menghalangi kita untuk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka?</p>
<p>Apakah harus dengan mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i dan mengamalkannya.</p>
<p>Jadilah engkau seorang yang telaten dan tidak mudah menyerah dalam berdakwah kepada orang tuamu.<br />
Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur dan menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu dan memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dengan sabar orangtuamu memegang tanganmu dan melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dengan tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu.</p>
<p>Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah.</p>
<p>Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dalam berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah. Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita.</p>
<p><strong>Landasi Semuanya Dengan Ilmu</strong></p>
<p>Seorang anak dengan sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah dan mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tidak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dengan dakwah anaknya.</p>
<p>Maka, bekalilah dirimu dengan ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih. Karena dengan ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.</p>
<p>Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Maka tidak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa dan tidak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dengan orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan. Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu untuk menghilangkan kebodohan pada dirimu dan orang lain, terutama orangtuamu. Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.</p>
<p>Karena itu, wahai saudariku…<br />
Istiqomahlah!<br />
Dan bingkailah keteguhanmu dengan ilmu dan amal shalih<br />
Hiasilah dirimu di depan orangtuamu dengan akhlaq yang mulia<br />
Tegar dan sabarlah!<br />
Tegarlah dalam menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu.<br />
Dan sabarlah dalam berdakwah kepada orang tuamu<br />
Tetap istiqomah dan berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah dan ibu<br />
Hingga saat datangnya pertolongan Allah…<br />
Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah<br />
insyaa Allah</p>
<p>Teriring cinta untuk ibu dan bapak…<br />
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin.</p>
<p><strong>Maraaji’:</strong></p>
<ol>
<li><em>Durhaka kepada orang Tua</em> oleh ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, majalah Al Furqon edisi 2 Tahun IV</li>
<li><em>14 Contoh Praktek Hikmah Dalam Berdakwah</em>, Ustadz Abdullah Zaen, Lc.</li>
<li>Kajian <em>Bahjah Qulub Al Abror</em> oleh ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar, tanggal 4 November 2007</li>
</ol>
<p>***</p>
<p><strong>Dipublikasi ulang dari :  <a title="Ayah, Ibu... biarkan ananda istiqomah" href="http://muslimah.or.id/akhlaq/ayah-ibu-biarkan-ananda-istiqomah.html">www.muslimah.or.id</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/akhlaq/'>Akhlaq</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/birrul-walidain/'>Birrul walidain</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/tazkiyatun-nufus/'>Tazkiyatun Nufus</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5597/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5597&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/11/ayah-ibu-biarkan-ananda-istiqomah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/istiqomah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ISTIQOMAH</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini Dalilnya (3): Tidak Semua yang Baru Berarti Bid’ah</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bidah/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 16:06:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bid&#039;ah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5594</guid>
		<description><![CDATA[Ini Dalilnya (3): Tidak Semua yang Baru Berarti Bid’ah Syubhat 1: Tidak Semua Yang Baru Berarti Bid’ah Banyak orang yang salah faham akan makna bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengatakan bahwa semua bid’ah adalah kesesatan. Mereka menganggap bahwa dengan memahami hadits ‘kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin finnaar’ [1] secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5594&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ini Dalilnya (3): Tidak Semua yang Baru Berarti Bid’ah</strong></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-5595" title="apbyndjg" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/apbyndjg3.jpg?w=205&#038;h=300" alt="" width="205" height="300" /></p>
<p><strong>Syubhat 1:</strong><strong> </strong><strong>Tidak Semua Yang Baru Berarti Bid’ah</strong></p>
<p><strong></strong>Banyak orang yang salah faham akan makna bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yang mengatakan bahwa semua bid’ah adalah kesesatan. Mereka menganggap bahwa dengan memahami hadits <strong><em>‘kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin finnaar’</em> <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong> secara tekstual, maka semua orang akan masuk neraka, sebab kehidupan kita dipenuhi dengan bid’ah. Cara berpakaian, berbagai jenis perabotan rumah tangga, sarana transportasi, pengeras suara, permadani yang terhampar di masjid-masjid, lantai masjid yang terbuat dari batu marmer, penggunaan sendok dan garpu, hingga berbagai kemajuan teknologi lainnya, semua itu merupakan hal baru yang tidak pernah ada di zaman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau. <strong>Semuanya adalah bid’ah</strong> dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya di neraka.<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Pemahaman yang rancu semacam ini muncul dari ketidaktahuan mereka akan <em>uslub</em> (gaya bahasa) Al Qur’an, Hadits, atau ucapan para ulama yang senantiasa membedakan pengertian suatu kata dari segi etimologis (bahasa) dan terminologis (istilah/syar’i). Kerancuan tadi juga disebabkan oleh ketidak fahaman orang tersebut akan konteks suatu <em>nash</em> (ayat/hadits), atau karena pemahaman parsial — yang memegangi satu nash dan mengabaikan nash-nash lainnya–, atau akibat mencomot <em>nash</em> tersebut dari konteks selengkapnya. Dan yang terakhir ini cukup fatal akibatnya, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti.<span id="more-5594"></span></p>
<p><strong>Pentingnya membedakan antara definisi <em>lughawi</em> (bahasa) dan syar’i.</strong></p>
<p>Sebagai contoh, kata ‘<em>ash-shalah</em>’ (الصَّلاَة) merupakan <em>mashdar</em> (bentukan/<em>noun</em>) dari kata صَلَّى- يُصَلِّي, yang dalam bahasa Arab memiliki tak kurang dari lima makna. Al Fairuzabadi<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> mengatakan:</p>
<p dir="RTL" align="center">وَالصَّلاَةُ: الدُّعَاءُ, وَالرَّحْمَةُ, وَالاِسْتِغْفَارُ, وَحُسْنُ الثَّنَاءِ مِنَ اللهِ   عَلىَ رَسُولِهِ, وَعِبَادَةٌ فِيْهَا رُكُوعٌ وَسُجُودٌ.</p>
<p><em>‘ash shalaah’</em> artinya: <strong>(1)doa</strong>, <strong>(2)rahmat, (3)istighfar, (4) pujian yang baik dari Allah  terhadap Rasul-Nya, dan (5)ibadah yang mengandung ruku’ dan sujud</strong> <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Ketika menemukan definisi (الصلاة) semacam ini, seseorang harus menentukan terlebih dahulu mana yang merupakan definisi <em>lughawi</em> dan mana yang <em>syar’i</em>. Lalu ketika hendak mengartikan suatu hadits atau ayat tertentu, ia harus memperhatikan konteks ayat/hadits di mana istilah ini berada, kemudian menentukan apakah <em>shalat</em> di sini yang dimaksud ialah shalat secara <em>lughawi</em> ataukah <em>syar’i</em>. Kalau secara bahasa ia memiliki lebih dari satu makna, maka ia harus meneliti makna apa yang diinginkan dalam konteks ini.</p>
<p>Bagaimana jika ia hanya memahami satu makna saja dari kata shalat tadi, lantas menerapkannya dalam seluruh konteks kalimat….? Jelas, cara seperti ini pasti mengacaukan pemahaman yang sebenarnya. Cobalah Anda simak jika shalat dalam ayat berikut diartikan secara lughawi sebagai doa umpamanya:</p>
<p><em>“Dirikanlah <strong>doa</strong> dari sejak matahari tergelincir hingga malam gelap…”</em> (Al Isra’: 78). Tentu aneh kedengarannya, karena (الصلاة) disini maksudnya ialah shalat secara <em>syar’i</em> yang pakai ruku’ dan sujud, bukannya sekedar doa. Demikian pula kalau ia hanya mengartikannya dengan pengertian <em>syar’i</em> tanpa mengindahkan makna <em>lughawi</em>nya. Maka ketika mendapati ayat berikut pemahamannya akan kacau:</p>
<p><em> “Ambillah sebagian harta mereka sebagai zakat yang membersihkan dan menyucikan mereka; dan ‘<strong>shalatlah(?)’ </strong>kepada mereka, karena <strong>shalatmu</strong> menimbulkan ketenangan bagi mereka…(?)”</em> (QS. 9:103). Dengan pola pikir semacam ini, tak menutup kemungkinan kalau suatu saat akan ada yang mengatakan bahwa <strong>menyolatkan orang yang masih hidup</strong> hukumnya sunnah!! Padahal yang dimaksud dengan (وَصَلِّ عَلَيْهِمْ) di sini artinya: <strong>“doakanlah mereka”,</strong> karena doa beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menimbulkan ketenangan bagi mereka.</p>
<p>Bagaimana pula ia hendak mengartikan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut:</p>
<p dir="RTL" align="center">إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا <strong>فَلْيُصَلِّ</strong> وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ (رواه مسلم 1431).</p>
<p>Apakah akan diartikan: <em>“Kalau salah seorang dari kalian diundang makan hendaklah ia memenuhinya. <strong>Jika ia sedang berpuasa maka shalatlah (?),</strong> namun jika sedang tidak berpuasa silakan menyantap makanannya”</em> (H.R. Muslim no 1431). Padahal maksudnya agar ia <strong>mendoakan</strong> orang yang mengundangnya kalau ia sedang berpuasa.</p>
<p><strong>Sama persis dengan masalah bid’ah yang sedang kita bahas</strong>. Berangkat dari salah pengertian tentang makna bid’ah yang dianggap sesat oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sebagian orang langsung membid’ahkan setiap hal baru yang terjadi pada diri kita, tanpa memilah-milah antara bid’ah dalam agama dengan bid’ah dalam urusan duniawi. Karenanya, kita harus mendudukkan pengertian bid’ah yang sebenarnya.</p>
<p>Akan tetapi sebelum kita mendefinisikan bid’ah, kita harus mengenal Sunnah terlebih dahulu. Karena sunnah identik dengan apa-apa yang harus dilakukan, sedangkan bid’ah identik dengan apa-apa yang harus ditinggalkan. Dan apa-apa yang harus dilakukan lazimnya dibahas lebih dahulu dari pada apa-apa yang harus ditinggalkan. Insya Allah dengan memahami Sunnah, kita akan memahami bid’ah <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn5"><strong><strong>[5]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p><strong>Apa itu Sunnah?</strong></p>
<p><strong></strong>Sunnah<strong> menurut bahasa</strong>, artinya: cara yang diikuti. Sedang <strong>menurut syar’i</strong> ialah semua yang disyari’atkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bagi umatnya atas izin dari Allah Ta’ala; yang berupa jalan-jalan kebaikan, atau adab-adab dan keutamaan yang beliau anjurkan, demi menyempurnakan umat ini dan membahagiakannya. Kalau yang beliau syari’atkan itu berupa perintah untuk melakukan sesuatu dan menekuninya, maka itulah <em>Sunnah waajibah</em> (yang diwajibkan), yang tak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim pun. Namun jika bukan seperti itu, berarti itu <em>Sunnah</em> <em>mustahabbah</em> (yang disukai), yang bila dilakukan akan mendapat pahala, namun jika ditinggalkan pelakunya tidak akan disiksa.</p>
<p>Pembaca yang budiman, perlu kita ketahui bahwa sebagaimana beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengajarkan sunnah tadi lewat sabdanya; beliau juga mengajarkannya lewat perbuatan dan  persetujuannya. Maka ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan sesuatu secara berulang-ulang hingga jadi kebiasaan, jadilah hal itu sunnah bagi umatnya sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut termasuk <em>khususiyyah</em> (kekhususan) beliau, seperti puasa secara bersambung umpamanya (puasa wishal).</p>
<p>Demikian pula ketika beliau mendengar atau melihat sesuatu yang terjadi pada para sahabatnya, kemudian hal itu berulang sekian kali tanpa diingkari oleh beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, jadilah itu <em>sunnah</em> <em>taqririyyah</em> (sunnah karena persetujuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>).</p>
<p>Akan tetapi jika apa yang beliau lakukan, atau yang beliau lihat dan dengarkan tadi tidak terjadi berulang kali, maka tidak termasuk sunnah. Mengapa? Karena kata sunnah  (سَنَّ – يَسُنُّ – سُنَّةً) berasal dari sesuatu yang berulang kali. Seperti kata (سَنَّ السِّكِّيْنَ) yang artinya mengasah pisau, yaitu menggosoknya berulang kali pada asahan sampai tajam <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn6"><strong><strong>[6]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Contoh apa yang pernah dilakukan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sekali saja dan tak diulangi lagi –hingga tidak dianggap sebagai sunnah– ialah ketika beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjamak antara shalat dhuhur dan asar, dan antara maghrib dan isya’ tanpa udzur seperti safar, sakit, ataupun hujan (H.R. Muslim dan Tirmidzi) <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn7"><strong><strong>[7]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>. Karenanya, perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tadi tak menjadi sunnah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam At Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini, beliau berkata:</p>
<p dir="RTL">جَمِيعُ مَا فِي هَذَا الْكِتَابِ مِنْ الْحَدِيثِ فَهُوَ مَعْمُولٌ بِهِ وَبِهِ أَخَذَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مَا خَلَا حَدِيثَيْنِ: حَدِيثَ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ  جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْمَدِينَةِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ وَحَدِيثَ النَّبِيِّ  أَنَّهُ قَالَ إِذَا شَرِبَ الْخَمْرَ فَاجْلِدُوهُ فَإِنْ عَادَ فِي الرَّابِعَةِ فَاقْتُلُوهُ.</p>
<p>Semua hadits yang ada dalam kitab ini (Sunan Tirmidzi) ialah untuk diamalkan, dan menjadi dalil bagi sebagian ulama; kecuali dua hadits: Hadits Ibnu Abbas yang berbunyi bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjamak antara dhuhur, asar, maghrib, dan isya’ di Madinah tanpa alasan takut maupun hujan. Dan hadits Nabi yang mengatakan: <em>“Kalau seseorang ketahuan minum khamer, maka cambuklah. Kalau ia minum lagi keempat kalinya, maka bunuh saja…”</em> (lihat <em>Kitabul ‘Ilal</em> dari Sunan At Tirmidzi).</p>
<p>Sedangkan contoh dari apa yang pernah beliau diamkan dan beliau setujui sekali saja –hingga tidak bisa dianggap sunnah bagi kaum muslimin,– ialah hadits yang mengatakan tentang nadzar seorang wanita yang bila Allah <em>Ta’ala</em> memulangkan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari safarnya dalam keadaan selamat, ia akan menabuh rebana di hadapan beliau sebagai luapan rasa bahagia atas keselamatannya<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn8"><strong><strong>[8]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>. Maka wanita tersebut melangsungkan nadzarnya, dan beliau menyetujuinya kali itu saja. Karenanya, hal ini tidak bisa dianggap sebagai sunnah bagi umatnya.</p>
<p>Adapun contoh dari sunnah <em>fi’liyyah</em> ialah kebiasaan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang selepas shalat berputar ke arah makmum. Hal ini terjadi ratusan kali, karenanya ini merupakan sunnah bagi setiap imam selepas shalat, meskipun beliau tak pernah memerintahkannya. Sedangkan contoh dari sunnah <em>taqririyyah</em> ialah ketika beliau mendiamkan apa yang dilakukan para sahabatnya saat mengiring jenazah. Beliau melihat ada yang berjalan di depan jenazah, ada yang disamping kanan, di kiri, dan ada yang di belakang, akan tetapi beliau mendiamkan mereka; dan hal terjadi berulang kali setiap mereka mengiring jenazah. Maka hal ini dianggap sebagai sunnah <em>taqririyyah</em>.</p>
<p>Demikianlah pengertian sunnah, maka hadirkanlah selalu makna ini dalam benak anda… dan jangan lupa untuk menyertakan pula sunnah-sunnah Khulafa’ur Rasyidin sepeninggal beliau.</p>
<p><strong>Pengertian bid’ah</strong></p>
<p><strong>Adapun bid’ah</strong>, maka itulah lawan dari Sunnah. Mengapa? Karena bid’ah hakekatnya ialah segala sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah <em>Ta’ala</em> dalam kitab-Nya, maupun melalui lisan Nabi-Nya; baik berupa keyakinan, ucapan, maupun perbuatan. Atau dengan kata lain, <strong>bid’ah ialah:</strong> semua yang di zaman Rasulullah dan para sahabatnya tidak dianggap sebagai agama yang dijadikan ritual ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Baik berupa keyakinan, ucapan, maupun perbuatan, meski ia dianggap memiliki nilai sakral luar biasa, atau dijadikan syi’ar agama<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn9"><strong><strong>[9]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.  Ini definisi bid’ah menurut syar’i secara global, sedang perinciannya sebagai berikut:</p>
<p><strong>Definisi Bid’ah secara lughawi </strong></p>
<p>Kata ‘bid’ah’ berasal dari <strong><em>bada‘a</em></strong> – <strong><em>yabda’u</em> </strong>- <strong><em>bad’un </em></strong>atau<strong><em> bid’atun</em></strong>, yang secara lughawi artinya <strong>sesuatu yang baru</strong>. Mengenai hal ini, Imam Al Azhari<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn10"><strong><strong>[10]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> menukil ucapan Ibnu Sikkiet yang mengatakan:</p>
<p dir="RTL" align="center">اَلْبِدْعَةُ: كُلُّ مُحْدَثَةٍ.</p>
<p align="center">“Bid’ah itu segala sesuatu yang baru” <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn11"><strong><strong>[11]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Definisi senada juga dinyatakan oleh Al Khalil bin Ahmad Al Farahidy<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn12"><strong><strong>[12]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>, yang mengatakan:</p>
<p dir="RTL" align="center">البَدْعُ: إِحْدَاثُ شَئْ ٍلَمْ يَكُنْ لَهُ مِنْ قَبْلُ خَلْقٌ وَلاَ ذِكْرٌ وَلاَ مَعْرِفَةٌ</p>
<p>“Al bad’u (bid’ah) ialah mengadakan sesuatu yang tidak pernah diciptakan, atau disebut, atau dikenal sebelumnya” <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn13"><strong><strong>[13]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p><em>Isim fa’il</em> (nama pelaku) dari kata <strong><em>bada’a</em></strong> tadi ialah <strong><em>badie’</em></strong> (بَدِيْعٌ) atau <strong><em>mubdi’</em></strong> (مُبْدِعٌ), artinya: pencipta sesuatu tanpa ada contoh terlebih dahulu. Hal ini seperti firman Allah:</p>
<p>بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرضِ <em>“</em><em>Dialah pencipta langit dan bumi</em>” (Al Baqarah :117), yaitu tanpa ada contoh (prototip) sebelumnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Az Zajjaj<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn14"><strong><strong>[14]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p><strong>Korelasi antara definisi bid’ah secara lughawi dan syar’i</strong></p>
<p>Dari nukilan-nukilan di atas, dapat kita fahami bahwa bid’ah secara bahasa ialah segala sesuatu yang baru, entah itu baik atau buruk; berkaitan dengan agama atau tidak. Karenanya Az Zajjaj mengatakan:</p>
<p dir="RTL" align="center">وَكُلُّ مَنْ أَنْشَأَ مَالَمْ يُسْبَقْ إِلَيْهِ قِيْلَ لَهُ: أَبْدَعْتَ. وَلِهَذَا قِيْلَ لِمَنْ خَالَفَ السُّـنَّةَ: مُبْتَدِعٌ. لأَِنَّهُ أَحْدَثَ فِي الإِسْلاَمِ مَالَمْ يَسْبِقْهُ إِلَيْهِ السَّلَفُ.</p>
<p>“Setiap orang yang melakukan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, kita katakan kepadanya: <em>“abda’ta”</em> (anda telah melakukan bid’ah (terobosan baru)). Karenanya, orang yang menyelisihi ajaran (sunnah) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> disebut sebagai <em>mubtadi’</em> (pelaku bid’ah), <strong>sebab ia mengada-adakan sesuatu dalam Islam yang tidak pernah dikerjakan oleh para salaf sebelumnya”</strong> <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn15"><strong><strong>[15]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Jadi, korelasi antara kedua definisi tadi ialah bahwa bid’ah itu intinya sesuatu yang baru dan diada-adakan. Namun bedanya, <strong>bid’ah secara syar’i khusus berkaitan dengan agama</strong>, sebagaimana yang disebutkan oleh Az Zajjaj di atas. Untuk lebih jelasnya perhatikan <strong>definisi bid’ah secara syar’i</strong> menurut Al Jurjani berikut:</p>
<p dir="RTL" align="center">البِدْعَةُ هِيَ الْفِعْلَةُ الْمُخَالِفَةُ لِلسُّـنَّةِ، سُمِّيَتْ: اَلْبِدْعَةَ، لأَِنَّ قَائِلَهَا ابْتَدَعَهَا مِنْ غَيْرِ مَقَالِ إِمَامٍ، وَهِيَ الأَمْرُ الْمُحْدَثُ الَّذِي لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُوْنَ، وَلَمْ يَكُنْ مِمَّا اقْتَضَاهُ الدَّلِيْلُ الشَّرْعِيُّ.</p>
<p>“Bid’ah ialah perbuatan yang menyelisihi As Sunnah (ajaran Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>). Dinamakan bid’ah karena pelakunya mengada-adakannya tanpa berlandaskan pendapat seorang Imam. Bid’ah juga berarti perkara baru yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, <strong>dan tidak merupakan sesuatu yang selaras dengan dalil syar’i” <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn16"><strong>[16]</strong></a><sup>)</sup>.</strong></p>
<p>Kata-kata yang bercetak tebal di atas amat penting untuk kita fahami maknanya. Sehingga kita tidak mencampuradukkan antara bid’ah dengan <em>maslahat mursalah </em><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftn17"><strong><strong>[17]</strong></strong></a><strong><em><sup>)</sup></em></strong>. Atau antara bid’ah secara bahasa dengan bid’ah secara syar’i. Berangkat dari pemahaman ini, Imam Asy Syathiby mendefinisikan bid’ah secara syar’i dengan definisi paling universal sebagai berikut:</p>
<p dir="RTL" align="center">الْبِدْعَةُ عِبَارَةٌ عَنْ: طَرِيْقَةٍ فيِ الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٌ, تُضَاهِي الشَّرِيْعَةَ, يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فيِ التَّعَبُّدِ للهِ سُبْحَانَهُ <strong>(الاعتصام 1/50)</strong>.</p>
<p align="center"><strong>Bid’ah adalah sebuah metode baru dalam agama yang bersifat menyaingi syari’at, dan dilakukan dengan tujuan beribadah secara lebih giat kepada Allah Ta’ala.</strong></p>
<p><strong>Kaidah dalam mendefinisikan bid’ah</strong></p>
<p>Dari definisi-definisi di atas, bisa kita simpulkan bahwa <strong>bid’ah menurut syar’i harus memiliki kriteria berikut:</strong></p>
<ol start="1">
<li>Berkaitan dengan agama, bukan dengan urusan duniawi.</li>
<li>Bersifat baru dan belum pernah terjadi di zaman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Bersifat menyaingi syari’at Allah dan Rasul-Nya.</li>
<li>Tidak selaras dengan dalil-dalil syar’i.</li>
<li>Dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah.</li>
</ol>
<p>Bertolak dari kaidah ini, jelaslah bahwa cara berpakaian, cara makan, sarana transportasi, komunikasi dan hasil kemajuan teknologi lainnya tidak bisa disebut bid’ah secara syar’i, karena kesemuanya tidak memenuhi kriteria di atas.</p>
<p align="center"> <em>BERSAMBUNG&#8230;&#8230;</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://basweidan.wordpress.com/">Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc</a></p>
<p>Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref1">[1]</a><sup>) </sup> Yang artinya: Semua bid’ah adalah kesesatan, dan semua kesesatan berada di Neraka.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref2">[2]</a><sup>) </sup> Seperti yang dinyatakan oleh Novel Alaydrus dalam buku: Mana Dalilnya 1, hal 17.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Beliau ialah Al Imam Al Lughawy Abu Thahir Majduddien Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin ‘Umar Asy Syirazi Al Fairuzabadi. Lahir di Karazin-Persia, pada tahun 720H. Sejak kecil beliau telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Beliau hafal Al Qur’an dan pandai menulis sejak umur tujuh tahun, dan ini merupakan sesuatu yang langka untuk bocah seusia itu. Kehausannya dalam mencari ilmu mengharuskannya untuk mengembara ke Irak, Syam, Mesir, Hijaz, Romawi, India dan akhirnya menetap di desa Zabid, Yaman. Diantara gurunya ialah Ibnul Qayyim, Ibnu Hisyam, dan Taqiyyuddin As Subky. Karyanya cukup banyak dalam berbagai disiplin ilmu, seperti bahasa Arab, tafsir, tarikh, biografi, hadits, dan fiqih. Beliau wafat di Zabid, malam Selasa bulan Syawal tahun 817 H, dalam usia mendekati 90 tahun tapi penglihatan dan pendengarannya masih prima. (Muqaddimah <em>Al Qomus Al Muhith</em>, hal 9-15 cet. Muassasah Ar Risalah, Beirut-Libanon )</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  <em>Al Qomus Al Muhith</em>, hal 1303-1304. cet. Muassasah Ar Risalah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref5"><strong><strong>[5]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Paragraf ini dan yang setelahnya kami sadur dari kitab: <em>Al Inshaf fiima Qiila fi Maulidin Nabiyyi minal Ghuluwwi wal Ijhaaf</em>, (تتمة نافعة) tulisan syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairy.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref6"><strong><strong>[6]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Lihat <em>Al Qomus Al Fiqhy</em>, 1/183.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref7"><strong><strong>[7]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, no 705; juga oleh At Tirmidzi dalam Sunan-nya, no 172.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref8"><strong><strong>[8]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan katanya: hadits ini hasan shahih gharib. Disini hanya kami cuplikkan sebagian dari hadits seutuhnya yang cukup panjang.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref9"><strong><strong>[9]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  <em> Al Inshaf Fiima Qiila fil Maulid Minal Ghuluwwi wal Ijhaaf</em>, oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairy.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref10"><strong><strong>[10]</strong></strong></a><strong><sup>) </sup></strong>Beliau ialah Al ‘Allamah Al Lughawy Abu Manshur, Muhammad bin Ahmad ibnul Azhar Al Azhary Al Harawy Asy Syafi’iy. Lahir sekitar tahun 282 H. Beliau adalah Imam dalam bahasa Arab dan fiqih. Seorang ulama yang tsiqah dan taat beragama. Diantara karya ilmiahnya ialah: Tahdzibul Lughah, Kitab At Tafsir, Tafsir Alfaazhul Muzany, ‘Ilalul Qira’ah, Ar Ruh, Al Asma’ul Husna dan lainnya. Beliau wafat pada Rabi’ul Akhir tahun 370 H, pada usia 88 tahun (<em>As Siyar</em>, 3/3212-3213)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref11"><strong><strong>[11]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Lihat <em>Tahdziebul Lughah</em>, pada kata (بدع).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref12"><strong><strong>[12]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Beliau ialah Al Imam <em>Shahibul ‘Arabiyyah</em>, Al Khalil bin Ahmad bin ‘Amru Al Azdy Al Farahidy Al Bashry. Beliau adalah peletak dasar-dasar ilmu ‘Arudh, orang terdepan dalam hal bahasa Arab, taat beragama, wara’, penuh qana’ah, tawadhu’ dan amat disegani. Beliau berguru kepada Ayyub As Sikhtiyani, ‘Ashim Al Ahwal dan lainnya. Darinyalah Imam Sibawaih menimba ilmu nahwu, demikian pula An Nadhar bin Syumeil, Al Ashma’iy dan yang lainnya. Beliau adalah orang yang super cerdas. Lahir tahun 100H. Diantara karyanya ialah Kitabul ‘Ain (ع), namun belum selesai. Beliau wafat tahun 169 atau 170 H -rahimahullah- (<em>As Siyar</em>, 2/1636).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref13"><strong><strong>[13]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Lihat <em>Kitaabul ‘Ain</em>, 2/54.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref14"><strong><strong>[14]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  <em>Tahdziebul Lughah</em>, pada kata (بدع).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref15"><strong><strong>[15]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> <em>Ibid</em>. Perhatikan bagaimana Az Zajjaj membedakan antara definisi bid’ah lughawi dengan syar’i. Ia tak sekedar mengatakan bahwa bid’ah adalah melakukan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Namun ungkapan selanjutnya menegaskan siapakah pelaku bid’ah itu, yaitu orang-orang yang berbuat menyelisihi sunnah (ajaran) Rasulullah e. Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud bid’ah secara syar’i khusus berkaitan dengan agama yang diajarkan Rasulullah e. Sehingga apabila beliau menyatakan bahwa bid’ah itu sesat, maka bid’ah di sini ialah bid’ah secara syar’i.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref16"><strong><strong>[16]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  <em>   At Ta’riefaat</em> 1/13. Oleh Al Jurjani.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bid%e2%80%99ah.html#_ftnref17"><strong><strong>[17]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Mengenai <em>maslahat mursalah</em> akan kami bahas secara terpisah pada bab: Antara bid’ah dan <em>Maslahat Mursalah</em> hal 44.</p>
<p><strong>Dipublikasi ulang dari : http://basweidan.com/ (Via <a href="http://muslim.or.id/manhaj/www.muslim.or.id">www.muslim.or.id</a>)</strong></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/bidah/'>Bid&#039;ah</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/manhaj/'>Manhaj</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5594/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5594&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-3-tidak-semua-yang-baru-berarti-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/apbyndjg3.jpg?w=205" medium="image">
			<media:title type="html">apbyndjg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aqidah Syi&#8217;ah Mencela Sahabat = Mencela Qur&#8217;an = Mencela Hadits = Mencela Allah = Mencela Nabi = Mencela Ahlul Bait</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/aqidah-syiah-mencela-sahabat-mencela-quran-mencela-hadits-mencela-allah-mencela-nabi-mencela-ahlul-bait/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/aqidah-syiah-mencela-sahabat-mencela-quran-mencela-hadits-mencela-allah-mencela-nabi-mencela-ahlul-bait/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 15:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5566</guid>
		<description><![CDATA[Aqidah Syi&#8217;ah Mencela Sahabat = Mencela Qur&#8217;an = Mencela Hadits = Mencela Allah = Mencela Nabi = Mencela Ahlul Bait Mencela, melaknat dan mengkafirkan para sahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah ibadah yang sangat mulia di sisi kaum yang beragama Syi&#8217;ah. Kalau dahulu mereka bertaqiyah (baca berdusta) menyembunyikan aqidah busuk mereka terhadap para sahabat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5566&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aqidah Syi&#8217;ah Mencela Sahabat = Mencela Qur&#8217;an = Mencela Hadits = Mencela Allah = Mencela Nabi = Mencela Ahlul Bait</strong></p>
<p><img src="http://www.firanda.com/images/stories/simbol-yahudi.jpg" alt="" width="332" height="249" border="0" /></p>
<p>Mencela, melaknat dan mengkafirkan para sahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah ibadah yang sangat mulia di sisi kaum yang beragama Syi&#8217;ah. Kalau dahulu mereka bertaqiyah (baca berdusta) menyembunyikan aqidah busuk mereka terhadap para sahabat, akan tetapi kebusukan mereka itu terungkap juga, bahkan mulai banyak dari tokoh-tokoh mereka yang terang-terangan mencaci maki dan melaknat para sahabat, (silahkan baca kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/65-bau-busuk-syiah-akhirnya-tercium-juga, lihat juga <em><strong>tulisan al-akh al-kariim al-Ustadz Abul Jauzaa&#8217; di http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/syiah-itu-sesat-juragan-sebuah-masukan.html)</strong></em><br />
&#8216;Aaamir bin Syarahbil As-Sya&#8217;bi rahimahullah (salah seorang imam dari para tabi&#8217;in yang bertemu dengan sekitar 500 sahabat, dan beliau wafat tahun 103 H) berkata:</p>
<p>وَفَضُلَتِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى عَلَى الرَّافِضَةِ بِخَصْلَتَيْنِ : سُئِلَتِ الْيَهُوْدُ مَنْ خَيْرُ أَهْلِ مِلَّتِكُمْ ؟ قَالُوا : أَصْحَابُ مَوْسَى، وَسُئِلَتِ الرَّافِضَةُ : مَنْ شَرُّ أَهْلِ مِلَّتِكُمْ ؟ قَالُوْا : أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ، وَسُئِلَتِ النَّصَارَى : مَنْ خَيْرُ أَهْلِ مِلَّتِكُمْ ؟ قَالُوْا : حَوَارِيُّ عِيسَى، وَسُئِلَتِ الرَّافِضَةُ : مَنْ شَرُّ أَهْلِ مِلَّتِكُمْ ؟ قَالُوْا : حَوَارِيُّ مُحَمَّدٍ، أُمِرُوا بِالاِسْتِغْفَارِ لَهُمْ فَسَبُّوْهُمْ</p>
<p>&#8220;Kaum Yahudi dan Nashoro lebih mulia dari pada kaum syi&#8217;ah dari dua sisi. (*<strong>Pertama</strong> :  ) Kaum yahudi ditanya, &#8220;Siapakah umat kalian yang terbaik?&#8221;, mereka menjawab, &#8220;Para sahabat Musa&#8221;. Dan kaum Rofidhoh ditanya, &#8220;Siapakah kaum terburuk dari umat kalian?&#8221;, mereka menjawab, &#8220;Para sahabat Muhammad&#8221;. Dan kaum Nashooro ditanya, &#8220;Siapakah umat kalian yang terbaik?&#8221;, mereka menjawab, &#8220;Para pengikut setia &#8216;Isa&#8221;, dan kaum Rofidhoh ditanya, &#8220;Siapakah dari umat kalian yang terburuk?&#8221;, mereka menjawab, &#8220;Para pengikut (sahabat) setia Muhammad&#8221;.(*<strong>Kedua</strong> :  ) Mereka (kaum Rofidhoh) diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para sahabat malah mereka mencela para sahabat&#8221; (*berbeda dengan kaum yahudi dan nashoro yang malah memuji dan mendoakan para sahabat Musa dan sahabat Isa-pent) (Syarh Ushuul I&#8217;tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa&#8217;ah, karya Al-Laalikaai hal 1462-1463, dinukil juga oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya pada tafsir surat Al-Hasyr ayat 10)<span id="more-5566"></span><br />
Asy-Sya&#8217;bi mengisyaratkan firman Allah<br />
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٠)<br />
<em><br />
&#8220;Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: &#8220;Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang&#8221;</em> (QS Al-Hasyr : 10).</p>
<p>Sesungguhnya konsekuensi dari mencela dan melaknat para sahabat serta meyakini bahwa mayoritas mereka telah kafir sangatlah berbahaya, diantaranya:</p>
<p><strong>PERTAMA </strong>: Melazimkan timbulnya keraguan terhadap Al-Qur&#8217;an dan Hadits-Hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, karena para sahabatlah yang telah meriwayatkan kepada kita Al-Qur&#8217;an dan Hadits Nabi. Jika ternyata para perawinya adalah orang-orang fasik, terlaknat, bahkan murtad maka tentunya sangat diragukan kebenaran apa yang mereka riwayatkan, yaitu Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Karenanya mereka berkeyakinan bahwa telah terjadi penyimpangan dalam Al-Qur&#8217;an, diselewengkan oleh para sahabat !!!</p>
<p><strong>KEDUA </strong>:  Keyakinan ini melazimkan bahwa umat ini adalah umat yang terburuk yang Allah keluarkan bagi manusia. Karena nenek moyang mereka (yaitu para sahabat) adalah orang-orang murtad, sehingga kita sekarang telah mengambil agama kita dari ajaran kaum murtad. Padahal Allah telah berfirman tentang para sahabat :</p>
<p>كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ<br />
<em><br />
&#8220;Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia&#8221;</em> (Qs Ali Imron : 110)</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga telah menekankan hal ini dalam sabdanya;</p>
<p>خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي<br />
<em><br />
&#8220;Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu para sahabat)&#8221;</em> (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>KETIGA </strong>: Konsekuensi dari keyakinan busuk ini adalah mencela Allah. Karena keyakinan kafirnya mayoritas para sahabat mengandung tiga kemungkinan.</p>
<p>Pertama : Allah adalah Jahil, sehingga memuji para sahabat dengan pujian yang luar biasa dalam Al-Qur&#8217;an yang akan dibaca oleh kaum muslimin hingga hari kiamat kelak, padahal mereka para sahabat akan murtad. Namun Allah tidak mengetahui akan kemurtadan mereka sehingga memuji para sahabat.</p>
<p>Kedua : Allah telah mengetahui bahwasanya para sahabat akan murtad, akan tetapi Allah tetap saja memuji mereka. Ini menunjukan Allah telah melakukan perkara yang sia-sia tanpa faedah. Apa faedah Allah memuji suatu kaum yang akan murtad??</p>
<p>Ketiga : Jika Allah telah mengetahui para sahabat akan murtad lantas tetap memuji mereka bukankah ini berarti Allah menghendaki hamba-hambanya sesat sebagaimana para sahabat??!!</p>
<p><strong>KEEMPAT </strong>: Keyakinan busuk ini juga mencela hikmah Allah yang telah memilih kaum yang akan murtad menjadi para sahabat Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bahkan Nabi menikah dengan Aisyah putri Abu Bakar dan juga Hafsoh putri Umar bin Al-Khotthoob. Serta Nabi menikahkan kedua putrinya (Ruqoyyah dan Ummu Kaltsuum) dengan Utsmaan bin &#8216;Affaan. Bagaimana bisa kok Allah menjadikan para sahabat, para penolong Nabi dan juga sebagai keluarga Nabi dari kaum yang akan murtad??!!</p>
<p><strong>KELIMA </strong>: Keyakinan busuk ini melazimkan pencelaan terhadap syari&#8217;at Islam. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah berjuang dengan keras selama 23 tahun untuk mendidik para sahabat agar menjadi masyarakat tauladan. Akan tetapi kaum syi&#8217;ah rofidhoh menyatakan bahwa perjuangan Nabi untuk mentarbiah para sahabatnya selama kurang lebih 23 tahun adalah perjuangan yang sia-sia. Tidak ada yang berhasil Nabi didik kecuali sekitar 4 orang atau kurang dari 10 orang. Adapun ratusan para sahabat yang lain semuanya langsung murtad begitu wafatnya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Hal ini melazimkan perkara yang sangat fatal, yaitu timbulnya keputusasaan untuk membina umat manusia dengan syari&#8217;at Islam. Jika syari&#8217;at yang dibawa bahkan dipraktekan oleh manusia terbaik (yaitu Nabi) dengan bentuk praktek tarbiyah/mendidik yang terbaik dengan waktu yang puluhan tahun itupun tidak bisa mendidik dan menciptakan suatu generasi yang sholeh…bahkan menimbulkan generasi yang murtad…??!! ini menunjukkan bahwa manhaj/syari&#8217;at Islam tidak mampu untuk mentarbiyah/mendidik umat manusia.</p>
<p><strong>KEENAM </strong>: Hal ini juga menimbulnya keraguan akan kenabian Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, karena jika sang pembawa Risalah dengan bimbingan Allah dalam waktu yang lama tidak mampu mendidik suatu kaum maka sangatlah diragukan kenabiannya.</p>
<p>Kalau memang Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam benar dalam pengakuannya sebagai Nabi tentunya dakwahnya akan memberikan pengaruh kepada masyarakat/kaum yang ia dakwahi. Tentunya kaum yang dia dakwahi akan menerima dakwahnya dengan sepenuh hati. Akan tetapi kenyataannya malah mereka menjadi murtad??, masyarakat yang ia dakwahi tidak bisa mengambil manfaat darinya. Lantas bagaimana mungkin ia diutus sebagai rahmatan lil &#8216;aalamiin (rahmat bagi seluruh alam)??!! (silahkan rujuk risalah I&#8217;tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa&#8217;ah fi As-Shohaabah karya DR Al-Wuhaibi, hal 42-45)</p>
<p>Imam Malik berkata</p>
<p>إنما هؤلاءِ أقوامٌ أرادوا القدحَ في النبيِّ صلى الله عليه وسلم فلَمْ يُمكنهم ذلك , فقدَحُوا في أصحابه حتى يُقال : رجلُ سوءٍ ، ولو كانَ رجلاً صالحاً لكانَ أصحابهُ صالحين</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya mereka adalah kaum yang ingin mencela Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, akan tetapi hal itu tidak memungkinkan mereka, maka merekapun mencela para sahabat Nabi, agar dikatakan : Muhammad adalah seorang lelaki yang buruk, kalau seandainya ia adalah seorang lelaki yang sholeh tentunya para sahabatnya juga kaum yang sholeh&#8221; (Risaalah fi sabb As-Shohaabah hal 47)</p>
<p><strong>KETUJUH </strong>: Tatkala kaum agama Syi&#8217;ah Roofidoh mengkafirkan Ummul Mukminin Aisyah, bahkan menyatakannya sebagai wanita pezina maka hal ini sesungguhnya merupakan celaan keras bagi Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagai sang suami. Allah telah berfirman</p>
<p>الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (٢٦)</p>
<p><em>&#8220;Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)&#8221;</em> (QS An-Nuur : 26)</p>
<p>Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa wanita-wanita keji (pezina) hanyalah buat para lelaki pezina pula. Menuduh Aisyah sebagai wanita kafir bahkan pezina sangatlah menyakitkan hati Rasulullah sebagai seorang suami. Bahkan terkadang lebih menyakitkan bagi seorang suami jika istrinya dikatakan pezina daripada dirinya sendiri yang dituduh berzina, karena hal ini melazimkan bahwasanya seorang suami telah rela dan betah tinggal bahkan seranjang dengan seorang pezina !!!.</p>
<p>Karenanya tatkala terjadi peristiwa al-ifk (yaitu dituduhnya Aisyah berzina dengan Shofwan bin Mu&#8217;atthol As-Sulami) maka Nabipun sangat tersakiti, sampai-sampai beliaupun mengeluhkan hal tersebut kepada para sahabat. Beliau berkata:</p>
<p>مَنْ يَعْذُرُنِي مِنْ رَجُلٍ قَدْ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِي أَهْل بَيْتِي؟<br />
<em><br />
&#8220;Siapakah yang menolongku untuk membalas yang telah menyakiti ahli baiti (istriku)?&#8221;</em> (HR Al-Bukhari no 4750 dan Muslim no 2770, lihat syarah hadits ini di Fathul Baari 8/470)</p>
<p>Maka berkatalah Sa&#8217;ad bin Mu&#8217;aadz radhiallahu &#8216;anhu pun berdiri dan berkata:</p>
<p>يَا رَسُوْلَ اللهِ : أَنَا وَاللهِ أَعْذُرُكَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مِنَ الأَوْسِ ضَرَبْنَا عُنُقَهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا مِنَ الْخَزْرَجِ أَمَرْتَنَا فَفَعَلْنَا فِيْهِ أَمْرَكَ</p>
<p>&#8220;Wahai Rasulullah, demi Allah saya yang akan menolongmu terhadap orang tersebut, jika dia dari suku Al-Aus maka kami akan memenggal lehernya, dan jika ia berasal dari saudara-saudara kami suku Al-Kozroj maka silahkan perintahkan kepada kami apa yang harus kami lakukan padanya maka kami akan menjalankan perintahmu&#8221;</p>
<p>Dan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengingkari perkataan S&#8217;ad bin Mu&#8217;adz yang sangat menggebu-gebu ini.</p>
<p><strong>KEDELAPAN </strong>: Mengkafirkan para sahabat mulia seperti Abu Bakar dan Umar sesungguhnya merupakan celaan kepada Ali Bin Abi Thoolih radhiallahu &#8216;anhu. Hal ini nampak dari beberapa sisi :</p>
<p>Pertama : Ali bin Abi Tholib radhiallahu &#8216;anhu menamakan beberapa putranya dengan nama-nama sahabat, yang menunjukkan kecintaan Ali kepada mereka.</p>
<p>Nama merupakan perkara yang penting, karenanya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan sebagian sahabat untuk merubah nama-nama mereka yang mengandung makna yang buruk. Terlebih lagi nama seorang anak sangatlah bermakna bagi orang tuanya. Orang tua akan berusaha memilihkan nama yang baik bagi anaknya. Bahkan dari nama seorang anak kita akan tahu pola berfikir atau aliran yang dianut oleh sang ayah, karena kerap kali sang ayah memberi nama anaknya dengan nama tokoh yang ia kagumi. Jika sang ayah sedang gandrung pada seorang artis maka iapun menamakan anaknya dengan nama artis tersebut, jika sang ayah sedang gandrung dan kagum dengan salah seorang tokoh agama maka iapun menamakan sang anak dengan nama tokoh tersebut. Tidak ada sejarahnya seorang ayah menamakan anaknya dengan nama tokoh yang ia benci dan ia laknati. Karenanya tidak seorangpun dari Yahudi dan Nasrani yang menamakan anaknya dengan nama Muhammad, karena kebencian mereka kepada Muhammad. Dan tidak ada seorangpun dari kaum muslimin yang menamakan anaknya dengan nama Abu Jahl, atau Abu Lahab, atau Fir&#8217;aun…karena kebencian kaum muslimin kepada mereka.</p>
<p>Ternyata….Ali bin Abi Thoolib radhiallahu &#8216;anhu memiliki anak-anak yang bernama Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali, hal ini tentunya karena begitu cintanya beliau kepada Abu Bakar, Umar dan Utsman maka. Ketiga putra beliau tersebut termasuk orang-orang yang meninggal tatkala peristiwa karbala bersama saudara mereka yang terbunuh Al-Husain bin Ali radhiallahu &#8216;anhumaa.</p>
<p>Demikian pula ternyata Al-Hasan bin Ali telah menamakan sebagian anak-anaknya dengan nama Abu Bakr, Umar, dan Tolhah. Yang ketiga putranya tersebut juga terbunuh dalam peristiwa karbala.</p>
<p>Demikian pula halnya dengan Al-Husain beliau memiliki seorang putra yang bernama Umar.</p>
<p>Demikian pula halnya dengan Ali bin Al-Husain bin Ali telah menamakan putrinya dengan nama Aisyah, serta menamakan salah seorang putranya dengan nama Umar !!!</p>
<p>Kedua : Ali menikahkan putrinya Ummu Kaltsum dengan Umar bin Al-Khottoob, maka apakah Ali menikahkan putrinya dengan seorang toghuut…sungguh ini merupakan perbuatan seorang ayah yang tidak tahu diri bahkan menjerumuskan putrinya pada kesesatan bahkan kekafiran !!!.</p>
<p>Jika kita memiliki seorang putri maka apakah kita akan rela menikahkannya untuk hidup bersama bahkan seranjang dengan seorang fasiq dan mujrim??, apalagi dengan seorang kafir yang mujrim??!!. Lantas jika Umar bin Al-Khottoob adalah seorang kafir murtad yang mujrim maka kenapa begitu teganya Ali menikahkan putrinya dengan Umar??!!. Bukankah Ali mengetahui bahwa tidak boleh seorang wanita muslimah menikah dengan seorang lelaki dari Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani)??, apalagi dengan seorang lelaki yang murtad ??!!! Ataukah Ali menikahkan putrinya karena takut kepada Umar?? Ini merupakan celaan terhadap keberanian Ali yang sangat masyhuur. (Lihat pembahasan tentang dua poin di atas yang telah diakui oleh para ulama syi&#8217;ah sendiri dalam risalah Ruhamaa&#8217;u Bainahum karya Sholeh bin Abdillah Ad-Darwiisy)</p>
<p>Ketiga : Ali sangatlah terkenal pemberani…, lantas bagaimana bisa beliau selama berpuluh-puluh tahun (sejak masa pemerintahan Abu Bakar hingga berakhir pemerintahan Utsman bin &#8216;Affaan) hanyalah berdiam diri, tidak menjelaskan kepada umat bahwasanya beliaulah yang berhak yang menjadi khalifah setelah wafatnya Nabi !!!, kenapa beliau pula tidak berani berucap satu patah katapun untuk menjelaskan kepada umat bahwasanya Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah orang-orang kafir !!!, kenapa beliau berdiam diri membiarkan kaum muslimin dipimpin oleh orang-orang kafir??!!, sungguh ini benar-benar menunjukkan sikap pengecut yang luar biasa pada diri Ali !!!.</p>
<p>Keempat : Bahkan Ali akhirnya membaiat Abu Bakar radhiallahu &#8216;anhu. Jika memang Abu Bakar kafir maka tentunya sikap Ali adalah pengkhianatan dan penipuan terhadap umat karena ia telah membaiat seorang kafir !!!</p>
<p><strong>KESEMBILAN </strong>: Jika Mu&#8217;aawiyah adalah kafir (bahkan termasuk manusia yang paling kafir menurut syi&#8217;ah) maka sikap Al-Hasan yang menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Mu&#8217;aawiyah yang kafir merupakan bentuk pengkhianatan terbesar dalam sejarah terhadap Islam dan kaum muslimin. Maka ini jelas pencelaan yang besar kepada Al-Hasan bin Ali radhiallahu &#8216;anhumaa.</p>
<p><strong>KESEPULUH </strong>: Karena kebencian Syiah dan pengkafiran mereka kepada Utsaman bin Afaan maka sebagian ulama besar syi&#8217;ah mengingkari bahwa kedua istri Utsman (Ruqooyah dan Ummu Kultsuum) adalah putri-putri Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Mereka mengatakan bahwa Ummu Kaltsuum dan Ruqoyyah adalah putri-putri Khodijah dari suami sebelum menikah dengan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bahkan sebagian ulama syi&#8217;ah meragukan adanya dua putri Nabi yang bernama Ruqoyyah dan ummu Kaltsuum. Semua ini akibat kebencian dan pengkafiran mereka terhadap Utsman bin &#8216;Affaan sehingga akhirnya mereka mencela Ahlul Bait putri-putri Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. (Untuk melihat nukilan-nukilan perkataan para ulama syi&#8217;ah silahkan melihat kitab Al-Aqidah fi Ahlil Bait, karya DR Sulaiman As-Suhaimi, 2/527-530)</p>
<p><strong>PENUTUP </strong>:</p>
<p>Wahai kaum syi&#8217;ah…renungkanlah…apakah para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar yang :</p>
<p>-         Telah rela hidup susah bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan penuh intimidasi dari kaum kufar Quraisy tatkala mereka di Mekah…</p>
<p>-         Telah rela mengorbankan seluruh hartanya…</p>
<p>-         Telah rela meninggalkan kampung halamannya…</p>
<p>-         Abu Bakar telah rela menemani perjalanan hijroh Nabi yang terancam dengan kematian…</p>
<p>-         Telah rela ikut berperang dalam banyak peperangan demi untuk membela Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam…</p>
<p>Namun begitu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah meninggal dan mereka telah hidup di masa kejayaan Islam lantas kemudian mereka murtad???.</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 15-02-1433 H / 09 Desember 2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p>www.firanda.com</p>
<p><em><strong>Dipublikasi ulang dari : http://www.firanda.com/</strong></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/firqoh/'>Firqoh</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/manhaj/'>Manhaj</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5566/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5566&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/aqidah-syiah-mencela-sahabat-mencela-quran-mencela-hadits-mencela-allah-mencela-nabi-mencela-ahlul-bait/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.firanda.com/images/stories/simbol-yahudi.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Syi’ah Itu Sesat Juragan (Sebuah Masukan untuk Bapak Profesor Umar Syihab dan Bapak Profesor Din Syamsuddin)</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/syiah-itu-sesat-juragan-sebuah-masukan-untuk-bapak-profesor-umar-syihab-dan-bapak-profesor-din-syamsuddin/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/syiah-itu-sesat-juragan-sebuah-masukan-untuk-bapak-profesor-umar-syihab-dan-bapak-profesor-din-syamsuddin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 14:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Firqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5535</guid>
		<description><![CDATA[Syi’ah Itu Sesat Juragan (Sebuah Masukan untuk Bapak Profesor Umar Syihab dan Bapak Profesor Din Syamsuddin) Adalah hal yang membuat kita mengelus dada ketika oknum ketua Majelis Ulama Indonesia yang masih mengaku ‘sunniy’ mengatakan Syi’ah itu tidak sesat. Ia adalah Prof. Umar Syihaab[1] – semoga Allah memberikan petunjuk kepadanya, dan orang-orang tidak silau dengan gelar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5535&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong>Syi’ah Itu Sesat Juragan (Sebuah Masukan untuk Bapak Profesor Umar Syihab dan Bapak Profesor Din Syamsuddin)</strong></div>
<div><img class="alignleft size-full wp-image-5563" title="syiah-sesat copy" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/syiah-sesat-copy.jpg?w=468" alt=""   /></div>
<div></div>
<div>Adalah hal yang membuat kita mengelus dada ketika oknum ketua Majelis Ulama Indonesia yang masih mengaku ‘sunniy’ mengatakan Syi’ah itu tidak sesat. Ia adalah Prof. Umar Syihaab[1] – semoga Allah memberikan petunjuk kepadanya, dan orang-orang tidak silau dengan gelar yang disandangnya – yang mengatakan : “<em>MUI berprinsip</em>[2] <em>bahwa <strong>mazhab Syiah tidak sesat</strong>. </em></div>
<div><em>Karena itu, MUI mengimbau umat Islam tidak terpecah belah dan menjaga ukhuwah islamiah serta tidak melakukan tindak kekerasan terhadap golongan berbeda</em>”.[3] Di lain kesempatan ia berkata : “<em>Misalnya ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa Syiah itu sesat -namun Alhamdulillah syukurnya belum ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa seperti itu- maka fatwa tersebut tidak sah secara konstitusi, sebab MUI Pusat menyatakan Syiah itu sah sebagai mazhab Islam dan tidak sesat. Jika ada petinggi MUI yang mengatakan seperti itu, itu adalah pendapat pribadi dan bukan keputusan MUI sebagai sebuah organisasi</em>&#8220;.[4] <span id="more-5535"></span></div>
<div>Tidak ketinggalan Prof. Diin Syansuddiin – ketua umum PP. Muhammadiyyah &#8211; yang memberikan angin segar atas ucapan Prof. Umar Syihab, dimana ia <em>menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi <strong>hanya pada wilayah cabang (furu’iyyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)</strong>, karena keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajad penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib</em>.[5]</div>
<div></div>
<div>Saya (Abul-Jauzaa’) katakan : Sesat perkataan yang menyatakan Syi’ah tidak sesat. Sesat pula perkataan yang menyatakan perbedaan Ahlus-Sunnah dengan Syi’ah tidak ada kaitannya dengan ‘aqidah. Berikut akan saya berikan bukti-bukti otentik akan kesesatan Syi’ah yang berbeda dengan perkataan dua tokoh di atas. Bukti-bukti berikut saya ambilkan dari kitab-kitab Syi’ah, website-website Syi’ah, dan perkataan para ulama Syi’ah.</div>
<div></div>
<div>1.     Orang Syi’ah Raafidlah mengatakan Al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin (baca : Ahlus-Sunnah) berbeda dengan Al-Qur’an versi Ahlul-Bait.</div>
<div>Berkata Muhammad bin Murtadlaa Al-Kaasyi dalam – seseorang yang dianggap <em>‘alim</em> dan ahli hadits dari kalangan Syi’ah &#8211; :</div>
<div></div>
<div align="right">لم يبق لنا اعتماد على شيء من القران. اذ على هذا يحتمل كل اية منه أن يكون محرفاً ومغيراً ويكون على خلاف ما أنزل الله فلم يقب لنا في القران حجة أصلا فتنتفى فائدته وفائدة الأمر باتباعه والوصية بالتمسك به</div>
<div>“Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang suatu ayat dari Al-Qur’an. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Al-Qur’an satu ayatpun sebagai hujjah. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengannya ….” [<em>Tafsir Ash-Shaafiy</em> 1/33]</div>
<div></div>
<div>Berkata Muhammad bin Ya’qub Al-Kulainiy – seorang yang dianggap ahli hadits dari kalangan Syi’ah – (w. 328/329 H) :</div>
<div></div>
<div align="right">عن أبي بصير عن أبي عبد الله عليه السلام قال : وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ</div>
<div></div>
<div>Dari Abu Bashiir, dari Abu ‘Abdillah <em>‘alaihis-salaam</em> ia berkata : “Sesungguhnya pada kami terdapat Mushhaf Faathimah <em>‘alaihas-salaam</em>. Dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushhaf Faathimah”. Aku berkata : “Apakah itu Mushhaf Faathimah ?”. Abu ‘Abdillah menjawab :</div>
<div></div>
<div>“Mushhaf Faathimah itu, di dalamnya tiga kali lebih besar daripada Al-Qur’an kalian. Demi Allah, tidaklah ada di dalamnya satu huruf pun dari Al-Qur’an kalian”. Aku berkata : “Demi Allah, ini adalah ilmu” [<em>Al-Kaafiy</em>, 1/239].</div>
<div></div>
<div align="right">عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جَبْرَئِيلُ ( عليه السلام ) إِلَى مُحَمَّدٍ ( صلى الله عليه وآله ) سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ</div>
<div></div>
<div>Dari Hisyam bin Saalim, dari Abu ‘Abdillah <em>‘alaihis-salaam</em> ia berkata : “Sesungguhnya Al-Qur’an yang diturunkan melalui perantaraan Jibril <em>‘alaihis-salaam</em> kepada Muhammad <em>shallallaahu ‘alaihi wa aalihi </em>terdiri dari 17.000 (tujuh belas ribu) ayat” [<em>Al-Kaafiy</em>, 2/634].</div>
<div></div>
<div>Berkata Muhammad Baaqir Taqiy bin Maqshuud Al-Majlisiy (w. 1111 H) – seorang yang dianggap imam dan ahli hadits di masanya – ketika mengomentari hadits di atas :</div>
<div align="right">موثق، وفي بعض النسخ عن هشام بن سالم موضع هارون ابن سالم، فالخبر صحيح ولا يخفى أن هذا الخبر وكثير من الأخبار في هذا الباب متواترة معنى، وطرح جميعها يوجب رفع الاعتماد عن الأخبار رأسا، بل ظني أن الأخبار في هذا الباب لا يقصر عن أخبار الامامة فكيف يثبتونها بالخبر ؟</div>
<div></div>
<div>”<strong>Shahih</strong>. Dalam sebagian naskah tertulis : ”dari Hisyaam bin Saalim” pada tempat rawi yang bernama Haaruun bin Saalim. Maka khabar/riwayat ini shahih dan tidak tersembunyi lagi bahwasannya riwayat ini dan banyak lagi yang lainnya dalam bab ini telah mencapai derajat mutawatir secara makna. Menolak keseluruhan riwayat ini (yang berbicara tentang perubahan Al-Qur’an) berkonsekuensi menolak semua riwayat (yang berasal dari Ahlul-Bait). Aku kira, riwayat-riwayat dalam bab ini tidaklah lebih sedikit dibandingkan riwayat-riwayat tentang imamah. Nah, bagaimana masalah imamah itu bisa ditetapkan melalui riwayat ? [<em>Mir-aatul-‘Uquul fii Syarhi Akhbaari Aalir-Rasuul</em> 12/525].</div>
<div></div>
<div>Kemudian,…. inilah hal yang membuktikan validitas keyakinan Syi’ah dalam hal ini :</div>
<div></div>
<div><strong>http://www.youtube.com/watch?v=ovfz3xnsjJ0&amp;feature=player_embedded</strong></div>
<div></div>
<div>Di atas adalah perkataan Dr. Al-Qazwiniy, salah seorang ulama kontemporer Syi’ah yang cukup terkenal. Menurutnya, firman Allah <em>ta’ala </em>:</div>
<div align="right">إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ</div>
<div>“<em>Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)</em>” [QS. Aali 'Imraan : 33].</div>
<div>Menurutnya, yang benar adalah :</div>
<div align="right">إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ <strong>وَآلَ مُحَمَّدٍ</strong> عَلَى الْعَالَمِينَ</div>
<div>“<em>Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, <strong>dan keluarga Muhammad</strong> melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)</em>”.</div>
<div></div>
<div>Tambahan kalimat yang berwarna merah ini dihilangkan oleh para shahabat <em>radliyallaahu ‘anhum</em> – (dan ini adalah kedustaan yang sangat nyata !!).[6]</div>
<div></div>
<div>Apakah hal seperti ini menurut Umar Syihab tidak sesat ?. Apakah hal seperti ini menurut Din Syamsuddin tidak ada sangkut pautnya dengan ‘aqidah ?. Dimanakah posisi firman Allah <em>ta’ala </em>:</div>
<div align="right">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</div>
<div><em>“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur&#8217;an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”</em> [QS. Al-Hijr : 9] ?.</div>
<div></div>
<div>2.     Orang Syi’ah Raafidlah telah mengkafirkan para shahabat, terutama sekali Abu Bakr Ash-Shiddiiq dan ‘Umar bin Al-Khaththaab <em>radliyallaahu ‘anhumaa</em>.</div>
<div></div>
<div>Orang Syi’ah telah mendoakan laknat atas Abu Bakr dan ‘Umar <em>radliyallaahu ‘anhumaa </em>– yang naasnya, doa itu dinisbatkan secara dusta kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib <em>radliyallaahu ‘anhu</em>[7] – sebagai berikut :</div>
<div></div>
<div align="right">اللهم صل على محمد، وآل محمد، اللهم العن صنمي قريش، وجبتيهما، وطاغوتيهما، وإفكيهما، وابنتيهما، اللذين خالفا أمرك، وأنكروا وحيك، وجحدوا إنعامك، وعصيا رسولك، وقلبا دينك، وحرّفا كتابك&#8230;..</div>
<div></div>
<div>“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, <strong>laknat bagi dua berhala Quraisy (Abu Bakr dan ‘Umar</strong><sup>– Abul-Jauzaa’</sup><strong>), Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua</strong>. Mereka berdua telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, menjungkir-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu…..dst.” [selesai].</div>
<div>Saksikan video berikut, bagaimana ulama Syi’ah (Yasir Habiib) melaknat Abu Bakr, ‘Umar, dan para shahabat lain <em>radliyallaahu ‘anhum</em> dalam shalatnya :</div>
<div></div>
<div><strong>http://www.youtube.com/watch?v=DAVSplUX3hw&amp;feature=player_embedded</strong></div>
<div></div>
<div>Dan mari kita lihat sumber ajaran Syi’ah dalam kitab mereka yang mengkafirkan para shahabat :</div>
<div></div>
<div align="right">عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ كَانَ النَّاسُ أَهْلَ رِدَّةٍ بَعْدَ النَّبِيِّ ( صلى الله عليه وآله ) إِلَّا ثَلَاثَةً فَقُلْتُ وَ مَنِ الثَّلَاثَةُ فَقَالَ الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ وَ سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْهِمْ</div>
<div></div>
<div>Dari Abu Ja’far <em>‘alaihis-salaam</em>, ia berkata : “Orang-orang (yaitu para shahabat <sup>- Abul-Jauzaa’</sup>) menjadi <strong>murtad</strong> sepeninggal Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa aalihi</em> kecuali tiga orang”. Aku (perawi) berkata : “Siapakah tiga orang tersebut ?”. Abu Ja’far menjawab : “Al-Miqdaad, Abu Dzarr Al-Ghiffaariy, dan Salmaan Al-Faarisiy <em>rahimahullah wa barakaatuhu ‘alaihim</em>&#8230;” [<em>Al-Kaafiy</em>, 8/245; Al-Majlisiy berkata : “hasan atau <em>muwatstsaq</em>”].</div>
<div align="right">عَنْ أَبِي عبد الله عليه السلام قال: &#8230;&#8230;.والله هلكوا إلا ثلاثة نفر: سلمان الفارسي، وأبو ذر، والمقداد ولحقهم عمار، وأبو ساسان الانصاري، وحذيفة، وأبو عمرة فصاروا سبعة</div>
<div></div>
<div>Dari Abu ‘Abdillah <em>‘alaihis-salaam</em>, ia berkata : “…….Demi Allah, mereka (para shahabat) <strong>telah binasa kecuali tiga orang</strong> : Salmaan Al-Faarisiy, Abu Dzarr, dan Al-Miqdaad. Dan kemudian menyusul mereka ‘Ammaar, Abu Saasaan, Hudzaifah, dan Abu ‘Amarah sehingga jumlah mereka menjadi <strong>tujuh orang</strong>” [<em>Al-Ikhtishaash</em> oleh Al-Mufiid, hal. 5; lihat : <a href="http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html">http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/ekhtesas/a1.html</a>].</div>
<div align="right">عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلامقَالَ إِنَّ أَهْلَ مَكَّةَ لَيَكْفُرُونَ بِاللَّهِ جَهْرَةً وَ إِنَّ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَخْبَثُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ أَخْبَثُ مِنْهُمْ سَبْعِينَ ضِعْفاً .</div>
<div></div>
<div>Dari Abu Bashiir, dari salah seorang dari dua imam ‘alaihimas-salaam, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Makkah <strong>kafir</strong> kepada Allah secara terang-terangan. Dan penduduk Madinah <strong>lebih busuk/jelek</strong> daripada penduduk Makkah 70 kali” [<em>Al-Kaafiy</em>, 2/410; Al-Majlisiy berkata : <em>Muwatstsaq</em>].</div>
<div></div>
<div>Riwayat yang semacam ini banyak tersebar di kitab-kitab Syi’ah.</div>
<div></div>
<div>Apakah hal seperti ini menurut <strong>Umar Syihab tidak sesat ?</strong>. Apakah hal seperti ini menurut <strong>Din Syamsuddin</strong> tidak ada sangkut pautnya dengan ‘aqidah ?. Dimanakah posisi firman Allah <em>ta’ala </em>:</div>
<div></div>
<div align="right">وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</div>
<div></div>
<div>“<em><span style="text-decoration:underline;">Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar</span> dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar</em>” [QS. At-Taubah : 100].</div>
<div></div>
<div align="right">مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</div>
<div></div>
<div>“<em><span style="text-decoration:underline;">Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia</span> adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”</em> [QS. Al-Fath : 29] ?.</div>
<div></div>
<div>3.     Orang Syi’ah Raafidlah tidak menggunakan riwayat Ahlus-Sunnah.</div>
<div></div>
<div>Atau dengan kata lain, Syi’ah tidak menggunakan hadits-hadits Ahlus-Sunnah – yang merupakan referensi kedua setelah Al-Qur’an – dalam membangun agama mereka. Ini merupakan konsekuensi yang timbul dari point kedua karena mereka mengkafirkan para shahabat yang menjadi periwayat <em>as-sunnah</em>/<em>al-hadits</em>. Ini adalah satu kenyataan yang tidak akan ditolak kecuali mereka yang bodoh terhadap agama Syi’ah dengan kebodohan yang teramat sangat, atau mereka yang sedang menjalankan strategi <em>taqiyyah</em>. Adakah mereka (Syi’ah) akan mengambil riwayat dari orang yang telah murtad dari agamanya ?.</div>
<div></div>
<div>Syi’ah mempunyai sumber-sumber hadits tersendiri seperti <em>Al-Kaafiy</em>, <em>Man Laa yahdluruhl-Faqiih</em>, <em>Tahdziibul-Ahkaam, Al-Istibshaar</em>, dan yang lainnya.</div>
<div></div>
<div>Jika mereka mengambil referensi Ahlus-Sunnah, maka itu hanyalah mereka lakukan ketika berbicara kepada Ahlus-Sunnah, dan mereka ambil yang kira-kira dapat mendukung ‘aqidah mereka dan/atau menghembuskan syubhat-syubhat kepada Ahlus-Sunnah.</div>
<div>Apakah hal seperti ini menurut Umar Syihab tidak sesat ?. Apakah hal seperti ini menurut Din Syamsuddin tidak ada sangkut pautnya dengan ‘aqidah ?. Dimanakah posisi sabda Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>:</div>
<div></div>
<div align="right">أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ</div>
<div>“<em>Aku nasihatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memerintah kalian) seorang budak Habsyiy. Orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku nanti) akan menjumpai banyak perselisihan. Waspadailah hal-hal yang baru, karena semua itu adalah kesesatan. Barangsiapa yang menjumpainya, maka <span style="text-decoration:underline;">wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada </span></em><em><span style="text-decoration:underline;">S</span></em><em><span style="text-decoration:underline;">unnahku dan sunnah Al-Khulafaa’ Ar-Raasyidiin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham</span></em>” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/126-127, Abu Daawud no. 4607, dan yang lainnya; shahih[8]] ?.</div>
<div></div>
<div>4.     Orang Syi’ah telah berbuat <em>ghulluw </em>kepada imam-imam mereka, dan bahkan sampai pada taraf ‘menuhankan’ mereka.</div>
<div>Al-Kulainiy membuat bab dalam kitab <em>Al-Kaafiy </em>:</div>
<div align="right">بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) إِذَا شَاءُوا أَنْ يَعْلَمُوا عُلِّمُوا</div>
<div></div>
<div>“<em>Bab : Bahwasannya para imam (‘alaihis-salaam) apabila ingin mengetahui, maka mereka akan mengetahui</em>”.</div>
<div></div>
<div>Di sini ada 3 hadits/riwayat. Saya sebutkan satu di antaranya :</div>
<div align="right">أَبُو عَلِيٍّ الْأَشْعَرِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ عَنْ صَفْوَانَ عَنِ ابْنِ مُسْكَانَ عَنْ بَدْرِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ أَبِي الرَّبِيعِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْإِمَامَ إِذَا شَاءَ أَنْ يَعْلَمَ أُعْلِمَ .</div>
<div></div>
<div>Abu ‘Aliy Al-Asy’ariy, dari Muhammad bin ‘Abdil-Jabbaar, dari Shafwaan, dari Ibnu Muskaan, dari Badr bin Al-Waliid, dari Abur-Rabii’, dari Abu ‘Abdillah (<em>‘alaihis-salaam</em>), ia berkata : “<strong>Sesungguhnya seorang imam jika ia ingin mengetahui, maka ia akan mengetahui</strong>” [<em>Al-Kaafiy</em>, 1/258].</div>
<div></div>
<div>Inilah riwayat dusta yang disandarkan kepada ahlul-bait – dan ahlul-bait berlepas diri dari riwayat dusta tersebut.</div>
<div>Bab yang lain dalam kitab <em>Al-Kaafiy</em> :</div>
<div align="right">بَابُ أَنَّ الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) يَعْلَمُونَ عِلْمَ مَا كَانَ وَ مَا يَكُونُ وَ أَنَّهُ لَا يَخْفَى عَلَيْهِمُ الشَّيْ‏ءُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ</div>
<div>“<em>Bab : Bahwasannya para imam (‘alaihis-salaam) mengetahui ilmu yang telah terjadi maupun yang sedang terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari mereka shalawatullah ‘alaihim</em>”.</div>
<div></div>
<div>Di situ ada 6 buah hadits/riwayat, yang salah satunya adalah sebagai berikut :</div>
<div align="right">أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ وَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ إِسْحَاقَ الْأَحْمَرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَمَّادٍ عَنْ سَيْفٍ التَّمَّارِ قَالَ كُنَّا مَعَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام )&#8230;&#8230; فَقَالَ وَ رَبِّ الْكَعْبَةِ وَ رَبِّ الْبَنِيَّةِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ كُنْتُ بَيْنَ مُوسَى وَ الْخَضِرِ لَأَخْبَرْتُهُمَا أَنِّي أَعْلَمُ مِنْهُمَا وَ لَأَنْبَأْتُهُمَا بِمَا لَيْسَ فِي أَيْدِيهِمَا لِأَنَّ مُوسَى وَ الْخَضِرَ ( عليه السلام ) أُعْطِيَا عِلْمَ مَا كَانَ وَ لَمْ يُعْطَيَا عِلْمَ مَا يَكُونُ وَ مَا هُوَ كَائِنٌ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ وَ قَدْ وَرِثْنَاهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وِرَاثَةً</div>
<div></div>
<div>Ahmad bin Muhammad dan Muhammad bin Yahyaa, dari Muhammad bin Al-Husain, dari Ibraahiim bin Ishaaq Al-Ahmar, dari ‘Abdullah bin Hammaad, dari Saif At-Tammaar, ia berkata : Kami pernah bersama Abu Ja’far (<em>‘alaihis-salaam</em>), …..kemudian ia berkata : “Demi Rabb Ka’bah dan Rabb Baniyyah – tiga kali &#8211; . Seandainya aku berada di antara Musa dan Khidlir, akan aku khabarkan kepada mereka berdua bahwasannya <strong>aku lebih mengetahui daripada mereka berdua</strong>. Dan akan aku beritahukan kepada mereka berdua apa-apa yang tidak ada pada diri mereka. Karena Musa dan Khidlir (<em>‘alaihis-salaam</em>) diberikan ilmu apa yang telah telah terjadi, namun tidak diberikan ilmu yang sedang terjadi dan akan terjadi hingga tegak hari kiamat. <strong>Dan sungguh kami telah mewarisinya dari Rasulullah (</strong><em>shallallaahu ‘alaihi wa aalihi</em><strong>)</strong>[9]<strong> dengan satu warisan</strong>” [<em>Al-Kaafiy</em>, 1/260-261].</div>
<div></div>
<div>Perhatikan penjelasan Dr. Al-Qazwiniy berikut :</div>
<div></div>
<div><strong>http://www.youtube.com/watch?v=BxuHVIZ0rvA&amp;feature=player_embedded</strong></div>
<div></div>
<div>Ia (Dr. Al-Qazwiiniy) pada menit 0:44 – 0:53 mengatakan : “Allah <em>ta’ala </em>Maha Mengetahui segala isi hati. <strong>Dan imam dalam riwayat ini juga mengetahui segala isi hati</strong>. Ilmu imam berasal dari Allah….. [selesai].</div>
<div></div>
<div>Apakah hal seperti ini menurut Umar Syihab tidak sesat ?. Apakah hal seperti ini menurut Din Syamsuddin tidak ada sangkut pautnya dengan ‘aqidah ?. Dimanakah posisi firman Allah <em>ta’ala </em>:</div>
<div align="right">قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ</div>
<div>“<em>Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku</em>&#8220; [QS. Al-An’aam : 50] ?.</div>
<div></div>
<div>Dan kalaupun Allah memberikan sebagian khabar ghaib – baik yang telah lalu maupun yang kemudian – kepada para hamba-Nya dari kalangan manusia, maka itu Allah <em>ta’ala </em>berikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya :</div>
<div></div>
<div align="right">وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ</div>
<div></div>
<div>“<em>Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya</em>” [QS. Ali ‘Imraan : 179].</div>
<div></div>
<div>Tidak ada dalam ayat di atas kata ‘imam’, akan tetapi menyebut kata ‘rasul’.[10]</div>
<div></div>
<div>Orang Syi’ah mengatakan bahwa imam lebih tinggi kedudukannya dari para Nabi (selain Nabi Muhammad <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>).</div>
<div><em>Ayatullah Al-‘Udhmaa</em> (baca : <em>Ayatusy-Syi’ah</em>) Ar-Ruuhaaniy – semoga Allah mengembalikannya kepada kebenaran – pernah ditanya sebagai berikut :</div>
<div align="right">هل تعتقدون أن علياً كرم الله وجهه أفضل من الأنبياء؟</div>
<div>“Apakah engkau meyakini bahwasannya ‘Aliy <em>karamallaahu wajhah</em> lebih utama daripada para Nabi ?”.</div>
<div>Ia (Ar-Ruuhaaniy) menjawab :</div>
<div align="right">اسمه جلت اسمائه<br />
هذا من الامور القطعية الواضحة</div>
<div>“Dengan menyebut nama-Nya yang Maha Agung,…. Ini termasuk perkara-perkara yang pasti lagi jelas (yaitu ‘Aliy lebih utama daripada para Nabi)” [selesai – sumber : <a href="http://www.alrad.net/hiwar/olama/rohani/r16.htm">http://www.alrad.net/hiwar/olama/rohani/r16.htm</a>].[11]</div>
<div></div>
<div>Bahkan seandainya seluruh Nabi berkumpul, niscaya mereka tidak akan mampu berkhutbah menandingi khutbah ‘Aliy <em>radliyallaahu ‘anhu</em>. Ini dikatakan oleh salah seorang ulama Syi’ah yang sangat kesohor : As-Sayyid Kamaal Al-Haidariy :</div>
<div></div>
<div><strong>http://www.youtube.com/watch?v=Rhyc343o_ZI&amp;feature=player_embedded</strong></div>
<div></div>
<div>Dasar riwayatnya (bahwa ‘Aliy lebih utama dibandingkan para Nabi, selain Nabi Muhammad <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>) tertulis di video ini :</div>
<div></div>
<div><strong>http://www.youtube.com/watch?v=062TvOdtfQI&amp;feature=player_embedded</strong></div>
<div></div>
<div>Apakah hal seperti ini menurut Umar Syihab tidak sesat ?. Apakah hal seperti ini menurut Din Syamsuddin tidak ada sangkut pautnya dengan ‘aqidah ?. Bukankah ini merupakan penghinaan terhadap para Nabi dan para rasul ?. Dimanakah posisi firman Allah <em>ta’ala </em>:</div>
<div></div>
<div align="right">تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ</div>
<div>“<em>Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat”</em> [QS. Al-Baqarah : 253] ?.</div>
<div></div>
<div>[Pelampauan keutamaan sebagian Rasul (termasuk Nabi) hanya dilakukan oleh sebagian (Rasul) yang lain. Allah tidak mengatakan bahwa pelampauan itu dilakukan oleh orang yang bukan Nabi atau Rasul].</div>
<div></div>
<div>5.     Orang Syi’ah – dalam hal ini diwakili oleh Ayatusy-Syi’ah Khomainiy – mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> telah menyembunyikan sebagian risalah dan gagal membina umat.</div>
<div></div>
<div>Khomainiy – semoga Allah memberikan balasan setimpal kepadanya &#8211; berkata :</div>
<div align="right">وواضح أنَّ النبي لو كان بلغ بأمر الإمامة طبقاً لما أمر به الله، وبذل المساعي في هذه المجال، لما نشبت في البلدان الإسلامية كل هذه الإختلافات&#8230;.</div>
<div></div>
<div>“Dan telah jelas bahwasannya Nabi <strong>jika ia menyampaikan perkara imaamah sebagaimana yang Allah perintahkan (padanya)</strong> dan mencurahkan segenap kemampuannya dalam permasalahan ini, niscaya perselisihan yang terjadi di berbagai negeri Islam tidak akan berkobar…..” [<em>Kasyful-Asraar</em>, hal. 155].</div>
<div></div>
<div align="right">لقد جاء الأنبياء جميعاً من أجل إرساء قواعد العدالة في العالم؛ لكنَّهم لم ينجحوا حتَّى النبي محمد خاتم الأنبياء، الذي جاء لإصلاح البشرية وتنفيذ العدالة وتربية البشر، لم ينجح في ذلك&#8230;.</div>
<div></div>
<div>“Sungguh semua Nabi telah datang untuk menancapkan keadilan di dunia, <strong>akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan termasuk Nabi Muhammad, penutup para Nabi</strong>, dimana beliau datang untuk memperbaiki umat manusia, menginginkan keadilan, dan mendidik manusa – tidak berhasil dalam hal itu….” [<em>Nahju Khomainiy</em>, hal 46].</div>
<div></div>
<div>Dan yang lainnya.[12]</div>
<div>Apakah hal seperti ini menurut Umar Syihab tidak sesat ?. Apakah keyakinan seperti ini menurut Din Syamsuddin tidak ada sangkut pautnya dengan ‘aqidah ?. Dimanakah posisi firman Allah <em>ta’ala </em>yang menyatakan bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>adalah suritauladan yang baik :</div>
<div align="right">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</div>
<div>“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”</em> [QS. Al-Ahzaab : 21] ?.</div>
<div></div>
<div>6.     Orang Syi’ah mengkafirkan Ahlus-Sunnah.</div>
<div>Jika mereka mengkafirkan para shahabat <em>radliyallaahu ‘anhum</em>, maka jangan heran jika mereka juga mengkafirkan orang-orang yang berkesesuaian pemahaman dengan para shahabat <em>radliyallaahu ‘anhum</em>, yaitu Ahlus-Sunnah. Berikut perkataan para ulama Syi’ah dalam hal ini :</div>
<div></div>
<div>Al-Mufiid berkata :</div>
<div align="right">اتّفقت الإماميّة على أنّ من أنكر إمامة أحد من الأئمّة وجحد ما أوجبه الله تعالى له من فرض الطّاعة فهو كافر ضالّ مُستحقّ للخلود في النّار</div>
<div>“Madzhab Imaamiyyah telah bersepakat bahwasannya siapa saja yang mengingkari imaamah salah seorang di antara para imam, dan mengingkari apa yang telah Allah <em>ta’ala </em>wajibkan padanya tentang kewajiban taat, maka ia <strong>kafir lagi sesat berhak atas kekekalan neraka</strong>” [<em>Awaailul-Maqaalaat</em>, hal 44 – sumber : <a href="http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-aqaed/avael-maqalat/a01.htm">http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-aqaed/avael-maqalat/a01.htm</a>].</div>
<div>Orang yang mengingkari keimamahan versi mereka tentu saja adalah Ahlus-Sunnah.</div>
<div></div>
<div>Yuusuf Al-Bahraaniy berkata :</div>
<div align="right">إن إطلاق المسلم على الناصب وأنه لا يجوز أخذ ماله من حيث الإسلام خلاف ما عليه الطائفة المحقة سلفا وخلفا من الحكم بكفر الناصب ونجاسته وجواز أخذ ماله بل قتله</div>
<div>“Sesungguhnya pemutlakan muslim terhadap <em>Naashib</em> (baca : Ahlus-Sunnah) bahwasannya tidak diperbolehkan mengambil hartanya dengan sebab Islam (telah melarangnya), maka itu telah menyelisihi apa yang dipahami oleh kelompok yang benar (baca : Syi’ah Raafidlah) baik dulu maupun sekarang (<em>salaf </em>dan <em>khalaf</em>) tentang <strong>hukum kafirnya <em>Naashib</em>, kenajisannya, dan diperbolehkannya mengambil hartanya, bahkan membunuhnya</strong>” [<em>Al-Hadaaiqun-Naadlirah</em>, 12/323-324 – sumber : <a href="http://shjaffar.jeeran.com/%D8%A7%D9%84%D8%AC%D8%B2%D8%A1%2012/5-%20%D9%85%D8%A7%20%D9%8A%D8%AC%D8%A8%20%D9%81%D9%8A%D9%87%20%D8%A7%D9%84%D8%AE%D9%85%D8%B3.htm">shjaffar.jeeran.com</a>].</div>
<div>Berikut rekaman suara Yasiir Habiib yang mengkafirkan Ahlus-Sunnah yang ia sebut sebagai Nawaashib atau golongan <em>‘awwaam</em> :</div>
<div></div>
<div><strong>http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&amp;v=oYaAhcIE62Y</strong></div>
<div>.</div>
<div>Sebagai penguat, silakan baca/lihat :</div>
<div></div>
<div><strong>http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&amp;v=6mFTDp7-PDg</strong></div>
<div></div>
<div>7.     Shalat Syi’ah sangat berbeda dengan shalat Ahlus-Sunnah.</div>
<div>Langsung saja Anda buka halaman blog berjudul : <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/08/fiqh-syiah-5-kaifiyyah-shalat.html">Fiqh Syi’ah (5) : Kaifiyyah Shalat Syi&#8217;ah</a>.</div>
<div>Adzannya pun lain, karena selain syahadatain, mereka menambahkan syahadat ketiga[13]. Simak :</div>
<div></div>
<div> <strong>http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&amp;v=gP2lEd7V9SI</strong></div>
<div></div>
<div>Masih banyak sebenarnya kesesatan Syi’ah selain di atas.</div>
<div>MUI telah menetapkan kriteria sesat tidaknya satu kelompok atau pemahaman sebagai berikut :</div>
<div>1.     Mengingkari rukun iman dan rukun Islam.</div>
<div>2.     Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`iy (Alquran dan as-sunah).</div>
<div>3.     Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.</div>
<div>4.     Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Qur’an.</div>
<div>5.     Melakukan penafsiran Al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.</div>
<div>6.     Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.</div>
<div>7.     Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.</div>
<div>8.     Mengingkari Nabi Muhammad <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai nabi dan rasul terakhir.</div>
<div>9.     Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.</div>
<div>10.   Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.</div>
<div>Dari sepuluh kriteria di atas, menurut saya Syi’ah mempunyai delapan di antaranya.[14] Saya persilakan Umar Syihab dan Din Syamsuddin untuk mencocokkan fakta yang saya sebut di atas dengan kriteria sesat yang telah MUI tetapkan : sesat atau tidak sesat menurut mereka berdua.[15] Hanya saja, saya akan sebutkan beberapa perkataan ulama Ahlus-Sunnah, bagaimana pandangan mereka tentang kelompok Syi’ah Raafidlah.</div>
<div>1.     ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy <em>rahimahullah</em> (<em>kibaarut-taabi’iin</em>, w. 62 H).</div>
<div align="right">عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: &#8221; لَقَدْ غَلَتْ هَذِهِ الشِّيعَةُ فِي عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمَا غَلَتِ النَّصَارَى فِي عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ &#8220;</div>
<div>Dari ‘Alqamah, ia berkata : “Sungguh Syi’ah ini telah berlebih-lebihan terhadap ‘Aliy <em>radliyallaahu ‘anhu </em>sebagaimana berlebih-lebuhannya Nashara terhadap ‘Iisaa bin Maryam” [Diriwayatkan ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam <em>As-Sunnah </em>no. 1115 dan Al-Harbiy dalam <em>Ghariibul-Hadiits</em> 2/581; shahih].</div>
<div>2.     Az-Zuhriy <em>rahimahullah</em>.</div>
<div align="right">وَأَنْبَأَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الْحُلْوَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: &#8221; مَا رَأَيْتُ قَوْمًا أَشْبَهَ بِالنَّصَارَى مِنَ السَّبَائِيَّةِ &#8220;، قَالَ أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ: هُمُ الرَّافِضَةُ</div>
<div>Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Yahyaa Al-Hulwaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdillah bin Yuunus, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Az-Zuhriy, ia berkata : “Aku tidak pernah melihat satu kaum yang lebih menyerupai Nashara daripada kelompok Sabaa’iyyah”. Ahmad bin Yuunus berkata : “Mereka itu adalah Raafidlah” [Diriwayatkan oleh Al-Aajurriy dalam <em>Asy-Syaari’ah</em>, 3/567 no. 2083; shahih].</div>
<div>3.     Maalik bin Anas <em>rahimahullah</em>.</div>
<div align="right">أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْمَرُّوذِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ: عَنْ مَنْ يَشْتِمُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعَائِشَةَ؟ قَالَ: مَا أُرَآهُ عَلَى الإِسْلامِ، قَالَ: وَسَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ: قَالَ مَالِكٌ: الَّذِي يَشْتِمُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَهُ سَهْمٌ، أَوْ قَالَ: نَصِيبٌ فِي الإِسْلامِ</div>
<div>Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Marwadziy, ia berkata : Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah tentang orang yang mencaci-maki Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aaisyah ?. Maka ia menjawab : “Aku tidak berpendapat ia di atas agama Islam”. Al-Marwadziy berkata : Dan aku juga mendengar Abu ‘Abdillah berkata : Telah berkata Maalik (bin Anas) : “Orang yang mencaci-maki para shahabat Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka ia tidak mempunyai bagian (dalam Islam)” – atau ia berkata : “bagian dalam Islam” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no. 783; shahih sampai Ahmad bin Hanbal].</div>
<div>4.     Asy-Syaafi’iy <em>rahimahullah</em>.</div>
<div align="right">أنا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، ثنا أَبِي، قَالَ: أَخْبَرَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، يَقُولُ: لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ، أَشْهَدُ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ</div>
<div>Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan : Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Harmalah bin Yahyaa, ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang aku saksikan kedustaannya daripada Raafidlah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam <em>Aadaabusy-Syaafi’iy</em>, hal. 144; hasan]</div>
<div align="right">عن البويطي يقول: سألت الشافعي: أصلي خلف الرافضي ؟ قال: لا تصل خلف الرافضي، ولا القدري، ولا المرجئ&#8230;.</div>
<div>Dari Al-Buwaithiy ia berkata : “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’iy : ‘Apakah aku boleh shalat di belakang seorang Rafidliy ?”. Beliau menjawab : “Janganlah engkau shalat di belakang seorang Raafidliy, Qadariy, dan Murji’” [<em>Siyaru A’laamin-Nubalaa’</em>, 10/31].</div>
<div>5.     Ahmad bin Hanbal <em>rahimahullah</em>.</div>
<div align="right">وَأَخْبَرَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: &#8221; مَنْ شَتَمَ أَخَافُ عَلَيْهِ الْكُفْرَ مِثْلَ الرَّوَافِضِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ شَتَمَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا نَأْمَنُ أَنْ يَكُونَ قَدْ مَرَقَ عَنِ الدِّينِ &#8220;</div>
<div>Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-Hamiid ia berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah berkata : “Barangsiapa yang mencaci-maki, aku khawatir ia akan tertimpa kekafiran seperti Raafidlah”. Kemudian ia melanjutkan : “Barangsiapa yang mencaci-maki para shahabat Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka kami tidak percaya ia aman dari bahaya kemurtadan” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no. 784; shahih].</div>
<div align="right">أَخْبَرَنِي يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ سُئِلَ، وَأَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ، قَالَ: &#8221; سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، عَنْ جَارٍ لَنَا رَافِضِيٍّ يُسَلِّمُ عَلَيَّ، أَرُدُّ عَلَيْهِ؟ قَالَ: لا &#8220;</div>
<div>Telah mengkhabarkan kepadaku Yuusuf bin Muusaa : Bahwasannya Abu ‘Abdillah pernah ditanya. Dan telah mengkhabarkan kepadaku ‘Aliy bin ‘Abdish-Shamad, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang tetanggaku Raafidliy yang mengucapkan salam kepadaku, apakah perlu aku jawab ?”. Ia menjawab : “Tidak” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam <em>As-Sunnah</em> no. 787; hasan].</div>
<div>6.     Al-Bukhaariy <em>rahimahullah</em> berkata :</div>
<div align="right">مَا أُبَالِي صَلَّيْتُ خَلْفَ الْجَهْمِيِّ، وَالرَّافِضِيِّ أَمْ صَلَّيْتُ خَلْفَ الْيَهُودِ، وَالنَّصَارَى، وَلا يُسَلَّمُ عَلَيْهِمْ، وَلا يُعَادُونَ، وَلا يُنَاكَحُونَ، وَلا يَشْهَدُونَ، وَلا تُؤْكَلُ ذَبَائِحُهُمْ</div>
<div>“Sama saja bagiku shalat di belakang Jahmiy dan Raafidliy, atau aku shalat di belakang Yahudi dan Nashrani. Jangan memberikan salam kepada mereka, jangan dijenguk (apabila mereka sakit), jangan dinikahi, jangan disaksikan (jenazah mereka), dan jangan dimakan sembelihan mereka” [<em>Khalqu Af’aalil-‘Ibaad</em>, 1/39-40].</div>
<div>7.     Al-Qaadliy ‘Iyaadl <em>rahimahullahu</em> berkata :</div>
<div align="right">وَكَذَلِك نقطع بتكفير غلاة الرافضة فِي قولهم إنّ الْأَئِمَّة أفضل مِن الْأَنْبِيَاء</div>
<div>“Dan begitu pula kami memastikan kafirnya <em>ghullat </em>Raafidlah tentang perkataan mereka bahwasannya para imam lebih utama dari para Nabi” [<em>Asy-Syifaa bi-Ahwaalil-Mushthafaa</em>, 2/174].</div>
<div>8.     Ibnu Hazm Al-Andaaluusiy <em>rahimahullah </em>berkata :</div>
<div align="right">وأما قولهم ( يعني النصارى ) في دعوى الروافض تبديل القرآن فإن الروافض ليسوا من المسلمين ، إنما هي فرقة حدث أولها بعد موت رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة .. وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر</div>
<div>“Adapun perkataan mereka (yaitu Nasharaa) atas klaim Raafidlah tentang perubahan Al-Qur’an (maka ini tidak teranggap), karena Raafidlah bukan termasuk kaum muslimin. Ia hanyalah kelompok yang muncul pertama kali 25 tahun setelah wafatnya Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>&#8230;. Raafidlah adalah kelompok berjalan mengikuti jalan orang Yahudi dan Nashara dalam dusta dan kekufuran” [<em>Al-Fishal fil-Milal wan-Nihal</em>, 2/213].</div>
<div>9.     Dan lain-lain.</div>
<div>Seandainya ‘ijtihad’ dua profesor : ‘Umar Syihaab dan Diin Syamsuddin tetap menghasilkan kesimpulan Syi’ah tidak sesat, Anda dapat mengira-ira siapa sebenarnya yang ia bela : Ahlus-Sunnah atau Syi’ah Raafidlah ?.</div>
<div><em>Anyway,&#8230;. </em>Syi’ah Raafidlah sering menggunakan dalih mencintai Ahlul-Bait untuk menutupi hakekat busuk ‘aqidah mereka, dan untuk menipu umat. Kecintaan mereka itu palsu. Kecintaan yang tidak diridlai oleh Ahlul-Bait sendiri. Ahlul-Bait berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dari Ahlul-Bait.</div>
<div align="right">عَنْ عَلِيَّ بْنَ حُسَيْنٍ، وَكَانَ أَفْضَلَ هَاشِمِيٍّ أَدْرَكْتُهُ، يَقُولُ: &#8221; يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِبُّونَا حُبَّ الإِسْلامِ، فَمَا بَرِحَ بِنَا حُبُّكُمْ حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا عَارًا &#8220;</div>
<div>Dari ‘Aliy bin Al-Husain – dan ia adalah seutama-utama keturunan Bani Haasyim yang aku (perawi) temui – berkata : <em>“Wahai sekalian manusia</em>[16]<em>, cintailah kami dengan kecintaan Islam. </em><em>Kecintaan kalian kepada kami senantiasa ada hingga kemudian malah menjadi aib bagi kami”</em> [<em>Ath-Thabaqaat</em>, 5/110; shahih[17]].</div>
<div align="right">عَنْ فُضَيْل بْنُ مَرْزُوقٍ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ الْحَسَنِ بْنِ الْحَسَنِ، أَخَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ يَقُولُ: &#8221; قَدْ وَاللَّهِ مَرَقَتْ عَلَيْنَا الرَّافِضَةُ كَمَا مَرَقَتِ الْحَرُورِيَّةُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ &#8220;</div>
<div>Dari Fudlail bin Marzuuq, ia berkata : Aku mendengar Ibraahiim bin Al-Hasan bin Al-Hasan, saudara ‘Abdullah bin Al-Hasan, berkata : “<em>Sungguh, demi Allah, Raafidlah telah keluar (ketaatan) terhadap kami (Ahlul-Bait) sebagaimana Al-Haruuriyyah telah keluar (ketaatan) terhadap ‘Aliy bin Abi Thaalib</em>” [Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy <em>dalam Fadlaailush-Shahaabah</em> no. 36; hasan].</div>
<div>Ibraahiim bin Al-Hasan bin Al-Hasan adalah anggota Ahlul-Bait dari jalur Al-Hasan bin ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Ibnu Hibbaan berkata : “Ia termasuk di antara pemimpin penduduk Madiinah, dan Ahlul-Bait yang mulia/agung” [<em>Masyaahir ‘Ulamaa Al-Amshaar</em>, hal. 155 no. 995].</div>
<div>Ya, kecintaan Syi’ah terhadap Ahlul-Bait telah menjadi ‘aib bagi kemuliaan Ahlul-Bait. Mereka telah melakukan banyak kedustaan atas nama Ahlul-Bait untuk merusak ‘aqidah Islam dari dalam.</div>
<div><em>Wallaahul-musta’aan</em>.</div>
<div>[abul-jauzaa’ – wonokarto, wonogiri, 5761s – 1433 H].</div>
<div></div>
<div>NB : Anda jangan mudah tertipu dengan perkataan tokoh Syi’ah dalam negeri yang katanya tidak mengkafirkan shahabat, tidak mengkafirkan kaum muslimin, Al-Qur’an tidak mengalami perubahan, dan yang lain-lain yang bertolak belakang dengan kontent tulisan ini. Ketika mereka ‘lemah’, maka topeng kedustaan <em>taqiyyah </em>mereka gunakan. Contohnya adalah perkaataan Dr. Jalaluddin Rahmat – yang dikenal dengan nama : Kang Jalal, tokoh Syi’ah Indonesia – yang menegaskan bahwa Syi’ah mengharamkan nikah mut’ah. Berikut katanya : “<em>Kami di IJABI nikah mut’ah diharamkan</em>”.[18] IJABI adalah singkatan dari Ikatan Jama’ah Ahlul-Bait Indonesia – organisasi resmi orang-orang Syi’ah di Indonesia. Sejak kapan mut’ah diharamkan oleh Syi’ah ?. Ya, sejak Kang Jalal ngomong diharamkan. Biasa, basa-basi karena takut kedok prostitusinya tercium masyarakat luas.</div>
<div>Oleh karena itu, bagi orang yang ingin tahu ‘aqidah (sesat) Syi’ah, ya langsung saja membaca buku-buku mereka yang terbitan Iran. Atau baca situs-situs asli mereka berbahasa ‘Arab, Persi, atau Inggris yang memang punya misi menyebarkan paham-paham Syi’ah. Jangan dengarkan penjelasan Kang Jalal, Quraisy Syihaab, atau ‘Umaar Syihaab karena Anda hanya akan disuguhi lawakan konyol saja, seperti perkataan Kang Jalal barusan.</div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<div>[1]      Ia menjabat sebagai <strong>salah satu</strong> ketua MUI (lihat : <a href="http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=52&amp;Itemid=54" target="_blank">http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=52&amp;Itemid=54</a><span style="text-decoration:underline;">)</span>.</div>
</div>
<div>
<div>[2]      Perkataan ini sama sekali tidak valid, sebab MUI telah memvonis kesesatan Syi’ah melalui fatwanya sebagai berikut :</div>
<div><img class="alignleft  wp-image-5560" title="Sampul buku fatwa MUI" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/sampul-buku-fatwa-mui.jpg?w=271&#038;h=203" alt="" width="271" height="203" /></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div><img class="alignleft  wp-image-5561" title="Syi'ah sesat - fatwa MUI" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/syiah-sesat-fatwa-mui.jpg?w=372&#038;h=603" alt="" width="372" height="603" /></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div><img class="alignleft  wp-image-5562" title="Syi'ah sesat - fatwa MUI2" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/syiah-sesat-fatwa-mui2.jpg?w=381&#038;h=614" alt="" width="381" height="614" /></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div>[by courtesy of : <a href="http://fakta-faktual.blogspot.com/2012/01/fatwa-resmi-mui-tentang-syiah.html">http://fakta-faktual.blogspot.com/2012/01/fatwa-resmi-mui-tentang-syiah.html</a>].</div>
<div><span style="text-decoration:underline;">Catatan :</span> Fatwa MUI di atas tidaklah mencukupi untuk menggambarkan kesesatan dan penyimpangannya dari ajaran Islam sebagaimana dijelaskan dalam bukti otentiknya di artikel ini.</div>
<div>Perkataan Umar Syihab <strong>yang mengatasnamakan MUI</strong> ini banyak diikuti oleh beberapa media. Berikut contohnya dan bukti otentik perkataan Umar Syihab : <a href="http://youtu.be/ifwcLelePQ8">http://youtu.be/ifwcLelePQ8</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[3]      <a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=294266">http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=294266</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[4]      <a href="http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=239004">http://abna.ir/data.asp?lang=12&amp;id=239004</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[5]      <a href="http://www.m-dinsyamsuddin.com/index.php?option=com_content&amp;task=bl..&amp;limitstart=15">http://www.m-dinsyamsuddin.com/index.php?option=com_content&amp;task=bl..&amp;limitstart=15</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[6]      Baca : <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/aqidah-syiah-tentang-al-quran.html">&#8216;Aqidah Syi&#8217;ah tentang Al-Qur&#8217;an</a>.</div>
<div>Baca pula artikel kami :</div>
<div><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/permainan-kata-al-khuuiy-dalam.html">Permainan Kata Al-Khuu’iy dalam Permasalahan Perubahan Al-Qur’an</a>.</div>
<div><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/03/memang-benar-ada-kitab-suci-lain-selain.html">Memang Benar Ada Kitab Suci Lain Selain Al-Qur&#8217;an di Sisi Syi&#8217;ah</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[7]      Berikut referensi Syi’ah yang memuat riwayat dusta ini :</div>
<div><a href="http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-aqaed/sh-ehqaq-01/12.htm">http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-aqaed/sh-ehqaq-01/12.htm</a></div>
</div>
<div>
<div>[8]      Orang-orang Syi’ah berusaha membuat syubhat dengan melemahkan hadits ini. Namun usaha mereka gagal, karena kenyataannya hadits ini memang shahih. Baca artikel :</div>
<div><a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/11/takhrij-hadits-al-irbaadl-bin-saariyyah.html">Takhrij Hadits Al-‘Irbaadl bin Saariyyah : Wajib Atas Kalian untuk Berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafaaur-Raasyidiin</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[9]      Ini adalah dusta yang disandarkan kepada Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>.</div>
</div>
<div>
<div>[10]     Baca artikel : <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/sekilas-tentang-pemikiran-klenik-al.html">Sekilas Tentang Pemikiran ‘Klenik’ Al-Kulainiy dalam Kitab Al-Kaafiy</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[11]     Baca artikel : <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/10/imam-lebih-tinggi-kedudukannya-dari.html">Imam Lebih Tinggi Kedudukannya dari Para Nabi</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[12]     Baca : <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/hinaan-al-khomainiy-terhadap-rasulullah.html">Hinaan Al-Khomainiy terhadap Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em></a>.</div>
</div>
<div>
<div>[13]     Baca : <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/06/syahadat-ketiga-salah-satu-produk.html">SYAHADAT KETIGA : Salah Satu Produk Kreatifitas Syi’ah</a>.</div>
</div>
<div>
<div>[14]     Admin situs nahi munkar mengatakan tujuh (<a href="http://nahimunkar.com/5243/mui-dari-10-kriteria-sesat-7-diantaranya-dimilik-syi%E2%80%99ah/">http://nahimunkar.com/5243/mui-dari-10-kriteria-sesat-7-diantaranya-dimilik-syi%E2%80%99ah/</a>).</div>
</div>
<div>
<div>[15]     Catatan saja, MUI tidak mensyaratkan terpenuhi kesepuluh kriteria itu satu kelompok atau pemahaman dikatakan sesat.</div>
</div>
<div>
<div>[16]     Dalam sebagian lafadh disebutkan : <em>Wahai penduduk ‘Iraaq</em>’ atau ‘<em>Wahai penduduk Kuufah</em>’.</div>
</div>
<div>
<div>[17]     Baca uraian riwayatnya dalam artikel : <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/islam-dan-ahlul-bait-menolak-kecintaan.html">Islam dan Ahlul-Bait Menolak Kecintaan ‘Berhala’ <em>ala</em> Syi’ah</a>.</div>
</div>
<p>[18]     Sumber : <a href="http://news.okezone.com/read/2011/12/31/337/549808/organisasi-syiah-indonesia-bantah-bolehkan-nikah-mut-ah">http://news.okezone.com/read/2011/12/31/337/549808/organisasi-syiah-indonesia-bantah-bolehkan-nikah-mut-ah</a>  dan <a href="http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17124-ijabi-berdusta-katakan-syiah-haramkan-nikah-mutah.html">http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17124-ijabi-berdusta-katakan-syiah-haramkan-nikah-mutah.html</a>.</p>
<p><strong>Dipublikasi ulang dari : http://abul-jauzaa.blogspot.com/</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/firqoh/'>Firqoh</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/manhaj/'>Manhaj</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5535/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5535&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/syiah-itu-sesat-juragan-sebuah-masukan-untuk-bapak-profesor-umar-syihab-dan-bapak-profesor-din-syamsuddin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/syiah-sesat-copy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">syiah-sesat copy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/sampul-buku-fatwa-mui.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sampul buku fatwa MUI</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/syiah-sesat-fatwa-mui.jpg?w=185" medium="image">
			<media:title type="html">Syi&#039;ah sesat - fatwa MUI</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/syiah-sesat-fatwa-mui2.jpg?w=186" medium="image">
			<media:title type="html">Syi&#039;ah sesat - fatwa MUI2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini Dalilnya (2): Jadikan Manhaj Salaf Sebagai Rujukan</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 01:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Radd ( Bantahan )]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5555</guid>
		<description><![CDATA[Ini Dalilnya (2): Jadikan Manhaj Salaf Sebagai Rujukan Kata ‘salaf’ secara bahasa berarti sesuatu yang telah lampau. Berikut ini kami nukilkan definisi ‘salaf’ dari beberapa kamus bahasa Arab yang kredibel [1]) ; Ibnul Atsir -rahimahullah- mengatakan: وَقِيْلَ سَلَفُ الإِنْسَانِ مَنْ تَقَدَّمَهُ بِالْمَوْتِ مِنْ آبَائِهِ وَذَوِي قَرَابَتِهِ وَلِهَذَا سُمِّيَ الصَّدْرُ الأَوَّلُ مِنْ التَّابِعِينَ السَّلَفَ الصَّالِحَ. {النهاية [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5555&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ini Dalilnya (2): Jadikan Manhaj Salaf Sebagai Rujukan</strong></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-5556" title="apbyndjg" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/apbyndjg2.jpg?w=205&#038;h=300" alt="" width="205" height="300" /></p>
<p>Kata <em>‘salaf’</em> secara bahasa berarti <em>sesuatu yang telah lampau</em>. Berikut ini kami nukilkan definisi <em>‘salaf’</em> dari beberapa kamus bahasa Arab yang kredibel <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn1">[1]</a><sup>)</sup> ;</p>
<p>Ibnul Atsir -<em>rahimahullah</em>- mengatakan:</p>
<p dir="RTL" align="center">وَقِيْلَ سَلَفُ الإِنْسَانِ مَنْ تَقَدَّمَهُ بِالْمَوْتِ مِنْ آبَائِهِ وَذَوِي قَرَابَتِهِ وَلِهَذَا سُمِّيَ الصَّدْرُ الأَوَّلُ مِنْ التَّابِعِينَ السَّلَفَ الصَّالِحَ<strong>.</strong> {النهاية في غريب الأثر – (ج 2 / ص 981)}</p>
<p><em>“Salaf seseorang juga diartikan sebagai siapa saja yang mendahuluinya (meninggal lebih dahulu), baik dari nenek moyang maupun sanak kerabatnya. Karenanya, generasi pertama dari kalangan tabi’in dinamakan As Salafus Shaleh”<strong> <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></strong></em><strong><sup>)</sup></strong></p>
<p>Perhatikanlah firman-firman Allah berikut:</p>
<p align="center"><em>“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau…” (Q.S. An Nisa’:22).</em></p>
<p align="center"> <em>Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu :”Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu” (Q.S. Al Anfal:38).</em><em></em></p>
<p>Jadi, ‘<em>Salaf </em>’ artinya mereka yang telah berlalu. Sedangkan kata ‘<em>shaleh’</em> artinya baik. Maka <em>‘As Salafus Shaleh’</em> maknanya <strong>secara bahasa</strong> ialah setiap orang baik yang telah mendahului kita. Sedangkan <strong>secara istilah</strong>, maknanya ialah tiga generasi pertama dari umat ini, yang meliputi para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.</p>
<p>Dalam kitab <em>Al Wajiez fi ‘Aqidatis Salafis Shalih Ahlissunnah wal Jama’ah</em>, Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary mengatakan sebagai berikut:</p>
<p dir="RTL">وَفِي الاِصْطِلاَحِ : إِذَا أُطْلِقَ <strong>(( </strong>السَّلَفُ <strong>))</strong> عِنْدَ عُلَمَاءِ الاِعْتِقَادِ فَإِنَّمَا تَدُورُ كُلُّ تَعْرِيْفَاتِهِمْ حَوْلَ الصَّحَابَةِ، أَوِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، أََوِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيْهِمْ مِنَ الْقُرُوْنِ الْمُفَضَّلَةِ ؛ ِمنَ الأَئِمَّةِ الأَعْلاَمِ الْمَشْهُودِ لَهُمْ بِالإِمَامَةِ وَالفَضْلِ وَاتِّبَاعِ السُّنَّةِ وَالإِمَامَةِ فِيهَا ، وَاجْتِنَابِ الْبِدْعَةِ وَالْحَذَرِ مِنْهَا، وَمِمَّنْ اتَّفَقَتِ الأُمَّةُ عَلىَ إِمَامَتِهِمْ وَعَظِيْمِ شَأْنِهِمْ فِي الدِّيْنِ ، وَلِهَذَا سُمِّيَ الصَّدْرُ الأَوَّلُ بِالسَّلَفِ الصَّالِحِ. (الوجيز 1/15)</p>
<p>Secara istilah; kata ‘salaf’ jika disebutkan secara mutlak (tanpa embel-embel) oleh ulama aqidah, maka definisi mereka semuanya berkisar pada <strong>para sahabat; atau sahabat dan tabi’in; atau sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dari generasi-generasi terbaik. Termasuk diantaranya para Imam yang terkenal dan diakui keimaman dan keutamaannya serta keteguhan mereka dalam mengikuti sunnah, menjauhi bid’ah, dan memperingatkan orang dari padanya. Demikian pula orang-orang (lainnya) yang telah disepakati akan keimaman dan jasa besar mereka dalam agama</strong>. Karenanya, generasi pertama dari umat ini dinamakan <em>As Salafus Shalih</em> (<em>Al Wajiez</em> hal 15).<span id="more-5555"></span></p>
<p>Demikian pula yang dinyatakan oleh Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafy dalam kitabnya <em>‘Syarh Aqidah At Thahawiyah’</em>:</p>
<p dir="RTL">…هَذَا قَوْلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ ، وَهُمُ السَّلَفُ الصَّالِحُ…</p>
<p>“…Ini adalah pendapat <strong>para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik</strong>. Dan <strong>mereka lah As Salafus Shaleh</strong>…” <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Kalau saudara bertanya: Mana dalilnya yang mengharuskan kita mengikuti pemahaman mereka? Maka kami jawab, ini dalilnya;<strong></strong></p>
<p><strong>1.       </strong><strong>Dari Al Qur’anul Kariem:</strong></p>
<p><strong>Ayat Pertama</strong></p>
<p><em>Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. <strong>dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min</strong>, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali</em><em> </em>(QS. 4:115).</p>
<p><strong>Penjelasannya:</strong></p>
<p>Cobalah anda renungkan kalimat yang bercetak tebal di atas. Bukankah Allah telah menyatakan bahwa diantara sebab tersesatnya seseorang ialah karena ia mengikuti jalan yang lain dari jalan orang-orang beriman (<em>ghaira sabilil mu’minin</em>)? Pertanyaannya; siapakah orang-orang beriman yang dimaksud oleh ayat ini? <strong>Jelas bahwa orang-orang yang pertama kali masuk dalam kategori ayat ini ialah mereka yang telah beriman saat ayat ini diturunkan… mereka lah para sahabat Rasulullah</strong> e.</p>
<p>Karenanya Imam Syafi’i berdalil dengan ayat ini bahwa ijma’nya para sahabat adalah <em>hujjah</em> (dalil), dan barangsiapa menyelisihi ijma’ mereka berarti termasuk orang-orang yang terancam oleh ayat di atas <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p><strong>Ayat Kedua</strong></p>
<p><em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) <strong>dari kalangan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik</strong>, <strong>Allah</strong> <strong>telah</strong> <strong>ridha kepada mereka</strong> dan mereka pun ridha kepada-Nya; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar</em> (QS. 9:100).</p>
<p><strong>Penjelasannya:</strong></p>
<p><strong></strong>Dalam ayat ini sangat jelas bahwa Allah telah meridhai para sahabat dari kalangan muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka semua (muhajirin &amp; anshar) telah dijamin surga oleh-Nya. Lantas mengapa kita mencari teladan selain mereka yang belum tentu masuk surga dan selamat dari neraka??  Padahal di hadapan kita telah terbentang jalan yang terang benderang menuju Surga dan keridhaan Allah… <strong>Jalan manakah yang lebih baik dari jalan mereka…?!</strong></p>
<p><strong>Masihkah kita meyakini bahwa ada golongan lain yang lebih rajin beribadah, dan lebih bertakwa dari mereka?</strong> Mungkinkah kita akan mendapati sebuah amal shaleh yang belum mereka ketahui? Patutkah kita mencurigai atau menyangsikan keseriusan mereka dalam mengamalkan setiap yang baik…? Ataukah semestinya kita mencurigai siapa pun yang datang setelah mereka, bila ia mengada-adakan suatu praktik ibadah yang belum pernah mereka lakukan… Bagaimana menurut pembaca?</p>
<p><strong>Ayat Ketiga:</strong></p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan <strong><em>hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar</em></strong> (QS. 9:119)</p>
<p><strong>Ayat Keempat:</strong></p>
<p><em>Bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong</em><em> </em><em>Allah dan Rasul-Nya. <strong>Mereka itulah orang-orang yang benar</strong>. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung</em> (QS. 59: 8-9).</p>
<p><strong>Penjelasan ayat ketiga dan keempat:</strong></p>
<p><strong></strong>Dalam dua ayat ini Allah memerintahkan semua orang yang beriman agar bersama dengan <strong>orang-orang yang benar</strong> (<em>ash shaadiquun</em>), kemudian Dia menjelaskan bahwa orang-orang yang benar tersebut ialah para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Sedang dalam kaidah ushul fiqih, setiap perintah itu hukumnya wajib hingga ada dalil lain yang menggesernya menjadi <em>mustahab</em> (sunnah) atau mubah, dan dalil tersebut tidak ada. Kesimpulannya, kita wajib mengikuti jalan mereka.</p>
<p><strong>Ayat Kelima:</strong></p>
<p><em>Jika mereka beriman <strong>dengan apa yang kalian beriman dengannya</strong>, berarti mereka telah mendapat petunjuk…</em> (QS. 2:137).</p>
<p><strong>Penjelasan ayat kelima:</strong></p>
<p><strong>            </strong>Konteks ayat ini selengkapnya merupakan bantahan terhadap klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengatakan bahwa barangsiapa mengikuti mereka niscaya akan mendapat petunjuk (ayat 135). Maka Allah membantah klaim mereka tersebut, kemudian memerintahkan mereka untuk mengatakan: kami beriman kepada Allah, beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami,…. dan seterusnya (ayat 136). Kemudian Allah menentukan hakikat keimanan tadi; <strong>Jika mereka beriman dengan apa yang kalian beriman dengannya<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn5"><strong>[5]</strong></a><sup>)</sup>, maka mereka telah mendapat petunjuk.</strong> Yang dimaksud dengan kata ‘<strong>kalian’</strong> di sini ialah <strong>para sahabat</strong>.</p>
<p>Jadi, jelas sekali bahwa jalan satu-satunya untuk mendapatkan petunjuk ialah dengan mengikuti manhaj para salaf, terutama generasi sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>.</p>
<p><strong>Ayat Keenam:</strong></p>
<p><em>Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min <strong>dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka lebih berhak dengan kalimat taqwa itu dan merekalah ahlinya</strong>. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu</em> (QS. 48:26).</p>
<p><strong>Penjelasan ayat keenam:</strong></p>
<p><strong></strong>Ayat ini menyingkap bagi kita akan arti takwa yang sesungguhnya, sekaligus menjelaskan bahwa para sahabatlah yang paling bertaqwa. Perhatikanlah ayat di atas bahwa yang memberi “stempel ahli taqwa” bukanlah manusia, jin, ataupun makhluk lainnya… tetapi Pencipta alam semesta; Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Namun sayangnya, masih banyak orang yang berat menerima pengertian ini. Mereka merasa ada banyak cara untuk bertakwa kepada Allah yang terluputkan oleh para sahabat.</p>
<p><strong> </strong><strong>2.      </strong><strong>Dalil dari As Sunnah</strong></p>
<p>Berikut ini beberapa hadits yang menjadi landasan dalam bermanhaj salafus shaleh;</p>
<p dir="RTL">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ  قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ…  أخرجه البخاري ( 2652, 3651, 6429) و مسلم ( 2533 )</p>
<p>Dari Abdullah (ibnu Mas’ud) <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, katanya: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <strong><em>“Sebaik-baik manusia ialah mereka yang hidup di zamanku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelahnya lagi</em></strong><em>…”</em> (H.R. Bukhari no 2652,3651,6429; dan Muslim no 2533).</p>
<p dir="RTL">عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ رَبِّ الْكَعْبَةِ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ فَأَتَيْتُهُمْ فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ  في سَفَرٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا فَمِنَّا مَنْ يُصْلِحُ خِبَاءَهُ وَمِنَّا مَنْ يَنْتَضِلُ وَمِنَّا مَنْ هُوَ فِي جَشَرِهِ إِذْ نَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ  الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَاجْتَمَعْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ  فَقَالَ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا … الحديث</p>
<p>Dari Abdurrahman bin Abdi Rabbil Ka’bah katanya: Sewaktu aku masuk ke masjidil haram, kudapati Abdullah bin Amru bin Ash  sedang duduk berteduh di bawah ka’bah, sedangkan di sekelilingnya ada orang-orang yang berkumpul mendengarkan ceritanya. Lalu aku ikut duduk di majelis itu dan kudengar ia mengatakan: “Pernah suatu ketika kami bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam suatu safar. Ketika kami singgah di sebuah tempat, diantara kami ada yang sibuk membenahi kemahnya, ada pula yang bermain panah, dan ada yang sibuk mengurus hewan gembalaannya. Tiba-tiba penyeru Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berseru lantang: “Ayo… mari shalat berjamaah!!” maka segeralah kami berkumpul di tempat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu beliau bersabda: <em>“Sesungguhnya tak ada seorang Nabi  pun sebelumku, melainkan wajib baginya untuk menunjukkan umatnya akan setiap kebaikan yang ia ketahui; dan memperingatkan mereka dari setiap kejahatan yang ia ketahui. <strong>Sesungguhnya umat kalian ini ialah umat yang keselamatannya ada pada generasi awalnya; sedangkan generasi akhirnya akan mengalami bala’ dan berbagai hal yang kalian ingkari</strong></em>… al hadits” (H.R. Muslim no 1844).</p>
<p>Kami rasa dua hadits di atas cukup jelas maknanya bagi para pembaca. Jadi, jelaslah bahwa generasi awal (As Salafus Shaleh) dari umat ini, ialah generasi terbaik yang terpelihara dari fitnah-fitnah besar yang menimpa umat ini di kemudian hari. Maka wajar jika manhaj mereka yang paling dekat kepada kebenaran, dan paling terjaga dari penyimpangan. Kemudian disusul oleh generasi kedua dan ketiga.</p>
<p>Berangkat dari sini, maka setiap praktik ibadah yang muncul sepeninggal mereka harus kita waspadai. Janganlah terkecoh dengan banyaknya pengikut, karena jumlah yang banyak bukanlah jaminan sebuah kebenaran.</p>
<p align="center"> <strong>Mutiara Hikmah As Salafus Shaleh</strong></p>
<p>Sebagai pelengkap, berikut ini adalah wasiat-wasiat berharga dari para salaf yang lebih memperjelas akan pentingnya <em>ittiba’</em> (mengikuti) dan bahayanya <em>ibtida’</em> (membuat bid’ah). Sebagian besar mutiara hikmah ini kami nukil dari kitab <em>Al Wajiez fi Aqidatis Salafis Shaleh Ahlissunnah wal Jama’ah</em>, oleh syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsary -<em>hafidhahullah</em>- jilid 1 hal 153-160.</p>
<ol start="1">
<li><strong>Hudzaifah ibnul Yaman </strong><strong> :</strong><strong></strong></li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أََصْحَابُ رَسُولِ اللهِ  فلاَ تَتَعَبَّدُوْا بِهَا ؛ فإَِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخِرِ مَقَالاً ؛ فَاتَّقُوا اللهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ ، خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ </strong></p>
<p dir="RTL" align="center"><strong>(</strong>رواه ابن بطة في الإبانة<strong>)</strong></p>
<p>“Setiap ibadah yang tidak pernah diamalkan oleh para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, janganlah kalian beribadah dengannya. Karena generasi pertama tak menyisakan komentar bagi yang belakangan. Maka takutlah kepada Allah wahai orang yang gemar beribadah, dan ikutilah jalan orang-orang sebelummu” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam <em>Al Ibanah</em>).</p>
<p><strong>2.      </strong><strong>Abdullah bin Mas’ud</strong>:</p>
<p dir="RTL" align="center"><strong>مَنْ كان مُسْتنَاًّ فَلْيَسْتَنِّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ  كَانُوا خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ ، وَأَبَرَّهَا قُلُوباً ، وَأََعْمَقَها عِلْماً ، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا ، قَوْمٌ اِخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَة نَبِيِّهِ  وَنَقْلِ دِيْنِهِ فَتَشَبَّهُوْا بِأََخْلاَقِهِمْ وَطَرَائِقِهِمْ ؛ فَهُمْ كَانُوا عَلَى الهَدْيِ المُسْتَقِيمِ  </strong><strong>(</strong>أخرجه البغوي في شرح السنة<strong>)</strong><strong></strong></p>
<p>“Siapa yang ingin mengikuti ajaran tertentu, hendaklah ia mengikuti ajaran orang yang telah wafat, yaitu para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Mereka ialah sebaik-baik umat ini. Hati mereka paling baik, ilmu mereka paling dalam, dan mereka paling tidak suka berlebihan (<em>takalluf</em>) dalam beragama. Merekalah kaum yang dipilih Allah untuk menjadi pendamping Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan menyampaikan dien-Nya. Maka tirulah akhlak dan tingkah laku mereka, karena mereka selalu berada di atas petunjuk yang lurus” (Diriwayatkan oleh Al Baghawi dalam <em>Syarhus Sunnah</em>).</p>
<p>Beliau juga mengatakan:</p>
<p dir="RTL" align="center"><strong> اِتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيْتُمْ ؛ عَلَيْكُمْ بِالأََمْرِ العَتِيْقِ </strong><strong>(</strong>أخرجه الدارمي في سننه<strong>)</strong></p>
<p>“Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah, karena kalian telah dicukupi. Hendaklah kalian berpegang teguh dengan perkara yang terdahulu” (Diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam <em>Sunan</em>-nya).</p>
<ol start="3">
<li><strong>Umar ibnul Khatthab</strong>:</li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>وَعَنْ عَابِسٍ بْنِ رَبِيْعَةَ ، قاَلَ : رَأََيْتُ عُمَرَ بْنَ الخْطَاَّبِ  يُقبِّلُ الحَجَرَ- يَعْنِي الأَسْوَدَ- وَيَقُوْلُ : إِنِّي لأَعْلَمُ أََنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وُلاَ تَنْفَعُ ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ الله ِ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلتُكَ </strong></p>
<p dir="RTL" align="center"><strong>(</strong>متفق عليه<strong>)</strong></p>
<p>Dari ‘Aabis bin Rabi’ah, katanya: Aku melihat ‘Umar ibnul Khatthab <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mencium Hajar Aswad seraya berkata: “Aku tahu pasti, bahwa engkau hanyalah sebuah batu yang tak dapat memberi madharat maupun manfaat. Kalaulah bukan karena aku melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menciummu, kau tak akan kucium!” (Muttafaq ‘Alaih)<a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn6"><strong><strong>[6]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p dir="RTL" align="center"> <strong>عَنْ أَبِي الْعَلاَءِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ شِخِّيْرٍ قَالَ : عَطَسَ رَجُلٌ عِنْدَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ : اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ، فَقَالَ عُمَرُ : وَعَلَيْكَ وَعَلىَ أٌمِّكَ ، أَمَا يَعْلَمُ أَحَدُكُمْ مَا يَقُوْلُ إِذَا عَطَسَ ؟ إِذَا عَطَسَ أَحَدَكُمْ فَلْيَقُلْ : اَلْحَمْدُ ِللهِ ، وَلْيَقُلِ الْقَوْمُ : يَرْحَمُكَ اللهُ ، وَلْيَقُلْ هُوَ : يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ</strong></p>
<p dir="RTL" align="center">(رواه عبد الرزاق في المصنف, 10/451-452, رقم 19677؛ و البيهقي في شعب الإيمان 39, فصل فيما يقول العاطس في جواب التشميت, رقم 9030).</p>
<p>Dari Abul ‘Ala’ bin Abdillah bin Syikhkhir, katanya: “Ada seseorang bersin di samping Umar bin Khatthab t, lalu mengucapkan: <strong><em>“Assalaamu ‘alaika…”</em></strong>, maka sahut ‘Umar: <strong><em>“Alaika wa ‘ala ummik</em></strong>…! Apa kalian tidak tahu apa yang musti diucapkan ketika bersin? Kalau kalian bersin hendaknya mengucapkan: <strong><em>“Alhamdulillah”</em></strong>, sedang yang mendengar mengucapkan: <strong><em>“Yarhamukallaah”</em></strong>  lalu yang bersin membalas: <strong><em>“Yaghfirullaahu lakum”</em></strong> (H.R. Abdurrazzaq dalam <em>Mushannaf</em>-nya, dan Al Baihaqy dalam <em>Syu’abul Iman</em>).</p>
<p>Hadits yang senada juga diriwayatkan dari sahabat Salim bin ‘Ubeid:</p>
<p dir="RTL"> <strong>أَنَّهُ كَانَ مَعَ الْقَوْمِ فِي سَفَرٍ فَعَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالَ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمِّكَ- وَعِنْدَ الطَّحَاوِي فِي مُشْكِلِ الآثَارِ: مَا شَأْنُ السَّلاَمِ وَشَأْنُ مَا هَاهُنَا ؟- </strong>، <strong>ثُمَّ قَالَ بَعْدُ : لَعَلَّكَ وَجَدْتَ مِمَّا قُلْتُ  لَكَ ؟ قَالَ: لَوَدِدْتُ أَنَّكَ لَمْ تَذْكُرْ أُمِّي بِخَيْرٍ وَلَا بِشَرٍّ قَالَ : إنَّمَا قُلْتُ لَكَ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ إنَّا بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقَالَ : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  وَعَلَيْكَ وَعَلَى أُمِّكَ ثُمَّ قَالَ : إذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ الْحَدِيث } وَرَوَاهُ أَحْمَدُ وَفِي لَفْظٍ { فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ، أَوْ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }. </strong>رواه أبو داود والترمذي وأحمد وابن حبان في صحيحه</p>
<p>Bahwa ketika beliau bersama rombongannya dalam sebuah safar, ada seseorang yang bersin lantas mengucap: <strong><em>“Assalaamu ‘alaikum!”</em></strong>, maka sahut Salim: <strong><em>“Alaika wa ‘ala ummik <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn7"><strong>[7]</strong></a>”</em></strong> –dalam riwayat Ath Thahawy ditambahkan: “Apa hubungannya antara salam dengan orang bersin?”– Kemudian Salim berkata lagi: <em>“Nampaknya kau tersinggung dengan ucapanku barusan…?”</em> jawabnya: <em>“Ya… andai saja kau tak menyebut-nyebut ibuku tadi…”</em> lalu kata Salim: <em>“Aku tak mengucapkan lebih dari yang diucapkan Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em><em>… suatu ketika kami sedang bersama beliau </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> tatkala ada orang yang bersin dan mengucapkan: <strong>“Assalaamu ‘alaikum..”</strong> maka Rasulullah </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> menjawab: <strong>“Alaika wa ‘ala ummik…”</strong> lalu lanjutnya: “Kalau kalian bersin hendaklah mengucapkan: <strong>“Alhamdulillah”</strong> atau <strong>“Alhamdulillahi ‘ala kulli haal”</strong> atau: <strong>“Alhamdulillahi rabbil ‘alamien”</strong> </em>(H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ath Thahawy).</p>
<ol start="4">
<li><strong>Abdullah bin Umar</strong>:</li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong> كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ؛ وَإِنْ رَآهاَ النَّاسُ حَسَنَةً </strong><strong>(</strong>رواهما اللالكائي في شرح أصول الاعتقاد<strong>)</strong><strong></strong></p>
<p>“Semua bid’ah adalah kesesatan, meski orang-orang menilainya baik (bid’ah hasanah)” (Diriwayatkan oleh Al Laalaka-i dalam <em>Syarh Ushulil I’tiqad</em>) <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn8"><strong><strong>[8]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p dir="RTL" align="center"> <strong>قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ  لمن سأله عن مسألةٍ ، وقال له : إِن أَباك نهى عنها: أَأَمْرُ رَسُوْلِ اللهِ   أََحَقُّ أََنْ يُتَّبَعَ ، أََوْ أََمْرُ أَبِي؟! </strong><strong>(</strong>زاد المعاد<strong>)</strong></p>
<p>Ketika ada seseorang yang mengatakan kepada Abdullah bin ‘Umar : “Sesungguhnya ayahmu (Umar bin Khatthab) melarang hal itu”. Ibnu Umar balik bertanya: “Perintah siapakah yang lebih berhak untuk ditaati, perintah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atau perintah ayahku??” (<em>Zaadul Ma’aad</em> 2/178).</p>
<p>Ibnu Umar memang terkenal sebagai sahabat yang paling ittiba’ kepada sunnah dan  anti bid’ah. Imam At Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya:</p>
<p>Dari Nafi’ katanya; ada seseorang yang bersin di samping Ibnu Umar lantas mengatakan: <strong><em>Alhamdulillah was salaamu ‘ala Rasuulillaah!</em> </strong> Maka Ibnu ‘Umar  mengatakan: “Aku pun mengatakan: <strong><em>Alhamdulillah was salaamu ‘ala Rasuulillaah,</em></strong> tapi bukan begitu yang Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ajarkan kepada kami (ketika bersin). Beliau mengajarkan kami agar mengucapkan <strong><em>Alhamdulillaahi ‘ala kulli haal</em>”</strong> <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn9"><strong><strong>[9]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup>.<em><br />
</em></strong></p>
<ol start="5">
<li><strong>Abdullah bin ‘Abbas</strong> :</li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- لِمَنْ عَارَضَ السُّنَّةَ ؛ بِقَوْلِ أََبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : يُوشكُ أَنْ تَنـْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ ؛ أََقُوْلُ لَكُمْ : قَالَ رَسُولُ اللهِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلََى آلِهِ وَسَلَّمَ- وَتَقُوْلُوْنَ : قاَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ </strong> (رواه عبد الرزاق في المصنف بسند صحيح)</p>
<p>Beliau mengatakan kepada orang yang menolak Sunnah Nabi dengan perkataan Abu Bakar dan Umar: “Hampir saja hujan batu menimpa kalian…!! Kukatakan bahwa: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda begini dan begitu…” namun kalian malah mengatakan: “Abu Bakar dan Umar mengatakan begini dan begitu…!!” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani dalam <em>Mushannaf</em>-nya dengan sanad shahih) <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn10"><strong><strong>[10]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<ol start="6">
<li><strong>Mu’adz bin Jabal</strong></li>
</ol>
<p>Dirwayatkan dari Yazid bin ‘Umairah -salah seorang sahabat Mu’adz– bahwa Mu’adz bin Jabal  dalam setiap majelisnya selalu mengatakan: “Allah itu bijaksana dan Maha Adil. Celakalah orang-orang yang ragu…”. Kemudian pada suatu hari Mu’adz mengatakan: “Sesungguhnya di belakang kalian akan ada fitnah yang banyak…. Saat itu harta melimpah ruah, Al Qur’an dibaca beramai-ramai oleh orang mu’min maupun munafik, wanita maupun anak-anak, dan hamba sahaya maupun orang merdeka… sampai-sampai ada yang mengatakan: “Mengapa orang-orang tak mau mengikutiku, padahal aku telah membaca Al Qur’an? Sungguh, mereka memang tidak mau mengikutiku sampai aku membikin bid’ah yang lain bagi mereka…”. <strong>Maka waspadalah kalian dari bid’ah yang diperbuatnya, karena setiap bid’ah itu sesat.</strong> Dan waspadalah kalian dari <strong>kesesatan orang bijak</strong>… karena Syaithan kadang menyampaikan kesesatan melalui lisan si Bijak; dan kadang si Munafik mengatakan yang haq”. Maka tanyaku: “Semoga Allah merahmatimu… lantas bagaimana aku tahu bahwa si Bijak menyampaikan kesesatan, dan si Munafik berkata benar?” “Bisa…” jawab Mu’adz. “Yaitu ketika si Bijak mengatakan sesuatu yang jelas-jelas batil; hingga kamu mengatakan: “Omongan apa ini !?” Namun jangan sampai hal itu menjauhkanmu darinya; karena boleh jadi ia segera bertaubat dan kembali kepada kebenaran… Maka terimalah al haq begitu kamu mendengarnya, karena dalam al haq itu terdapat cahaya” <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn11"><strong><strong>[11]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Makna kesesatan orang bijak (<strong>زيغة الحكيم</strong>), sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab <em>‘Aunul Ma’bud</em> ialah:</p>
<p dir="RTL">أَيْ اِنْحِرَاف الْعَالِم عَنْ الْحَقّ. وَالْمَعْنَى أُحَذِّركُمْ مِمَّا صَدَرَ مِنْ لِسَان الْعُلَمَاء مِنْ الزَّيْغَة وَالزَّلَّة وَخِلَاف الْحَقّ فَلَا تَتَّبِعُوهُ  (عون المعبود شرح سنن أبي داود, كتاب السنة, باب: لزوم السنة)</p>
<p>(Yaitu) menyimpangnya seorang ‘alim dari al haq. Jadi maksud ucapan Mu’adz ialah: “Kuperingatkan kalian akan penyimpangan, kekeliruan dan pernyataan yang tidak benar, yang muncul dari lisan para ‘ulama; jangan sampai kalian mengikutinya” <em>(‘Aunul Ma’bud</em>, lihat pada syarah hadits di atas).</p>
<ol start="7">
<li><strong>Abdullah bin Mas’ud</strong></li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>وَإِيَّاكُمْ وَالْمُحْدَثَاتِ؛ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ </strong><strong>(</strong>إعلام الموقعين 2/428)</p>
<p>“Waspadailah setiap yang baru (dalam agama), karena sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan dalam agama, dan setiap bid’ah itu sesat” (<em>I’laamul Muwaqqi’in</em> 2/428).</p>
<ol start="8">
<li><strong>Sufyan Ats Tsaury -rahimahullah-</strong></li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>البِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ المَعْصِيَةِ ، المَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا ، وَالبِدْعَةُ لاَ يتُاَبُ مِنْهَا</strong></p>
<p dir="RTL" align="center"><strong> (</strong>أخرجه البغوي في شرح السنة<strong>)</strong></p>
<p>“Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis dari pada kemaksiatan. Dosa maksiat masih ada harapan taubat, tapi dosa bid’ah tidak ada harapan taubat” <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn12"><strong><strong>[12]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> (Diriwayatkan oleh Al Baghawy dalam <em>Syarhus Sunnah</em>).</p>
<ol start="9">
<li><strong>Abdullah ibnul Mubarak -<em>rahimahullah</em>-</strong></li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>اِعْلَمْ- أَيْ أََخِي- أَنَّ المَوْتَ اليَوْمَ كَرَامَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ لَقِيَ اللهَ عَلىَ السُّنَّةِ ، فَإِناَّ لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ ؛ فَإِلَى اللهِ نَشْكُوْ وَحْشَتَناَ ، وَذَهَابَ الإِخْوَانِ ، وَقِلَّّةَ الأَعْوَانِ ، وَظُهُوْرَ الْْبِدَعِ ، وَإِلىَ اللهِ نَشْكُوْ عَظِيْمَ مَا حَلَّ بِهَذِهِ الأُمَّةِ مِنْ ذَهَابِ الْعُلَمَاءِ ، وَأََهْلِ السُّنَّةِ ، وَظُهُوْرِ الْبِدَعِ </strong></p>
<p dir="RTL" align="center"><strong>(</strong>البدع والنهي عنها لابن وضاح<strong>)</strong></p>
<p>“Saudaraku, ketahuilah bahwa kematian hari ini adalah <em>karamah</em> (kemuliaan) bagi setiap muslim yang menghadap Allah di atas Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kita semua adalah milik Allah, dan kita semua akan kembali kepada-Nya. Kepada Allah lah kita mengadukan kesendirian kita, mangkatnya saudara kita, sedikitnya penolong kita,  dan kemunculan bid’ah di mana-mana. Kepada-Nya jua kita mengeluh akan besarnya musibah yang menimpa umat ini, karena mangkatnya para ulama dan pengikut sunnah, serta munculnya berbagai bid’ah” (<em>Al Bida’u wan Nahyu ‘Anha</em> oleh Ibnu Wadhdhah).</p>
<ol start="10">
<li><strong>Al Fudhail bin ‘Iyadh -<em>rahimahullah</em>-</strong></li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>اِتَّبِعْ طُرُقَ الهُدَى وَلاَ يَضُرُّكَ قلَِّةُ السَّالِكِينَ ، وَإِياَّكَ وَطُرُقَ الضَّلاَلَةِ ، وَلاَ تَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ </strong><strong>(</strong>الاعتصام<strong>)</strong></p>
<p>“Ikutilah jalan-jalan petunjuk, dan janganlah risau dengan sedikitnya pengikut. Tapi waspadailah jalan-jalan kesesatan, dan janganlah terkecoh dengan banyaknya orang celaka” (<em>Al I’tisham</em>).</p>
<ol start="11">
<li><strong>Amirul Mukminin Umar bin ‘Abdul ‘Aziez -<em>rahimahullah</em>-</strong></li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>قِفْ حَيْثُ وَقَفَ القَوْمُ ، فَإِنَّهُمْ عَنْ عِلْمٍ وَقَفُوا ، وَبِبَصَرٍ ناَفِذٍ كَفُّوْا ، وَهُمْ عَلَى كَشْفِهَا كَانُوا أَقْوَى ، وَبِالْفَضْلِ لَوْ كَانَ فِيْهَا أََحْرَى ، فَلَئِنْ قُلْتُمْ : حَدَثَ بَعدَهُمْ ؛ فَمَا أََحْدَثهُ إِلاَّ مَنْ خَالَفَ هَدْيَهُمْ ، وَرَغِبَ عَنْ سُنَّتِهِمْ ، وَلَقَدْ وَصَفُوا مِنْهُ مَا يُشْفِي ، وَتَكَلَّمُوا مِنْهُ بِمَا يَكْفِي ، فَمَا فَوْقَهُمْ مُحَسِّرٌ وَمَا دُوْنَهُمْ مُقَصِّرٌ ، لَقَدْ قَصَرَ عَنْهُمْ قَومٌ فَجَفَوْا وَتجَاوَزَهُم آخَرُوْنَ فَغَلَوْا ، وَإِنَّهُمْ فِيْماَ بَيْنَ ذَلِكَ لَعَلىَ هُدًى مُسْتَقَيْمٍ </strong>(أورده ابن قدامة في لمعة الاعتقاد)<strong></strong></p>
<p>“Berhentilah saat mereka (para salaf) berhenti. Karena mereka berhenti berdasarkan ilmu. Mereka menahan diri setelah berpikir jeli. Padahal merekalah yang lebih mampu untuk menyingkap setiap masalah, dan lebih gencar tuk mengejar setiap fadhilah. Kalau kalian berkata: “Banyak hal baru (dalam agama) yang muncul setelah mereka…” ingatlah, bahwa hal tersebut tidak dimunculkan kecuali oleh mereka yang menyelisihi pentunjuk salaf, dan menolak ajaran mereka. Para salaf telah menjelaskan agama segamblang-gamblangnya, dan menerangkannya sejelas mungkin. Siapa yang mendahului mereka akan menyesal, dan siapa yang berada di bawah mereka berarti pemalas. Sungguh, orang-orang yang berada dibawah mereka akhirnya gagal, namun yang ingin mengungguli mereka justru melampaui batas, sedangkan mereka (para salaf) tetap berada di antara keduanya, di atas jalan yang lurus” (disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam <em>Lum’atul I’tiqad</em>).</p>
<ol start="12">
<li><strong>Al Imam Ahmad bin Hambal -<em>rahimahullah</em>-</strong></li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>قَالَ الإِمَامُ أََحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ ؛ إِمَامُ أَهْلِ السُّنَّةِ رَحِمَهُ اللهُ : أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَناَ : اَلتَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أََصْحَابُ رَسُولِ اللهِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَسَلَّمَ- وَالاِقْتِدَاءُ بِهِمْ ، وَتَرْكُ الْبِدَعِ ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلاَلَةٌ </strong><strong>(</strong>شرح أصول الاعتقاد, للأمام اللالكائي<strong>).</strong><strong></strong></p>
<p>Imam Ahmad, Imam Ahlussunnah wal jama’ah mengatakan: Pokok-pokok aqidah <a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftn13"><strong><strong>[13]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> menurut kami ialah berpegang teguh dengan apa yang dipraktikkan oleh sahabat-sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, meneladani mereka, dan meninggalkan bid’ah. <strong>Karena setiap yang bid’ah berarti kesesatan</strong>” (<em>Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah</em>, oleh Imam Al Laalaka-i).</p>
<ol start="13">
<li><strong>Imam Malik bin Anas –<em>rahimahullah</em>–</strong></li>
</ol>
<p dir="RTL" align="center"><strong>مَن ابْتَدَعَ فِي الإِسْلاِمِ بِدْعَةً يَرَاهاَ حَسَنَةً ؛ فَقَدْ زَعَمَ أَن مُحَمَّداً – صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَسَلَّمَ- خَانَ الرِّّسَالَةَ ؛ ِلأََنَّ اللهَ يَقُولُ : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْناً فَلاَ يَكُونُ اليَوْمَ دِيْناً </strong>)الاعتصام بالكتاب والسنة, للشاطبي)<strong></strong></p>
<p>“Barangsiapa melakukan bid’ah dalam Islam yang ia pandang sebagai bid’ah hasanah, berarti ia mengatakan bahwa Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengkhianati kerasulan beliau. Sebab Allah <em>Ta’ala</em> berfirman: “Pada hari ini telah kusempurnakan bagi kalian agama kalian…” (Al Ma’idah: 3). Karenanya, apa pun yang hari itu tidak dianggap sebagai ajaran agama, maka hari ini pun bukan termasuk ajaran agama. (<em>Al I’tisham bil Kitab was Sunnah</em>, oleh Imam Asy Syathiby).</p>
<p>Kemudian Imam Malik meletakkan sebuah kaidah agung, yang merupakan intisari dari perkataan para ulama yang tadi kita sebutkan:<strong></strong></p>
<p dir="RTL" align="center"><strong> لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا ؛ فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْناً لاَ يَكُونُ اليَوْمُ دِيْناً </strong><strong>(</strong>الشفا في حقوق المصطفي, للقاضي عياض 2/88<strong>)</strong></p>
<p>“Generasi terakhir umat ini tak akan menjadi baik (shaleh), kecuali dengan apa-apa yang menjadikan generasi pertamanya baik. Karenanya, apa pun yang pada hari itu –saat turunnya surat Al Ma’idah ayat 3– tidak dianggap sebagai agama, maka hari ini pun juga bukan bagian dari agama” (<em>Asy Syifa fi Huquuqil Musthofa</em> 2/88, oleh Al Qadhi ‘Iyadh).</p>
<p>Kami rasa, nukilan-nukilan di atas cukup gamblang dalam menggambarkan manhaj salaf yang menjadi tolok ukur kita dalam menilai mana bid’ah mana sunnah, dan mana haq mana batil.</p>
<p align="center">         <em>(BERSAMBUNG&#8230;..)<br />
</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://basweidan.wordpress.com/">Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc</a></p>
<p>Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah</p>
<p>&nbsp;</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref1"><strong><strong>[1]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong><sup>  </sup>Sengaja kami menyebutnya dengan <strong>kamus bahasa Arab yang kredibel</strong>, agar kita tidak sembarangan menukil makna suatu kalimat. Seperti yang dilakukan oleh Novel ketika mendefinisikan bid’ah dengan menukil dari kamus Al Munjid (<em>Mana Dalilnya</em> 1, hal 13). Padahal kamus ini ditulis oleh seorang pendeta katholik sekte Yesuit yang bernama Louis Ma’louf!! Lantas bagaimana kita hendak mempercayai tulisannya kalau narasumbernya saja seperti ini, <em>laa haula walaa quwwata illa billaah…</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref2"><strong><strong>[2]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  <em>An Nihayah fi Ghariebil Hadits wal Atsar</em>, 2/981. Definisi yang sama juga dinyatakan oleh Ibnu Mandhur dalam <em>Lisaanul ‘Arab</em> 9/158, dan As Sayyid Muhammad Murtadha Az Zabidy dalam <em>Taajul ‘Aruus</em> (kamus Arab terbesar &amp; terlengkap dalam sejarah, terdiri dari 35 jilid) lihat dalam bab Fa’ (ف), kata ‘sa-la-fa (سلف)’.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> hal 146 dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, cet. Wizarah Syu’un Islamiyyah wal Auqaf, Saudi Arabia.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Lihat kitab <em>Al Ihkaam fi Ushuulil Ahkaam</em>, 1/200 tulisan As Saif Al Aamidy cet. Al Maktabul Islamy. Demikian pula dalam <em>Al Mankhul min Ta’lieqaatil Ushuul</em>,  1/401 tulisan Al Ghazali, cet. Daarul Fikr.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref5"><strong><strong>[5]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Begini menurut versi terjemahan Depag, akan tetapi dalam <em>Tafsir Al Baghawy</em> disebutkan makna lainnya yang lebih jelas, seperti: jika mereka (ahli kitab) beriman dengan iman kalian, mentauhidkan Allah dengan tauhid kalian, berarti mereka telah mendapat petunjuk”.</p>
<p>Sedang dalam Tafsir Ibnu ‘Arafah disebutkan:</p>
<p dir="RTL">« فَإِنْ ءَامَنُوُاْ » بسبب مثل الأسباب التي أرشدتكم أنتم إلى الإيمان فقد اهتدوا</p>
<p>“Jika mereka beriman dengan menempuh sebab-sebab yang telah menghantarkan kalian kepada Iman (yang sesungguhnya), berarti mereka telah mendapat petunjuk”.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref6">[6]</a>  H.R. Bukhari dalam <em>Shahih-</em>nya, no 1597; dan Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya, no 1270 dari sahabat Ibnu ‘Umar.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref7"><strong><strong>[7]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Artinya: “(salam sejahtera) atasmu dan atas ibumu”.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref8"><strong><strong>[8]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Riwayat ini menjelaskan bahwa para salaf menolak adanya bid’ah yang baik dalam agama.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref9"><strong><strong>[9]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Riwayat ini dinyatakan gharieb oleh At Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Hakim dalam <em>Al Mustadrak</em> 18/56; dinyatakan <em>jayyid</em> (hasan) menurut Ibnu Muflih dalam <em>Al Adab Asy Syar’iyyah</em>, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam<em> Silsilatu Al Ahaadiets Adh Dha’iefah</em> no 891. Dalam komentarnya Syaikh Al Albani mengatakan: “Lihatlah, bagaimana Ibnu ‘Umar mengingkari penempatan <em>shalawat (salam) kepada Nabi</em> disamping <em>hamdalah</em> dengan dalih bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tak pernah melakukan yang demikian itu; padahal beliau menyatakan bahwa dirinya sendiri mengucap hamdalah dan bershalawat kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Seakan beliau hendak menolak anggapan yang mungkin muncul di benak sebagian orang, bahwa beliau mengingkari ucapan <em>shalawat (salam)</em> secara mutlak. Persis sebagaimana anggapan sebagian orang jahil ketika menyaksikan para pembela Sunnah mengingkari bid’ah-bid’ah semacam ini, orang-orang jahil itu menuduh mereka mengingkari shalawat atas Nabi… semoga Allah memberi hidayah kepada mereka! (<em>idem</em>, 2/390).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref10"><strong><strong>[10]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Mengomentari jawaban Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar diatas, Al Imam Al Hafizh Ibnul Qayyim berkata: “Begitulah cara ulama menjawab. Tidak seperti jawaban orang yang mengatakan bahwa ‘Utsman dan Abu Dzar -umpamanya- lebih tahu mengenai Rasulullah dari pada kita… Mengapa Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar tidak mengatakan: “Abu Bakar dan Umar lebih tahu mengenai Rasulullah dari pada kami”…? Demikian pula tak seorang pun dari sahabat atau tabi’in yang rela dengan jawaban seperti ini sebagai alasan untuk menolak sebuah nash dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Itu karena mereka lebih tahu mengenai Allah dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan lebih takut kepada-Nya kalau mereka sampai berani mendahulukan pendapat seseorang yang tidak ma’shum di atas pendapat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang ma’shum” (lihat <em>Zaadul Ma’aad</em>, 2/178)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref11"><strong><strong>[11]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Lihat Sunan Abu Dawud, kitab: Assunnah, bab: Luzuumus Sunnah, hadits no 4611. Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani dalam <em>Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud</em>. Demikian pula dishahihkan oleh sayyid ‘Alawi Assaqqaf dalam <em>Mukhtasar Al I’tisham</em>, hal 25.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref12"><strong><strong>[12]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Memang benar apa yang beliau katakan. Seorang pelaku maksiat bagaimana pun juga pasti merasa dirinya bersalah. Karena dihantui rasa bersalah tadi, ia akhirnya terdorong untuk bertaubat. Tapi, lain halnya dengan pelaku bid’ah yang tidak pernah merasa bersalah, bahkan merasa lebih shaleh dari orang lain. Kalau lah tidak karena rahmat dan hidayah Allah, mustahil orang seperti ini akan bertaubat.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan.html#_ftnref13"><strong><strong>[13]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>  Para salaf biasa menyebut aqidah dengan istilah <em>sunnah</em>, dan ini termasuk salah satu makna sunnah.</p>
<p><strong>Dipublikasi ulang dari : http://basweidan.com</strong> <strong>( via : http://muslim.or.id)</strong></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/manhaj/'>Manhaj</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/radd-bantahan/'>Radd ( Bantahan )</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5555/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5555&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-2-jadikan-manhaj-salaf-sebagai-rujukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/apbyndjg2.jpg?w=205" medium="image">
			<media:title type="html">apbyndjg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini Dalilnya! : Manakah Bid’ah dan Manakah Sunnah?</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-manakah-bidah-dan-manakah-sunnah/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-manakah-bidah-dan-manakah-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 01:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Radd ( Bantahan )]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5551</guid>
		<description><![CDATA[Ini Dalilnya! Bahagian Pertama Memahami Akar Permasalahan &#38; Solusinya &#160; Dalam kitabnya yang terkenal, Al Imam Al Hafizh Ibnu Rajab -rahimahullah- menjelaskan, bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai hadits-hadits yang disebut sebagai poros Islam (madaarul Islaam). Diantara pendapat yang beliau nukil di sana ialah pendapat Imam Ahmad bin Hambal[1]), Imam Ishaq ibnu Rahawaih[2]), Imam Utsman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5551&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Ini Dalilnya!</h1>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-5552" title="apbyndjg" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/apbyndjg1.jpg?w=205&#038;h=300" alt="" width="205" height="300" /></p>
<div>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Bahagian Pertama</strong></p>
<p align="center"><strong>Memahami Akar Permasalahan &amp; Solusinya</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam kitabnya yang terkenal, Al Imam Al Hafizh Ibnu Rajab -<em>rahimahullah</em>- menjelaskan, bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai hadits-hadits yang disebut sebagai poros Islam (<em>madaarul Islaam</em>). Diantara pendapat yang beliau nukil di sana ialah pendapat Imam Ahmad bin Hambal<a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftn1"><strong><strong>[1]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>, Imam Ishaq ibnu Rahawaih<a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftn2"><strong><strong>[2]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>, Imam Utsman bin Sa’id Ad Darimy<a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftn3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>, dan Imam Abu ‘Ubeid Al Qaasim bin Sallaam<a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftn4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> -<em>rahimahumullah</em>-. Akan tetapi dari sekian pendapat yang beragam tadi, semuanya sepakat bahwa hadits ‘Aisyah berikut merupakan salah satu poros Islam:</p>
<p dir="rtl" align="center">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ e : <strong>مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ</strong>. رواه البخاري ومسلم, وفي رواية لمسلم: <strong>مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru <strong>dalam urusan kami</strong> <strong>ini</strong>, yang bukan dari padanya, maka perbuatannya itu tertolak”</em> (H.R. Bukhari no 2499 dan Muslim no 3242). Dalam riwayat Muslim lainnya (no 3243) disebutkan: <em>“Barang siapa mengerjakan suatu amalan <strong>yang tidak berdasarkan urusan kami,</strong> maka amalan itu tertolak”</em> (lihat hadits no 5 dalam Al Arba’in An Nawawiyyah).</p>
<p>Dalam penjelasannya, Ibnu Rajab -<em>rahimahullah</em>- mengatakan:</p>
<p>“Hadits ini adalah salah satu kaidah agung dalam Islam. Ia merupakan neraca untuk menimbang setiap amalan secara lahiriah, sebagaimana hadits <em>‘Innamal a’maalu binniyyah’</em> (=setiap amalan tergantung pada niatnya) adalah neraca batinnya. Jika setiap amal yang tidak diniatkan untuk mencari ridha Allah pelakunya tidak akan mendapat pahala, maka demikian pula setiap amal yang tidak berlandaskan aturan Allah dan Rasul-Nya, amal tersebut juga pasti tertolak.</p>
<p>Siapa pun yang mengada-adakan perkara baru dalam agama tanpa izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu bukanlah bagian dari agama sedikit pun…” kemudian lanjut beliau: “Lafazh hadits ini menunjukkan bahwa setiap amalan yang tidak berlandaskan urusan Allah &amp; Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Sedangkan <em>mafhum</em> (makna yang tersirat) dari hadits ini ialah bahwa setiap amalan yang berlandaskan urusan Allah dan Rasul-Nya berarti tidak tertolak. Sedang yang dimaksud dengan <strong>‘urusan kami’</strong> dalam hadits ini ialah<strong> agama &amp; syari’at-Nya</strong>. <span id="more-5551"></span><strong></strong></p>
<p><strong>Jadi maknanya ialah: </strong>siapa saja yang amalnya keluar dari koridor syari’at, tidak mau terikat dengan tata cara syari’at, maka amalan itu tertolak” <a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftn5"><strong><strong>[5]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Sering kali ketika seseorang mendapat teguran bahwa amalan yang diperbuatnya tidak dicontohkan oleh Nabi e -alias bid’ah-; ia beralasan: <em>“Ini kan baik, mengapa mesti dilarang…?!”</em> ini kalau dia agak moderat dan lugu. Tapi sebagian justeru mengatakan: <em>“Semua-semua bid’ah!… tahlilan bid’ah, shalawatan bid’ah, baca Barzanji (mberjanjen) bid’ah… <strong>mana dalilnya?</strong>”</em>. Jawaban kedua ini memang terkesan lebih ‘ilmiah’, mengapa? Karena ia menanyakan <strong>‘mana dalilnya’.</strong></p>
<p align="center">
<p><strong>Akan tetapi… benarkah setiap bid’ah harus ada dalil yang melarangnya ?</strong></p>
<p>Cobalah saudara renungkan pertanyaan di atas dengan seksama…</p>
<p>Agar lebih mudah memahaminya, kami akan membuat sebuah contoh ringan;</p>
<p>Sebagian orang mengatakan bahwa mengadakan majelis dzikir berjama’ah bukanlah suatu bid’ah, karena tidak ada dalil yang melarang kita melakukan hal tersebut. Demikian pula dengan <em>tahlilan</em>, ngalap berkah, <em>tawassul</em> dengan Nabi/orang shalih, shalawatan, <em>istighatsah</em> dengan orang mati, dsb…</p>
<p>Bagaimana menurut anda jika pertanyaannya kami balik menjadi: Adakah dalil yang menyuruh kita mengadakan majelis dzikir berjama’ah, <em>tahlilan</em>, ngalap berkah, dll… ? Kami yakin, sebagai orang yang obyektif tentu saudara akan menjawab: <strong>“tidak ada</strong>”, selama yang dicari ialah <strong>dalil yang <em>shahih</em> dan <em>sharih</em></strong>. Artinya dalil tersebut bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya, yakni berupa Al Qur’an atau hadits shahih, dan maknanya jelas berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas. Dengan kata lain, dalil tersebut menjelaskan secara rinci bagaimana pelaksanaan majelis dzikir berjamaah, tahlilan dan shalawatan tadi <a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftn6"><strong><strong>[6]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Bagaimana jika ada orang yang melaksanakan shalat subuh empat roka’at umpamanya, dengan alasan bahwa waktu subuh adalah waktu senggang yang sangat tepat untuk banyak beribadah… suasananya pun cukup hening, hingga apabila seseorang menambah shalatnya menjadi empat roka’at pun tetap terasa khusyu’. . . <strong>lagi pula kan tidak ada dalil yang melarang kita untuk itu?!</strong> Pasti saudara akan mengingkari pemikiran seperti ini dan menghukuminya sebagai <em>bid’ah dholaalah</em> (bid’ah yang sesat), mengapa? Jawabnya: <strong>karena ibadah bukanlah sesuatu yang bebas dilakukan semaunya, tapi wajib ikut ‘aturan main’ dari Allah dan Rasul-Nya.</strong></p>
<p>Kalaulah kita sepakat bahwa shalat adalah ibadah yang tidak boleh dilakukan sembarangan, mestinya kita bersikap konsekuen terhadap ibadah-ibadah lainnya. Tentunya setelah kita mengetahui apa itu definisi ibadah yang sesungguhnya <a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftn7"><strong><strong>[7]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>.</p>
<p>Namun biasanya analogi (penalaran) seperti ini akan ditolak mentah-mentah oleh sebagian orang. <em>“Kalau shalat subuh empat roka’at itu jelas <strong>bid’ah dholalah</strong>. Tapi kalau dzikir bersama, tahlilan, tawassul, shalawatan, dsb hukumnya lain. Ini adalah <strong>bid’ah hasanah</strong> (bid’ah yang baik). Ini semua baik dan mengandung manfaat. lagi pula kita khan diperintahkan untuk banyak berdzikir, membaca Al Qur’an, bershalawat kepada Nabi </em><em>e</em><em>, dan seterusnya…?!”</em> begitu sanggah mereka.</p>
<p>Sebagian yang agak pintar mungkin berdalih: <em>“Bukankah tahlil, takbir, tahmid, tasbih, membaca shalawat, dsb itu merupakan dzikir yang dianjurkan? Bukankah itu semua merupakan amal shaleh? Mengapa saudara membid’ahkan-nya…? <strong>Mana dalilnya…?</strong></em></p>
<p>Dan masih segudang lagi alasan yang mungkin mereka utarakan demi meligitimasi <strong>praktik-praktik bid’ah</strong> tersebut. Ya… kami katakan bahwa <strong>itu semua adalah bid’ah khurafat yang dilekatkan pada ajaran Islam, namun Islam berlepas diri dari padanya </strong>meskipun ia dipandang baik oleh kebanyakan manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> Lantas, bagaimana solusinya…?</strong></p>
<p>Untuk mendudukkan masalah ini, kita harus menetapkan suatu standar baku dalam menilai mana bid’ah dan mana sunnah… Mana yang baik dan bermanfaat, dan mana yang sesat dan penuh khurafat… alias standar untuk menilai mana yang haq dan mana yang batil.</p>
<p>Kami mengajak para pembaca yang budiman untuk menyatukan pedoman dalam hal ini, yaitu Al Qur’an, As Sunnah (hadits shahih), dan Ijma’. Kami yakin bahwa pembaca sekalian tidak akan keberatan dalam menerima ketiga sumber hukum di atas sebagai pedoman kita dalam menetapkan dan menerapkan suatu ibadah, atau sebagai rujukan ketika ada perselisihan.</p>
<p>Sekarang kita telah sepakat bahwa rujukan kita adalah Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’. Tapi bukankah semua golongan yang saling bertikai menyatakan bahwa rujukan mereka adalah Al Qur’an dan Sunnah? Lantas mengapa mereka masih bertikai juga? Pasti ada yang tidak beres…</p>
<p>….Benar, mereka berbeda pendapat dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah e, karenanya mereka pun tetap berselisih. Selama Al Qur’an dan Sunnah masih difahami menurut akal dan selera masing-masing, maka mencari titik temu melaluinya ibarat <em>menegakkan benang basah</em>, alias perbuatan yang sia-sia !!</p>
<p>Karenanya, kita harus terlebih dahulu menyepakati pemahaman yang akan kita jadikan acuan dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah. Kami akan menawarkan kepada pembaca yang budiman, sebuah <em>manhaj</em> (metodologi) dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah. <em>Manhaj</em> ini bukanlah hasil rumusan kami atau golongan tertentu… namun ia adalah <em>manhaj rabbani</em> yang Allah gariskan dalam Kitab-Nya. Sebuah <em>manhaj</em> yang telah diridhai-Nya dan telah sukses dipraktikkan oleh generasi terbaik umat ini. <em>Manhaj</em> yang menghantarkan mereka ke puncak kejayaan dunia dan akhirat.</p>
<p>….Ya, itulah <strong><em>manhaj salafus shaleh</em></strong>, leluhur kita yang mulia…</p>
<p>Kami akan menjelaskan kepada saudara bahwa <em>manhaj</em> ini adalah <em>manhaj</em> terbaik dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah secara benar; dan tentunya berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Namun pertama-tama, bukalah fikiran dan hati sanubari kita terlebih dahulu… tepislah semua bentuk subyektivitas yang akan menghambat kita untuk menerima kebenaran dari pihak lain. Marilah sejenak kita memanjatkan do’a kepada Allah U agar Ia menunjukkan kebenaran kepada kita…</p>
<p dir="rtl" align="center">اللَّهُمَّ أَرِناَ الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقُنْاَ اتـِّباَعَهَ, وَأَرِناَ الْباَطِلَ باَطِلاً وَارْزُقنْاَ اجْتِناَبَهُ</p>
<p align="center"><em>“Ya Allah, tampakkanlah yang haq sebagai al haq bagi kami, dan jadikanlah kami orang yang mengikutinya. Tampakkan pula yang batil itu sebagai kebatilan bagi kami, dan jadikanlah kami orang yang menjauhinya.”</em></p>
<p dir="rtl" align="center">اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</p>
<p align="center"><em>“Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Dzat yang mengetahui yang ghaib maupun yang nampak. Engkaulah yang memutuskan perselisihan di antara hamba-Mu. Tunjukkanlah bagiku kebenaran dalam perselisihan mereka atas seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau berkenan menunjukkan siapa pun yang Kau kehendaki pada jalan yang lurus” (H.R. Muslim).</em></p>
<p align="center">(BERSAMBUNG&#8230;..)</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftnref1"><strong><strong>[1]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Beliau ialah Al Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy Syaibany Al Baghdady. Imam Ahlussunnah wal Jama’ah, seorang ‘alim dan ahli zuhud panutan. Beliau lahir di bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H. Beliau salah satu sahabat dekat dan murid kesayangan Imam Syafi’i. Ahmad senantiasa melazimi gurunya yang satu ini hingga ia (Imam Syafi’i) pindah ke Mesir. Imam Syafi’i berkata: “Tak pernah kutinggalkan seorang pun di Baghdad yang lebih bertakwa dan faqieh (pandai) dari Ahmad bin Hambal”. Kitab beliau yang bernama <em>Al Musnad</em> adalah kitab hadits terbesar yang sampai kepada kita, memuat sekitar 30 ribu hadits. Beliau lah satu-satunya ulama yang tetap tegar menolak kemakhlukan Al Qur’an meski disiksa sedemikian rupa, hingga karenanya ia dijuluki Imam Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau wafat pada hari Jum’at 12 Rabi’ul Awwal tahun 241 H, <em>rahimahullahu rahmatan waasi’an</em>. (lihat: <em>Wafayaatul A’yaan</em> 1/63-64 &amp; <em>Tadzkiratul Huffazh</em> 2/431-432)</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftnref2"><strong><strong>[2]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad Al Handhaly Al Marwazy. Imam dan ulama Ahlussunnah wal jama’ah. Terkumpul padanya ilmu hadits, fiqih, hafalan kuat, kejujuran, sikap wara’ dan zuhud. Beliau mengembara ke Irak, Hijaz, Yaman, Syam, dan kembali ke Khurasan dan wafat di Nishapur. Beliau termasuk salah satu sahabat Imam Ahmad dan guru besar Imam Bukhari. Lahir pada tahun 161 H. Ibnu Khuzaimah berkata: “Demi Allah, seandainya beliau hidup di zaman tabi’in, pastilah mereka mengakui kekuatan hafalan, kedalaman ilmu, dan pemahamannya”. Abu Dawud Al Khoffaf berkata; aku mendengar Ishaq berkata: “Seakan-akan aku melihat 100 ribu hadits dalam kitabku, 30 ribu diantaranya dapat kubaca dengan lancar”. Beliau wafat pada tahun 237 atau 238 H, <em>rahimahullah</em>. (lihat <em>Tahdziebut Tahdzieb</em>, <em>Siyar A’laamin Nubala’</em>, dan <em>Tahdziebul Kamal</em>)</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftnref3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Beliau ialah Al Imam Al ‘Allaamah Al Hafizh, Abu Sa’id Utsman bin Sa’id bin Khalid bin Sa’id Ad Darimy At Tamimi. Lahir sebelum tahun 200H. Beliau menimba ilmu hadits dari Ali ibnul Madiny, Yahya ibnu Ma’in, dan Ahmad bin Hambal -<em>rahimahumullah</em>,- hingga mengungguli orang-orang di zamannya. Beliau adalah orang yang gigih memegang Sunnah, dan ahli dalam berdebat. Beliau menulis sebuah kitab yang membantah kesesatan Bisyr Al Marrisi (salah seorang tokoh Jahmiyyah), dan kitab Musnad. Beliau wafat pada bulan Dzul Hijjah tahun 280 H (<em>As Siyar</em>, 2/2651-2653).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftnref4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Beliau ialah Al Imam Al Hafizh Abu ‘Ubeid, Al Qasim bin Sallam bin Abdillah. Lahir tahun 157 H. berguru kepada Abdullah ibnul Mubarak, Waki’, Ibnu Mahdy, Yahya Al Qatthan dan lainnya. Karnya cukup banyak, diantaranya: <em>Gharibul Hadits</em>, <em>Al Amtsal</em>, <em>Gharibul Mushannaf</em>, <em>Al Amwal</em>, <em>Fadha-ilul Qur’an</em>, <em>Ath Thuhur</em>, dan lain-lainnya. Beliau ahli dalam berbagai disiplin ilmu, seperti hadits, qiraat, fiqih, dan sastera Arab. Ibnul Anbary berkata: “Abu Ubeid konon membagi malam jadi tiga; sepertiga untuk shalat, sepertiga untuk tidur, dan sisanya untuk menyusun kitab”. Ishaq ibnu Rahawaih berkata: “Abu ‘Ubeid lebih luas ilmunya dari kita, lebih mulia perangainya, dan lebih banyak menyusun kitab. Kita membutuhkan dirinya, namun dia tidak butuh kepada kita”. Beliau wafat tahun 224 H (<em>As Siyar</em> 2/3057-3060).</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftnref5"><strong><strong>[5]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> <em>Jaami’ul ‘Uluumi wal hikam</em> hal 73-74, oleh Ibnu Rajab Al Hambaly. cet. Daarut Tauzi’ wan Nasyril Islamiyyah.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftnref6"><strong><strong>[6]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Konsekuensinya, jika dalil tersebut tidak shahih maka tidak sah dijadikan pegangan. Atau jika dalil tersebut shahih namun petunjuknya bersifat umum –seperti yang disebutkan oleh Novel dalam banyak contohnya–, maka ia juga tidak bisa dijadikan pegangan. Sebab menetapkan ibadah dengan tata cara tertentu, tempat tertentu atau waktu tertentu adalah urusan Allah dan Rasul-Nya. Jika ibadah tersebut diperintahkan untuk dilakukan secara bebas ya kita tidak boleh membatasinya dengan bilangan, waktu dan tata cara tertentu. Sebaliknya jika ibadah tersebut diperintahkan dengan tata cara tertentu ya kita harus terikat dengan tata cara tersebut.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://basweidan.com/ini-dalilnya/#_ftnref7"><strong><strong>[7]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Definisi ibadah yang paling universal ialah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:</p>
<p dir="rtl">اَلْعِباَدَةُ: اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الأَقْوَالِ وَالأَعْمَالِ الْباَطِنَةِ وَالْظَاهِرَةِ (كتاب العبودية ص 38)</p>
<p>Ibadah ialah nama untuk setiap apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang nampak maupun tersembunyi. (Kitab <em>Al ‘Ubudiyyah</em>, hal 38)</p>
<p><strong>Dipublikasi ulang dari : http://basweidan.com</strong></p>
</div>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/manhaj/'>Manhaj</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/radd-bantahan/'>Radd ( Bantahan )</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5551/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5551&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/09/ini-dalilnya-manakah-bidah-dan-manakah-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/apbyndjg1.jpg?w=205" medium="image">
			<media:title type="html">apbyndjg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini Dalilnya (bantahan atas buku: ‘Mana Dalilnya 1′)</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/08/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1%e2%80%b2/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/08/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1%e2%80%b2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 14:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Radd ( Bantahan )]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5547</guid>
		<description><![CDATA[Ini Dalilnya (bantahan atas buku: ‘Mana Dalilnya 1′) Bismillah berikut adalah risalah ilmiyyah ( Berseri ) yang ditulis oleh Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc yang saat ini sedang sibuk dalam thesis S2-nya di Universitas Islam Madinah,  Tulisan ini berisi sanggahan terhadap buku yang tersebar luas di masyarakat yang berjudul “Mana Dalilnya 1?“, buah karya Novel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5547&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2>Ini Dalilnya (bantahan atas buku: ‘Mana Dalilnya 1′)</h2>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-5548" title="apbyndjg" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/apbyndjg.jpg?w=468" alt=""   /></p>
<p><small> </small></div>
<p>Bismillah berikut adalah risalah ilmiyyah ( Berseri ) yang ditulis oleh <a href="http://basweidan.wordpress.com/">Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc</a> yang saat ini sedang sibuk dalam thesis S2-nya di Universitas Islam Madinah,  Tulisan ini berisi sanggahan terhadap buku yang tersebar luas di masyarakat yang berjudul “<strong>Mana Dalilnya 1?</strong>“, buah karya <strong>Novel bin Muhammad al-Aydrus</strong>. Buku ini sangat berbahaya karena berisi berbagai macam kerancuan terutama dalam masalah aqidah. Buku sesat tersebut telah dicetak sebanyak 17 kali dalam waktu 1,5 tahun.  Tulisan ini beliau susun sejak empat tahun silam karena teramat bahaya <strong>buku sesat tersebut,</strong> namun belum ada penerbit yang mencetak buku ini. Adapun Tujuan  memuat tulisan ini agar bisa mengatasi syubhat (kerancuan) dari buku tersebut. Semoga bermanfaat ( dikutip &#8221; muslim.or.id.&#8221;)</p>
<p dir="ltr"><strong>Mukaddimah</strong></p>
<p dir="ltr">Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamien… kami menyanjung-Nya, mengharap pertolongan dari-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Namun barangsiapa dibiarkan sesat oleh-Nya, maka tiada yang dapat memberinya petunjuk.</p>
<p dir="ltr">Aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya…. penghulu sekalian manusia dan pemimpin orang-orang bertakwa… semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepadanya, keluarganya, sahabatnya, dan setiap orang yang berpegang teguh dengan Sunnah-Nya…. aamien.</p>
<p dir="ltr">Amma ba’du,</p>
<p dir="ltr">Memang… saat ini kita hidup di zaman yang penuh fitnah<a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftn1">[1]</a><sup>)</sup>. Ada fitnah yang menyerang fisik, ada yang menyerang hati, dan ada pula yang menyerang pemikiran. Sebagian orang tenggelam dalam fitnah ini tanpa peduli… sebagian lagi tenggelam dengan sadar… dan sejumlah orang terjerumus ke dalamnya karena ikut-ikutan.</p>
<p dir="ltr">Orang yang hatinya hidup sampai-sampai heran terhadap apa yang dilihatnya. Wajah-wajah telah berubah, bukan lagi seperti yang dikenalnya dahulu… amal perbuatan tak lagi seperti yang diajarkan… dan akal fikiran pun tak lagi mendapat cahaya dari Allah ‘azza wa jalla.</p>
<p dir="ltr">Fitnah tersebut telah membaur dengan masyarakat dan demikian akrab dengan aktivitas mereka, hingga orang yang berada di atas kebenaran seakan terasing di tengah kaumnya.</p>
<p dir="ltr">Diantara fitnah yang paling berbahaya dan paling menyimpangkan manusia dari jalan yang lurus ialah; fitnah yang menghalangi perwujudan makna <em>syahadatain</em>; syahadat bahwa tiada ilah selain Allah, dan bahwa Muhammad saw adalah Rasul-Nya. Alangkah banyak orang yang menebarkan fitnah ini dengan sengaja, dan alangkah banyak orang yang termakan fitnah ini karena taklid buta (ikut-ikutan).<span id="more-5547"></span></p>
<p dir="ltr">Fitnah semacam ini amat beragam bentuknya, dan semuanya terkumpul di zaman ini. Tak pernah ia terkumpul dalam suatu zaman seperti terkumpulnya di zaman ini… namun, alangkah sedikitnya orang yang faham tentangnya dan berjihad melawannya, padahal pengaruhnya telah sedemikian dahsyat!</p>
<p dir="ltr">Ada sementara kalangan yang bila ditanya tentang makna <em>laa ilaha illallaah</em> mengira bahwa maknanya: <strong>tiada pencipta selain Allah</strong>. Seakan-akan orang jahiliyah tempo dulu –yang kepadanya Allah mengutus para Rasul– menyatakan bahwa pencipta itu ada banyak, hingga Allah mengutus para Rasul-Nya untuk mengajarkan <em>laa ilaha illallaah</em>.</p>
<p dir="ltr">Padahal, masalah sebenarnya bukanlah karena mereka menganggap ada banyak pencipta, akan tetapi karena mereka menyembah banyak <em>ilah</em>. Karenanya Allah mengutus para Rasul dengan <em>laa ilaha illallaah</em>, yang maknanya persis seperti ucapan para Nabi <em>‘alaihimussalaam</em> kepada kaumnya: <em>“…Janganlah kalian beribadah (menyembah) kecuali kepada Allah”</em> (Fushshilat: 14).</p>
<p dir="ltr">Makna Ibadah dalam bahasa Arab ialah ketundukan, kerendahan diri dan kekhusyu’an. Berbagai ritual ibadah disebut sebagai ‘ibadah’ ialah karena semuanya dilakukan dengan penuh rendah diri, tunduk dan khusyu’, yang nantinya mewariskan sikap tunduk terhadap Rabbul ‘Alamien atas setiap perintah dan larangan-Nya. Inilah makna ibadah yang difahami bangsa Arab lewat ucapan mereka, dan karena pemahaman inilah mereka tidak mau tunduk kepada <em>laa ilaaha illallaah</em> meski sekedar mengucapkannya!</p>
<p dir="ltr">Hari ini, jika anda perhatikan sikap sebagian orang, anda akan dapati bahwa ketundukan dan kekhusyu’an mereka tatkala berdiri di samping kubur, atau di area pemakaman, atau dalam perjalanan mereka untuk ziarah kubur, adalah lebih besar daripada ketundukan mereka saat berada dalam mesjid yang tidak ada kuburnya.</p>
<p dir="ltr">Di sekitar kubur tadi, anda akan dapati berbagai hal yang membatalkan makna <em>tauhid uluhiyyah</em> yang tak terhitung banyaknya. Entah dengan tawaf mengelilinginya, atau mengatakan: “Wahai Wali Allah, sembuhkan sakitku… hapuskan hutangku… dll. Mereka meyakini bahwa si penghuni kubur memiliki pengaruh di dunia, seakan Allah menyerahkan urusan ini kepada mereka.</p>
<p dir="ltr">Namun ada diantara mereka yang tidak meyakini demikian, tapi mengikuti golongan lain yang berbuat syirik dalam mendekatkan diri kepada Allah, yang nantinya menghantarkan mereka ke <em>syirik akbar</em> seperti sebelumnya. Mereka meminta pada si penghuni kubur agar memberikan syafa’at yang dengannya dosa mereka diampuni, rezeki mereka lancar, musibah yang mereka alami berakhir, dan mereka sembuh dari sakitnya. Mereka menyeru perantara-perantara tadi agar menjadi penghubung antara mereka dengan Allah dalam memenuhi hajat mereka. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla telah menutup pintu-Nya dan tidak lagi mengabulkan hajat dan doa mereka.. atau seakan-akan sikap mereka mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberi atau menolak sesuatu kecuali dengan perantara, dan ini jelas-jelas meremehkan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.</p>
<p dir="ltr">Anda dapati bahwa mereka mendekatkan dirinya kepada si penghuni kubur dengan berbagai cara. Diantara mereka ada yang berkurban untuk si penghuni kubur dan ada pula yang tawaf mengelilinginya untuk mencari syafa’at.</p>
<p dir="ltr">Dua fenomena <em>syirik akbar</em> tadi sayangnya telah merajalela, <em>laa haula walaa quwwata illa billaah…!!</em> Banyak orang tertipu dengan hal ini, lebih-lebih mereka yang awam. Namun ada juga yang justeru memanfaatkannya sebagai peluang mengumpulkan kekayaan. Praktek semacam ini biasanya sangat laris di kalangan kaum sufi akibat terlalu banyaknya ahli ibadah yang bodoh di kalangan mereka. Akhirnya orang-orang bodoh ini mereka peralat untuk mencari kekayaan pribadi.</p>
<p dir="ltr">Fitnah ini semakin menyebar di kalangan kaum muslimin setelah abad ke-5 H. Pengaruhnya semakin ganas dan meluas, hingga nyaris tak tersisa satu kota pun yang selamat darinya. Di manapun dan kapan pun manusia-manusia itu berada, maka tiap kali diantara mereka ada yang wafat segeralah mereka dirikan kubah/bangunan diatas kuburnya, lalu lokasinya dijadikan tempat ziarah… alias tempat orang mencari syafa’at dan minta-minta.</p>
<p dir="ltr">Kuburan semakin banyak, seiring dengan semakin banyaknya ‘oleh-oleh’ yang dipersembahkan oleh para peziarah… hingga makin banyak pula orang yang tertarik menjadi juru kunci dan mengambil manfaat dari ini semua.</p>
<p dir="ltr">Memang… harta adalah fitnah, sebagaimana pamor dan kekuasaan merupakan fitnah. Mereka yang alergi dengan dakwah tauhid ingin supaya orang-orang selalu mengagungkan mereka. Entah dengan mencium tangan, mengusap-usap pakaian, atau dengan menundukkan ucapan dan anggota badan dihadapan mereka.</p>
<p dir="ltr">Kondisi kaum muslimin hari ini memang terlalu panjang untuk dikisahkan… akan tetapi, intinya tersimpulkan dalam penggalan cerita berikut…</p>
<p dir="ltr">Ketika berada di suatu kota di Afrika, kami <a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftn2"><strong><strong>[2]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> berdebat dengan salah seorang ulama besar yang terjerumus dalam fitnah ini. Ia menghasung orang-orang untuk mengangungkan kuburan beserta para juru kuncinya. Lantas, dimanakah arti ibadah kepada Allah? Bagaimana pula dengan pemahaman akan dua kalimat syahadat?? Dengan enteng orang ini menjawab: “Aku tahu bahwa Anda berada diatas kebenaran, namun… <strong>biarlah mereka mencari penghidupan!</strong>”</p>
<p dir="ltr">Inilah kenyataannya…</p>
<p dir="ltr">Jadi, masalahnya bukan bagaimana memperjuangkan kebenaran dengan dalil-dalilnya, akan tetapi bagaimana mempertahankan pengaruh spiritual, pamor, pengagungan, nama harum, dan kekayaan. Mereka lantas mencari-cari dalil demi melegitimasi perbuatan mereka, walau dengan hadits-hadits palsu atau sekedar akal-akalan.</p>
<p dir="ltr"><em> </em>Menjaga pamor dan kehormatan adalah kunci utama para penjaja bid’ah. Pamor dan kehormatan tadi mereka lestarikan secara turun temurun agar anak cucu mereka kelak menjadi orang kaya dan terpandang. Kalau ada diantara mereka yang binasa, segeralah mereka menjadikan kuburnya sebagai pusara besar yang menjadi tambatan hati para pengikutnya. Dengan demikian, generasi penerusnya akan semakin kaya, terkenal dan disegani.</p>
<p dir="ltr">Di belahan bumi manapun yang disana terdapat pemuja kubur, rata-rata ada sekelompok orang yang tetap berjalan sesuai petunjuk Nabi saw. Mereka tidak silau dengan kekuasaan, tidak pula terpengaruh dengan berbagai syubhat. Mereka adalah orang-orang yang terasing dan dikucilkan di banyak tempat. Mereka mengajak manusia kepada sunnah dan membimbing mereka kepada tauhid. Mereka berusaha menuntun hati manusia agar mengagungkan Allah semata, serta hanya takut dan berharap kepada-Nya. Mereka tidak mengaitkan hati kecuali dengan Penciptanya, bukan dengan ciptaan-Nya. Mereka mencintai karena Allah, membenci karena-Nya dan tidak menyembah selain Dia. Jiwa dan raga mereka selalu tercurah dalam rangka menyeru manusia untuk mengesakan Allah dalam setiap ibadah, baik ibadah jiwa maupun raga.</p>
<p dir="ltr">Mereka dijuluki oleh musuh-musuhnya sebagai <em>wahhabi</em> atau <em>muslim fundamentalis</em>. Musuh-musuh mereka cukup giat dalam menyebarkan buku-buku yang kontradiksi dengan misi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftn3">[3]</a><sup>)</sup>. Mereka membuat berbagai macam kedustaan atas beliau dan para pengikutnya. Ada yang menuduh beliau mengkafirkan kaum muslimin, mengingkari karamah para wali, bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau tidak mengakui kerasulan Rasulullah Muhammad saw.</p>
<p dir="ltr">Metode yang mereka gunakan pun bermacam-macam, sesuai dengan tempat buku-buku tersebut disebarkan. Di beberapa daerah mereka menentang secara terus terang, namun di daerah lain mereka menentang secara sembunyi-sembunyi dengan berbagai kamuflase. Akan tetapi, perang yang mereka lancarkan pada hakikatnya sama saja. Jalan yang mereka lalui adalah jalan lama yang banyak dilalui orang… di kanan kiri jalan tersebut berdiri dai-dai mereka, hingga jika salah satunya berteriak maka semua ikut berteriak menyambutnya.</p>
<p dir="ltr">Di Indonesia, ironisnya fitnah ini justeru disebarkan oleh sebagian mereka yang ‘mengaku’ sebagai <em>ahlul bait</em><strong> </strong>(anak cucu Nabi saw)<strong> <a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></strong><strong><sup>)</sup></strong>. Salah seorang dari mereka bahkan telah menulis beberapa buku demi melestarikannya. Ia hendak membentuk opini bahwa berbagai ritual keagamaan yang mereka lakukan selama ini bukanlah bid’ah dan syirik, namun justeru dianjurkan dalam Islam.</p>
<p dir="ltr">Cara yang dia tempuh sebenarnya bukan cara ilmiah –sebagaimana yang tersirat dalam judulnya–, namun tak lebih dari sebuah cara yang tujuannya mendukung setiap penyeru<em> </em>kebatilan di manapun mereka berada. Ia menggunakan seribu satu jurus untuk melegitimasi berbagai kebatilan tersebut, meskipun dengan memelintir nash-nash Al Qur’an dan Hadits sesuai keinginannya, atau menamainya dengan <em>bid’ah hasanah</em>, atau mengumpulkan berbagai perkataan ‘ulama’ yang sesuai dengan seleranya meski bertentangan dengan dalil, atau berdalil dengan hadits-hadits yang dho’if bahkan palsu, yang penting mendukung pendapatnya.</p>
<p dir="ltr">Dalam buku <em>Mana Dalilnya 1</em>, si penulis nampaknya memang ahli memutarbalikkan fakta. Tak sekedar mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil, ia bahkan menjadikan yang haq tadi sebagai syubhat yang harus dibantah habis-habisan karena tidak sesuai dengan <em>tarekat</em>-nya. Langkah pertama yang dia lakukan ialah ‘meluruskan’ (baca: memelintir) pengertian bid’ah. Maklum saja, sebab memang tidak ada tarekat sufi yang bersih dari bid’ah. Di mana ada tarekat, disitulah sarang bid’ah dan khurafat.<a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftn5">[5]</a></p>
<p dir="ltr">Buku yang merupakan ungkapan dari keyakinan penulisnya ini memang sarat dengan penyimpangan dalam masalah tauhid. Ia membela bid’ah mati-matian, dan membuka berbagai pintu syirik dengan keyakinan bahwa hal tersebut tidak dilarang, bahkan dianjurkan!!</p>
<p dir="ltr">Kemungkaran besar ini tentunya tidak boleh didiamkan, sebab itu kami memohon pertolongan kepada Allah dalam menjelaskan yang haq dan membongkar kebatilan mereka. Semoga lembaran-lembaran ini diterima di sisi-Nya sebagai amal shaleh, dan semoga Dia menjadikannya bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.<a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftn6">[6]</a></p>
<p dir="ltr">
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p dir="ltr"><a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftnref1">[1]</a><sup>) </sup> Yang dimaksud dengan fitnah ialah cobaan, musibah, bencana, azab, dan apapun yang berdampak negatif bagi manusia.</p>
</div>
<div>
<p dir="ltr"><a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftnref2"><strong><strong>[2]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Yang bercerita di sini adalah Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alus Syaikh, yang sekarang menjabat Menteri Urusan Agama Saudi Arabia.</p>
</div>
<div>
<p dir="ltr"><a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftnref3"><strong><strong>[3]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong>Berangkat dari sini, maka julukan <em>wahhabi</em> yang ditujukan kepada pengikut beliau adalah keliru dari segi lafazh dan maknanya. Dari segi lafazh, mestinya orang yang mengikuti beliau dijuluki <em>Muhammadi</em> bukan <em>wahhabi,</em> karena nama beliau adalah Muhammad dan nama ayahnya Abdul Wahhab, sedangkan Wahhab adalah salah satu nama Allah. Adapun dari segi makna, julukan tadi seakan mengisyaratkan bahwa beliau mengajarkan ajaran baru yang berbeda dari ajaran Islam, padahal siapa pun yang membaca kitab-kitab beliau secara obyektif dan independen, pasti mendapati bahwa beliau tidak membawa ajaran baru, namun sekedar berusaha mengembalikan kaum muslimin kepada Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman <em>As Salafus Shaleh</em>. Sebagai bukti, silakan saudara baca kitab beliau yang paling monumental: Kitab Tauhid, yang tiada lain isinya adalah ayat Al Qur’an, Hadits Nabi saw. dan ucapan para ulama.</p>
</div>
<div>
<p dir="ltr"><a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftnref4"><strong><strong>[4]</strong></strong></a><strong><sup>)</sup></strong> Kami tidaklah mengingkari keutamaan mereka (kalaulah mereka memang tergolong ahlul bait). Namun yang kami ingkari ialah sikap dari mayoritas <em>haba-ib</em> tadi yang justeru bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw., yang notabene adalah penghulu ahlul bait itu sendiri. Kalau Rasulullah saw. menghabiskan umur beliau demi menegakkan tauhid (memurnikan ibadah kepada Allah), mereka justeru acapkali mengajarkan pengikutnya untuk <strong>tabarruk dengan ‘orang shaleh’</strong>, <strong>menyemarakkan kuburan</strong>, <strong>tawassul dengan orang mati</strong>, dan berbagai pintu syirik lainnya.</p>
<p dir="ltr">Ironis memang, tatkala misi utama Rasulullah saw. di kemudian hari justeru digagalkan oleh mereka yang ‘mengaku’ sebagai anak-cucu beliau…! Sungguh demi Allah, seandainya mereka memperjuangkan dakwah tauhid ini, niscaya kami akan mencintai mereka lebih dari yang lainnya, pertama karena cinta kami terhadap sesama muslim, dan kedua karena kedekatan nasab mereka terhadap orang yang paling kami cintai, yaitu Baginda Rasulullah saw. .</p>
</div>
<div>
<p dir="ltr"><a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftnref5">[5]</a><sup>)</sup> Perlu diketahui bahwa berkembangnya bid’ah khurafat di kalangan mereka ialah sejak leluhur mereka yang dijuluki <em>Al Faqieh Al Muqaddam</em> (574-651 H) menganut ajaran <em>tasawuf</em> dan menyebarkannya di Hadramaut, Yaman Selatan. Padahal sebelumnya –sejak As Sayyid Ahmad bin ‘Isa Al Muhajir <em>rahimahullah</em> (leluhur mereka yang pertama kali singgah di Hadramaut, wafat sekitar abad 4 H)– mereka adalah tokoh-tokoh <em>Ahlussunnah</em> dan orang-orang shalih yang berjalan sesuai dengan manhaj sahabat. Sangat disesalkan mengapa mereka tidak meneladani leluhur mereka sebelum <em>Al Faqieh Al Muqaddam</em> yang bersih dari bid’ah &amp; khurafat? Bukankah generasi pertama mereka lebih mulia dan lebih pantas untuk diikuti dari pada yang belakangan? (lihat: <em>Tahqiequl Farqi bainal ‘Aamil Bi’ilmihi wa Ghairihi</em>, hal 25-26 (footnote), oleh <em>‘Allaamah wa Mufti Hadhramaut</em>; As Sayyid Abdurrahman bin ‘Ubeidillah Assaqqaf (w. 1375 H), tahqiq &amp; ta’liq: As Sayyid ‘Alawi bin Abdul Qadir Assaqqaf, cet.1, 1426/2005). Kesufian <em>Al Faqieh Al Muqaddam</em> diakui sendiri oleh Novel Alaydrus dalam bukunya: <em>Jalan Nan Lurus</em>, <em>Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi</em>; hal 97-112.</p>
</div>
<div>
<p dir="ltr"><a href="http://basweidan.wordpress.com/2009/05/18/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1/#_ftnref6"><strong><strong>[6]</strong></strong></a><strong><sup>) </sup></strong>Disadur dari mukaddimah kitab: <em>Haadzihi Mafaahimuna</em>, oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Aalu Syaikh dengan beberapa penyesuaian.</p>
<p dir="ltr"><em><strong>Dipublikasi ulang dari : http://basweidan.wordpress.com/</strong></em></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/radd-bantahan/'>Radd ( Bantahan )</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5547/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5547&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/08/ini-dalilnya-bantahan-atas-buku-mana-dalilnya-1%e2%80%b2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/apbyndjg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">apbyndjg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Nasihat Dianggap Celaan</title>
		<link>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/05/ketika-nasihat-dianggap-celaan/</link>
		<comments>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/05/ketika-nasihat-dianggap-celaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 23:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufahmiabdullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abufahmiabdullah.wordpress.com/?p=5543</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Nasihat Dianggap Celaan Oleh Ustadz Abu Muhammad Idral Harits (Ma’had Darussalaf  Solo) Sebenarnya, menyebut-nyebut seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya adalah haram. Yaitu jika semua itu hanya dilandasi keinginan untuk mencela, meremehkan, atau menjatuhkan. Namun bila di dalam penyebutan tersebut terkandung manfaat atau maslahat yang besar, bagi kaum muslimin pada umumnya atau pada sebagian orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5543&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Ketika Nasihat Dianggap Celaan</h1>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-5544" title="37761_1520255536017_1523414362_1294985_230311_n copy" src="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/37761_1520255536017_1523414362_1294985_230311_n-copy.jpg?w=468&#038;h=292" alt="" width="468" height="292" /></p>
<p>Oleh Ustadz Abu Muhammad Idral Harits (Ma’had Darussalaf  Solo)</p>
<p><strong>Sebenarnya, menyebut-nyebut seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya adalah haram</strong>. Yaitu jika semua itu hanya dilandasi <strong>keinginan untuk mencela, meremehkan, atau menjatuhkan.</strong></p>
<p>Namun bila di dalam penyebutan tersebut <strong>terkandung manfaat atau maslahat yang besar, bagi kaum muslimin pada umumnya atau pada sebagian orang khususnya, maka penyebutan seperti ini bukanlah sesuatu yang haram, bahkan sangat dianjurkan. (Al-Farqu Bainan Nashihat wat Ta’yiir, Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah)</strong><br />
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah ketika mengomentari uraian Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menegaskan:</p>
<blockquote><p><strong>“Bahkan hal itu wajib, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan untuk memberi keterangan, bukan sekedar sunnah (anjuran) semata.” (An-Naqdu Manhajus Syar’i)</strong></p></blockquote>
<p>Sebagian kaum muslimin menganggap jarh (kritikan) terhadap suatu pemikiran, buku atau individu tertentu serta mentahdzirnya agar dijauhi dan ditinggalkan orang adalah perbuatan dzalim, tidak adil, dan tidak amanah. Demikian kata sebagian mereka.<br />
Dengan alasan tersebut, ketika ada tokoh dari ahli bid’ah yang dibeberkan kebid’ahannya, kesesatan pemikirannya baik yang diucapkan maupun yang dituangkan dalam tulisan, mereka anggap orang yang menjelaskan kesesatan dan penyimpangan tersebut sebagai penghujat, zalim, mulutnya kotor dan sebagainya.<span id="more-5543"></span><br />
Sehingga di sini kita perlu mencermati lebih lanjut apa sesungguhnya pengertian nasehat dan bagaimana perbedaannya dengan ta’yiir (celaan, mencacati).</p>
<p><strong>Pengertian Nasehat</strong><br />
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 99 dengan menukil perkataan Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah:</p>
<blockquote><p>“Nasehat ialah kalimat yang diucapkan kepada seseorang karena menginginkan kebaikan baginya.”<br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan dalam hadits Tamim Ad-Dari radhiallahu ‘anhu, katanya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p></blockquote>
<p>الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْناَ لِمَنْ قاَلَ ِللهِ وَلِكِتاَبِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ</p>
<blockquote><p>“Agama (Islam) ini adalah nasehat (diulangi tiga kali oleh beliau).” Kami bertanya: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Kata beliau: “Untuk Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya. Serta untuk para imam (pemimpin) kaum muslimin dan awam mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)</p></blockquote>
<p>Hadits ini menerangkan bahwa nasehat itu meliputi seluruh sendi-sendi ajaran Islam, Iman dan Ihsan yang telah diuraikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jibril ‘alaihissalam (ketika menjawab pertanyaan Jibril tentang Islam, Iman dan Ihsan serta tanda-tanda hari kiamat), dan beliau menamakan semua itu sebagai Ad-Dien (agama).1<br />
Adapun nasehat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, menuntut adanya pelaksanaan secara sempurna semua kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala bebankan. Ini pulalah tingkatan al-ihsan. Dengan demikian, tidaklah sempurna nasehat untuk Allah itu tanpa kesempurnaan pelaksanaan kewajiban-kewajiban-Nya, lurusnya keyakinan (‘aqidah) tentang Wahdaniyah (keesaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengikhlaskan niat dalam beribadah hanya kepada-Nya.<br />
Kemudian, nasehat untuk Kitab-Nya artinya beriman kepada kitab tersebut, mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Adapun nasehat untuk Rasul-Nya, maksudnya ialah meyakini kenabiannya, mencurahkan segenap ketaatan dalam menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangannya. Sedangkan nasehat untuk muslimin secara umum (bukan imam atau penguasa) artinya membimbing dan mengarahkan kaum muslimin kepada kemaslahatan mereka.<br />
Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan pula bahwa di antara bentuk-bentuk nasehat tersebut, terutama bagi kaum muslimin secara umum ialah menjauhkan gangguan dan hal-hal yang tidak disukai yang akan menimpa mereka, menyantuni orang-orang fakir di antara mereka, mengajari orang-orang yang jahil dari mereka, serta mengembalikan orang-orang yang menyimpang (sesat) dengan cara lemah lembut kepada kebenaran. Juga menjalankan amar ma’ruf nahi munkar terhadap mereka dengan cara yang baik dan rasa cinta, serta keinginan untuk menghilangkan kerusakan yang ada pada mereka. (Al-Jami’ hal 101)<br />
Dengan keinginan seperti ini, sebagian salafus shalih menyatakan: “Alangkah senangnya aku jika seluruh manusia taat kepada Allah meskipun dagingku dikerat dengan alat pengerat (garpu atau lainnya).”<br />
Inilah sebetulnya, salah satu bukti pelaksanaan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ</p>
<blockquote><p><strong>“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya, apa yang dia cintai untuk dirinya.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)</strong></p></blockquote>
<p>Sebetulnya, karena dasar inilah para imam kaum muslimin sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari ini berdiri di hadapan umat, menghalau setiap bahaya kesesatan yang akan menimpa mereka. Alangkah tepatnya ucapan Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika membalas sebuah risalah yang dikirimkan kepada beliau:<strong> “Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menjadikan pada masa kekosongan dari para Rasul (fatrah) sisa-sisa ahli imu. Mereka mengajak orang-orang yang sesat (agar kembali) kepada petunjuk dan bersabar atas gangguan yang ditimpakan kepada mereka.</strong> Ahli ilmu itu ‘menghidupkan’ kembali orang-orang yang ‘mati’ dengan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al Qur`an). Mencerahkan kembali mata orang-orang yang buta dengan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Betapa banyak korban iblis yang telah mereka hidupkan. Betapa banyak orang sesat kebingungan telah mereka bimbing. Alangkah indah pengaruh mereka pada manusia, (namun) alangkah buruknya perlakuan manusia terhadap mereka. Para ulama itu mengikis habis tahrif (penyelewengan) orang-orang yang melampaui batas dari dalam Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Qur’an), ajaran (bid’ah) orang-orang sesat dan takwil orang-orang yang jahil yang telah mengibarkan bendera kebid’ahan, melepaskan tali-tali fitnah.<br />
<strong>Ahli bid’ah itu (sebetulnya) berselisih dalam (memahami dan mengamalkan) Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Qur’an) sekaligus menentangnya. Namun mereka bersatu padu untuk meninggalkannya. Mereka berbicara atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tentang Kitab-Nya tanpa ilmu (syar’i). Dan berbicara dengan hal-hal yang mutasyabih2 dari firman Allah ini. Mereka menipu orang-orang yang bodoh dengan syubhat yang mereka sampaikan. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang menyesatkan.” (I’lamul Muwaqqi’in)</strong><br />
Bahkan kita lihat pula para ulama yang lain tidak meninggalkan hal ini (kritikan, jarh) dan tidak pula menganggapnya sebagai hujatan atau kecaman apalagi celaan dari orang-orang yang membantah ucapan atau pendapat mereka secara ilmiah. Kecuali jika memang diketahui dia menulis kekeliruan tersebut dengan ucapan yang keji, dan tidak beradab. Namun walaupun demikian, yang ditentang hanyalah kekejian ucapan tersebut, bukan bantahan ilmiah yang dipaparkannya.<br />
Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan bahwa hal itu karena para ulama sepakat untuk menampakkan kebenaran ajaran Islam. Sehingga Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan tentang buku-bukunya sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah: “Mesti ada di dalam buku-buku ini hal-hal yang bertentangan (menyelisihi) Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:</p>
<p>أَفَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كاَنَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفاً كَثِيْرًا</p>
<p><strong>“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Jika sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa: 82)</strong><br />
Jadi, semua yang datang bukan dari sisi Allah jelas akan banyak sekali perselisihan di dalamnya. Dan sebaliknya, Al-Qur’an yang mulia ini yang turun dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sama sekali tidak ada perselisihan di dalamnya. (Lihat Tafsir As-Sa’di tentang ayat ini).<br />
Maka, membantah pendapat atau pemikiran yang lemah (keliru), menjelaskan al-haq yang berbeda dengan pemikiran yang lemah tadi dengan dalil-dalil syar’i, bukanlah sesuatu yang dibenci oleh para ulama. Sebaliknya, mereka sangat menyukai hal demikian. Mereka juga tidak menganggapnya sebagai ghibah. Bahkan mereka memasukkannya sebagai bagian dari nasehat untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk imam kaum muslimin serta awamnya. Para ulama bahkan sangat keras mengeluarkan bantahan terhadap pendapat-pendapat yang lemah dari seorang ulama.<br />
Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan dalam risalahnya Al-Farqu baina An-Nashihati wat Ta’yiir, adanya ulama yang membantah pendapat Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah yang membolehkan jatuhnya talak tiga sekaligus dalam satu akad. Juga terhadap Al-Hasan (Al-Bashri) rahimahullah yang menyatakan tidak ada ihdad (berkabung, tidak berhias dan keluar rumah sampai waktu yang ditentukan) bagi seorang wanita yang ditinggal mati suaminya. Begitu juga ulama lainnya yang memang disepakati oleh kaum muslimin mereka adalah imam-imam pembawa petunjuk.<br />
Sama sekali mereka tidak menyatakan bahwa kritikan (al-jarh) terhadap pemikiran dan penyimpangan itu sebagai suatu hujatan atau kecaman terhadap mereka. Bahkan bukan pula aib.<br />
Alangkah tepatnya perkataan Al-Imam Malik rahimahullah ketika menyatakan: “Setiap orang boleh diambil dan dibuang pendapatnya, kecuali pemilik (penghuni) kubur ini –sambil menunjuk ke arah makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam–.”<br />
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan: <strong>“Kalau kalian dapati dalam kitabku bertentangan dengan Sunnah Nabi, maka ambillah Sunnah Nabi dan tinggalkanlah ucapanku.” (lihat Muqaddimah Shifat Shalatin Nabi, hal. 50, ed)</strong><br />
Kalimat-kalimat seperti ini menunjukkan betapa lapang dada para ulama kita untuk menerima kritikan atau al-jarh terhadap pendapat atau pemikirannya yang sempat terucap maupun yang tertulis. Dan alangkah terbaliknya keadaan mereka dengan kaum muslimin yang mengaku-aku bermadzhab dengan madzhab para imam tersebut tapi bangkit marah serta kebenciannya, bahkan sesak dadanya kalau imam-imam tersebut dikritik atau pendapatnya disalahkan.<br />
Yang lebih parah lagi, sebagian mereka justru menganggap para tokoh mereka adalah manusia-manusia maksum, bebas dari kesalahan dan aib. Tidak ada cacatnya. Maka barangsiapa yang mengkritik tokoh-tokohnya, berarti menodai kemuliaan dan nama baik para imam tersebut.<br />
Tentang hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah mengalaminya. Ketika seorang ahli nahwu di masanya berdialog dengannya kemudian dibantah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ternyata tokoh tersebut (Abu Hayyan) menukil perkataan Al-Imam Sibawaih untuk mendukung pendapatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kemudian berkata kepadanya (Abu Hayyan): “Apakah Sibawaih itu nabinya nahwu sehingga harus ma’shum (bersih, terjaga dari aib dan kesalahan)? Sibawaih keliru tentang Al Qur`an dalam 40 tempat yang tidak kamu pahami, juga dia.” (Lihat Ar-Radd Al-Wafir hal 65)<br />
Lebih lanjut lagi beliau rahimahullah menerangkan: “Jika nasehat itu adalah suatu hal yang wajib untuk kemaslahatan diniah (urusan agama) secara umum maupun khusus, seperti (menerangkan keadaaan) para rawi yang salah atau dusta, sebagaimana kata Yahya bin Sa’id Al-Qaththan: ‘Saya bertanya kepada (Al-Imam) Malik, Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’d –saya kira juga– Al-Auza’i rahimahumullah, tentang rawi yang tertuduh berkaitan dengan sebuah hadits, atau tidak menghafalnya, (bagaimana tentang orang tersebut)?’ Kata mereka: ‘Terangkan keadaannya!’”<br />
Sebagian ulama berkata kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:</p>
<blockquote><p><strong>“Berat bagi saya untuk mengatakan si Fulan demikian, Si Anu demikian.”3 Maka Al-Imam Ahmad mengatakan: “Kalau engkau diam dan saya juga diam (tidak menerangkan keadaannya), kapan orang yang jahil (tidak berilmu) akan tahu mana hadits yang sahih dan mana yang cacat?”4</strong></p></blockquote>
<p>Juga seperti tokoh-tokoh ahli bid’ah, dengan berbagai pernyataan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau ahli ibadah yang mengamalkan sesuatu yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka menerangkan keadaan mereka dan memberikan peringatan agar kaum muslimin menjauhi mereka (apalagi pemikiran mereka) adalah wajib menurut kesepakatan kaum muslimin. Sampai ditanyakan kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: “Seseorang berpuasa, shalat dan i’tikaf, itu lebih anda sukai atau orang yang berbicara menjelaskan kesesatan ahli bid’ah?”<br />
Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan:</p>
<blockquote><p><strong>“Jika dia menegakkan shalat, i’tikaf (dan ibadah lainnya), maka itu (pahala, dan kemaslahatannya) hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan kalau dia berbicara (menjelaskan kesesatan ahli bid’ah) maka itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin, maka ini lebih utama.”</strong><br />
<strong> Maka jelaslah bahwa manfaatnya lebih merata bagi kaum muslimin dan kedudukannya sama seperti jihad fi sabilillah. Karena membersihkan jalan Allah dan agama-Nya, manhaj serta syari’at-Nya serta menghalau kejahatan dan permusuhan mereka adalah wajib kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin…”5</strong></p></blockquote>
<p>Hal-hal yang diuraikan ini sama sekali tidak bertentangan dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ: أَتَدْرُوْنَ ماَ الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قاَلَ: ذِكْرُكَ أَخاَكَ بِماَ يَكْرَهُ</p>
<p>Dari Abi Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: <strong>“Tahukah kamu apakah ghibah itu?” Mereka (para shahabat) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” (HR. Muslim)</strong><br />
Seorang mukmin jika dia jujur dalam keimanannya, maka dia tidak akan benci kalau Anda mengatakan kebenaran yang (jelas) dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, meskipun hal itu memberatkannya… Namun apabila dia tidak suka dengan kebenaran tersebut, berarti imannya tidak sempurna, dan persaudaraan itupun berkurang senilai dengan kurangnya iman pada diri ‘saudara’ tersebut. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَاللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوْهُ</p>
<p>“Padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya..” (At-Taubah: 62)<br />
Maka jelaslah, bahwa menerangkan kepada kaum muslimin berbagai kesesatan bid’ah dan ahli bid’ah merupakan salah satu bentuk nasehat untuk kaum muslimin secara umum. Bahkan termasuk amar ma’ruf nahi munkar. Bukan ghibah atau ta’yiir (celaan) yang diharamkan.<br />
Sudah masyhur dalam buku-buku yang membahas tentang As-Sunnah atau aqidah, melalui uraian-uraian para ulama sejak dahulu hingga saat ini bahwasanya tidak berlaku (hukum) ghibah bagi ahli bid’ah. Di mana mereka memaksudkan adanya pembolehan membicarakan dan membeberkan aib atau cacat, kejelekan, ataupun kesesatan ahli bid’ah.6<br />
Dan dalil yang menerangkan hal ini cukup banyak. Namun dapat disimpulkan bahwa semuanya terbagi dua:<br />
Yang pertama bersifat umum; berada di bawah keumuman dalil perintah melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana telah kita kemukakan pada pembahasan sebelumnya (pada artikel Hakekat Jarh wat Ta’dil).<br />
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan:</p>
<blockquote><p>“Wajibnya melakukan amar ma’ruf nahi munkar, telah ditegaskan berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ umat ini. Bahkan amar ma’ruf nahi munkar ini adalah nasehat yang termasuk ajaran (agama) Islam.7<br />
Dan termasuk dalam rangkaian amar ma’ruf nahi munkar ini ialah mengajak manusia untuk kembali kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menerapkannya dalam kehidupan sekaligus men-tahdzir dari bid’ah dan ahli bid’ah.<br />
Adapun dalil khusus yang terkait dalam masalah ini; bolehnya mengecam, mengkritik, dan membeberkan kesesatan ahli bid’ah, di antaranya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p></blockquote>
<p>لاَ يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ</p>
<p>“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya.” (An-Nisa: 148)<br />
Ayat ini meskipun berkaitan dengan hak tamu yang dilanggar (tidak dipenuhi) oleh tuan rumah, sehingga boleh bagi tamu untuk menyebutkan kejelekan tuan rumah dalam hal ini, lebih-lebih berlaku pula terhadap orang-orang yang menyebarkan kebid’ahan.8<br />
Adapun di dalam As-Sunnah, banyak pula disebutkan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang-orang yang melakukan kerusakan, sebagai peringatan agar manusia menjauhinya. Di antaranya ialah hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:</p>
<p>أَنَّ عاَئِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهاَ أَخْبَرَتْهُ قاَلَتْ: اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقاَلَ: ائْذَنُوْا لَهُ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيْرَةِ أَوِ ابْنُ الْعَشِيْرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلاَنَ لَهُ الْكَلاَمَ. قُلْتُ: ياَ رَسُوْلَ اللهِ قُلْتَ الَّذِي قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ الْكَلاَمَ؟ قَالَ: أَيْ عاَئِشَةُ، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقاَءَ فُحْشِهِ</p>
<p>‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan: Ada seseorang minta izin menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata: “Izinkan dia! Seburuk-buruk saudara (putera) dalam kabilahnya.”<br />
Ketika dia masuk, beliau melunakkan pembicaraannya terhadap orang tersebut. Saya (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, anda mengatakan sebelumnya demikian (tentang dia), kemudian anda melunakkan pembicaraan terhadapnya?” Beliau berkata: “Hai ‘Aisyah, sesungguhnya sejahat-jahat manusia ialah orang yang ditinggalkan oleh orang lain atau dibiarkan karena takut kekejiannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan pengertian hadits ini: “Di dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya melakukan mudaaraah9, terhadap orang yang dikhawatirkan kekejiannya dan bolehnya meng-ghibah orang fasik yang terang-terangan melakukan kefasikan (kejahatan)-nya dan orang-orang yang memang perlu kaum muslimin jauhi.”10<br />
Juga hadits Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha, ketika dia meminta nasehat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan siapa dia sebaiknya menikah saat dilamar oleh Abu Jahm dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>أَمَّا أَبُوْ جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصاَهُ عَنْ عاَتِقِهِ وَأَمَّا مُعاَوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ ماَلَ لَهُ انْكِحِي أُساَمَةَ بْنَ زَيْدٍ</p>
<p>“Adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkatnya (suka memukul) dari pundaknya. Adapun Mu’awiyah, dia miskin tidak punya harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (Shahih, HR. Muslim dan lainnya)<br />
Bolehnya men­jarh (meng-ghibah) ahli bid’ah tersirat dalam hadits ini. Kalau di sini diungkapkan bolehnya menyebut-nyebut kekurangan seseorang (dalam hal ini kedua sahabat) demi kepentingan urusan duniawi secara khusus, sebagai nasehat buat shahabiah tersebut, maka tentunya lebih jelas lagi bolehnya menyebutkan kekurangan bahkan kesesatan ahli bid’ah demi kemaslahatan kaum muslimin secara umum.11<br />
Di samping itu, tidak pula ada keharusan untuk menyebutkan kebaikan mereka ketika membantah dan menerangkan adanya kesesatan nyata pada pemikiran atau pendapat mereka.<br />
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah ketika ditanya tentang masalah ini mengatakan bahwa hal itu bukan satu keharusan. Para ulama menerangkan hal ini dalam buku-buku mereka adalah untuk menperingatkan dari kesesatan ahli bid’ah… kebaikan mereka tidak ada artinya dibandingkan dengan kekafiran, jika bid’ahnya itu sampai kepada kekafiran, gugur sudah kebaikannya. Adapun kalau bid’ahnya belum sampai pada tingkat kufur, maka dia dalam keadaan bahaya… 12<br />
Asy-Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi hafizhahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan kepada kita bagaimana sikap orang-orang kafir yang mendustakan para Rasul Allah ‘alaihimussalam yang datang kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan kekafiran, pendustaan dan penghinaan mereka terhadap para Rasul tersebut, kemudian bagaimana Dia membinasakan dan menghancurkan mereka. Semua itu tercantum dalam Al Qur`an dan sama sekali tidak ada penyebutan kebaikan mereka. Karena tujuan utama adalah agar kita mengambil pelajaran dan menjauhi apa yang mereka lakukan terhadap Rasul mereka.<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifatkan orang-orang Yahudi dan Nashara dengan sifat yang sangat buruk, bahkan mengancam mereka dengan ancaman yang sangat hebat dan sama sekali tidak menyebutkan kebaikan mereka yang mereka runtuhkan karena kekufuran dan pendustaan mereka terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pula men-tahdzir umatnya dari ahli ahwa` (bid’ah) tanpa memperhatikan kebaikan yang ada pada mereka. Karena kebaikan mereka sangat lemah, sedangkan bahaya mereka jauh lebih hebat dan lebih besar dibandingkan kemaslahatan yang diharapkan dari kebaikan mereka.”<br />
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini:</p>
<p>هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتاَبَ مِنْهُ آياَتٌ مُحْكَماَتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتاَبِ وَأُخَرُ مُتَشاَبِهاَتٌ فَأَمَّا الَّذِيْنَ فِي قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ ماَ تَشاَبَهَ مِنْهُ ابْتِغآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغآءَ تَأْوِيْلِهِ وَماَ يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّناَ وَماَ يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُو الأَلْباَبِ</p>
<p>“Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al Qur`an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat (jelas) itulah pokok-pokok isi Al Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (samar). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali ‘Imran: 7)<br />
Kata ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<strong> “Maka jika kamu melihat orang-orang yang mengikuti apa yang mutasyabih dari Al-Qur’an, merekalah yang disebut oleh Allah. Maka jauhilah mereka!” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)</strong><br />
Dan kita maklum, bahwa ahli bid’ah itu tidak kosong dari kebaikan. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak memperhatikannya dan tidak menyebut-nyebutnya. Dan kita ketahui pula bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membandingkan para shahabatnya dengan orang-orang Khawarij:</p>
<p>يَخْرُجُ فِيْكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُوْنَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِياَمَكُمْ مَعَ صِياَمِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجاَوِزُ حَناَجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنِ كَماَ يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ</p>
<p>“Akan keluar di tengah-tengah kalian satu kaum yang kalian meremehkan shalat kalian bila dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian dengan puasa mereka, amalan kalian dengan amalan mereka. Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama ini seperti lepasnya anak panah dari sasaran13.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu)<br />
Telah kita ketahui pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan mereka sebagai anjing-anjing neraka14, seburuk-buruk bangkai yang terbunuh di kolong langit. Artinya, mereka (Khawarij) ini lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada selain mereka, baik itu dari kalangan Yahudi maupun Nashara. Mengapa demikian? Jawabnya jelas, karena mereka bersungguh-sungguh berusaha membantai kaum muslimin yang tidak sejalan dengan mereka. Mereka halalkan darah dan harta kaum muslimin lainnya, bahkan nyawa anak-anak kaum muslimin15. Mereka mengkafirkan kaum muslimin yang tidak sefaham dengan mereka, dalam keadaan mereka menganggap semua itu adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena parahnya kebodohan dan kesesatan mereka…”<br />
<strong>Terakhir, janganlah kita terjerumus dalam kepalsuan orang-orang Yahudi. Mereka berselisih dalam urusan kitab mereka dan menyelisihi kitab tersebut, namun mereka tampakkan kepada orang lain bahwa mereka seakan-akan bersatu padu. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membantah hal ini dalam firman-Nya:</strong></p>
<p><strong>تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعاً وَقُلُوْبُهُمْ شَتَّى</strong></p>
<p><strong>“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.” (Al-Hasyr: 14)</strong><br />
<strong> Dan ingat, salah satu sebab mereka dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebagaimana firman-Nya:</strong></p>
<p><strong>كَانُوْا لاَ يَتَناَهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ</strong></p>
<p><strong>“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat.” (Al-Maidah: 79)</strong><br />
<strong> Oleh karena itu, apabila kita lihat ada orang yang membantah pendapat atau pemikiran yang menyimpang dari Al Qur`an dan As-Sunnah, baik dalam masalah fiqih, atau pernyataan-pernyataan bid’ah lainnya, maka syukurilah usaha yang dilakukannya sebatas kemampuannya itu.</strong><br />
<strong> Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal.</strong><br />
<strong> Wallahu a’lam.</strong></p>
<p>1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Kitab Al-Iman.<br />
2 Hal-hal yang samar dan masih membutuhkan penjelasan melalui ayat lain atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu A’lam, red.<br />
3 Kekurangannya, seperti kelemahan hafalan dan sebagainya. Wallahu A’lam.<br />
4 Majmu’ Fatawa 28/231. Dan Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili.<br />
5 Majmu’ Fatawa 28/232. Dan lihat pembahasan Hakekat Jarh wat Ta’dil.<br />
6 Lihat kitab Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili.<br />
7 Syarh Shahih Muslim 2/22, secara ringkas.<br />
8 Lihat Majmu’ Fatawa 28/230.<br />
9 Ibnu Baththal berkata: “Al-Mudaaraah artinya berlemah lembut dengan orang yang jahil dalam mengajari, dan terkadang dengan orang yang fasiq dalam melarang dari perbuatan jeleknya dan tidak menyikapi keras… dan mengingkarinya dengan ucapan serta perbuatan yang lembut, lebih-lebih bila dibutuhkan untuk dilunakkan hatinya.” (Fathul Bari, 10/258 dinukil dari Tuhfatul Ahyar, hal. 96) (ed)<br />
10 Syarh Shahih Muslim 16/144.<br />
11 Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (28/230-231) dan Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili.<br />
12 Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi naqdir Rijal, Asy-Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah hal. 9.<br />
13 Yaitu sebagaimana anak panah yang tepat mengenai sasarannya kemudian menembusnya sampai lepas darinya. (ed)<br />
14 Sebagaimana dalam hadits Abi Umamah Shudai bin ‘Ajlan yang dikeluarkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dan beliau mengatakan hasan. Juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah rahimahullah dalam Sunan-nya dari Ibnu Abi Aufa. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.<br />
15 Sebagaimana dialami oleh Abdullah bin Khabbab bin Al-Art, ia dan isterinya yang hamil tua dibunuh oleh orang-orang Khawarij, kemudian anaknya yang ada di dalam perut isterinya dikorek dan dibunuh. Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’un.</p>
<p><strong>Dipublikasi ulang dari : http://salafiyunpad.wordpress.com</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/akhlaq/'>Akhlaq</a>, <a href='http://abufahmiabdullah.wordpress.com/category/manhaj/'>Manhaj</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abufahmiabdullah.wordpress.com/5543/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abufahmiabdullah.wordpress.com&amp;blog=2753503&amp;post=5543&amp;subd=abufahmiabdullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2012/01/05/ketika-nasihat-dianggap-celaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f42ca88cdb73c08c4fea7d92ae677298?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufahmiabdullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abufahmiabdullah.files.wordpress.com/2012/01/37761_1520255536017_1523414362_1294985_230311_n-copy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">37761_1520255536017_1523414362_1294985_230311_n copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
