Sebuah Risalah pembelaan terhadap Ulama Sunnah yang terdzalimi ( Sebuah bantahan dari sebuah buku ” Buku “ Hadist- Hadist Palsu Seputar Ramadhan”)

Sebuah Risalah pembelaan terhadap Ulama Sunnah yang terdzalimi (Sebuah bantahan dari sebuah buku ” Buku “ Hadist- Hadist Palsu Seputar  Ramadhan”)

Risalah singkat ini adalah risalah yang yang telah lalu dari Majalah Al Furqon, tetapi Insya Allah tetap memberikan faedah yang bermanfa’at, dikarenakan akhir-akhir ini banyak juga dari sebagian kaum muslimin fanatik madzhab  yang melemparkan tuduhan dan celaan terhadap  salah seorang Imam ahlus sunnah yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah yang mereka melempar tuduhan yang didapat dari ulama-ulama yang tidak suka terhadap kegigihan Syaikh Al Albani Rohimahullah dalam pembelaanya terhadap Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.  

Sungguh indah apa yang diucapkan Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah,

Seandainya kami ingin untuk taklid kepada Ibnu Baz atau al Albani, tentu kami akan taklid kepada orang yang lebih baik dari keduanya seperti Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, al Bukhari, Muslim dan lain sebagainya” (Majalah ash Shalah edisi 34 tahun ke 6)

Juga ucapan seorang ulama besar Syaikh al Utsaimin rahimahullah, “Syaikh al Albani adalah orang yang sangat dalam ilmunya, luas telaahnya dan kuat argumennya. Namun semua orang dapat diambil dan ditolak ucapannya selain perkataan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya” (Hayatul Albani 2/543)

Berikut Risalah pembelaan  mengenai pelecehan terhadap Syaikh al Albani Rahimahullah dari majalah Al Furqon. Untuk lebih lengkapnya tentang pembahasan tersebut silakan antum membeli buku Syaikh al-Albani Rahimahullah dihujat yang ditulis oleh Ust Abu Ubaidah. Disana dijelaskan kebohongan -kebohongan yang dilakukan penulis. Wallahu Ta’ala a’lam.

Buku “ Hadist- Hadist Palsu Seputar  Ramadhan”

Celaan Terhadap Ulama Hadist  Al-Albani Rohimahullah

Buku yang satu., ini buah pena Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub MA, yang oleh sementara kalangan dianggap sebagai ahli hadits Indonesia.

Pembaca mungkin menduga kalau buku tersebut hanya memuat penjelasan seputar hadits-hadits palsu yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Ternyata tidak, penulis menyisipkan satu bab terakhir  “Mengkritisi Pemikiran Hadits al-Albani”.

Mungkin saja bab ini merupakan kritikan terhadap ketergelinciran Syaikh al-Albani Rohimahullah sesuai kaidah-kaidah ilmiah sebagai wujud nasehat disertai adab, sebab tidak ada orang yang ma’shum selain Nabi.Shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh al-Albàni Rohimahullah sendiri tidak pernah mengakui bahwa dirinya ma’shum dari kesalahan   (2).

Ditambah lagi judul kitabnya memberikan kesan suatu pembahasan ilmiah, bukan pembahasan khusus bersifat bantahan terhadap Syaikh al-Albani rohimahullah.

Ternyata tidak demikian, bab tersebut sarat dengan celaan, kebohongan, dan tuduhan palsu terhadap al-Albani seperti: al-Albani menentang ijma’ ulama, mernbodoh-bodohkan para ulama salaf, mencela kitab shahih Bukhari dan Muslim, serta tuduhan-tuduhan batil lainnya!

Ulasan berikut bukanlah bentuk fanatisme kepada Syaikh al-Albani rohimahullah ataupun kultus. Sama sekali bukan, karena kami meyakini, agama kita dibangun di atas dalil, bukan orang.

Tetapi tujuan ulasan ini tak lain merupakan pembelaan kepada seorang ulama yang terzhalirni, sekaligus bantahan terhadap gelombang yang ingin meruntuhkan dakwah salafiyah melalui celaan dan hujatan terhadap para ulamanya.

Kami hanya.mengangkat beberapa masalah karena keterbatasan.

  1. Profesor Tidak Selektif  Mengambil Ucapan Orang, yang Pentingg Mengkritik al-Albani.

Pada hal.125, bapak profesor mengatakan, “Al-Albani akhirnya benar-benar memetik apa yang ía harapkan. Ia digebuk ramai-ramai oleh para ulama, dari Syiria, Libanon, Saudi Arabia, Maroko, India, dan lain-lain. Maka menurut catatan kami, sekurang-kurangnya

Ada 17 buah buku yang membantah Al-Albani seputar fatwa dan pendapat-pendapatnya.

Pada hal.137-139 Prof. Menyebutkan nama-nama tersebut.

Jawaban : Apakah bapak Profesor telah memeriksa  kredibilitas dan kapasitas keilmuan para penulisnya menurut pandangan para ulama terkemuka? Ataukah bapak sudah tahu dan setuju dengan isinya karena mendukung hasrat anda? Sebenarnya buku-buku tersebut telah dijawab oleh Syaikh al-Albani sendiri, para murid dan simpatisannya dengan argument-argumen yang sangat kuat. Untuk mengetahui jati diri ‘para ulama’ tersebut berikut ulasannya secara ringkas.

I. Abdullah al-Harari alHabsyi

Dia berasal dan Habasyah (Ethiopia) yang sekarang menetap di Libanon. Lajnah Da’imah Saudi Arabia 12/308-323(3) telah mempelajari sepak terjang, pemikiran, dan penyimpangannya secara detail.

Ringkasnya sebagai berikut: “Dia orang jelek, tokoh kebid’ahan dan kesesatan. Di antara kesesatannya, dia dan pengikutnya berfaham irja’, membolehkan isti ‘anah, isti adzah dan istighatsah kepada orang-orang yang telah mati, Al Qur’an hakekatnya bukanlah Kalamullah, wajibnya mentakwil dalil-dalil tentang sifat-sifat Alloh Tabaroka wa ta’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadits, menghina sebagian sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam seperti menegaskan Muawiyah adalah fasik, melecehkan para ulama bahkan mengkafirkan mereka seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.

Adapun kitab bantahannya terhadap al-Albani Rohimuhullah yang berjudul At-Ta’aqqub Al-Hatsits ‘ala Man Tha ‘ana fima Shahha min al-Hadits sudah dijawab secara tuntas oleh Syaikh al-Albani sendiri dalam Majalah At -Tamaddun al-Islami kemudian dibukukan secara khusus dengan judulAr-Raddu ‘ala at-Ta’aqqub al-Hatsits.(4).

2. Hasan as-Saqqaf

Orang ini tidak jauh beda dengan sebelumnya. Lihat kembati Edisi 10/Th.IV. Sebagai tambahan, dia sering melecehkankan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam seperti ucapannya pada hal 188, tentang hadits budak perempuan riwayat Muslim 537, “Itu lafazh yang keji!” Pada hal 188, “Kita menegaskan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak mengucapkan: ‘Di mana Allah?”, memuji para tokoh ahli bid’ah, lebih-lebih gurunyà yang bernama Muhammad Zahid al-Kautsari, panglima Jahmiyah pada zaman sekarang, sering metakukan kedustaan, tadlis (penipuan), dan talbis (kerancuan).

Adapun kitab bantahannya terhadap al-Albani Rohimuhullah yang berjudul Tanaqudhat al-Albani telah dikomentari oleh Syaikh al-Albani Rohimuhullah secara ringkas, “Kitab tersebut sarat dengan tuduhan tuduhan keji dan kebohongan sebagaimana adat kebiasaannya.” (Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihah 1/17).

Kitab tersebut juga telah dibantah oleh Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dalam kitabnya Al-Anwar al-Kasyifah li Tanaqudhat atKhassaf az-Zaifah dan Syaikh Khalid al-Anbari, salah seorang murid al-Albani, dalam risalahnya Iftira’aat as-Saqqaf al-Atsim ‘ala al-Albani Syaikh Muhadditsin. (Tuduhan-Tuduhan as-Saqqaf, Si Pendosa, Terhadap al-Albani, Syaikh Ahli Hadits).

3. Abdullah al-Ghumari

Dia tokoh tarekat, sufi tuten, banyak Lakukan bid’ah, benci kepada ulama salaf seperti Ibnu Taimiyah, lbnul Qayyim, Muhammad bin Abdil Wahhab, dan lain-lainnya. Dia menulis buku berjudulAl-Qaulul Muqni’fi arRaddi ‘ala al-Albani al-Mubtadi’ (Bantahan memuaskan terhadap Al-Albani, si pembuat bid’ah). Dia juga banyak melontarkan tuduhan tuduhan keji terhadap Syaikh al-Albani. Buku ini tetah dikomentari Syaikh al-Albani Rohimuhullah dalam Silsilah adh-Dhaifah 3/8-9.

Banyak ulama yang membongkar kedok al-Ghumari ini, di antaranya:

a. Syaikh AI-Allamah Hammad Anshari, ahli hadits Madinah, beliau menulis kitab bantahan terhadap al-Ghumari berjuduL Tuhfatul Qarii fi ar-Raddi ‘ala al-Ghumari.

b. Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dalam risalah Kasyfu al-Mutawari minTalbisaat al-Ghumari.

c. Syaikh Abu Ishaq aL-Huwaini datam kitabnya Az-Zandu al-Wari fi ar-Raddi ‘ala al-Ghumari

4. Habibur Rahman al-A’zhami

Dia disifati oleh Syaikh al-Albani Rohimuhullah  sebagai “salah satu musuh sunnah, ahli hadits, dan ahli tauhid yang terkenal, fanatik buta kepada madzhab Hanafi”(5)’ .

Syaikh Dr. Abdur Rahman ar Riryawaai juga berkomentar tentangnya, “Syaikh Habibur Rahman al-Azhami, salah seorang tokoh madzhab Hanafiyah yang cukup populer pada zaman ini. – – Dia sangat fanatik dan ekstrim terhadap madzhab Hanafi.

sebagaimana nampak nyata dalam tulisan-tulisannya berbahasa Urdu seputar masalah-masalah fiqih dan perdebatannya bersama para ulama ahli hadits.(6) .“‘ Orang ini membantah al-Albani dengan menulis kitab “Al-Albani, Syudzudzuhu wa Akhta’uhu (Keganjilan dan kesalahan kesalahan aL-Albani) dengan nama samaran Arsyad Salafi dan telah dibantah al-Albani dalam muqadimah Adab Zifaf  hal.8.

Para ulama lainnya juga membantah kitab tersebut, di antaranya:

a. Syaikh Salim al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan al-HaLabi dalam kitab Ar-Raddu al-Ilmi ‘ala Habi bin Rahman al-A ‘zhami dan telah tercetak dua juz (aslinya tiga juz  pen) (7) Dalam muqaddimahnya hal.6, kedua syaikh mensifati kitab ini “penuh dengan maki makian, pembodohan, pelecehan, cercaan, dan celaan”.

b. Syaikh Abu lshaq aL-Huwaini dalam muqaddimah risalahnya Nahyu Shuhbah ‘an Nuzul bi Rukbah hal.9-12.

c. Syaikh Shalah MaqbuL Ahmad dalam Zawabi’ fi Wajhi Sunnah haL.345- 354.

d. Syaikh Dr. Ashim at-Qaryuthi dalam makalahnya yang dimuat dalam Majalah Salafiyyah jilid 16 edisi 10 dan 11 DzuL Qa’dah 1404 H dan Rabi’ul Awwa[ 1405 hal.52- 74.

5. Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Dia beraqidah sufi, sangat benci kepada dakwah salafiyah dan para ulamanya, fanatik buta terhadap madzhab Hanafi, pengagum berat Muhammad Zahid at-Kautsari, pendekar Jahmiyah masa kini. Kedoknya telah dibongkar oleh Syaikh al-Albani.Rohimahullah  dalam Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah dan Kasyfu Niqab Amma fi Kalimaat Abu Ghuddah minal Abathil wal ifthi ra’at (menyingkap tabir kebatilan dan kebohongan Abu Ghuddah).

Para ulama Lainnya yang menyingkap penyimpangannya adalah:

a. Al-Allamah Muhammad Bahjah at-Baithar.

b. Al-Ustadz Muhammad Fahri dalam At-Tashawwuf bainal Haq wal Khalq hal.220.

c. Syaikh Abdul Aziz ar-Rubayyi’an dalam As-Saif ash-Shaqil al-Abqary ‘ala Abhathil Tilmidz al-Kautsari.

d. Al-Ustadz Zuhair as-Syawisy dalam At-Taudzih.

e. Abdullah bin Shalih al-Madani dalam kata pengantar kitab AlMuqabalah bainal Huda wa Dhalal oleh Syaikh AL-Allamah Abdur Razzaq Hamzah (8)

B. Membodoh-bodohkan al-Albani

Pada ha[.135: “Ungkapan ini konkritnya adalah: al-Albani adalah seorang yang bodoh.”

Hal.133: “Maka tidak heran apabila ahli hadits dari Maroko, SyaikhAbdullah al-Ghumari, menyatakan bahwa al-Albani tidak dapat dipertanggung jawabkan dalam menetapkan nilai hadits, baik shahih atau dha’if. Tidak mengherankan pula apabila Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani, ulama Saudi Arabia keturunan Sumatera Barat mengatakan: ‘Al-Albani adalah orang sesat dan menyesatkan.”

Jawaban: Dunia mendustakan tuduhan profesor hadits ini. Imam Nawawi rohimahullah berkata dalam Irsyad al Haqa’iq (1/498), “Ilmu hadits merupakan ilmu yang sangat mulia, sesuai dengan adab dan akhlak mulia.Dia Termasuk ilmu akherat, bukan ilmu dunia. Barangsiapa yang diharamkan mendapatkan ilmu tersebut, berarti dia diharamkan meraih kebaikan yang banyak dan barangsiapa yang diberi karunia memperolehnya, berarti dia mendapatkan keutamaan yang melimpah.”

Maka sudah selayaknya profesor mengaca diri lalu mawas diri dan bertanya dalam hati, “Apakah saya telah memetik buah pelajaran ilmu hadits?!’ Seperti inikah adab pelajar hadits terhadap sosok seorang ulama yang menghabiskan umurnya untuk meneliti dan membela hadits Nabi?l .

Bukankah profesor sendiri sering mengakui: “Kami hanya seorang santri pinggiran yang baru belajar ilmu hadits kemarin sore, tentu kami belum banyak memahami kitab-kitab hadits. “(9)

Lantäs pantaskah bagi santri  pinggiran yang baru belajar ilmu hadits kemarin sore dan belum banyak memahami kitab-kitab hadits untuk melontarkan kata kata “bodoh” terhadap seorang ulama yang menghabiskan umurnya selama enam puluh tahun lebih dalam penelitian dan pembelaan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,?!!

Anehnya, dalam buku profesor terpampang namanya “Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darus Sunnah”, “Guru Besar Ilmu Hadits Institut Ilmu AL-Qur’an (IIQ) Jakarta”.

Para ulama bersepakat memuji al-Albani dan mengakui keunggulannya dalam ilmu hadits. Kami sebutkan sebagian saja. Beliau memperoleh Piagam Penghargaan Hadiah Raja Faishal pada tahun 1419 H/1999 M, sebagai penghargaan atas segala kesungguhan dan jerih payah beliau yang sangat bernilai.dalam berkhidmah kepada hadits hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam bentuk pentakhrijan, penelitian, dan pendalamannya.

Beliau dipuji oleh Syaikh al-Muhaddits Abdush Shamad Syarafuddin, ahli hadits India, pengedit kitab Sunan Kubra  karya Imam Nasá’i dan Tuhfatul Asyraf oleh al-Imam al-Mizzi, Samahatusy Syaikh al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh Rohimahullah, mufti kerajaan Saudi Arabia sebelum Ibnu Baz, Samahatusy Syaikh Allamah Abdul Aziz bin Baz Rohimuhulloh, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rohimuhulloh, Syaikh al Allamah AbduL Muhsin bin Hamd aL-Abbad, Syaikh Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, anggota komisi fatwa Saudi Arabia sekarang, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Mufti Saudi Arabia sekarang, Syaikh Dr. Abdullah bin Abdur Rahman al Jibrin, Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i (ahli hadits Yaman), Syaikh Humud at-Tuwaijiri, Syaikh al Allamah Hammad Anshari (ahLi hadits Madinah) dan banyak lagi.

Timbul tanda tanya besar, mungkinkah pujian para ulama tersebut tidak diketahui oleh prof. yang mengaku pernah belajar di Riyadh?! Ataukah para utama tersebut bodoh sehingga memuji al-Albani?

B. Albani Mendha’ifkan Hadist Bukhari-Muslim dan Menjugkir balikkan Kaidah Ulama Hadits.

Hal.93: “Dan kami sungguh tidak mengerti sikap al-Albani ini, apakah memang dia itu tidak mengerti ilmu hadits, seperti dituduhkan oleh banyak ulama padanya, atau dia itu membuat kaidah-kaidah sendiri untuk mendhaifkan atau menshahihkan hadits diluar kaidah-kaidah yang telah baku dan disepakati para ulama dalam disiplin ilmu hadits. Sekali lagi, kami tidak mengerti. Yang jelas al-Albani memang mendhaifkan hadits-hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dan menshahihkan hadits hadits yang oleh para ulama dinilai sebagai hadits dha’if seperti hadits Jabir ini.”

Hal.136: “Di sini jelas sekali al-Albani teläh menjungkirbalikkan kaidah-kaidah yang telah dilakukan dan disepakati oleh ahli-ahli hadits. Di satu sisi al Albani mendha ifkan hadits-hadits al-Bukhari dan Muslim yang telah disepakati oleh para ulama, sementara di sisi lain al-Albani menshahihkan hadits Jabir yang dinyatakan sebagai hadits semipalsu oleh para ulama.”

Jawaban: Tuduhan ini sangat jelas kebohongannya bagaikan matahari di siang bolong. Bapak prof. nampaknya ingin membentuk opini publik bahwa al-Albani Rohimuhulloh mencela hadits-hadits Bukhar’i Muslim dan membuat kaidah-kaidah sendiri di luar kaidah ahli hadits yang telah baku.

Bapak prof. bukanlah orang pertama yang menuduh Syaikh al-Albani seperti itu. Pada masa hidupnya, Syaikh al-Albani pernah dituduh dengan tuduhan serupa, lalu beliau membantahnya,

“Sungguh ini tuduhan yang sangat keji. Maha Suci Alloh, ini adalah kedustaan yang sangat besar terhadap seorang muslim yang bernadzar untuk mencurahkan waktu dan jiwa raganya dalam membela Sunnah dan menepis para penghujatnya selama lebih dari Lima puluh tahun lamanya tanpa rasa lelah dan bosan. Dia juga memiliki karya-karya ilmiah yang direkomendasi oleh para ulama akan pentingnya dan membuahkan manfaat bagi jutaan para penuntut ilmu di setiap negeri Islam, bahkan sebagian judul kitabnya sangat jelas menunjukkan pembelaannya terhadap hadits seperti Difa’ anil Hadits Nabawi (Membela Hadits Nabi), Manzilah Sunnah fil Islam (Kedudukan Sunnah DaLam Islam), Adz-Dzabbul Ahmad ‘an Musnad Imam Ahmad (Membela Musnad Imam Ahmad), kitab ini belum tercetak (10), isinya adalah bantahan terhadap orang yang mengingkari keabsahan kitab Musnad Imam Ahmad. “(11).

Menyibak Tirai Kedustaan

Syaikh al-Albani Rohimuhulloh dalam Muqaddimah Syarh at Thahawiyyah

hal.22-23, beliau  berkata : “Shahih Bukhari dan Muslim adalah dua kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an berdasarkan kesepakatan seluruh ahli hadits dan selainnya, di mana dua kitab tersebut Lebih unggul daripada kitab-kitab hadits lainnya dalam menghimpun hadits-hadits yang paling shahih serta meninggalkan hadits-hadits dha ‘if dengan berpedoman pada kaidah-kaidah yang kokoh dan persyaratan yang sangat ketat. Sungguh mereka (Bukhari-Muslim) mendapatkan taufiq dalam upaya tersebut, yang tidak diberikan pada para ulama ahli hadits setelahnya yang ingin mengikuti langkah keduanya dalam menghimpun hadits-hadits  shahih seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim dan lainnya. Sehingga menjadi tradisi yang umum bila ada suatu hadits diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim atau salah satunya, maka hadits itu sudah pasti shahih.

Hal itu tak diragukan lagi dan itulah kaidah asalnya menurut keyakinan kami, tetapi bukanlah berarti bahwa setiap huruf dan Lafazh atau kalimat yang terdapat dalam Shahih Bukhari-Muslim sepertiAl-Qur’an kedudukannya, yakni tidak mungkin ada kekeliruan atau ketergelinciran yang ada pada sebagian rawi. Sekali-kali tidak, kita tidak berkeyakinan ada suatu kitab yang ma’shum setelah AL-Qur’an sebagaimana dikatakan oleh Imarn Syafi’i dan selainnya, “Alloh enggan untuk menyempurnakan kitab apa pun selain kitab-Nya.” Dan tidak akan ada satu pun dari kalangan ahli ilmu yang mempelajari dua kitab Shahih tersebut dengan jeli dan teliti, tanpa fanatik madzhab, berpedoman pada kaidah-kaidah ilmu hadits, bukan hawa nafsu pribadi atau pendidikan yang jauh dari Islam serta kaidah-kaidah ulama, akan mengklaim demikian.

Sebagai contoh, hadits yang diriwayatkan oleh Irnam Bukhani dan Muslim dengan sanadnya dari Ibnu  Abbas Rodhiyallohuanhuma bahwa “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menikahi Maimunah dalam keadaan ihram”. Padahal yang telah shahih dari Maimunah sendiri bahwa Nabi menikahinya bukan dalam keadaan ihram. Oleh karena itu, al-Allamah al-Muhaqqiq Muhammad bin Abdil Hadi mengatakan dalam Tanqih Tahqiq (2/104/1) setelah menyebutkan hadits Ibnu Abbas di atas, “Hadits ini dianggap sebuah kesalahan yang ada dalam Shahih, karena Maimunah telah menginformasikan bahwa ini tidak terjadi, padahal pelaku kejadian  tentu lebih paham tentang keadaan dirinya.”

Jadi, Syaikh al-Albani Rohimuhulloh setuju dengan kesepakatan pendapat seluruh ahli hadits untuk menerima kitab Shahih Bukhari dan Muslim,(12) bahkan beliau mengcounter sebagian kalangan yang tidak menghargai kesepakatan ini.(13).Adapun kritik beliau terhadap hadits Bukhari-Musim jumlahnya sedikit sekali.(14)

Kontradiksi Profesor

Coba kita perhatikan bukti berikut. :

1. Para ulama ahli hadits semenjak dahulu telah mengkritik beberapa hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim seperti Imam Daruqutni, Ibnu Hazm, Ibnu Ammar asy-Syahid, Abu Mas’ud ad-Dimasyqi, Abu Ali al-Jayyani, al-Mundziri, Ibnu Shalah, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Adz

Dzahabi, Muhammad bin Abdil Hadi, al-Iraqi, Ibnu Hajar, asSuyuthi, dan Lainnya. (15)

Mengapa profesor tidak mengatakan para ulama tersebut adalah pencela Shahih Bukhari dan Muslim? Bukankah kaidah yang dipakai Syaikh al-Albani juga kaidah yang dipakai mereka?

2. Orang-orang yang dijadikan rujukan oleh prof. juga rnengkritik hadits Bukhari-Muslim tetapi dengan landasan yang kropos dan hawa nafsu semata. Lantas mengapa mereka tidak dianggap sebagai pencela Shahih Bukhari Muslim? Seharusnya bapak kyai mengarahkan bidikan kepada mereka, bukan kepada pembela Sunnah semisal al-Albani! Supaya pembaca tahu, berikut buktinya:

a. Hasan as-Saqqaf melemahkan cukup banyak hadits shahih Bukhari-Muslim. Salah satu

contohnya, dia mengingkari hadits riwayat Muslim no.537 tentang pertanyaan “Di mana Alloh?” seperti disebut di muka.

b. AbdulLah al-Ghumari

melemahkan hadits riwayat Muslim no.203 tentang orang tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam  di Neraka datam Ta’liqnya terhadap Al-Maqasidhul Hasanah hal.25 karya Imam as-Sakhawi.

c.Abu Ghuddah melemahkan hadits riwayat Muslim no.399 datam Ta’liqnya terhadap Ar-Raf’u wa Takmil hal.134-135 karya al Luknawi.

D. al-Albani Membodoh-bodohkan Ulama Salaf .

HaL. 124: “Kami tidak tahu persis, apakah tidak adanya kritik itu selain dari  al-Habsyi pada awalnya, tetah menyebabkan al- Albani seperti dituduh banyak ulama menjadi orang yang sangat sombong di mana al-Albani berani membodoh-bodohkan para ulama salaf, termasuk Imam Bukhari dan Imam Muslim? Apabila hal itu benar, maka kritik adalah sesuatu yang sangat mewah, karena Ia  dapat meredam arogansi seorang.”

.Jawaban: Subhanalloh, mengapa mudahnya kebohongan ini dilontarkan. Demi Alloh, tuduhan prof. sungguh sangat ketertaluan. Aduhai, apakah pak kyai tidak takut kepada adzab Alloh?!

Siapakah ulama yang menuduh al-ALbani demikian? Apakah mereka adalah ulama-ulama Ahlu Sunnah seperti Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Shalih al-Fauzan, dan ulama Sunnah Lainnya?!

Ataukah yang dimaksud adalah orang-orang macam aL-Habsyi, as-Saqqaf, al-lGhumari, Abu Ghuddah, Habibur Rahman al-A’zhami dan keLompoknya dari kalangan ahli bid’ah dan pengekor hawa?!

Ketahuilah wahai saudara pembaca semoga Alloh merahmatimu tuduhan seperti di

atas tidaklah terlontar kecuali dari mulut ahli bid’ah atau para pendengki, karena Syaikh al Albani Rohimuhulloh. berlepas diri dari tuduhan bohong in bahkan sebaliknya beliau sangat dikenal menghormati ulama salaf dan membela mereka. Bagi orang yang membaca dan menelaah kitab- kitab al-Albani niscaya mengetahui dan ini tidak tersembunyi bagi profesor.

al-Albani Memuji Imam Bukhari dan Muslim

Bagaimana mungkin Syaikh al- ALbani mencela Imam Bukhari atau Imam Muslim, padahal beliau sendiri selalu memuji keduanya. Beliau mensifati Imam Bukhari sebagai “Imam Dunia”,(16) “Amirul Muhadditsin (pemimpin ahli hadits)”,(17) “Imam alMuhadditsin” (18)

Beliau juga berkata dalam kaset Man Huwa Kafir…, “Sesungguhnya Imam Bukhari tidak membutuhkan pujian orang, karena Alloh telah menjadikan kitab Shahihnya pada tingkatan setelah Al Qur’an yang mulia dan diterima oleh seluruh kaum muslimin di setiap penjuru dunia yang notabene berbeda beda.” Demikian pula Syaikh al Albani Rohimuhulloh menggolongkan Imam Muslim termasuk deretan para Imam pakar hadits.(19)

Apakah karena pujian di atas, beliau lalu dituduh membodoh bodohkan Imam Bukhari dan Muslim?!!

Sesungguhnya itu adalah salah satu bencana yang amat besar. (QS.AL-Muddatstsir: 35)

Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS.AL-Qalam:36)

al-Albani Membela Ulama

Adapun pembelaan Syaikh al Albani Rohimuhulloh terhadap para ulama salaf, sudah dikenal luas, baik dalam kitab maupun kasetnya. Cukuplah sebagai contoh, beliau mengedit kitab At-Takmil bimaa fi Ta’niibi  Al-Kautsari minal Abathil karya Syaikh Abdur Rahman bin Yahya al-Mu’allimi, ahli hadits Yaman.

Kitab ini berisi bantahan terhadap al-Kautsari(20), guru dan idolanya para pengkritik al-Albani seperti as-Saqqaf’(21)’, Abu Ghuddah”(22) ’, Mahmud Sa’id Mamduh’(23)’, dan sejenisnya.

Syaikh aL-Albani Rohimuhulloh  juga membela para ulama seperti Abu Hanifah, Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibnu Hazm, Ibnu al-Jauzi dan semisalnya yang dituduh sebagai ahlu bid’ah karena terjatuh dalam beberapa kesalahan dan penyimpangan. Semua itu terekam dalam sebuah kaset berjudul Man Huwa Kafir wa Man huwa al-Mubtadi’. Syaikh al Albani Rohimuhulloh juga membela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, Samahatusy Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz, dan banyak lagi.

Kontradiksi Profesor

Dengan keterangan di atas, jelaslah bagi orang yang memiliki akal sehat bahwa Syaikh al-Albani berlepas diri dari tuduhan ini. Sekarang tiba giliran   bagi sang penuduh. Kita tanyakan kepada ‘ahli hadits’ ini, “Mengapa anda jauh-jauh menuduh at-Albani membodohkan para ulama, padahal orang-orang yang anda pakai sebagai senjata untuk menyerang al-Albani telah membodoh-bodohkan para ulama, bahkan mengkafirkan mereka. Mengapa anda tidak melancarkan serangan kepada mereka?!!” agar tidak dikatakan mengada-ada perhatikan beberapa contoh berikut:

a. At-Habsyi aL-Harari

Lihat kembali profilnya di muka. Dia mengatakan tentang Imam adz-Dzahabi: “Kalau dia dibilang orang yang khabits (keji), maka itu wajar saja.” Menilai Syaikh Sayyid Sabiq : “Dia adalah orang Majusi sekalipun mengaku sebagai umat Muhammad (24)

b. Hasan as-Saqqaf

Lihat profitnya di muka.(25)

c. Abdullah aL-Ghumari

Orang ini memuji dirinya sundul langit (meminjam istilah prof.) dalam kitabnya Bida’ Tafasir hal l77-l78 tetapi malah mencela Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Ahmad Syakir.

Katanya, “Padahal dia tidak termasuk ahli hadits, kodifikasi Musnad Ahmad yang dikerjakan bukanlah kodifikasi hadits, bahkan banyak sekali kesalahan dalam penshahihan dan pendha’ifan hadits,… dan kadang-kadang berbicara rawi dilandasi fanatisme bangsa (Mesir).”

Dia juga memvonis kafir Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim seperti diceritakan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam Nahyu Shuhbah hal. 18 dan temannya, Abu Hudzaifah as-Salafi.

d. Habibur Rahman al-A’zhami Dia berkata tentang al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya A1-Albani, Aktha ‘uhu wa Syudzudzuhu hat.85:

“Al-Hafizh (Ibnu Hajar) bukanlah orang yang dapat dijadikan pegangan dan hujjah dalam masalah jarh wa ta’dil, dia hanya penukil perkataan para imam saja, tak lebih dari itu!”

Anehnya, ucapan ini dinukil dan disetujui oleh Syaikh ,IsmaiL al-Anshari dalam risalahnya Ibahah Dzahab al-Muhallaq. Wa-Allohu al Musta’an.

E. al-Albani Melawan ijma’

Pada hal.125: “Ia (al-Albani pent) bukan hanya berani melawan arus pemikiran Islam yang sedang berkembang, tetapi melawan gelombang-gelombang raksasa pemikiran Islam yang sudah mapan selama empat belas abad”

Lanjutnya: “Di luar itu masih banyak fatwa-fatwa dan pendapat pendapat al-Albani yang melawan gelombang kaidah-kaidah yang sudah baku, bahkan sudah menjadi ijma’ ulama dalam ilmu hadits.”

Jawaban: Nampaknya profesor ingin mengatakan bahwa al-Albani menyelisihi ijma’ (kesepakatan) ulama, menggugat dan menentangnya, atau minimal al Albani menyelisihi jumhur/ mayoritas ulama.

Kalau Syaikh al-Albani dikatakan kadang-kadang menyelisihi jumhur ulama, ini memang benar. Namun, apakah al Albani tercela kanenanya? Apakah jumhur/mayoritas merupakan barometer kebenanan? Bukankah anda mengetahui bahwa pada saat hendak memenangi orang-orang murtad, Abu Bakar ash-Shiddiq menyeLisihi mayoritas para sahabat, tetapi toh kebenaran pada Abu Bakar ash-Shiddiq?!(26) Adapun, kalau Syaikh al-Albani dikatakan menyelisihi ijma’ ulama, maka kami katakan:

Alangkah buruknya kata-kata yang kefuar dad mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. (QS.At-Kahfi:5)

Sungguh merupakan kedustaan yang sangat keterlaluan, kalau Syaikh al-Albani Rohimuhulloh dianggap menentang ijma’ ulama. Bagaimana tidak, beliau sangat dikenal sebagai seorang tokoh ulama yang sangat konsisten terhadap manhaj sataf, menghormati ulama salaf dan membela mereka dalam setiap kesempatan. Sebagai penjelasan persoalan ini, maka kami katakan:

Pendapat al-Albani tentang Ijma’

Sesungguhnya Syaikh al-Albani Rohimuhulloh secara tegas menyatakan bahwa ijma’ sahabat adalah hujah (27) , beliau juga seringkati menukil ijma’ ulama dalam kitab kitabnya sebagai hujah (28), bahkan beliau mengingkari orangorang yang menyelisihi ijma’ ulama, kata beliau:

“Ijma’ sebagaimana kalian ketahui bersama memiliki definisi yang cukup banyak. Dan yang kami yakini bahwa pengingkar ijma’ yang tidak diberi udzur, bahkan kafir adalah ijma’ dalam perkara agama yang diketahui oleh semuanya sebagaimana ditegaskan Ibnu Hazm. Adapun ijma’ sekelompok atau mayoritas ulama dengan adanya orang yang menyelisihinya, hal ini tidak termasuk ijma’ (yang divonis kafir orang yang menyelisihinya).

Meskipun demikian, saya katakan bahwa ijma’ seperti ini hendaknya diikuti kecuali berdasarkan argumen kuat yang dapat menjadikan seorang boleh untuk menyelisihi jumhur, tetapi bila dia tidak memiliki hujjah yang kuat, maka hendaknya dia mengikuti pendapat jumhur. Inilah salah satu makna ayat Alloh :

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudab jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ía leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ía ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS.An-Nisa: 115) (29)

Beliau Rohimuhulloh juga menegaskan untuk menerima ijma’ dengan syarat nukilan ijma’ tersebut betul-betul valid dan shahih. Dan apabila beliau meragukan keabsahan suatu ijma’, maka hal itu karena dua alasan:

Pertama: Ijma dalam istilah ushul fiqih tidak mungkin diterapkan kecuali pada masalah masalah yang diketahui secara dharuri (pasti) sebagaimana ditegaskan oleh para ulama pakar seperti Ibnu Hazm dalam Ushul Ahkam, asy-Syaukani dalam Irsyad al-Fuhul dan al-Ustadz Abdul Wahhab Khallaf dalam kitabnya Ushul Fiqih (30)’, dan lain sebagainya. Hal ini telah diisyaratkan oleh Imam Ahmad dalam ucapannya yang amat masyhur,

“Barangsiapa yang menceritakan ijma maka sungguh dia dusta, karena siapa tahu kalau ternyata ada ulama yang menyelisihinya.” (Riwayat  Abdullah dalamAt-Masail)

Kedua: Berdasarkan penetitian dan penyelidikan, beberapa masalah yang dianggap sebagai ijma’ ternyata dijumpai ada  perselisihan pendapat dalam masalah tersebut, bahkan berbeda dengan pendapat mayoritas ulama. Contohnya banyak sekali, di antaranya nukilan Imam Nawawi

bahwa shalat jenazah tidak dibenci pada waktu-waktu yang tertarang (adalah ijma’), padahal masalah ini diperselisihkan ulama, bahkan mayoritas ulama menyelisihi ijma’ tersebut (31)

Untuk lebih rnengetahui dan memahami seputar ijma’ dan sikap beliau terhadapnya silakan membaca kitab beliau Adab az- Zifaf pada bab pengharaman emas melingkar bagi wanita. Karena pada masalah inilah beliau sering disudutkan dan dikatakan menyelisihi ijma’.

Wallahu Ta’ala a’lam bish-shawab  .

Foot note :

(1) Diringkas dan buku ‘Syaikh al-AibaniAhil Hodics Yang Terzholimi” (Kritik Buku ‘Hadits-Hadits Palsu Seputan Ramadhan’ oleh Prof. KH. All Mustafa Yaqub MA), karya Al-Ustadz Abu Ubaidab Yusuf bin Mukhtar al-Atsarl dengan beberapa penyesuaian.

(2) Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihal, 2/5.

(3)’Yang diketuai oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Lihat pula Mausuah Ahli Sunnah f’i Naqdi Firqah aI-Ahbasy oleh Syaikh Abdur Rahman ad-Dimasyqiyah (2 jilid) dan Kutub Hadzdzana minha al-Ulama 317-321 oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman.

I ada 17 buah buku yang membantah al-Albani seputar fatwa dan pendapat-pendapatnya.” Pada hal.137-139 prof. menyebutkan 17 nama-nama buku tersebut.

(4) Lihat footnote Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah iuz I hal.45.

(5) Lihat Muqaddimah Mab az-Zifaf hatS cet.Maktabah Islamiyah.

(6) Llhat Juhud Mukhlishah hal. 139 dan Zawabi ft Wahi Sunnah hal.349-350 oleh Syalkh Shalah Maqbul Ahmad.

(7) Footnote Muqaddimah Mab az-Zifaf haI.8.

(8) Lihat Zawabi’ Ii whI Sunnah hal.375-376 oleh Syaikh Maqbul Ahmad.

(9) Lihat Hadits-Hadits Palsu Seputar Ramadhan hal 91 dan 116 Pustaka Firdaus.

(10) Kitab mi sekarang telah tercetak terbitan Dar ash-Shiddlq. Kitab ini sebenarnya atas permintaan Syaikh Ibnu Baz. namun baru terbit setelah Syaikh ibnu Baz wafat.

(11) Silsilah ,Al Hadist adh-Dha’ifah 3/6-7.

(12) Lihat Muqaddimah beliau terhadap Mukhtashar Shahih Muslim hal5-6 oleh al-Mundziri.

(13) Lihat Ta’Iiq beliau terhadap Nuzhah Nazhar oleh Ibriu Hajar haL74—dicetak bersama An-Nukat Syaikh All Hasan al-Halabi.

(I4)  Lihat Ta’liq beliau terhadap Ai-Baitsul Hatsits 1/125 oleb Syaikh Ahmad Syakir.

(15) Lihat teks ucapan mereka dalam Dirasat fi Sirab Shahih Muslim oleh Syaikh ,Ali bin Hasan al-Halabi.

(16) Silsilah ash-Shahihab 4/ 1”

(17)  ldem )/._j,

(18)  Idem 6/980.

(19) Silsilah ash-Shahihah 2/735

(20) Syaikh Al-.Allamah Abdul Aziz bin Baz mensifatinya dalam kata pengantar buku Baraah Ahli Sunnah karya Syaikh Bakr Abu Zaid: Al-Affak (penuduh/pendusta). al-Atsiim( banyak dosa). al-Maftun (terkena itnah).”

(21) Dia berkata dalam Ta”liq Daf’u Syubahi Tasybih hal.249 karya Ibnu al-Jauzi, “Saya menasehatkan kepada pars penuntut ilmu dan ahli ilmu agar membaca kitab-kftab Imam (!) al-Kautsari, khususnya kitabnya yang berjudul M-Maqalat

(22) Dia berkata mensifati al-Kautsari dalam Ta’Iiq Ar-Raf’u wa Takmil: “Hadiah untuk ruh ustadz al-Muhaqqiqin, al-Hujjah, al-Muhaddits, al-Faqih, alI Ushuli, al-Mutakallim, ai-Muarrikh, an-Nuqqad, al-Imam!”

(23) “Dia mensifati aJ-Kautaari dalam kitabnya At-Tansyif hal.205: ‘Al-Allamah, Al-Muarrikh, An-Naqid”, bahkan pada hal.284 dia mensifatinya dengan “Syaikhul Islam”!!!

(24)  Lihat Kutub Hadzdzara minha al-Ulama 1/318-319 oleb Syaikh Masyhur Hasan Salman.

(25) Lihat Iftlraat as-Saqqaf al-Atsiim ala al-Albani Syaikh al-Muhadditsin hal.5-6 oleh Syalkli Khalid Al-Anbari dan lihat pula Bara’ah AhIi Sunnah karya

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid. Kata pengantar oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

(26) Lihat An-Nubadz fi Ushul Fiqih hal88 karya Imam Ibiru Hazmi.

(27) Footnote Shahih lbnu Majah 2/48.

(28’) Seperti dalan Tahdzir Sajid hal.44 tentang haramnya membangun kuburan di masjid. Silsilah ash-Shahihah 1/605 tentang najisnya darah haidh,

Muqaddimah Mukhtashar Uluw hal.52 tentang ketinggian Alloh di atas langit. Ats-Tsamar al-Mustatab 1/301 dan Ar-Raddu aI-Mufhim hal.3 I tentang wanita dalarn shalat dan ihram tidak boleh menutup wajahnya. Dan masih banyak sekali contoh lainnya.

(29) Serial kaset berjudul As’ilah Yamaniab Masail Haditsiyyah wal Fiqhiyyah.

(30) Kitab ini pernah diajarkan oleh Syaikh al-Albani sebagaimana dalam Hayah al-Albani 1/57 oleh asy-Syaibani. Dalam kitab tersebut haL47 Syaikh Abdul Wahhab KhalIaf menjelaskan tentang hujjahnya ijma’ beserta dalil-daiilnya. Al-Albani mengajarkannya sekitar pada tahun 1949-1950 M.

Sumber : Majalah Al Furqon Edisi 2 Tahun V/ Ramadhan 1426 /Oktober 2005

About these ads

2 Responses

  1. Jika memang anda benar perkataannya…silakan terjun langsung dalam diskusi ilmiah di page berikut…

    http://myquran.com/forum/showthread.php/21007-Kerancuan-Albani-Dalam-Menilai-Hadis/page6

    Di tunggu yak….^_^

  2. Wahai akhi,apakah anda sdh terjun dlm diskusi ilmiah ttg dugaan kerancuan syeh albaniy dlm menilai hadist?ataukah msh terlalu fanatik,sehingga sampai mengeluarkan kata2 sperti d atas?silakan kami tunggu jawaban anda di forum ilmiah tsb,saya nasihatkan kpd anda,taqlid&fanatik buta tanpa adanya rasa ta’dhim&hormat pada ulama yg berbeda pendapat,adalah jalan tol menuju gerbang kesesatan,sadarlah wahai akhi,astaghfirullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,763 other followers

%d bloggers like this: