Ajaran Kejawen Sapto Darmo dalam Pandangan Islam (Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

Ajaran Kejawen Sapto Darmo dalam Pandangan Islam (Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

Oleh: Tri Madiyono

Pada edisi sebelumnya telah dibahas mengenai sejarah berdirinya ajaran Sapto Darmo serta beberapa ajaran pokoknya, yaitu; (1) Tujuh kewajiban suci Sapto Darmo, (2) Panca sifat manusia, (3) Konsep kitab suci, dan (4) Konsep tentang alam.

Pada edisi kali ini kami mencoba mengupas lebih jauh lagi tentang pokok-pokok ajaran Sapto Darmo, sehingga lebih jelas lagi -Insya Allah- bahwa ajaran ini sangat bertentangan dengan Islam.

5. Konsep Peribadatan

Konsep ibadah dalam Sapto Darmo tercermin pada ajaran mereka tentang “Sujud Dasar”. Sujud Dasar terdiri dari tiga kali sujud menghadap ke Timur. Sikap duduk dengan kepala ditundukkan sampai ke tanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging ke ubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian turun kembali. Amalan seperti itu dilakukan sebanyak tiga kali. Dalam sehari semalam, pengikut Sapto Darmo diwajibkan melakukan Sujud Dasar sebanyak 1 kali, sedang selebihnya dinilai sebagai keutamaan.

Telaah:

Konsep peribadatan Sapto Darmo tercermin dalam ajaran ‘Sujud Dasar’ yang pengikutnya diwajibkan satu kali dalam sehari semalam. Dari konsep ini diketahui bahwa Sapto Darmo tidak semata-mata berupa ajaran moral atau etika, tetapi aliran ini disamping memiliki sistem aqidah; juga memiliki sistem ibadah tersendiri yang semuanya bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu tidak perlu kaget kalau mendengar penganut aliran ini menolak untuk melaksanakan shalat karena memang mereka mempunyai sistem ibadah (shalat) tersendiri. Pada hakikatnya, penolakan mereka terhadap shalat sudah cukup untuk menggolongkan mereka ke dalam barisan orang-orang di luar Islam (kafir).

Dalil-dalil tentang kafirnya orang yang menolak shalat dapat kita temui di banyak perkataan dan tulisan para ulama’, diantaranya dijelaskan oleh Sayid Sabiq1 sebagai berikut; “Orang yang meninggalkan shalat karena menolak dan mengingkari akan kewajibannya berarti kufur dan keluar dari agama Islam menurut ijma’ kaum muslimin.

” Padahal, orang yang meninggalkan shalat, tetapi masih mengimani dan meyakini kewajibannya, karena malas, lalai atau alasan-alasan lain yang tidak syar’i, terdapat hadits-hadits yang menjelaskan akan perintah untuk membunuhnya (baik karena anggapan kekafirannya atau sebagai hukuman atas keengganannya melaksanakan kewajiban). Hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut ialah:

Pertama, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Artinya; “Pembatas seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Kedua, dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Artinya; “Sesungguhnya pengikat antara kami dan mereka adalah shalat; maka barangsiapa meninggalkan shalat berarti telah kafir.” (HR. Ahmad dan Ashabus-Sunan)

Ketiga, dari ‘Abdullah bin Amru bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa suatu hari ia berbicara tentang masalah shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya; “Barangsiapa memelihara shalat maka baginya cahaya, petunjuk, dan keselamatan di Hari Kiamat. Dan barangsiapa tidak memelihara shalat maka tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan di Hari Kiamat; dan kelak dia akan dikumpulkan dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban; sanadnya jayyid)

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata; “Orang yang tidak memelihara shalat – umumnya– dilalaikan oleh harta, kekuasaan, jabatan, atau bisnis. Barangsiapa yang lalai karena harta maka ia akan bersama dengan Qarun; barangsiapa yang lalai karena kekuasaan maka ia akan bersama dengan Fir’aun; barangsiapa yang lalai karena jabatan maka ia akan bersama dengan Haman; dan barangsiapa yang lalai karena bisnis maka ia akan bersama dengan Ubay bin Khalaf. …”

Persoalan lain disamping menolak shalat adalah mereka juga memiliki sistem peribadatan tersendiri.

Dengan memiliki sistem peribadatan tersendiri, mereka itu selain telah merampas hak Allah, juga terjerumus ke dalam perbuatan syirik, yaitu Syirik Uluhiyah. Mengenai hal itu, terdapat riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Muadz bin Jabal berkata;

“Aku membonceng Nabi mengendarai himar lalu Nabi bertanya kepadaku; ‘Tahukah kamu apa hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah ?’ Saya jawab; ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Kemudian Rasulullah menjelaskan; ‘Hak Allah atas hamba adalah mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzabnya sepanjang ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu…’”2

6. Menyatu dengan Tuhan

Sebagai hasil dari amalan Sujud Dasar, mereka meyakini dapat menyatu dengan Tuhan dan dapat menerima wahyu tentang hal-hal ghaib. Mereka juga meyakini, orang yang sudah menyatu dengan Tuhan bisa memiliki kekuatan besar (dahsyat) yang disebut sebagai atom berjiwa, akal menjadi cerdas, dan dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit.

Telaah:

Ajaran ini secara prinsip sama dengan ajaran hulul yang banyak dikembangkan oleh orang-orang rusak dari kalangan tasawuf seperti al-Hallaj. Bedanya, kalau kalangan tasawuf menganggap kondisi bersekutunya Tuhan dengan manusia merupakan buah dari dzikir yang mencapai klimaks, sedangkan menurut Sapto Darmo kondisi itu merupakan buah dari keberhasilan Sujud Dasar.

7. Hening

Hening adalah salah satu ajaran Sapto Darmo yang dilakukan dengan cara menenangkan semua fikiran seraya mengucapkan, Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rahim, Allah Hyang Maha Adil. Orang yang berhasil dalam melakukan hening akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, antara lain; (1) dapat melihat dan mengetahui keluarga yang tempatnya jauh, (2) dapat melihat arwah leluhur yang sudah meninggal, (3) dapat mendeteksi suatu perbuatan, jadi dikerjakan atau tidak, (4) dapat mengirim atau menerima telegram rasa, (5) dapat melihat tempat yang angker untuk dihilangkan keangkerannya, (6) dapat menerima wahyu atau berita ghaib.

Telaah:

Hasil dari ritual ‘hening’ seperti yang disebutkan di atas semuanya adalah takhayul dan khurafat, bahkan sebagiannya termasuk syirik. Dapat melihat keadaan keluarga yang jauh, mengirim telegram rasa, dan yang sejenisnya merupakan hal-hal yang tidak ada dasarnya baik dari dasar wahyu (dalil naqli) maupun dasar rasional (dalil aqli).

Kemudian, hasil ‘hening’ yang berupa kemampuan menerima wahyu dan dapat melihat arwah leluhur yang telah meninggal, tidak diragukan merupakan suatu bentuk khurafat dan kesyirikan. Termasuk hal yang sudah diketahui dengan pasti bahwa wahyu itu hanya diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul, tidak diberikan kepada sembarang orang, dan tidak bisa diusahakan dengan amalan-amalan tertentu.

8. Racut

Racut adalah ajaran dan praktek dalam Sapto Darmo yang intinya adalah usaha untuk memisahkan rasa, fikiran, atau ruh dari jasad tubuhnya untuk menghadap Allah, kemudian setelah tujuan yang diinginkan selesai lalu kembali ke tubuh asalnya.

Caranya yaitu setelah melakukan sujud dasar, kemudian membungkukkan badan dan tidur membujur Timur-Barat dengan kepala di bagian timur, posisi tangan dalam keadaan bersedekap di atas dada (sedekap saluku tunggal) dan harus mengosongkan pikiran. Kondisi tubuh di mana akal dan fikirannya kosong sementara ruh berjalan-jalan itulah yang dituju dalam racut, atau disebut juga kondisi mati sajroning urip.

Telaah:

Ajaran racut sebagaimana diajarkan oleh Sapto Darmo tidak dikenal dalam Islam. Terpisahnya ruh dari jasad hanya ada pada saat manusia meninggal dunia. Karena persoalan ruh adalah persoalan ghaib, maka manusia tidak akan dapat mengetahuinya kecuali Allah dan orang-orang yang diberitahu oleh Allah lewat wahyu; itupun hanya sedikit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

Artinya; “Dan mereka bertanya tentang ruh3; katakanlah, ‘Ruh itu urusan Tuhanku dan tidaklah kalian diberitahu akan hal itu kecuali hanya sedikit.’” (QS. al-Isra’ : 85)

Sebagian dari mereka berdalih bahwa ajaran yang demikian ada dalam Islam dan didasarkan dari peristiwa mi’raj (naik) Nabi dalam peristiwa isra’ mi’raj. Mereka beranggapan Nabi dalam mi’raj hanya ruh-nya saja, tidak disertai jasadnya.

Dalam hal ini Ahlus-Sunnah meyakini bahwa dalam peristiwa isra’ mi’raj, Nabi melakukannya baik dengan ruh maupun jasadnya. Imam Thahawiy menjelaskan bahwa al-Mi’raj adalah hak, dan sungguh Nabi telah di-isra’-kan dan di-mi’raj-kan dengan jasadnya dalam keadaan sadar (terjaga) ke langit, kemudian ke tempat yang dikehendaki oleh Allah.”4

Dalam syarahnya, al-Allamah Abil Izziy mengatakan bahwa; “Kata al-mi’raj dari wazan mif ‘alun berasal dari kata al-‘uruj artinya alat untuk naik, yang berada di suatu tempat yang aman, akan tetapi tidak diketahui tentang bagaimananya, sedang hukumnya sama seperti hukum perkara-perkara ghaib yang lain dimana kita mengimani tanpa mempertanyakan bagaimananya.”5 Terhadap pandangan yang mengatakan bahwa Nabi isra’ dan mi’raj lewat mimpi atau hanya ruhnya saja, Beliau menjelaskan; “Dari hadits isra’ diketahui bahwa Nabi melakukan isra’ dan mi’raj dengan jasadnya dan dalam keadaan sadar (terjaga) dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha dengan mengendarai Buraq6. Lalu naik ke Langit kesatu sampai ke Langit ketujuh, lalu naik ke Sidratul-Muntaha, kemudian naik lagi ke Baitul-Ma’mur. Kemudian naik menghadap Allah untuk menerima perintah shalat 50 waktu yang akhirnya menjadi shalat lima waktu.”7

Ahlus-Sunnah juga meyakini bahwa peristiwa isra’ mi’raj merupakan mukjizat dari Allah kepada Nabi Muhammad dengan tujuan untuk menunjukkan betapa dahsyatnya kebesaran Allah sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

Artinya; “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil-Haram ke al-Masjidil-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Isra’ : 1)

Mukjizat itu hanya diberikan kepada para Nabi atau Rasul dan tidak diberikan kepada semua orang.

9. Simbol-Simbol

Ajaran Sapto Darmo juga banyak menggunakan simbol-simbol. Ada empat simbol pokok dalam Sapto Darmo, yaitu: (1) gambar segi empat, yang menggambarkan manusia seutuhnya, (2) warna dasar pada gambar segi empat, yaitu hijau muda yang melambangkan sinar cahaya Allah, (3) empat sabuk lingkaran dengan warna yang berbeda-beda, hitam melambangkan nafsu lauwamah, merah melambangkan nafsu ammarah, kuning melambangkan nafsu sauwiyah, dan putih melambangkan nafsu muthmainnah; (4) Vignette Semar (gambar arsir Semar) melambangkan budi luhur.

Genggaman tangan kiri melambangkan roh suci, pusaka semar melambangkan punya kekuatan sabda suci, dan kain kampuh berlipat lima (wiron limo) melambangkan taat pada Pancasila Allah.

Telaah:

Penggunaan simbol-simbol khususnya vignette Semar oleh Sapto Darmo menunjukkan bahwa ajaran ini bersumber dari ajaran Hindu. Jadi jelas bathil, dan mana ada istilah dan tokoh SEMAR dalam sejarah Islam ?! Mana pula ada para Rasul, sahabat Nabi atau tokoh Islam yang namanya Semar?? Tidak ada.

Seorang muslim sejati tidak dibenarkan mengambil ajaran agama lain sebagai pegangan walaupun sebagian. Hal demikian dilarang oleh Allah dan tertolak. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Artinya; “Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima agama tersebut dan di akhirat nanti dia tergolong orang yang merugi.” (QS. Ali Imran : 85)

D. Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesesatan/kekufuran ajaran Sapto Darmo sebagai berikut:

1.

Mereka meyakini adanya sesuatu –yang mereka anggap Tuhan– tetapi bukan Allah, walaupun mereka menggunakan sebutan Allah dalam Pancasila Allah.
2.

Mereka tidak beriman kepada Malaikat, para Rasul, Kitab-kitab, Hari Akhir, dan Takdir.
3.

Mereka memiliki ‘kitab suci’ sendiri dan tidak beriman kepada al-Qur’an.
4.

Mereka memiliki sistem peribadatan sendiri.
5.

Mereka tidak membedakan antara wahyu dengan bisikan syetan.
6.

Ajaran mereka banyak bersumber dari ajaran Hindu.

Anggapan masyarakat bahwa ajaran Kejawen Sapto Darmo merupakan sekte atau bagian dari Islam dengan memberikan label Islam Kejawen adalah anggapan yang sesat dan menyesatkan.
anggapan tersebut banyak didasarkan pada ‘klaim politik’ yang menyatakan bahwa agama penduduk Indonesia itu adalah 98 % Islam. Islam di sini maksudnya adalah selain Katholik, Protestan, Hindu dan Budha. Aliran Kebatinan yang tidak sedikit jumlahnya itu dalam sensus penduduk dan pembuatan KTP dimasukkan ke dalam Islam. Baru setelah ada TAP MPR yang memberikan legalitas adanya wadah resmi bagi penganut aliran kepercayaan, sebagian mereka keluar dari kelompok Islam, sehingga penduduk yang beragama Islam berkurang (tinggal 90%).

Kejawen Sapto Darmo adalah bukan ajaran Islam dan justru bertentangan dengan ajaran Islam. Akan lebih tepat dikatakan bahwa Kejawen Sapto Darmo termasuk salah satu sekte dari ajaran Hindu, persisnya Hindu Jawa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1. ^ Fiqih as-Sunnah oleh Syaikh Sayyid Sabiq, Jilid I, hal. 92-93, terbitan Dar al-Kitab al-‘Arabi.
2. ^ Fath al-Majid, Syarah Kitab at-Tauhid, oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu as-Syaikh, hal. 30, terbitan Darul-Fikr.
3. ^ Yang mereka tanyakan adalah “asal, dzat dan hakekat ruh.” Lihat Zubdah at-Tafsir min Fath al-Qadir, oleh Muhammad Sulaiman Abdullah al-Asyqar, hal. 376.
4. ^ Syarah Thahawiyah, idem, halaman 126.
5. ^ Idem.
6. ^ Buraq adalah kendaraan Nabi saat isra’ yang kecepatannya seperti kilat dan tidak diketahui tentang bagaimananya. Orang yang suka klenik menggambarkan buraq itu semacam kuda berkepala wanita cantik jelita. Gambaran itu jelas salah dan bertujuan jahat untuk menghina Nabi seolah-olah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka berkendaraan seperti itu di waktu malam. Disamping itu, gambaran seperti itu terinspirasi dari cerita Hindu (pewayangan). Dikisahkan tatkala Resi Durna tidak mendapati kendaraan untuk menyeberang lautan, datanglah Bethari (perempuan) menyamar seekor kuda terbang lalu menawarkan jasa penyeberangan dengan imbalan “menaiki” selama perjalanan. Hasilnya hamil lalu lahirlah ksatria jahat yang sakti bernama Bambang Haswotomo. (Pen.)
7. ^ Syarah Thahawiyah, idem, halaman 127-128.

Tag: 1964 Masehi, aliran kebatinan, aliran kepercayaan, animisme, Bopo Panuntun Gutama, dinamisme, Hardjosapuro, hindu jawa, Juru Bicara Tuntunan Agung, kejawen, kejawen hindu, kejawen islam, kejawen jawa, kejawen menurut islam, kejawen pdf, kejawen solo, Sapto Darmo, Sri Pawenang

Sumber: Artikel ini disalin dari majalah Fatawa, volume 2 nomor 1, halaman 51-56, Syawwal 1423 H/2002 M.

Dicopy dari : http://ahlussunnah.info/2010/04/29/artikel-ke-55-ajaran-kejawen-sapto-darmo-dalam-pandangan-islam-bagian-kedua-dari-dua-tulisan/

About these ads

6 Responses

  1. Anda mengatakan begitu karena Anda bukan orang Jawa.
    Dan tentunya Anda tidak mengerti apa-apa tentang Kejawen.

    Perlu Anda ketahui bahwa ajaran “SAPTO DARMO” itu berbeda dengan “KEJAWEN”.
    Sapto Darmo hanyalah salah satu Aliran, yang sangat-sangat kecil dari Kejawen.

    Ibarat tubuh manusia.. Maka “Sapto Darmo” itu hanyalah sehelai rambut saja.

    Seharusnya tulisan Anda itu khusus ditujukan kepada “SAPTO DARMO”.
    Tidak usah ditambah-tambahkan “KEJAWEN”.

    Terlihat jelas pengetahuan Anda hanya 1%(satu persen).
    Yang 99% kosong alias tidak tahu apa-apa.

    SEBAGAI CONTOH:
    Jika DIBALIK – Sama saja Anda mengatakan “AHMADIYAH” itu sesat,
    dan seluruh umat ISLAM = Sesat.
    Apakah Anda berani menulis seperti itu…???
    Tentu saja itu salah.
    Masa gara-gara Ahmadiyah, seluruh umat Islam dibilang sesat…???

    Sekali lagi, jika ingin menulis tentang Sapto Darmo, maka tulislah hanya “SAPTO DARMO” saja. Tidak usah ditambah-tambahkan menjadi “KEJAWEN SAPTO DARMO”.
    Karena Sapto Darmo hanyalah salah satu Aliran, yang menggunakan Kostum Kejawen.
    Seperti hal-nya Ahmadiyah yang menggunakan Kostum Islam.

    • Mas..aku asli wong Jowo.., bapakku asli wong Tulung Agung.., jik wayah cilik ndisik senenganku yo ndalang…, cerita wayang aku yo apal. Mas, Islam itu beda dengan ajaran Jawa ( secara umum ). Orang Jawa atau orang manapun bila tidak mengenal Islam maka tidaklah akan muliya karena Islam mengajarkan ilmu yang sangat tinggi “Tauhid” ( peribadatan hanya kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu). Itulah inti dari diutusya Nabi dan Rasul. Mengenal Allah tidaklah sebatas mengakui akan Rububiyyah Allah ( Bahwasnnya Allah yang mencipta, yang mematikan, memberi Rizki, memelihara Alam semesta, mengatur Jodoh dll), tetapi juga mengenal Allah dengan Uluhiyyah mengibadahi Allah , Dialah satu satunya Rabb yang patut disembah dan diibadahi dengan Haq, segala peribadahan hanyalah kita tujukan hanya kepada Allah ( Do’a, Tawassul, Istianah, Istighotsah, Raja’ ( harap), Takut ( khouf), Cinta ( mahabbah) dll.Selain itu juga mengenal Allah dengan nama-nama dan sifatNya yang telah disebutkan oleh Alqur’an dan Sunnah Nabi yang muliya shallallahu alaihi wa sallam . Itulah yang membedakan Islam dengan ajaran Jawa , bahwasanya ajaran Jawa sebatas mengakui akan Rububiyyah Allah saja. Dan tak kalah penting yang sampeyan harus ketahui bahwa dalam beribadah dalam Islam haruslah mempunyai syarat :
      1. Ikhlas kepada Allah ( Mentauhidkan Allah Ta’ala )
      2. Muta’baah atau ittiba’ ( mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam )
      Bila tidak ada maka amalan tidak diterima… Allahu A’lam

      NB: Lha kalau Ahmadiyyah..ya sudah jelas kesesatannya dan Ahmadiyah bukan Islam ( wong Islam koq ngaku punya Nabi setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam )

  2. mas;islam adalah islam dan sebaliknya sapto darmo adlah aliran keprcayaan..yg berporos dengan garis jawanya…..gak usahlah”saling menunjukan ”SARA” yg terlalu berlebihan!!!!masing2 punya koridor kepercayaan yg kuat……klo masalah amalan itu …bukan urusan manusia dgn manusianya mas” tapi manusia dgn ”TUHANYA”,,,,,,,,,,,. (SAPDO PANDITO RATU)

  3. apakah sampeyan islam?? islam kok menyesat-sesatkan orang lain. mengkafir-kafirkan pihak lain. perbaiki akidah anda sendiri. hubungan berke-Tuhan-an adalah urusan paling pribadi antara Sang Pencipta dengan CiptaanNya. salam

    • Alhamdulillah, insya Allah saya islam mas…, sopo sing menyesat-nyesatkan dan mengkafirkan orang lain?,wah sampeyan asal tuduh, sampeyan duwe bukti nek aku menyesatkan orang lain secara khusus ” Fulan/fulanah sesat atau kafir”, sampeyan salah paham…yang mengkafirkan/atau menyesatkan adalah dalil…bukan aku mas, itu pun secara umum. :>) , Insya Allah saya senantiasa berusaha untuk beraqidah dengan benar, sebagaimana tuntunan Kitabullah dan sunnah Nabi yang shahih, dengan dalil dan hujjah sebagaimana yang dipahami tiga generasi terbaik umat islam yaitu Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in., Terima kasih atas perhatiannya kepada saya. Wah sampeyan perlu belajar syariat Islam yang benar dulu mas…kalau menurut sampeyan “hubungan berketuhanan adalah urusan pribadi antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya”, coba direnungkan peryataan sampeyan itu..kalau begitu apa maksud Allah mengutus Nabi dan RasulNya untuk menjelaskan agamanya kepada umatnya, dan untuk apa Allah menurunkan KitabNya/Al Qur’an ?, kalau itu urusan pribadi hambanya, jadi kalau begitu, agama Yahudi, nashoro benar dong.., agama hindu, Budha benar dong…, Kan kita gak boleh nyalahin urusan pribadi orang terhadap Tuhannya ?, hati2 lho mas nanti bisa terjerumus ke keyakinan semua agama benar lho!. Salam juga Mas..terima kasih mampir di blog saya. Barokallahu Fiykum, semoga Allah memberimu Taufiq dan Hidayah kepada anda agar diberi semangat untuk menuntut ilmu agar dimudahkan untuk memahami agama kita yang muliya ini dengan pemahaman yang shohih. Allahu a’lam.

  4. gak ono sing bener, gak ono sing salah
    kabeh bener tur kabeh salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,763 other followers

%d bloggers like this: