Meluruskan Pemahaman Salah Tentang Jihad

Meluruskan Pemahaman Salah Tentang Jihad 

jihad bil ilmi

(Makalah Kajian Umum “Jihad vs Terorisme” Ahad 18 Desember 2005 Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) 

Penulis: Ustadz Ahmad Zainal Abidin bin Syamsuddin 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, katanya: “Rasulullah menorehkan sebuah garis di atas tanah dengan jarinya, lalu berkata: ‘ini adalah jalan Allah yang lurus.’ Kemudian beliau menorehkan pula garis yang menyimpang ke kiri dan kanan garis pertama tadi, lalu katanya pula: ‘Dan garis yang ini, tak lain adalah jalan setan kearah mana ia mengajak manusia melaluinya.’ Selanjutnya beliau membacakan ayat: ‘Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (lain selain itu)’…” (QS. al-An’am, 6:153) (HR. Ahmad) 

Akhir-akhir ini, di kalangan umat Islam muncul satu tipe pemuda yang gelisah jiwanya yang diwarnai sepak terjang yang mencerminkan kekacauan akidah, kedangkalan berpikir, emosional, dan beringas. Mereka adalah pemuda yang muncul dengan mengatasnamakan pribadi-pribadi dan ingin menyantap apel yang belum masak; tidak memiliki bekal yang memadai tentang kitabullah, dan sunnah Rasul maupun perjuangan beliau dalam berdakwah. Selain itu, mereka memiliki tindakan yang serampangan terhadap kitabullah dan sunnah Rasul yang mengambil makna-makna lahiriah lalu dianggapnya hal itu sebagai ajaran agama yang sakral, tidak boleh dilanggar dan mereka pertahankan dalam derajat yang boleh dikata sangat membabi buta.

 

Memang diakui bahwa keikhlasan sangat mewarnai jiwa sebagian besar mereka, sayangnya, keikhlasan ini dibarengi dengan pengabaian salah satu aspek tertentu yang sangat berpengaruh terhadap tujuan dan sarana dakwah yaitu ittiba’ terhadap sunnah Rasul.

 

Para pemuda seperti ini, bisa jadi akan merupakan kekuatan yang justru menjadi bumerang bagi gerakan dakwah Islamiyah. Mereka dibesarkan oleh suatu kondisi yang tanpa mereka sadari jelas-jelas telah menyimpang dari prinsip dakwah Islam yang benar. Pemuda-pemuda ini selamanya melahirkan kesulitan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh beramal untuk Islam, di mana mereka tidak saja bisa ditunggangi oleh pihak tertentu yang kapan dan di mana saja selalu menanti kesempatan baik untuk menghambat dakwah Islam, tetapi sekaligus bisa dijadikan sarana propaganda guna mengaburkan sosok dakwah Islam yang penuh toleransi. Ditambah lagi, mereka selalu melecehkan para penyeru Islam dengan nada yang amat pongah, sehingga dakwah Islam mengalami banyak hambatan dan rintangan.

 

Kalau kita mencoba menemukan interpretasi tentang fenomena dan corak para pemuda muslim dengan kualitas dan motivasi seperti mereka ini, maka kita hanya akan menemukan dua faktor penting yang nampaknya telah disepakati bersama oleh para analis sebagai penyebab semuanya itu, yakni:

 

Pertama: Ketidakpastian yang secara luas melanda masyarakat dan dekadensi yang menebarkan racun di semua aspek kehidupan kita seiring dengan kekalahan kita yang terjadi susul-menyusul, di mana darah dan harta kita terkuras habis-habisan, dan setelah itu kita kehilangan kepribadian peradaban kita, lalu tenggelam dan hanyut dalam sistem barat yang materialis atheistis, generasi muda yang memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya, pasti menyimpulkan bahwa nasib buruk yang kita alami sekarang ini adalah akibat penyelewengan ajaran Islam dan pelanggaran terhadap pedoman yang diberikan Allah. Generasi muda yang dibesarkan oleh tatanan sosial, moral, politik, dan ekonomi yang sedemikian buruk, pasti mengalami kekalutan persepsi dan emosi, lalu membenci semua kondisi negatif yang mengepung mereka itu sehingga muncul sikap anarkis dan ektrim.

 

Kedua: Petaka yang susul menyusul menimpa dakwah Islam dan para pemimpinnya pada masa sebelum ini, serta penggunaan cara dan sarana yang amat biadab guna menindas dan melakukan kediktatoran dalam upaya menghancur-luluhkan Islam semisal pembunuhan, penangkapan, penekanan, teror, dan tuduhan-tuduhan palsu. Dengan demikian, bagimanapun juga generasi muda yang ditimpa oleh dan dibesarkan dalam kondisi buruk di bawah kepemimpinan Islam serupa itu, pasti memiliki reaksi keras dan kebencian yang ditunjukkan kepada mereka yang telah mewariskan petaka itu. Dan karena itu pula maka kekuatan yang tersimpan dalam diri mereka pun tersalurkan lewat kebencian-kebencian terhadap apa saja yang ada di sekitar mereka, tanpa kata maaf dan alasan apa pun! Semua tersalur pada jalur yang tidak benar.

 

Pemuda-pemuda muslim yang telah kehilangan akidah yang lurus, beramal tanpa dibimbing ulama dan dibesarkan dalam kondisi yang demikian kacau, sehingga mereka meraba-raba ke sana ke mari, serta merta didukung oleh pihak-pihak yang membenci Islam agar semakin kalut pikiran mereka dan kacau balaulah langkah-langkahnya, mereka pun terjerumus dalam jurang kehancuran, dan itulah tujuan gerakan baru musuh-musuh Islam dalam upaya mereka mengikis habis dakwah Islam dan mencabut agama ini sampai ke akarnya, dengan cara licik mereka memberi dukungan kepada gerakan para pemuda ekstrim ini melalui berbagai sarana, antara lain:

 

1. Setapak demi setapak menggiring para pemuda memasuki jebakan mereka sehingga menggunakan kekerasan dan cara revolusioner untuk menegakkan Syariat Islam – suatu cara yang amat dihindari oleh dakwah Islam. Sebab, sistem yang islami selamanya tidak menghalalkan segala cara demi tujuan seperti yang ada pada sistem lain yang menerapkan teror dan pertumpahan darah yang pada gilirannya membuat sistem serupa itu gagal dengan sendirinya. Permainan baru semacam ini menampakkan sosoknya dalam usaha mengaburkan jalan yang ada dihadapan para pemuda itu, sehingga mereka pun lalu memberlakukan cara kekerasan yang pada akhirnya toh gagal total. Dengan demikian, musuh-musuh Islam itu dapat memperoleh kepastian tentang jalan paling pintas menghadang dakwah dan merusak potret Islam.

 

2. Secara bertahap menggiring para pemuda itu untuk bersikap fatalis dan mengisolasi diri, dimana sebagian dari mereka akan mementingkan ‘uzlah dan tasawuf sehingga kehilangan daya dobrak yang selama ini mampu menjadi motor penggerak sebuah kemajuan dan peradaban, sedangkan yang lain akan mengurung diri dibawah pengaruh pikiran-pikiran khayali dan ajaran-ajaran sesat, lalu berusaha memisahkan diri dari masyarakat guna membentuk kelompok-keompok eksklusif – suatu hal yang selama ini tidak pernah ditemukan realisasinya ditengah-tengah kondisi Negara modern, dan baru merupakan ide serba aneh yang dimanfaatkan sebagai alat permainan baru guna mengaburkan sosok dakwah Islam dan mencegah ummat yang baru mengenal Islam untuk mau mempelajari keindahan ajaran Islam, bahkan mereka malah lari dari para penyeru Islam, lalu menjadi terbataslah pengaruh para penyeru Islam di tengah masyarakat, dan respon secara nasional pun semakin menyusut.

 

Kini, para pemuda dengan tipe semacam ini, melahirkan ancaman dan perpecahan ditengah ummat melalui kekacauan konsepsi mereka, dan akhirnya sesudah semua usaha mereka gagal total mereka pun dilanda frustasi besar-besaran yang menyebabkan mereka lalu berpangku tangan dari memperjuangkan Islam sepanjang mereka menganggap bahwa usaha-usaha itu tidak menjanjikan tercapainya penggulingan “para thoghut dari tahta mereka” dan menjadikan ummat manusia hanya menyembah kepada Tuhan mereka semata, serta menegakkan Negara Islam yang selama ini mereka perjuangkan mati-matian. Akibat seperti ini sudah dapat dipastikan, sebab seluruh apa yang dilakukan untuk, dan diabdikan kepada Islam, menurut persepsi mereka, hanyalah merupakan tujuan antara yang amat terbatas dan bersifat untung-untungan, kalau menang berhasil, ya untunglah, tapi kalau kalah, ya sudah!!!

 

Dalam kondisi serupa ini, tipe pemuda semacam itu sendirilah yang menempatkan diri mereka pada cara-cara yang beringas ini karena mereka memang tidak mengerti betul bagaimana metoda dakwah dan proses penegakan syariat yang sebenarnya, dan tidak pula memahami Islam dengan sebaik-baiknya. Padahal metode dakwah telah dibuat sedemikian indah oleh Alloh dalam firman-Nya:

 

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

 

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan peringatan yang baik…” (QS. An Nahl, 16: 125)

 

Menyeru kepada Alloh dan menyampaikan risalah-Nya kepada ummat manusia merupakan tugas utama kaum Muslimin. Imbalan bagi mereka yang melaksanakan tugas mulia ini adalah mardhatilah, baik seruan itu disambut dengan baik oleh ummat manusia maupun ditolak. Alloh berfirman:

 

لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ

 

“Bukanlah tanggungjawabmu untuk memberi petunjuk kepada mereka, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki…” (QS. Al Baqarah, 2: 272)

 

Penyeru kepada Alloh bukanlah person yang lepas dan terputus kaitannya dengan orang-orang yang mendahuluinya atau yang datang sesudahnya.ia merupakan satu mata rantai dalam jajaran panjang yang membentang sejak Alloh menciptakan kehidupan diatas dunia ini sampai kelak ia mewariskan bumi dengan seluruh isinya kepada mereka. Sungguh, hal itu pernah terealisasikan melalui tangan orang-orang yang sabar yang menyeru ummat manusia kepada Alloh, berjuang di jalan-Nya, dan menyodorkan argumen-argumen yang kuat kepada ummat manusia dengan segala kesungguhan dan konsistensi mereka dalam memegang kebenaran.

 

Dalam kondisi apapun, tugas utama seorang Muslim adalah mengajak manusia menuju Alloh, agar mereka memperoleh petunjuk dan keselamatan, baik dakwah itu disampaikan dengan sarana informasi dan penyampaian yang ada di Negara Islam maupun melalui suara-sura individual mukminin yang memiliki semangat tinggi dan mau mempertaruhkan nyawa dalam upaya mengajak ummat manusia menuju jalan Alloh yang lurus.

 

Hendaknya sekali-kali para pemuda tidak menganggap bahwa sarana dakwah amat terbatas dan tidak berkecil hati bila sambutan masyarakat terhadap dakwahnya kecil sekali. Yang terpenting adalah mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mengajak manusia semaksimal mungkin dengan cara yang bijaksana dan nasehat-nasehat yang baik, serta mengembangkan sarana dakwah yang sesuai dengan tuntutan kondisi dan situasi. Itu harus mereka lakukan terus sampai kelak tercipta kelompok-kelompok mukmin yang mampu menegakkan kebenaran tanpa takut terhadap tentangan orang-orang yang memusuhinya sehingga tiba saatnya Allah memutuskan kehendak-Nya.

 

Kendati demikian, apakah peran yang harus dimainkan oleh seorang mukmin dalam kehidupan ini hanya terbatas pada tercapainya cita-cita seperti itu tanpa ada jangkauan lebih lanjut berupa menegakkan pemerintah All0h di muka bumi ini? Masalah ini tidak perlu dipersoalkan lagi, hatta bagi mereka yang hanya tahu serba sedikit tentang Islam sekalipun! Yakni, bahwa Islam itu adalah akidah, ibadah dan syari’ah,dan pada saat yang sama ia juga negara dan sistem pemerintahan Sekalipun demikian, watak islam adalah selamanya menuntut pemeluknya untuk memancangkan pilar-pilar pemerintahan dalam negaranya atas asas islami, dimana hendaknya tugas utama yang amat mendasar, yakni dakwah dan memberi petunjuk kepada ummat manusia, tidak diruntuhkan.

 

Jadi andaikata jalan kearah terealisasikannya pemerintahan islam itu belum terpenuhi, ia janganlah menghentikan tugas utamanya sebagai penyeru ummat manusia menuju Allah dengan menggunakan berbagai macam sarana yang ada dengan bijaksana dan nasehat-nasehat yang baik, dan tidak menempuh cara revolusi politik yang menggunakan kekerasan sehigga membatasi tugasnya semata-mata hanya pada perebutan kekuasaan dan melakukan makar terhadap pemerintah melalui kritik dan ejekan-ejekan yang di lontarkan ke tengah-tengah masyarakat yang diberi lebel amar ma’ruf nahi mungkar, lantas dengan itu ia menganggap dirinya telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Dan bila ternyata bahwa upaya semacam itu telah menguras tenaga dan waktu, sedangkan pemerintahan yang ingin dijatuhkan tetap berdiri dengan kokoh ia pun lantas dilanda frustasi besar-besaran dan menganggap segala jerih payahnya telah gagal total, lalu dipergunakanlah cara kekerasan yang mereka sebut dengan jihad bom bunuh diri. Mereka melakukan semua itu sebagai bentuk pembenaran terhadap prinsip mereka, baik secara konsepsional maupun akidah, sementara ia lupa bahwa dia sendirilah yang keliru memahami masalah itu serta menempatkannya pada proporsi yang tidak tepat.

 

Islam adalah agama petunjuk dan hidayah. Dan adalah merupakan nikmat Alloh yang tak terhingga kepada manusia manakala Alloh tidak menjadikan pelaksanaan tugas seorang muslim tergantung semata-mata pada adanya Negara Islam yang mengatur kegiatan dakwah menuju Alloh, tetapi menjadikan dakwah itu sebagai kewajiban individual yang harus dilaksanakan sebagai tugas pertama dan utama, kalau memang ada Negara yang bisa mengorganisasi dan melindungi kegiatan dakwah, itulah memang idealnya, tapi kalau tidak, maka adalah merupakan kewajiban kaum muslimin yang baik untuk menggalang usaha dakwah yang terorganisir yang mampu memberi arah terciptanya kondisi ideal tadi. Kalaupun seandainya ditakdirkan ada seorang muslim yang hidup sendirian di suatu negeri zhalim, maka ia tetap wajib melakukan dakwah dan memberikan petunjuk kepada ummat manusia menuju Alloh, dan tiadanya Negara Islam, imam atau jamaah, sama sekali tidak menghapus kewajiban itu. Bahkan andaikata ia hidup sendirian di muka bumi dan hanya mungkin hidup dengan makan akar tumbuh-tumbuhan karena dakwahnya, ia tetap diwajibkan melaksanakannya sejalan dengan petunjuk Nabi yang termuat dalam hadits Hudzaifah yang terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim.

 

Apabila Al Quran dan sunnah Rosul telah menentukan cara pergaulan dengan orang-orang non-muslim di saat Islam berada di pihak yang berkuasa, maka aturan seperti itu tidak pula dilupakannya di saat Islam berada jauh dari kemungkinan memegang kekuasaan, bahkan sikap Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadap kaumnya pada masa-masa awal periode Makkah serta metoda dan teknik dakwah yang beliau terapkan sungguh merupakan petunjuk nyata bagi orang-orang yang hidup dalam kondisi serupa itu untuk kesekian kalinya, dan ia bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa maksud-maksud tertentu- Toh bisa saja Alloh memasukkan keimanan dalam qalbu bangsa Arab tanpa Rosululloh sendiri harus berjuang mati-matian menghadapi berbagai siksaan dan memperlihatkan kesabaran beliau yang demikian indah selama tigabelas tahun dalam melaksanakan dakwahnya.

 

Tidaklah menjadi soal apakah pemerintah dimana kita hidup sekarang ini melakukan penyimpangan baik akidah dan moral, yang jelas kewajiban kita bukanlah untuk melontarkan hujatan dan makian terhadap masyarakat atau semata-mata mengemukakan bukti-bukti kekafirannya, melainkan kita dituntut agar mampu memainkan peran positif dalam menyelamatkan umat manusia dari segala noda yang kini mengotori mereka.

 

Kini mari kita kembali pada persoalan semua, dan kembali saya tegaskan bahwa dalam perjuangan Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat suri –teladan yang amat baik. Kaum beliau adalah orang-orang yang paling sengit penentangannya, paling hebat pendustaannya, dan saling mengerikan penyiksaannya terhadap beliau. Kendati demikian, beliau tidak pernah berhenti barang sekejap pun untuk menyampaikan seruan dan memberikan petunjuk kepada mereka. Beliau tak henti-hentinya mendatangi nadwah (tempat pertemuan), pasar-pasar dan acara pesta mereka, karena keinginan beliau yang demikian keras untuk menyampaikan petunjuk.

 

Konon sekarang ini di masyarakat kita tidak ditemukan orang yang melakukan tindakan seperti yang pernah dilakukan oleh Bani Tsaqif kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam dulu. Sekalipun begitu, toh Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu memulangkan segala kekurangan dakwahnya kepada diri beliau sendiri. Beliau antara lain pernah mengadu kepada Allah, katanya: “…sekiranya Engkau tidak murka kepadaku (atas semuanya ini), maka aku tidak akan ambil perduli…”, lalu di doakannya kaumnya lantaran kebodohan mereka dengan “Allahumma, Ya Allah, tunjukilah kaumku, sebab mereka itu adalah orang-orang yang tidak tahu (kebenaran).” Beliau tetap berusaha menyampaikan petunjuk kepada kaumnya kendatipun alasan untuk tidak menyampaikannya sudah cukup bagi beliau. Lalu bagaimana halnya dengan sikap kita terhadap Umat Islam yang sesat yang mereka lakukan bukan didasarkan atas kesengajaan, dan bahwa kesediaan mereka menerima sistem yang bukan Islam itu hanyalah semata-mata karena terpaksa? Mengapa kita mesti menebarkan propaganda yang menghasut, menipu dan selingkuh?

 

Kewajiban kita, tak lain hanyalah menyampaikan ajaran Islam, menyampaikan ajaran Islam dengan cara memberikan petunjuk kepada umat manusia, dan bukan dengan cara yang pongah, melontarkan hamun-maki, dan membongkar keburukan mereka saja. Memang benar bahwa masyarakat kita sekarang ini penuh dengan borok dan serba kurang di sana sini. Akan tetapi, yang dibutuhkan adalah petunjuk, sekali lagi adalah petunjuk. Dan sepanjang tujuan paling akhir dari setiap amal dan karya kita adalah mardhatillah, maka imbalan itu tidak sulit kita dapatkan: ia adalah di hadapan kita manakala kita laksanakan dakwah menuju Alloh dan memberi petunjuk kepada masyarakat kita yang tersesatkan ini. Alloh berfirman:

 

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَآ إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

 

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya ketimbang orang yang menyeru ke jalan Allah, mengarjakan amal shalih, dan berkata, ‘Aku temasuk orang-orang yang berserah diri‘ ?” (QS Fushshilat, 41:33)

 

Kepercayaan ini, yakni kondisi ummat yang telah didesak kebutuhan pada munculnya orang yang bisa menyelamatkan mereka dari kehancuran moral, menyebabkan mereka selalu mengamati gerakan dakwah Islam dan menunggu munculnya seorang “Juru Selamat” dari kalangan pemudanya – suatu harapan yang mesti dijawab oleh para pemuda Islam manakala mereka betul-betul mengharap ridho Alloh dengan menampilkan diri mereka sebagai idola bagi ummatnya serta menjadi lampu penerang melalui kelapangan dada dan kualitas amal dalam jiwa dan akhlak, serta dalam cara berdakwah dengan karya dan bukan dengan “Jual Omong”, dengan sikap dan bukan dengan teori kosong. Itulah cara yang paling efektif yang mesti dilaksanakan oleh para pemuda dalam upaya mereka “berdialog” dengan bangsanya dan dalam usaha mereka mengubah masyarakatnya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,761 other followers

%d bloggers like this: